Dear, Cucu Opa

Cinta Monyet

 

 

 

 

 

Bab 1 : Cinta Monyet?

 

Sekitar tiga puluh tahun yang lalu …

 

“Del, titip buat abang lo ya, suratnya jangan sampai kelupaan, pastikan dia baca yaa.

 

Ini aku kasi kamu Toblerone juga, biar gak ngiri sama si abang!” Delima sontak memasamkan wajahnya. Ini bukan kali pertama dia dititipi cokelat dan surat cinta untuk Elang– kakak angkatnya. 

 

Jangan bilang dia mau dijadikan kurir surat cinta, sepertinya cewek yang baru saja meminta tolong kepadanya itu si anak baru yang belum pernah mendengar nasib buruk yang menimpa cewek-cewek penggemar sang kakak yang berakhir kena mental atau bahkan trauma.

 

Anak baru yang pergi dengan suka cita setelah menitip cokelat dan sepucuk surat itu tak pernah menyangka kalau ia akan jadi korban berikutnya dari kebengisan seorang Delima Permata yang terkenal bar bar oleh siswa siswi Ganesha Raya di balik wajah cantiknya yang menggemaskan.

 

Beberapa siswa yang sempat melihat interaksi si anak baru yang bernama Mela dengan Delima bergidik ngeri, sebagian lagi tersenyum miring dan menatap Mela dengan mata kasihan. Mata-mata yang menyaksikan keberanian Mela menitip surat dan cokelat kepada Delima itu sudah bisa menebak, kejadian apa yang akan mereka saksikan seraya menghitung mundur, …

 

Lima … empat … ti-

 

Belum selesai membisikkan angka tiga, sebatang cokelat menghantam keras kepala gadis bernama Mela yang spontan mengaduh.

 

Auch!

Gadis itu spontan mengusap kepalanya sambil meringis dan memutar balik badan. Mencari tahu siapa.pelaku yang dengan tega melemparinya dengan bersungguh-sungguh menggunakan sebatang cokelat bermerk seperti yang ia titipkan pada Delima.

 

Gadis itu mengedarkan pandangannya hingga mata berbulu lentik itu bertemu dengan sebentuk wajah yang telah memancarkan api kemarahan.

 

“Apa? Mau gue lempar lagi lo pake coklat yang satunya?” Delima mengacungkan sebuah coklat tersisa yang ia genggam dengan aura dewi kegelapan.

 

“Ambil surat lo dari tangan gue atau gue sobek-sobek di depan biji mata lo, saat ini juga!” Ancam Delima sembari mengangkat sepucuk surat berwarna lilac dengan gambar setangkai tulip di bagian penutup amplopnya.

 

Mela pucat seketika, tak mengira akan dibentak-bentak di dalam ruang sang adik kelas yang ia ketahui adalah adik dari gebetan terbarunya.

 

“Cepetan! Sakit hidung gue nyium tumpahan parfum lo di surat itu. Bau parfum pilihan lo gak ada enak-enaknya, bisa muntah abang gue baca surat lo! ” hardik Delima dengan wajah sangar sembari mengetuk-ngetukan sebatang coklat di tangannya yang lain. 

 

Wajah Mela merah padam saat merebut kembali surat yang baru ia titipkan pada gadis cantik berwajah bengis yang menatap tajam ke arahnya.

 

“Nih sekalian ambil cokelat sogokan lo! Gue sama abang gak doyan cokelat merek apapun, kita sama-sama lebih suka dodol!” Delima menyodorkan cokelat yang tadi ia ketuk-ketukan di meja untuk menarik atensi Mela–si gadis malang.

 

Cepat-cepat Mela mengambil cokelat yang ada di tangan Delima lalu kabur sesegera yang ia bisa. Sungguh Mela tak menyangka gadis semanis Delima bisa segalak Herder cuma karena dititipi surat dan cokelat untuk abangnya, padahal gadis itu juga ia hadiahi cokelat yang sama agar memuluskan niatnya mendekati kapten basket sekaligus Most Valuable Player yang handsomenya gak ada obat di sekolah barunya.

 

Selepas Mela berlalu, beberapa anak yang semula menahan napas akhirnya dapat lanjut bernapas dengan lega. Bukan apa, gadis yang sehari-harinya bisa sangat manis dan menyenangkan bernama Delima itu sangat dikenal bisa menimbulkan huru hara jika ada yang berani mendekati abangnya yang sebetulnya berstatus angkat saja sih, bukan abang kandung beneran. Ini bukan rahasia!

 

Dari arah luar kelas seorang remaja tampan tampak berlari-larian memasuki kelas Delima dengan raut wajah khawatir. 

 

“Del, Honey … are you okay?” Elang yang digadang-gadang cowok paling difavoritkan di Ganesha memindai sekujur tubuh adiknya, lalu memeluk gadis itu tanpa menghiraukan tatapan merana di sekitarnya.  

 

Beberapa siswa ada yang membolakan mata, namun tak sedikit siswi yang malah berkaca-kaca karena merasa putus harapan untuk bisa mendekati cowok idaman se-Ganesha Raya itu, kala melihat afeksi parahnya pada sang adik angkat yang jelaslah gak kenapanapa, kan dia eksekutornya. 

 

Justu yang harus dicek itu kestabilan jiwa Mela si gadis malang yang baru saja dipermalukan oleh sang adik yang sangat Elang sayangi itu.

 

“Aku baik-baik aja kok, Mas! Dianya juga udah kapok sih kurasa.

Kamu jangan khawatir, gak akan ada yang bisa merebut kamu dari aku dengan mudah, kecuali kamunya yang memang mau. Yaa, aku bisa apa, yekan!” Delima membolakan matanya. Elang membelai sayang rambut sang adik sambil menggeleng dengan tatapan lembut seperti biasanya.  

 

“Gak akan ada yang lain. Percaya deh!” ujar Elang sembari merangkul sang adik dan mengajaknya ke rooftop–tempat rahasia mereka dan beberapa orang teman lainnya. 

 

Istirahat kedua memang lebih lama, karena digabung dengan waktu sholat dzuhur yang ikut dijadwalkan oleh sekolah. Elang dan Delima biasanya lebih memilih berduaan di rooftop selepas sholat sembari menghabiskan cemilan atau bekal yang mereka bawa dari rumah. Seperti hari ini, karena berhalangan untuk sholat, Delima jadinya di kelas saja dan berhasil ditemui Mela yang tak menyangka bagai menyetor nyawa saja.

 

Sudah sejak lama kedua bersaudara ini memiliki perasaan yang bertaut. Sejak menyadari mereka bukan saudara kandung, keduanya memang memperlakukan satu sama lain sebagai lawan jenis sejak remaja.

 

Bagi Elang, Delima adalah tuan putri yang harus ia jaga dan lindungi, dilayani dan bahagiakan karena ia pun merasa gadis manis itu selalu berusaha membahagiakannya.

 

Sementara bagi Delima, Elang adalah pahlawannya. Pangeran tampan yang selalu ada dan membuatnya merasa nyaman hingga gadis itu tak pernah sanggup move on meski ada banyak teman cowok yang menaruh perhatian padanya.

 

Sejak kecil, Elang akan pasang badan menghadang siapa pun yang berusaha mendekati adik angkat kesayangan itu. Sebaliknya Delima juga tak segan-segan menghempas manja gadis-gadis yang berupaya mencari perhatian sang abang dengan berbagai cara. Keduanya saling menjaga, tak ingin ada yang masuk di antara mereka kecuali hanya sebagai teman biasa layaknya teman-teman mereka lainnya yang dari awal sudah paham kalau dua anak manusia itu tengah mendalami peran dalam romansa yang mereka ciptakan. 

 

Banyak yang menyebutnya cinta monyet, termasuk sang papa– Hardy Atmaja yang memandang keduanya hanya sedang terjebak rasa dalam nuansa cinta monyet ala remaja.

 

Biarkan sajalah …

Ha? Yang benar saja ?!

 

 

TBC 

 

 

 

error: Content is protected !!