Upacara pengibaran bendera hari Senin sudah selesai beberapa menit lalu. Semua siswa dan guru sudah masuk ke kelas masing-masing. Tapi seorang siswi justru masih berdiri dengan tenang di depan papan pengumuman sekolah.
Dialah Larasati Galuh, yang terus berdiri terpaku di depan papan pengumuman. Matanya tak berkedip, mulutnya sedikit terbuka, dan pandangannya tertuju lurus ke arah sosok pria yang baru saja memasuki ruang Kepala Sekolah.
Laras menelan ludah sambil menghela napas panjang. “Dia… dia… ganteng banget!” gumamnya penuh kekaguman.
Seorang teman sekelasnya yang kebetulan lewat, berhenti dan menepuk pundak Laras. “Hei, ngelamun apaan pagi-pagi gini?”
Laras langsung merapikan rambutnya dengan penuh gaya dan senyum mengembang. “Rin, aku punya target baru. Kepala Sekolah baru itu, Anggara Satya. Aku panggil dia… Pak Gara. Dan dia, resmi jadi calon suami aku.”
Rina tertawa cekikikan. “Kamu yakin, Ras? Dia itu Kepala Sekolah, dan kamu cuma… siswi yang …. Ahh gak harus gue jelasin kan.”
Laras mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri. “Justru karena itu. Cinta sejati tuh nggak kenal status atau usia. Lagian, bukankah dia itu dewasa, pintar, dan tentunya, punya masa depan cerah!”
Bel tanda masuk berbunyi, tapi Laras tetap berdiri di sana. Di kelas, dia sama sekali tidak fokus. Matanya hanya melirik ke arah jendela, berharap bisa melihat sosok Pak Gara melintas.
Tapi hingga beberapa menit, tak juga ada … Laras langsung menuju ke ruang Kepala Sekolah, dengan alasan ‘mencari buku yang tertinggal’.
Di depan ruangan, ia menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu.
“Masuk,” jawab suara berat nan lembut dari dalam.
Laras membuka pintu dan tersenyum manis. “Maaf Pak Gara ya, tadi saya ketinggalan buku di sini, boleh dicari?”
Pak Gara mengangguk, tersenyum sambil menunjuk ke sudut ruangan. “Silakan dicari, tapi… saya rasa ini pertama kali kita bertemu, kan?”
Laras mendekat, berpura-pura mencari bukunya yang sebenarnya tidak ada. “Betul, Pak Gara. Saya cuma merasa, entah kenapa, kita memang sudah takdir untuk bertemu.”
Pak Gara hanya tersenyum bingung, sementara Laras tersipu malu sambil memutar badan, berbisik pelan, “Suamiku…”
Laras berdeham pelan dan merapatkan diri ke arah Pak Gara, pura-pura melihat-lihat isi ruangan sambil berusaha mencuri perhatian. Ia berusaha bersikap tenang, namun perasaannya begitu meluap-luap hingga sulit disembunyikan.
“Jadi, Pak Gara… baru berapa lama di sekolah ini?” tanya Laras, mencoba mengawali obrolan.
Pak Gara, yang tengah menyusun beberapa berkas, menatap Laras dengan senyuman sopan. “Belum lama, baru sekitar satu setengah jam yang lalu. Saya baru perkenalan kan? Saya masih belajar menyesuaikan diri juga dengan suasana di sini.”
Laras mengangguk penuh semangat, seolah-olah jawabannya adalah yang paling penting di dunia. “Hmm, ya ya … Kalau butuh bantuan, Pak Gara bisa panggil saya kapan saja. Saya paling tahu seluk-beluk sekolah ini. Eh, bukan cuma sekolahnya, tapi juga kafe-kafe sekitar sini, lho!”
Pak Gara tersenyum geli. “Wah, terima kasih, Larasati. Saya catat kalau butuh rekomendasi nanti. Tapi, fokus kamu jangan sampai terganggu, ya?”
“Oh, tenang saja, Pak Gara,” jawab Laras dengan nada manja. “Untuk Pak Gara, apa sih yang enggak? Sekalipun itu melawan dunia, aku bakal berjuang, Pak!” Ia meremas buku yang ditemukannya dengan ekspresi berapi-api.
“Tapi, itu buku tamunya tolong jangan dirusak ya,” ucap Gara.
“Hah! Oh, ya ampun. Mirip banget dengan buku saya soalnya Pak.” Laras menjawab dengan wajah merah padam karena merasa malu. Diletakkannya buku itu di meja.
Pak Gara tertawa kecil, sepertinya mulai memahami maksud tersirat Laras. “Laras, fokuslah dulu ke pelajaran, ya. Kalau begitu, buku yang kamu cari sepertinya tidak ada disini, coba tanyakan pada guru mata pelajarannya ya.”
“Iya, Pak!” Laras buru-buru melihat sekeliling ruangan. Tidak menemukan buku yang dimaksud, karena memang tidak ada.
Sebelum keluar ruangan, Laras melambaikan tangan dengan tatapan penuh arti. “See you later, Pak Gara. Jangan lupa, saya ini… ‘Larasati Galuh, murid paling setia yang bakal selalu ada buat Bapak’.” Dia menyelesaikan kalimatnya sambil mengedipkan mata.
Setelah pintu tertutup, Pak Gara menghela napas sambil tersenyum geli. “Siswi yang unik…” gumamnya.
Sementara itu, di lorong, Laras melompat-lompat kegirangan. “Satu langkah lebih dekat jadi istri Kepala Sekolah! Ck, ck… targetku makin dekat!”
Sepulang sekolah, Laras masih tak bisa berhenti tersenyum. Sepanjang jalan pulang, ia menceritakan pengalamannya tadi pada Nindi yang menemaninya berjalan.
“Rin! Tadi aku berhasil bicara cukup lama sama Pak Gara!” seru Laras antusias.
“Serius? Gimana tuh? Apa dia langsung melamar kamu?” goda Rina sambil tertawa.
Laras meletakkan tangan di dada dengan gaya dramatis. “Bukan sekarang, Rin. Pak Gara mungkin belum sadar takdir kita. Tapi nanti, perlahan dia akan melihat kalau aku ini calon istrinya!”
Nindi tertawa lebih keras. “Kamu memang ada-ada saja, Ras! Kepala Sekolah, lho! Gimana caranya?”
Laras menepuk pundak Nindi, lalu mengerling penuh percaya diri. “Besok aku mau buat gebrakan baru. Rencana kedua dimulai!”
Keesokan harinya, Laras datang lebih awal dari biasanya. Ia menenteng dua gelas kopi yang ia beli di kafe dekat sekolah, lalu menuju ruang guru tempat Pak Gara biasa lewat. Begitu melihatnya berjalan mendekat, Laras segera berdiri tegak, mempersiapkan senyum terbaiknya.
“Pagi, Pak Gara!” sapa Laras riang, mengulurkan segelas kopi. “Ini untuk Bapak. Biar pagi Bapak semangat terus!”
Pak Gara mengerutkan kening, agak bingung. “Oh, terima kasih, kamu yang kemarin ya … Siapa tuh … La …” Gara berusaha mengingat.
“Laras Pak, Larasati Galuh.” Dengan cepat Laras menegaskan.
“Nah, iya itu maksud saya. Tapi… ini sebenarnya tidak perlu. Saya biasanya cukup dengan teh saja.”
“Oh, tenang, Pak! Ini kopi spesial. Dibuat dengan penuh cinta dan perhatian. Ehm, maksudnya… perhatian supaya Bapak tetap semangat mengurus sekolah,” jawab Laras sambil tersenyum lebar.
Gara menerima kopi itu dengan sedikit ragu namun tersenyum sopan. “Baiklah, terima kasih, Laras. Kamu sebaiknya segera masuk ke kelas ya.”
Saat Pak Gara pergi, Laras menatap punggungnya dengan senyum kemenangan. “Langkah kedua berhasil!”
Namun, saat istirahat, teman-teman di kelas mulai penasaran dengan kelakuan Laras yang tiba-tiba rajin ke ruang guru. Lebih tepatnya mencari cara agar bisa masuk lagi ke ruangan kepala sekolah di sebelahnya. Rina, yang duduk di sebelahnya, berbisik, “Ras, kamu kok kayak ngejar-ngejar Pak Gara banget, sih? Serius mau dijadikan pacar?”
Laras menggeleng dengan ekspresi penuh misteri. “Nggak cuma pacar, Rin. Aku udah mantap menjadikan Pak Gara sebagai suamiku di masa depan. Kepala Sekolah ganteng kayak dia langka, tahu!”
Rina menutup mulutnya, tertawa geli. “Kamu emang beda, Ras!”
Di hari-hari berikutnya, Laras semakin rajin mencari berbagai cara untuk mendekati Pak Gara. Mulai dari memberikan camilan, membantu membawa berkas, hingga dengan sengaja “tersesat” di dekat ruang Kepala Sekolah saat jam pulang. Tapi Pak Gara hanya menanggapinya dengan senyum ramah dan sikap profesional.
Namun, di suatu siang, saat Laras sedang berencana memberikan bekal makan siang yang ia buat khusus untuk Pak Gara, tiba-tiba ia melihat sosok wanita dewasa masuk ke ruang Kepala Sekolah. Wanita itu sangat anggun, berpakaian rapi, dan tersenyum manis pada Pak Gara. Laras terpaku, hatinya serasa tercubit melihat mereka berdua mengobrol akrab.
“Jangan-jangan… itu istrinya?” gumam Laras lemas.
Ia melangkah pergi dengan hati berat. Tapi, di sepanjang jalan pulang, ia menggenggam kotak bekalnya erat-erat dan berbisik penuh tekad, “Tenang, Laras. Perjuangan ini belum selesai. Wanita itu mungkin cuma teman. Kamu harus cari tahu!”