Aku berdiri di depan pintu kamar yang telah bertahun-tahun tidak pernah kubuka. Pintu kayu tua itu terasa berat saat aku menyentuhnya, seperti ada sesuatu yang menahanku untuk masuk.
Ini adalah malam ketujuh sejak aku memutuskan untuk membereskan rumah ini, rumah yang kutinggali selama bertahun-tahun bersama Kimy.
Sudah tiga bulan sejak kepergian Kimy dan aku masih terjebak dalam bayang-bayang kenangan yang menyesakkan.
Aku tidak pernah punya keberanian untuk masuk ke kamar ini setelah Kimy pergi.
Di sinilah Kimy menghabiskan hari-harinya, menulis dalam buku diari yang selalu ia sembunyikan dari pandanganku.
Malam itu, aku tahu, aku harus menghadapinya—bukan hanya ruangan ini, tapi juga kenangan yang menghantuiku.
Dengan napas yang tertahan, aku memutar kenop pintu, dan suara berdecit pelan membuat bulu kudukku meremang. Ruangan itu gelap, kecuali cahaya bulan yang menyelinap melalui celah tirai, menyinari sebuah meja kecil di sudut kamar.
Di atas meja itu, buku diari Kimy tergeletak, menantiku. Sekarang atau tidak sama sekali, pikirku, sambil melangkah perlahan ke arah meja.
Dahiku berkeringat, tanganku gemetar saat membuka halaman pertama jurnal itu. Tulisan tangan Kimy yang halus langsung mengisi mataku, dan seakan-akan Kimy ada di sana, berbicara padaku melalui kata-katanya.
3 Maret 2020
_”Hari ini adalah hari pertama terapi psikologiku. Pasha tidak tahu bahwa aku begitu ketakutan, takut kehilangan dirinya karena aku sendiri. Aku takut dengan bayangan yang terus mengejarku, takut dengan suara-suara di malam hari yang hanya aku yang bisa mendengarnya. Tapi aku tidak bisa memberitahu Pasha, dia akan menganggapku lemah. Aku harus kuat, untuk dia, untuk kami.”_
Aku berhenti membaca, hatiku berdenyut keras. Kimy tak pernah mengatakan apapun padaku tentang ketakutannya. Aku selalu berpikir bahwa aku tahu segalanya tentang dia, tapi ternyata aku salah.
11 Juni 2021
_”Aku tidak tahan lagi dengan malam-malam yang terasa abadi.
Setiap bayangan di rumah ini membuatku ingin berteriak, tapi aku tetap diam.
Aku tidak ingin Pasha tahu bahwa aku mulai kehilangan kendali atas pikiranku. Aku takut, sangat takut, bahwa suatu hari ketakutanku akan menghancurkan kami berdua. Aku harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat.”_
Jantungku serasa mau berhenti saat membaca baris-baris itu. Kenapa Kimy tidak pernah menceritakan ini padaku? Mengapa dia harus menyimpannya sendiri? Aku merasa tubuhku berat, seakan-akan dosa-dosa masa lalu yang tak pernah kubayangkan mulai menindih dadaku.
27 Desember 2022
_”Hari ini, aku membuat keputusan terbesar dalam hidupku. Aku menulis surat untuk Pasha, menceritakan semua ketakutanku, semua kebenaran yang selama ini kusembunyikan darinya. Aku tahu dia akan membenciku karena tidak pernah terbuka sebelumnya. Tapi aku tidak bisa terus hidup dalam ketakutan. Aku harus memberitahunya. Aku harus jujur padanya, atau aku akan kehilangan diriku sendiri. Malam ini aku akan memberikannya surat itu, entah bagaimana reaksinya nanti.”_
Surat? Aku tidak pernah menerima surat apapun dari Kimy. Kepalaku berputar, mencoba mengingat kembali malam itu. Tapi yang kutemukan hanya kekosongan.
Malam itu, aku pulang larut karena pekerjaan, dan Kimy sudah tertidur saat aku tiba di rumah. Aku bahkan tidak ingat apa yang kami bicarakan keesokan harinya. Tapi surat itu, di mana surat itu?
Aku membalik halaman diari itu dengan panik, berharap menemukan jawaban. Dan di sanalah, selembar kertas putih terlipat di antara halaman terakhir. Dengan tangan gemetar, aku mengambilnya dan mulai membaca.
“Pasha, suamiku yang kucintai…
Kau mungkin tak pernah menyadari, tapi aku selalu ketakutan, selalu merasa terperangkap dalam pikiranku sendiri. Ketakutan ini telah menjadi temanku selama bertahun-tahun, dan aku tak tahu bagaimana cara menghadapinya. Aku takut kau akan melihatku sebagai wanita yang lemah, wanita yang tidak pantas menjadi istrimu.
Tapi malam ini, aku memutuskan untuk melawan ketakutanku. Aku ingin kau tahu semuanya, dan aku ingin kau membantuku keluar dari kegelapan ini. Aku tak sanggup melakukannya sendiri, dan aku takut kehilanganmu jika terus seperti ini.
Tapi jika kau membaca surat ini, itu berarti aku telah gagal. Itu berarti ketakutanku telah menguasai diriku sepenuhnya. Maafkan aku, Pasha. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik bagimu, tapi mungkin aku tidak sekuat itu.
Aku mencintaimu, selamanya.
Kimy”
*
Aku tersentak mundur, tangan gemetar memegang surat itu. Napasku tercekat. Aku ingat malam itu, malam yang sama ketika aku menemukan Kimy tak lagi bernyawa di kamar mandi, dikelilingi oleh pil-pil yang berserakan di lantai.
Ternyata ketakutan Kimy bukanlah sesuatu yang bisa kuabaikan begitu saja.
Itu adalah kegelapan yang merayap, yang terus menghantuinya hingga akhirnya ia menyerah. Dan sekarang, setelah membaca semuanya, aku tahu bahwa aku harus menghadapi ketakutanku sendiri—rasa bersalah yang menghantuiku karena tak pernah melihat penderitaan Kimy.
Buku diari ini adalah kuncinya, kunci untuk memahami apa yang benar-benar terjadi. Tapi apa gunanya memahami sesuatu jika kau terlambat untuk bertindak?
Aku tersadar, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menerima kenyataan pahit ini.
Aku harus melepaskan semua ini, melepaskan Kimy, dan terutama melepaskan ketakutanku sendiri untuk melanjutkan hidup tanpa dirinya.
Tapi sebelum itu, aku harus mengucapkan selamat tinggal. Aku menutup diari itu perlahan, merasakan beratnya keputusan yang harus kuambil.
Kimy telah mengajarkanku satu hal terakhir—bahwa ketakutan hanya bisa dihadapi dengan keberanian, meski kadang keberanian itu datang terlambat.
Dan dengan itu, aku keluar dari kamar, meninggalkan masa lalu di belakang, bersiap untuk memulai hari baru.
Besok, aku akan membakar jurnal itu, sebagai tanda perpisahan terakhir.
Selamat tinggal, Kimy.
Aku mencintaimu, dan aku akan mencoba lebih baik untuk menghadapi ketakutanku karena itulah yang seharusnya kulakukan sejak dulu.
— T A M A T—