Empat Sahabat
Seperti hati dan jantung yang saling terhubung, seperti lebah ratu dan koloninya yang tak terpisahkan begitu pula aku, Elsa, Onci dan Cinta yang saling membutuhkan satu sama lain. Kami bersahabat sejak kecil, kemana-mana selalu bersama baik itu pergi ke sekolah, jalan Bersama maupun beribadah di Masjid. Kami melewati susah senang bersama, walaupun terkadang kami berselisih paham namun itu tidak memecah persahabatan kami dan tentu saja kami tidak pernah mengucapkan yang namanya perpisahan karena kami selalu Bersama hingga saat ini.
Bertahun-tahun telah berlalu, kini kami telah menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar, untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang selanjutnya kami berjanji untuk memilih SMP Saribuana Makassar dan kebetulan kami diterima di sekolah tersebut. Pada suatu waktu kami berbincang di taman, membahas kelulusan kami di sekolah yang sama.
“akhirnya ya kita bisa Kembali bersekolah di tempat yang sama”. Ucap Elsa.
“iya alhamdulillah kitab isa Bersama lagi”. Ucap Onci.
“iya, aku juga Bahagia bisa satu sekolah dengan kalian”. Ucap Cinta.
Mendengar ucapan mereka, akupun merasa terharu mendengarnya. Melihatku mulai menitikan air mata mereka mulai menertawakan tingkah konyolku. Kami pun tertawa kesenangan mengingatnya. Tak terasa waktu berlalu, hari pertama sekolah telah dimulai. Kami berempat melakukan perjalanan kesekolah Bersama sama. Tiba disekolah kami menyapa bapak /ibu guru mereka pun mengarahkan kakak kelas untuk mengantar kami masuk ke kelas yang akan kami tempati selama satu tahun. Kami mengucapkan terima kasih kepada kakak kelas yang mengantar kami dan mulai memasuki kelas.
Masuk dikelas kami belum melihat teman-teman yang lain datang, tentu saja dengan prinsip siapa duluan dia yang dapat. Masing-masing dari kami mulai memilih bangku yang akan kami tempati. Setelah kami selesai berbincang kami sepakat bahwa cinta dan onci akan duduk Bersama di barisan paling depan sedangkan aku dan elsa akan duduk dibarisan paling belakang. Tak lama setelah kami memilih teman-teman mulai berdatangan dan duduk mengisi bangku yang kosong. Bel pun berbunyi tanda mulai memasuki pelajaran, guru yang akan menjadi wali kelas kami masuk dan mulai memperkenalkan dirinya.
“selamat pagi anak anak. Bagaimana kabarnya kalian?” ucap wali kelas.
“selamat pagi bu guru. Kabar kami baik baik saja” ucap kami serentak.
“bagus, hari ini ibu ucapkan selamat pada kalian yang telah duduk di bangku menengah pertama. Ibu harap sifat-sifat kalian yang masih ada di bangku sekolah dasar bisa di hilangkan dan mulai bertanggung jawab atas sikapnya kalian di jenjang ini” ucap wali kelas.
“baik bu guru” ucap kami serentak dengan lantang.
“baik terima kasih, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, oleh karna itu izinkan ibu untuk memperkenalkan diri. Perkenalkan nama ibu Ekawati S.Pd. yang akan menjabat sebagai wali kelasnya kalian selama satu tahun.
“halo bu Eka” ucap kami.
“mungkin kalian belum mengenaln satu sama lain, alangkah baiknya kalian memperkenalkan diri kalian masing-masing” ucap wali kelas.
Kami mulai memperkenalkan diri sesui dengan arahan dari ibu guru, masing-masing dari melakukannya satu persatu hingga di akhiri oleh perkenalanku. Setelah memperkenalkan diri guru mulai memberikan kami permainan agar kami lebih akrab dengan satu sama lain. Setelah keasyikan bermain bel pulang pun berbunyi semua siswa pulang kerumah masing-masing. Singkat cerita kami pun sampai kerumah dan berjanji untuk pergi Bersama ke masjid.
“apakah di antara kalian ada yang sedang kedatangan tamu” tanya Onci.
“kala aku sih nggak, tamunya sudah selesai” ucap aku.
“aku pun begitu, kemarin baru selesai” ucap Elsa.
“maaf ya guys aku gak bisa ikut, soalnya aku yang lagi kedatangan tamu” ucap Cinta.
“okelah kalo begitu, mungkin kalo kamu selesai baru kita bisa pergi bersma lagi” ucap Onci.
Kami pun pergi ke masjid tanpa Cinta. Ditengah perjalanan kami mulai saling bercanda gurau bersama sama. Tiba-tiba Onci mulai membawa percakapan ke arah yang lebih serius.
“hahha” tawa kami serempak
“hei Citra, Elsa ada yang mau ku katakan kepada kalian” ucap Onci.
“apasih, kenapa kamu serius bangat” jawab Elsa.
“iya nih, orang masih bercanda juga tiba-tiba pembicaraan jadi lebih berat” sambungku.
“kayaknya besok aku nggak masuk sekolah deh” ucap Onci sambil mengelah nafas
“emangnya kenapa, kamu sakit?” tanyaku kepada Onci.
“atau besok kamu ada urusan?” sambung Elsa.
“iya nih, kok tiba-tiba bangat besok gak masuk sekolah” ucap aku dan Elsa, sambil melihat ke arah Onci.
“bukan karna sakit tapi…” sambil melirik ke arah Aku dan Elsa. “Aku akan pindah sekolah” sambungnya sambil menunduk.
“hah ? pindah?” kaget kami dengan serentak.
“Pindah kemana?” tanya Elsa
“Untuk saat ini aku belum tahu akan pindah ke sekolah mana, aku hanya disuruh untuk secepatnya mengurus surat pindah dari sekolah tapi yang pastinya di daerah Takalar, selain itu aku juga ingin membantu membereskan barang-barang yang ada di rumah Bibiku”
“Kenapa harus pindah? Memangnya kamu nggak suka dengan sekolah yang sekarang?” Tanyaku pada Onci.
“Aku sangat suka dengan sekolah yang sekarang, apalagi dengan adanya kalian bertiga. Bukan kemauanku untuk pindah tapi rumah Bibiku yang ada di Takalar sudah selesai dibangun yang mengharuskan kami untuk segera pindah kesana” cerita Onci sambil menahan tangis.
“Jadi kita akan berpisah setelah sekian tahun kita berteman? Bagaimana janji kita untuk selalu Bersama-sama?” Ucap Elsa sambil tersedu-sedu.
“Aku juga tidak mau berpisah dengan kalian, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak punya kuasa untuk menolaknya. Kalian tahukan aku tidak punya orangtua, keluargaku satu-satunya hanya Bibiku. Tentu saja aku harus ikut dengannya” balas Onci sambil berurai air mata.
Kamipun berpelukan sambil menangis.
Matahari mulai bangun dari singgasananya, burung berkicau melantunkan nyanyian di pagi hari. Aku dan Elsa berangkat ke Sekolah bersama dalam keadaan hati yang belum sepenuhnya utuh. Selama perjalanan ke Sekolah kami tidak mememiliki kekuatan untuk bercanda tawa seperti hari-hari sebelumnya, apalagi mengingat kepindahan Onci yang sebentar lagi.
Setibanya di sekolah, kamipun masuk ke kelas tanpa memperhatikan sekitar. Tiba-tiba Cinta datang dan menepuk Pundak kami berdua.
“Puuukkk” bunyi tepukan Pundak kami.
“Apasih Cinta” Marahku sambil mengusap bekas tepukannya.
“Santailah kayak di Pantai, masih pagi-pagi kok udah sensi aja. Lagian yang harusnya marah tuh aku, kaliankan yang ninggalin aku” sambil memperhatikan sekitar “ehh Onci mana? Ternyata kalian ninggalin Onci juga? Jahat yaah kalian” ucap Cinta sambil merajuk.
“Kami tuh nggak ada maksud untuk ninggalin kamu, kami kira kamu sudah ada bersama kami” Ucap Elsa
“Onci ? kamu cari Onci? Kalau kamu cari Onci, mending cari di rumahnya saja, karena Onci tidak akan bersekolah di sini lagi” Jawabku
“Hah? Maksudnya tidak bersekolah disini lagi itu apa? Dia berhenti sekolah?” tanya Cinta dengan polosnya
“Duhh si lemot, bisa nggak sih satu hari saja kamu nggak lemot” Protesku. “Maksudnya tuh Onci bukan berhenti sekolah, tapi pindah sekolah ke luar daerah” Sambungku
“Kok bisa? Pindah kemana? Sama siapa? Udah pindah? Kok nggak bilang-bilang sama aku?” tanya Cinta dengan bertubi-tubi
“Bisa nggak tanyanya satu-satu saja? Tentu saja dia bisa pindah, orang ada kakinya. Sama siapa? Tentu saja sama keluarganya, yakali dia pergi sama cowok” Nyolot Elsa
“Ya iyalah nggak bilang-bilang, kemarinkan kamu nggak ke Masjid” balasku menyoloti pertanyaan Cinta
“Santai dong, orang tanya baik-baik juga” Ucap Cinta dengan nada memelas. “Jadi… Onci sudah pindah?, dia pindah kemana?” tanya Cinta.
“Sorry Cin, suasana hati kami belum kembali normal makanya senggol dikit bacok. Onci belum pindah, masih sementara urus surat pindah dan sekarang dia nggak masuk sekolah karena bantu beberes barang di rumah Bibinya, kata Onci sih dia akan pindah ke luar daerah” Jawabku
“Ke luar daerah? Ke Sudiang maksudnya?” tanya Cinta dengan polosnya.
Sambil menghela nafas akupun menjawab pertanyaan Cinta. “ Ya ampun, kamu nggak tahu yah Sudiang itu masih wilayah Makassar. Onci itu bakalan pindah ke Takalar”
“Takalar itu yang di Gowa bukan?” Sekali lagi, Cinta bertanya tanpa memikirkan apa yang telah ia ucapkan.
Sambil menghentakkan kaki dan berlalu, Elsa menjawab pertanyaan konyol Cinta “Terserahlah Cinta”
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa bel tanda pulang sekolah telah berdering, satu persatu siswa keluar dari kelas. Lorong kelas yang awalnya sepi, kini dipenuhi dengan siswa-siswi yang berhamburan ingin segera pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasa, Aku, Elsa dan Cinta berada dibarisan paling terakhir untuk menghindari kejadian senggol-menyenggol.
Akupun memulai pembicaraan, membahas mengenai kepindahan Onci yang sebentar lagi. “Jadi kita akan langsung ke rumah Oncikan?” tanyaku pada Elsa dan Cinta.
“Iyaa dong, kita juga harus membantu Onci beres-beres barangnya. Setidaknya itu yang bisa kita berikan untuk yang terakhir kalinya” Jawab Cinta.
“Widiiih… Tumben nih anak pintar” heran Elsa dengan jawaban yang diberikan Cinta sebelumnya.
Aku yang melihat mereka kembali akur hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum, yah setidaknya kejadian tadi pagi tidak membuat pertemanan kami semakin renggang. Cukup kepindahan Onci saja, jangan ada kejadian yang lain lagi.
Selama di perjalanan menuju rumah Onci, aku mengenang kembali kebersamaan kami. Canda tawa, susah senang, semua kejadian yang telah kami lewati berseliweran di benakku, membuatku semakin bersedih. Tak lama kemudian kami akhirnya sampai di kediaman Onci, banyak barang-barang yang sudah berada di pekarangan, beberapa orang mengangkat almari menuju ke mobil pick up yang sudah terparkir di pinggir jalan depan rumah Onci. Aku melihat bibi Onci yang sedang sibuk menyortir barang-barang yang berada di ruang tengah, sejauh ini aku belum menemukan keberadaan Onci. Aku melihat kearah sofa, tempat biasa kami menghabiskan waktu di hari minggu, kini sofa itu telah terbungkus kain panjang menandakan bahwa sebentar lagi sofa itu akan diangkut.
“Permisi Bibi, Oncinya mana ya?” tanya Elsa yang ternyata sudah berada di samping Bibi.
“Ehh kalian datang? Oncinya ada di kamar. Langsung ke kamar Onci aja” jawab Bibi Onci.
“Iya Bi, makasih. Kami ke kamar Onci dulu yah, permisi” lanjut Elsa sambil melirik ke arahku dan Cinta, mengisyaratkan agar kami segera ke kamar Onci.
Dengan perlahan kulangkahkan kaki ini menuju ke tempat favorite kami di rumah ini, “Jangan Dibuka! di dalam ada Singa Betina” begitulah kalimat yang terpajang di atas pintu kamar Onci. Aku tersenyum tipis, itu adalah perbuatan Aku dan Elsa beberapa tahun lalu. Saat itu Onci lagi sakit dan butuh istirahat, namun karena pada saat itu keluarga Bibi Onci yang ada di Pangkep lagi berkunjung sehingga suasana di rumah ini tidak kondusif. Aku dan Elsapun berinisiatif membuat tulisan seperti itu dan memajangnya di atas pintu, yah dengan cara itu suara anak-anak yang awalnya lari kiri kanan di depan kamar Oncipun tak terdengar lagi.
Perlahan kubuka pintu pembatas itu, dan di sana kulihat Onci membelakangi kami dan sedang menunduk, entah apa yang dilihatnya. Mataku langsung berkaca-kaca saat melihat kamar Onci, kamar yang dulu dipenuhi pernak-pernik berwarna pink kini telah kosong, bersih tak menyisakan apapun. Aku mendengar suara isak tangis di sebelahku, Cinta adalah orang pertama yang menangis di antara kami. Sedangkan Elsa sama sepertiku, masih shok dengan kamar yang telah kosong namun aku tahu dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Sekuat apapun kutahan tangis ini, akhirnya pecah juga saat kulihat Onci berbalik dan menatap kami, tak tahan dengan jarak yang ada, aku melangkah mengikis jarak diantara kami. Sesampai di depannya, Onci langsung memelukku dan tak lama kemudian kurasakan pelukan dari belakang. Yah kami berpelukan seperti Teletubbies, bedanya jika Teletubbies berpelukan karena bahagia, sayangnya kami berpelukan karena kesedihan.
“Hey… Sudah jangan nangis lagi.” Hibur Elsa
“Iyaa.. Pangkep dan Makassar kan gak jauh-jauh amat” ucap Cinta berusaha menghibur, “Pangkep yang di daerah Gowa kan yah ?” sambungnya lagi.
Mendengar itu tawa kamipun pecah, Cinta tetaplah Cinta.
“Kalian jangan lupain aku yah” peringat Onci yang masih sesenggukan.
“Mana mungkin kami bisa ngelupain kamu, kamukan teman terbaik kami” jawabku sambil mengelus bahunya.
“Janji yaaah?” tanya Onci
“Pinky Promise” ucapku sambil meraih jari kelingking Onci dan mengaitkan dengan kelingkungku yang diikuti Elsa dan Cinta
“Pinky Promise” serentak Onci, Elsa dan Cinta.
Kamipun tertawa bersama-sama, yah ini adalah tawa pertama kami setalah mendengar berita kepindahan Onci. Semoga pertemanan kami akan selalu seperti ini walaupun terpisahkan oleh jarak. Semoga dengan ikhlasnya kami atas kepindahan Onci, jalan kami untuk sukses di jalan masing-masing semakin terwujud. Karena begitulah hidup, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.