REVENGE AND THE HAREM CHEF'S MIRACLE SYSTEM

Fire in The Kitchen

Aroma daging panggang yang bercampur rempah memenuhi udara. Louis Moreau berdiri di depan kompor, tangannya bergerak cekatan mengatur nyala api sambil memastikan steak wagyu yang sedang ia panggang mencapai tingkat kematangan yang sempurna. Keringat menetes di pelipisnya, namun tatapannya tetap tajam, penuh konsentrasi.

 

Le Ciel de Paris seramai biasanya. Malam ini, para tamu kelas atas memenuhi meja-meja restoran, gelas anggur mereka berkilau di bawah cahaya hangat saat mereka bercakap dengan aksen Prancis yang kental—penuh nada kesombongan. Bagi mereka, makanan bukan sekadar santapan—melainkan seni yang harus disajikan tanpa cela.

 

“Louis! Jika kau menunda satu pesanan lagi, aku akan mencoret namamu dari daftar staf permanen!” Suara lantang Chef Eksekutif Vincent Lemoine menggema di seluruh dapur. Pria tinggi dengan wibawa yang mencolok itu menatap Louis dengan sorot mata tajam, penuh ketidaksabaran.

 

Louis tak bergeming. Tangannya tetap memotong daging dengan presisi. “Steak ini harus sempurna, Chef. Lima belas detik lagi.”

 

Vincent melangkah mendekat, rahangnya mengeras. “Lima belas detik bisa berarti bencana di dapur ini. Kau pikir restoran berbintang Michelin bisa menunggu demi kesempurnaan dari juru masak rendahan sepertimu?”

 

Para juru masak lain menahan napas. Louis tak pernah mundur dalam situasi seperti ini. Tapi mereka tahu, menantang Vincent adalah tindakan berisiko tinggi.

 

Namun, Louis hanya mengangkat sebelah alis. “Aku lebih memilih dipecat daripada menyajikan steak yang belum matang kepada pelanggan VIP kita malam ini.”

 

Dada Vincent naik turun. Ia ingin meluapkan amarah, tapi Louis lebih cepat—mengangkat wajan, menata steak di atas piring porselen putih bersih, lalu menuangkan saus khas restoran itu dengan gerakan sempurna. Tanpa ragu, ia menyerahkan piring tersebut kepada seorang pelayan, yang segera membawanya keluar.

 

Vincent maju, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. “Kau pikir bisa mengatur ritme dapur ini hanya karena segelintir orang kaya memuji masakanmu?”

 

Louis menatap balik langsung ke matanya. “Saya pikir, jika Anda ingin restoran ini mempertahankan bintang Michellin-nya, Anda harus membiarkan saya bekerja dengan cara saya sendiri.”

 

Ketegangan menebal di udara. Staf dapur menahan napas, takut Vincent akan meledak. Namun, alih-alih marah, pria itu hanya menyeringai.

 

“Kau memang punya bakat, Moreau,” gumam Vincent, mendekat sedikit lagi. “Tapi bakat saja tidak cukup. Jika aku ingin menendangmu keluar dari dapur ini, tak ada yang bisa menghentikanku.”

 

Louis tetap berdiri tegak. “Silakan, Chef. Saya yakin restoran ini akan kehilangan lebih banyak pelanggan daripada saya kehilangan pekerjaan.”

 

Tatapan Vincent makin dingin, tapi ia tak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya melirik jam dinding dapur, lalu kembali ke posisinya.

 

Tak ada waktu untuk menikmati kemenangan kecil itu. Tiba-tiba, suara dering telepon dari sudut ruangan membuat seluruh dapur menegang. Seorang pelayan segera mengangkatnya, lalu menoleh ke Louis dengan wajah cemas.

 

“Chef Louis, panggilan dari Étoile Royale. Mereka butuh bantuan darurat.”

 

Mata Louis menyipit. Étoile Royale adalah restoran kelas atas milik salah satu kenalan Vincent. Jika mereka menelepon untuk meminta bantuan darurat, pasti ada masalah besar.

 

Sebelum sempat merespons, Vincent sudah lebih dulu mendekat dengan senyum malas di wajahnya. “Jawab saja, Moreau. Jika kau benar sebagus yang kau kira, buktikan bahwa kau bisa menangani restoran sekelas itu.”

 

Louis mengangkat gagang telepon, mendengar suara panik di seberang.

 

“Monsieur Moreau! Tolong kami! Kepala koki kami mengalami kecelakaan, dan malam ini kami punya acara besar dengan tamu VVIP. Kami butuh seseorang untuk menggantikan segera!”

 

Louis menghela napas. Ia tak ingin meninggalkan posnya, apalagi setelah pertikaian dengan Vincent. Tapi menolak kesempatan seperti ini bukan pilihan.

 

“Baik, saya akan ke sana dalam satu jam.”

 

Vincent terkekeh pelan, penuh ejekan. “Kita lihat saja, apakah kau bisa bertahan di dapur yang lebih besar, Moreau.”

 

Louis tidak menjawab. Ia hanya melepas apron, mengambil jaketnya, dan melangkah keluar dari restoran tanpa menoleh ke belakang.

 

 

—

 

Satu jam kemudian, Louis berdiri di depan Étoile Royale. Kristal-kristal lampu gantung di dalamnya berkilauan, memancarkan kemewahan yang jauh melampaui tempat ia bekerja sebelumnya. Para tamu mengenakan pakaian mewah, perhiasan mahal mereka memantulkan cahaya lilin yang berkelap-kelip di atas meja.

 

Saat ia melangkah masuk ke dapur, para staf menyambutnya dengan wajah-wajah cemas.

 

“Chef Moreau! Tolong kami. Kami hanya punya tiga puluh menit sebelum hidangan utama harus disajikan.”

 

Louis mengangguk mantap. “Berikan saya daftar menunya. Saya akan menyesuaikan dengan bahan yang tersedia.”

 

Ia segera mengenakan apron dan mulai bekerja. Tangannya bergerak lincah, memimpin tim dapur dengan kewibawaan yang tak terbantahkan. Dalam waktu singkat, dapur yang semula kacau mulai berjalan lancar kembali.

 

Begitu hidangan utama akhirnya dikirim ke ruang makan, Louis menghela napas lega. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.

 

Dari jendela dapur yang menghadap ke ruang makan, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.

 

Celeste.

 

Ia duduk di salah satu meja terbaik, mengenakan gaun biru elegan yang belum pernah Louis lihat sebelumnya. Rambut emasnya disanggul rapi, bibirnya membentuk senyum manis—senyum yang dulu hanya milik Louis.

 

Di sampingnya, seorang pria tinggi dengan setelan mahal menggenggam tangannya dengan santai.

 

Dunia Louis runtuh seketika.

 

Kedua tangannya mengepal. Rasanya seperti ditinju di dada, membuat napasnya tercekat.

 

Celeste telah mengkhianatinya.

 

Ia ingin percaya bahwa ini hanya kesalahpahaman, tapi cara Celeste menatap pria di sebelahnya, cara mereka tertawa bersama—terlalu jelas. Ini bukan pertemuan biasa.

 

Ini adalah pengkhianatan nyata.

 

Louis tak mampu menahan dirinya. Ia melepas apron, melangkah keluar dari dapur, dan berjalan menuju meja Celeste.

 

Langkahnya mantap, meski badai berkecamuk dalam dadanya.

 

Celeste menoleh, dan ketika mata mereka bertemu, wajahnya seketika pucat.

 

“Louis…?” suaranya nyaris tak terdengar.

Lates Chapters

The Beginning

Celeste benar-benar telah meninggalkannya.   ---   Matahari sudah tinggi ketika Louis akhirnya terlelap.   Namun tidurnya tidak nyenyak.   Beberapa jam kemudian, suara ketukan…

The Collapse

Pria di samping Celeste menoleh, ekspresinya menunjukkan rasa ingin tahu yang ringan sebelum ia mengangkat alis dengan tatapan meremehkan. “Siapa dia, ma chérie?”   Celeste…
error: Content is protected !!