MALAM PERTAMA DENGAN IPAR

Hari Pertunangan

Aqilla dan Gary akhirnya memutuskan menikah setelah hampir delapan tahun berpacaran. Hari yang dinanti pun tiba, malam itu Gary datang ke kediaman Grizelle sang kakak untuk melamar Aqilla dan bertunangan. 

 

Rencana pernikahan pun dibicarakan hingga tanggal sakral mereka mengikat janji suci ditentukan. Tiga bulan ke depan, mereka menikah. Siapa yang tak bahagia, setelah penantian sekian tahun, Gary akhirnya datang melamar.

 

“Kamu bahagia, Dek?”

 

“Iya, Kak, akhirnya ia melamarku.”

 

Grizelle pun memeluk erat sang adik. Ia bahagia, sebentar lagi tugasnya menjaga sang adik akan selesai dan digantikan Gary

 

Sebuah cincin berlian kini melingkar di jari manis kiri Aqilla. Semua bahagia, tak luput sang kakak ipar Evan. Evan yang sudah menganggap Aqilla sebagai adik kandungnya sendiri terlihat sumringah malam itu. 

 

“Selamat ya, Dek, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri.”

 

“Makasih, Mas,”

 

Aqilla dan Gary akhirnya bercengkrama di taman belakang rumah. Terlihat mereka sangat mesra dan berbahagia. Grizelle tak ingin menganggu, ia hanya melihatnya dari kejauhan. Evan pun menemani keluarga Gary berbincang di ruang tamu. Grizelle pun akhirnya bergabung. Malam itu jadi malam yang indah buat keluarga besar mereka. 

 

….

 

Pagi hari, Aqilla bangun dengan wajah sumringah, tak seperti biasanya, kali ini ia menyiapkan semua sarapan tanpa bantuan Bi Asih, asisten rumah tangga yang sudah dianggap Ibu mereka sendiri.

 

“Wah, tumben nih!” celetuk Evan meledek Aqilla. 

 

“Mas, jangan ngeledek ah!”

 

Pagi itu kami sarapan bersama. Evan pun memuji masakan adik iparnya itu. Begitupun dengan sang kakak. 

 

“Wah, ternyata masakanmu enak juga ya. Enggak salah deh Gary memilihmu jadi istri.”

 

“Masakan Kak Gri juga enak kok, Mas.” 

 

Semua pun tertawa, sambil melanjutkan sarapannya. Karena dikejar waktu, Grizelle akhirnya berangkat lebih awal ke kantor. Sedangkan Evan, menunggu Aqilla bersiap. 

 

Gri -panggilan Grizelle- memang tak pernah mempermasalahkan kedekatan suami dan adiknya. Ia percaya kalau mereka bisa menjaga diri dan tahu batasannya. 

 

Pagi itu, tak seperti biasanya Aqilla tampil berbeda. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang berbahagia. 

 

Aqilla tampil cantik dengan setelan blazer rok mini dan make up yang sempurna. Tubuh Aqilla yang molek dan lebih sexy dibandingkan Grizelle mulai menggoda mata Evan. Sesaat ia terkesima dengan kecantikan adik iparnya itu. 

 

“Mas, ayo kita berangkat! Kok bengong sih, nanti kalau terlambat gimana?”

 

“Mas!” Aqilla pun memukul manja pipi kakak iparnya hingga membuyarkan lamunan Evan. 

 

“E-eh, maaf, Dek, sampai pangling Mas lihat penampilan kamu pagi ini. Kamu cantik sekali.”

 

Aqilla yang takut terlambat, akhirnya segera menarik tangan Evan agar segera menuju mobil. Di dalam mobil, Evan yang masih tak bisa lepas dari pikirannya, menjadi tak fokus. 

 

Aqilla yang terkesan cuek memang tak peduli dengan perubahan sikap kakak iparnya. Ia tetap bermanja seperti biasa. 

 

Setelah setengah jam, Aqilla pun sampai di kantornya dan Evan melanjutkan perjalanan menuju kantornya. Dalam perjalanan, Evan masih membayangkan bagaimana tiap lekuk tubuh mulus sang adik ipar hingga ia mulai berfantasi dengan pikiran-pikirannya sendiri.

 

“Astagfirullah! Ingat Evan, dia adik iparmu!” gumamnya dalam hati. 

 

Akhirnya, Evan pun sampai di parkiran kantornya. Ia pun memutuskan segera menuju ruang kerjanya agar dapat melupakan pikiran anehnya itu. 

 

….

 

Menjelang pulang kantor, Grizelle menelepon suaminya untuk menjemput sang adik, karena malam ini ia harus lembur untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan untuk presentasi esok pagi. 

 

“Mas, kamu bisa kan jemput Aqilla? Aku lembur, mungkin agak malam pulangnya. Gimana?”

 

“Ok, nanti biar aku yang jemput Aqilla.”

 

“Makasih ya, Sayang, take care!”

 

Grizelle memang sangat mempercayai Evan. Selama ini tak ada yang patut dicurigai dari suaminya. Evan pun tak pernah bersikap aneh, apalagi mempunyai hubungan lain dengan wanita lain. Meski sebagai istri, terkadang ia juga tak bersikap adil dan kurang dapat melayani suaminya karena kesibukannya sebagai wanita karir. 

 

Grizelle memang seorang wanita mandiri dan pekerja keras. Terlebih sejak meninggalnya orang tua mereka, ia harus banting tulang untuk bertahan hidup dan menyekolahkan Aqilla. Hingga akhirnya impiannya melihat Aqilla menyelesaikan kuliahnya terwujud dan sebentar lagi ia akan menikah.

 

….

 

Di depan parkiran, Aqilla sudah menunggu kedatangan Evan yang sedikit telat. Maklum, jalanan ibukota memang cukup padat. Aqilla pun segera masuk dengan wajah sedikit kesal.

 

“Mas, kok lama banget sih?” tegur Aqilla ketus.

 

“Sorry, Dek, macet he he he ….” jawab Evan.

 

Evan pun segera memacu kendaraannya menuju rumah, ia pun sudah lelah dengan kemacetan jalanan ibukota sore itu. Dalam perjalanan, Evan mulai mengajak Aqilla bicara. Entah apa yang ada dipikirannya, hingga mempertanyakan sebuah pertanyaan konyol. 

 

“Dek, kamu sudah yakin mau menikah dengan Gary? Usia kamu juga baru 22 tahun. Enggak pengen merintis karir dulu?” tanya Evan.

 

“Gary tak masalah kok kalau setelah menikah, aku tetap berkarir, Mas.”

 

“Apa kamu yakin kalau Gary pilihan yang tepat?” sambung Evan.

 

“Yakinlah, Mas! Kan Mas tahu, kita sudah lama berhubungan.”

 

Evan hanya terdiam. Ia tak dapat lagi mencegah agar adik iparnya itu menunda apalagi membatalkan pernikahannya dengan Gary. 

 

Ah, entah apa yang sedang dipikirkan Evan, tetapi sejak tadi pagi, ia merasa desiran yang berbeda saat bersama Aqilla. Apakah ini cinta? Ataukah hanya nafsu sesaat karena Evan memang tak cukup dipuaskan hasratnya oleh Grizelle? Ah,entahlah!

 

…..

 

Mobil yang dikendarai Evan akhirnya sampai di rumahnya. Aqilla pun bergegas masuk ke dalam rumah. Tanpa memperdulikan kakak iparnya yang masih memperhatikan di dalam mobilnya. Aqilla langsung menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.

 

“Dia pasti mandi. Mumpung Grizelle belum balik, ini kesempatanku,” batin Evan. Evan pun mengendap saat memasuki kamar adik iparnya itu.

 

“Mas, kok di sini. Ada apa?” Aqilla kaget dengan keberadaan kakak iparnya yang baru memasuki kamarnya.

 

Evan membisu, ia hanya menatap Aqilla dengan netra yang penuh hasrat. Jiwanya bergelora. Aqilla yang polos, langsung menepuk pundak kakak iparnya. 

 

“Mas … Mas, ngapain di sini?” tanya Aqilla.

 

“E-eh, enggak, Dek, Mas lagi pengen ngobrol aja. Kakakmu lembur malam ini, Mas kesepian ….” Evan mencoba berdalih agar Aqilla tidak menaruh curiga padanya.

 

“Oh, kirain ada apa. Qilla ganti baju dulu ya. Mas tunggu di luar, nanti ditemani sampai kakak pulang deh.” Aqilla pun mendorong kakak iparnya keluar dan menutup pintu kamarnya.

 

“Ok, Dek.”

 

Evan mengalah. Ia tidak mungkin langsung melakukan serangan itu terang-terangan. Pikirnya, ia harus bermain cantik. Aqilla yang polos, mudah baginya untuk ditaklukkan. Sedang Grizelle type wanita karir yang sibuk. Ia pun sangat berhati-hati dan percaya penuh pada suaminya. Dua kakak beradik itu sangat mudah mempercayaiku. Batin Evan. 

 

Aqilla pun keluar dari kamarnya, ia memakai hot pants dan t-shirt kesukaannya. Pikiran Evan pun semakin nakal dengan adik iparnya itu.

 

“Mas, aku buatin minuman dulu ya,” kata Aqilla yang pergi menuju dapur. 

 

“Ok, jangan terlalu manis, Dek.”

 

Beberapa menit kemudian Aqilla datang dengan dua gelas kopi hangat dan pisang goreng keju, cemilan yang sudah dibuat Bi Asih. 

 

Evan yang takut dicurigai Bi Asih mengajak Aqilla bersantai di atas balkon. Di sini lebih nyaman dan aman, begitulah pikir Evan yang otaknya sudah dipenuhi pikiran kotor. 

 

“Dek, gimana Gary?”

 

“Dia lagi tidak ada kabar. Maklum, Mas, dia banyak lembur mengejar setoran biaya pernikahan nanti,” ujar Aqilla tersenyum tipis. 

 

“Oh, kamu sudah mantap?”

 

“Mas, kok nanya gitu sih? Kami kan sudah lama berpacaran, jadi aku sudah mantap dan mengenal betul bagaimana dia, begitupun sebaliknya.”

 

“Baiklah.” Evan mencoba tersenyum meski hatinya kesal. 

 

Evan pun bangkit. Ia mencoba berdiri dekat di samping Aqilla dan memandangi wajah cantik sang adik.

 

“Dek, lihat pemandangan di sana? Gimana kalau next kita pergi berdua ke sana?” 

 

Aqilla heran, tak biasanya kakak iparnya itu mengajak pergi berdua. 

 

“Itu hotel kan, Mas? Mas mau ngapain ngajak aku ke sana?” tanya Aqilla ketus.

 

“E-eh, kita nyantai di atas sana, ada cafe dan makanannya enak-enak, Dek. Gimana?” ajak Evan.

 

“Kak Gri ikut?” tanya Aqilla.

 

“Ah, kakakmu itu sibuk! Mana ada waktu pergi sama kita.”

 

“Kak Gri enggak akan marah, Mas?”

 

“Enggaklah, Mas kan pergi sama adiknya sendiri, dia gak akan marah.”

 

Aqilla yang tidak menaruh curiga, percaya saja dengan kata Evan. Ia pun menyetujui ajakan Evan. Padahal, Evan sudah mempunyai rencana untuk menjebak Aqilla sebelum ia menikah dengan Gary. Paling tidak, ia akan menjadi lelaki pertama yang menyentuh tubuhnya, bukan Gary, calon suaminya.

 

Aqilla bangkit, ia berjalan mengelilingi balkon dengan pemandangannya yang indah dengan gemerlap bintang. Tanpa sadar, ia terpeleset dan nyaris jatuh. Evan sigap menangkap tubuh Aqilla dan memanfaatkan situasi. Ia semakin mendekatkan wajahnya dan mencoba semakin mendekati Aqilla dan menggodanya.

 

“Kamu cantik sekali malam ini, Dek!” goda Evan.

 

Saat Evan hendak kembali menggoda adik iparnya, ia dikejutkan kehadiran Grizelle.

 

“Hei, kalian di sini ternyata.”

 

“Kak, aku nyaris jatuh tadi, untung ada Mas Evan yang sigap narik aku,” ujar Aqilla. Ia khawatir jika kakaknya itu akan marah dan salah paham dengan apa yang terlihat.

 

“Hati-hati dong, Dek.”

 

“Aku ke kamar dulu ya.”

 

Aqilla pun beranjak dari balkon. Wajah Evan pun nampak tegang.. Ia takut kalau Grizelle menaruh curiga saat melihatnya dan Aqilla sangat dekat seperti tadi. Bersyukur, dugaannya salah. Grizelle justru berterima kasih sudah menolong Aqilla. Jika tidak, adik kesayangannya itu bisa jatuh ke bawah. 

 

Grizelle pun kembali ke kamarnya, untuk membersihkan badan. Evan masih termenung dengan wajah sedikit kesal karena usahanya kembali gagal.

 

“Sial! Gagal aku malam ini,”gerutu Evan.

 

Setelah selesai mandi, Evan dan Grizelle makan malam bersama. Aqilla memutuskan makan malam di kamarnya, sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan. Itu alasannya pada sang kakak. Sayang, Evan tak percaya. Ia yakin, Aqilla menghindarinya.

 

….

 

Grizelle yang sudah lelah seharian dengan pekerjaannya, memutuskan langsung beristirahat, ia menolak melayani Evan. Evan yang kesal pun memutuskan keluar. Ia menonton TV, sambil mencari kesempatan jika Aqilla membuka pintu. 

 

Bi Asih yang masih menyelesaikan pekerjaannya pun disuruhnya beristirahat. Ia tak ingin rencananya kembali gagal hanya karena kepergok ART yang sudah dianggap keluarga oleh Grizelle itu.

 

Semakin larut, mata Evan tak juga terpejam, ia masih asyik menonton TV hingga sekitar pukul 01.30 Aqilla keluar dan kaget melihat kakak iparnya itu masih menonton TV di ruang keluarga. 

 

“Mas, belum tidur?” sapa Aqilla.

 

“Belum bisa, Dek. Kamu mau ngapain?” jawab Evan.

 

“Mau ambil minum, Mas.”

 

Aqilla pun menuju kulkas dan mengambil sebuah botol dan saat hendak menuju kamarnya, Evan sudah berdiri di depan pintu kamar. 

 

“Mas, ada apa?”

 

“Evan yang sudah kepalang berhasrat dan ditolak Grizelle akhirnya gelap mata. Ia menarik tangan Aqilla dan mengunci pintu dari dalam. 

 

“Mas, mau ngapain, kok Mas masuk ke kamar dan ….”

 

“Ssstt, diam, Dek! Nanti kakakmu mendengar dan terbangun.”

 

“Mas, mau apa?”

 

Evan pun mendekat. Ia mendorong tubuh Aqilla ke tembok dan ia mulai berusaha menggoda.adik iparnya itu. Aqilla memberontak, hingga akhirnya ia mencoba kabur. Tapi sayangnya Evan lebih cepat dan mengunci kamarnya.

 

“Mas, jangan ….”

 

Aqilla masih mencoba bertahan, mengelak keinginan Evan yang terus berusaha meraih apa yang diinginkannya. Dan, kekuatan Aqilla pun kalah.

 

Aqilla hanya bisa menangis, setelah perbuatan terkutuk kakak iparnya pun terjadi. Evan berhasil mendapatkan apa yang dimaunya.

 

“Jahat kamu, Mas!”

 

bersambung ….

Lates Chapters

Gagal Menikah

"Qilla, maafkan, Mas. Mas khilaf. Tapi kamu tenang saja. Mas akan bertanggungjawab semuanya. Tolong, ini akan menjadi rahasia kita berdua ya. Next kita bicarakan lagi."…
error: Content is protected !!