Hati yang Tersesat

Hati Yang Tersesat

Di tengah keramaian pikuk ibu kota yang gemerlap, hiduplah seorang remaja bernama Maya. Maya tumbuh dalam kehidupan yang penuh warna, namun kebahagiaan itu terputus ketika orang tuanya memutuskan untuk bercerai.

Perpisahan orang tua meninggalkan luka yang dalam di hati Maya, membuatnya merasa seperti kehilangan arah dalam kehidupannya yang selama ini stabil.

Gadis remaja yang masih duduk di bangku SMK itu merasakan dunianya muram.

 

Suatu pagi, Maya terbangun dengan hati yang berat. Dia merasa seperti dunia yang dulu dia kenal telah berubah menjadi sesuatu yang asing baginya.

”Arghhh kenapa begini banget sih kehidupanku, aku juga ingin seperti yang lain bebas bergaul.” erangnya.

Di tengah kebingungan dan kekurangan yang melanda, Maya memutuskan untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang menghantui pikiran.

Dia ingin pergi ke tempat yang menyenangkan. Namun, sang ibu pasti melarang keras. Maya hanyalah gadis rumahan.

Maya menatap jauh ke kejauhan “Aku harus bergaul dengan Renita, mereka sangat keren.” Kekhawatiran mulai timbul pemberontakan.

”Bu kenapa sih kalian harus berpisah, aku seperti anak ayam kehilangan induk!” protesnya kesal.

Ibunya menyyahut dengan nada marah. “Sudahlah, perpisahan ini bukan akhir dari segalanya. Kita masih punya masa depan yang harus kita hadapi bersama.”

”Tapi aku merasa seperti penyesalan yang hancur, ibu. Aku merasa seperti kehilangan arah.” sahutnya mengamuk.

Ibunya menatap tajam Maya mencoba mengintimidasi gadis itu “kamu bukan anak kecil, usiamu bahkan hampir dewasa Ibu yakin kamu mampu melewati ini, paham!”

Melalui perjalanan emosional dan pencarian diri yang dalam, Maya mulai menyadari bahwa perpisahan orang tuanya memberi dampak luar biasa baginya.

Dia belajar untuk menerima perubahan, tetapi rasa takut merasa lelah dan ingin memberontak.

Meski tanpa dukungan dan cinta kedua orang tuanya, Maya mulai membangun pemberontakan, dia ingin diakui jika dia juga bisa bergaul seperti teman-temannya.

 

Pagi itu Maya seperti biasa dengan rutinitasnya ke sekolah.

”Hai,Sarah. Aku merasa sangat kesal setelah berbicara dengan ibuku.”ucap Maya memohon.

”Loh kenapa?, Maya. Aku tahu perpisahan orang tuamu mempengaruhimu sangat dalam kamu yang sabar ya.” sahut Sarah prihatin.

”Ibuku selalu melarangku bergaul dia sibuk bekerja aku kesepian, lihat Renita dia bebas kenapa aku tidak boleh?” protesnya.

”Semoga menjadi sahabat terbaikmu adalah anugrah, tolong jangan berubah, aku akan membersamaimu.” katanya tersenyum simpul.

”Ahh Sarah, kamu tidak tahu bukan hanya ini yang kumau !” suara Maya penuh penekanan.

Di dalam aktivitas kelas sekolah berlangsung seperti biasa, Maya dan Sarah tampak serius mengikuti mata pelajaran.

Hingga bel berdenting, tanda usainya jam pelajaran, semua anak berhamburan keluar.

”Eh May, ikut kita yuk healing di kafe.” seru sahabat sekelas Maya.

Gadis itu menghentikan langkah, saling tatap dengan Sarah,”apa aku nggak salah dengar Renita ngajakin aku ngafe?” bisik Maya heran.

Kedua alis gadis itu saling bertaut, ini sungguh pertama kalinya gank Renita mengajaknya bergabung, “aduh Semoga lebih baik tolak saja, kamu tahu kan seperti apa pergaulan mereka.” saran Sarah takut-takut.

”Heh, aku ngajakin kamu ikut nggak? Mumpung suasana hatiku lagi baik nih.” ulang Renita menekan.

Maya tegang hingga meremas tali tasnya, Sarah memberi kode dengan menenangkan kepalanya, “heh cupu kamu jangan mempengaruhi temanmu, dia juga butuh refreshing emangnya kamu kalau jadi dia nggak suntuk apa!!” ujar Renita berhasil membuat Sarah terjingkat.

 

”Sar, maaf ya kali ini aku akan ikut dengan Renita.” sahut Maya pada akhirnya membuat Sarah terperangah.

”Kamu dengar itu kan! yuk guys cabut.” tukasnya meninggalkan parkiran sekolah sambil memeluk Maya.

”Astaga, Maya kenapa dia malah ikut Renita cs, semua juga tahu bagaimana pergaulan mereka, di ibukota ini Renita seperti memiliki sarang tersendiri.” cicit Sarah panik.

”Ya ampun May, kamu ini polos atau bodoh sih, dasar cupu andai kamu scroll internet pasti tahu setiap istilah kenakalan remaja ibukota, kamu akan syock setelah membaca.” batin Renita pengunduhan.

Karena kesal Sarah meninggalkan parkiran, gadis itu segera menghubungi Sinta Ibu dari Maya.

Sarah dan Maya, sahabat karib yang selalu bersama, kompak dalam suka dan duka.

Namun, kehidupan tak selalu berjalan mulus. Maya mulai memberontak karena merasa dunianya tak lagi sama.

Renita, seorang gadis yang dikenal berandalan, mendatangi Maya, dengan getol mengajaknya bergabung bersama kelompoknya. Maya yang memang labil segera menerima tawaran mereka, meski Sarah sudah mengingatkan Namun, Maya tetap keukeh.

Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kafe gaul yang terkenal di kota. Maya, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat tersebut, terpesona.

Semua kesan buruk tentang Renita dan kawan-kawannya lenyap seketika. Di sana, ia merasa seolah-olah bisa melupakan segala masalah dan menikmati hidup.

“Nikmati hari kamu, May. Aku yang traktir,” bisik Renita sambil tersenyum licik, mengetahui bahwa gadis itu sudah terperangkap dalam bujuk rayunya.

Maya, yang terbuai oleh suasana, tak menyadari bahwa ia telah melangkah semakin jauh dari Sarah dan mendekati kehidupan yang jauh berbeda.

 

Hingga sebuah minuman tersaji di atas meja, Renita mempersilahkan Maya untuk meminumnya, “ini apa Ren?” meski matanya berbinar, Maya tetap penasaran.

”Hanya moctail, ini segar sekali dan mampu merefresh otak kita yang dipaksa berpikir keras oleh pak Agus wali kelas kita ha ha ha.” gelak tawa terdengar riuh.

”Tapi ini bukan minuman beralkohol kan? Aku takut mabuk.” tanyanya polos.

”Jangan khawatir ini hanya minuman biasa, kamu tidak akan minum minuman ini.” sahut Renita menyembunyikan seringainya. Tanpa Maya mengetahui dirinya telah masuk dalam jebakan batwoman.

Ragu-ragu Maya mulai menyesap minuman tersebut, hingga selanjutnya Maya justru ketagihan hampir tiga gelas berhasil dia habiskan,senyum Renita mengembang,”eksekusi dia.” titahnya melihat Maya yang terkapar dengan kepala tergeletak di atas meja.

Entah apa yang Renita rencanakan, dendam apa yang dia miliki sehingga menargetkan Maya.

Sarah menelpon Ibu Maya, mengatakan Maya pergi bersama Renita ke suatu Kafe, sontak saja Sinta ibu dari Maya mengerutkan keningnya.

”Itu kan kafe tempatku bekerja? apa yang dilakukannya.” Sinta gegas menyapu setiap sudut ruangan hingga matanya menatap sosok sang anak yang berada di dekatnya.

Renita memerintahkan dua sahabat lelakinya untuk membawa Maya ke sebuah ruangan, “bawa ke ruangan itu, jangan lupa bayarannya segera ditransfer.” titahnya.

Tangan pria itu hampir saja menyentuh Maya akan tetapi…

”Berhenti!!” suara teriakan Sinta membuat semua yang ada di sana terkejut.

 

”Jauhkan tangan kotormu dari tubuh putriku!! beraninya menyerang gadis polos untuk kepentinganmu!!” dada Sinta bergemuruh, nafasnya naik turun tangan mengepal.

”Apa, putrimu!!” sahut Renita syock,”ya dan kamu akan aku laporkan ke pihak yang berwajib untuk perbuatan ini!” ancam Sinta menggelegar.

“Eh jangan, aku nggak salah dia sendiri yang mau ikut ke-” cukup sudah terbukti bersalah masih mengelak, inikah wajah generasi penerus? akhlakless mau jadi apa negara ini! bukannya sekolah yang benar!” cibir Sinta geram.

Renita dan gank menunduk takut, melihatnya tajam dan menghunus Sinta. Renita yakin jika wanita itu sangat murka.

“Tante maafkan kami, sungguh kami hanya sedang bercanda.” isaknya memohon,”tetapi bercandaan kalian tidak lucu.” sergah Sinta setelah meminta keamanan meringkus Renita cs.

”Di mana aku?” kepala Maya memutar kabur, “sudah bangun?” suara itu…”Ibu.” kebingungan,”bagaimana petualanganmu bersama Renita seru?” nada suara Sinta dingin tapi tegas.

 

Maya mulai mengingat itu, dia menunduk dan terisak, “maafkan Maya Bu. Tapi sungguh aku juga ingin seperti mereka semua.” lirihnya pilu,”Ibu sudah memaafkan, Ibu juga minta maaf ya maaf belum bisa memberikan kebahagiaan.” dua wanita beda usia itu saling berpelukan.

Sinta sadar Maya masih labil dan sedang mencari jati diri yang tertanam sebagai ibu untuk mengarahkan. “Aku terlalu bodoh sehingga hampir tersesat, aku hanya ingin seperti mereka banyak teman.” ujar Maya lirih.

 

Renita dan temannya berdiskusi dari sekolahan, mereka dibina untuk diarahkan, Maya dan Sinta menjadi lebih hangat dan dekat, semua karena bantuan Sarah. Maya menyadari bahwa tidak semua yang dia lihat itu baik, gadis itu mulai belajar dari pengalaman.

Kisah Maya adalah segelintir dari kisah remaja Broken Home yang membutuhkan perhatian, jika salah bergaul maka hatinya akan tersesat, semoga dari Maya kita bisa belajar lebih bijak lagi, karena hidup itu berproses. Trauma itu akan memberikan kekuatan jika ditangani dengan tepat.

SELESAI

error: Content is protected !!