Bahagia seakan sulit untuk diraih.
Cinta kita hanya sebatas cinta.
Sulit untuk mengecap bahagia asmara.
Cinta tak pernah memandang status, usia seseorang.
Dia akan datang dimana dia berkehendak.
Dan akan pergi ketika dia merasa tak lagi nyaman bersemayam selama ini.
Cinta antara dua kekasih ibarat sebuah teka – teki.
Dia akan terpecahkan disaat cinta itu telah berakhir pada tujuannya yaitu hidup bersama..
Lalu bagaimana dengan cinta yang terjalin lalu berakhir sebelum mencapai tujuannya?
Tak pernah terlintas di benak kita bertemu tanpa sengaja,
hingga menumbuhkan benih – benih cinta.
Banyak yang ingin memiliki cintanya, namun hatinya tak pernah menerima cinta itu. Bahkan seorang sahabatnya pun begitu sangat menyayanginya, dan memberikan perhatian lebih dari seorang sahabat tidak mampu mendapatkan cintanya.
Berawal dari perkenalan sebuah media sosial. dari keisengan mengirim pertemanan ke orang – orang untuk mendapatkan lebih banyak teman di sosial media.
Dari sekian banyak yang aku kirimkan pertemanan untuk menjadi teman, sebutlah namanya Arumi.
Seorang gadis sederhana yang kesehariannya hanya dirumah. Merawat orang tuanya yang sudah tua. Arumi memiliki 4 saudara laki – laki dan 2 saudara perempuan.
Usia Arumi saat itu sudah 44 tahun saat aku mengenalnya lewat salah satu media sosial. Dan usiaku 38 tahun.
Seperti kata pepatah, cinta tak mengenal batasan usia. Bila cinta suci telah memilih dimana akan bersemayam maka disanalah dia tumbuh bersama kasih sayang yang dimilikinya.
Dari mulai ngobrol biasa di inbox hingga menjurus ke arah saling curhat.
Arumi dan Indra tadinya mulus dan saudara – saudaranya mendukung, namun siapa yang menyangka kalau seorang Indra sudah berumah tangga. Hanya karena rumah tangganya diambang kehancuran.
Tapi sejak itu, Arumi mulai menjaga jarak, dan selalu memberikan nasehat agar Indra berusaha memperbaiki hubungan rumah tangga demi kedua anak – anaknya yang masih butuh seorang ayah.
Atau mungkin saja bagi Indra, seorang Arumi akan menjadi cinta pelariannya. yang dia tahu benar sifat seorang Arumi yang lugu dan penuh dengan kasih sayang. Lugu karena di usianya yang sudah 44 tahun, baru mengenal cinta. Dan itu dari seorang Indra, yang banyak mengajarkan bagaimana menjadi seorang kekasih yang baik untuk seorang laki – laki. Namun waktu dan tempatnya yang salah. Indra sudah berumah tangga. Walau Ayah Arumi melarang hubungan mereka, tetapi Indra tetap datang ke rumah Arumi. Ini terjadi karena adanya dukungan dari saudara – saudara Arumi Dan lagi – lagi Arumi seorang gadis yang selalu menghormati setiap tamu yang datang ke rumahnya. Tetap melayaninya tapi bukan sebagai kekasih lagi, walaupun berat hati menerima kedatangan Indra.
Singkat kata, dari saling curhatan itulah aku mengenal Arumi dan jati dirinya. Keadaan keluarganya. Karena kejujurannya Arumi membuat hatiku tersentuh.
Ya, seorang gadis berusia 44 tahun yang memiliki sifat begitu baik, penyayang begitu jujur menceritakan kisahnya padaku yang baru saja dikenalnya di media sosial.
Dan aku saat itu status sendiri sudah berstatus duda dengan 2 anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Istriku meninggal pada tahun 2010 karena mengidap penyakit Bronkitis akut yang sudah tidak bisa diobati.
Dari kejujurannya Arumi, akupun jujur padanya. Namun itulah cinta. Sewaktu aku mengajak Arumi untuk bertemu denganku, Bukan lagi sebatas berteman di di Media sosial. Arumi tadinya menolak ajakanku, dengan alasan dia sangat sulit keluar rumah tanpa alasan yang tepat. Karena harus mengurus rumah, lantaran orang tuanya yang sudah tua
Tetapi setiap aku dan Arumi inbox kan, aku selalu menawarkan untuk bertemu agar bisa saling mengenal lebih jauh lagi. Apalagi setiap inbokan Arumi selalu berterus terang bahwa dia baru mengenal seorang laki – laki yang dianggapnya berbeda.
Laki – laki yang selalu memberinya semangat dan dan memberikan perhatian dari teman – teman medsos lainnya. Dia juga katakan bahwa dia selalu merasa nyaman berlama – lama inbokan denganku.
Dari situ pula kami, akhirnya saling tukar no telpon, yang saat belum ada WA. Jadi selain Inbox kan kami saling sms-an.
Setiap SMS-an aku kembali mengajaknya untuk bertemu, akhirnya Arumi mengiyakan ajakan untuk bertemu dengan syarat jika aku benar – benar sayang sama dia maka utarakan kata cinta padanya.
Yah ini namanya sama saja memasang umpan tapi umpannya termakan sendiri.
Karena memang aku penasaran juga ingin melihat secara langsung Arumi, akhirnya aku nembak dia dan mengutarakan cintaku padanya. Gayung bersambut dia menerima cintaku, tanpa memandang status sebagai seorang duda beranak dua.
Di hari yang telah ditentukan, kami sepakat, aku akan menjemputnya di luar jalan raya menuju ke arah rumahnya. Di bilangan jalan Ratulangi. Ini anjurannya, agar tidak ada tetangga atau saudaranya yang melihat, jika seorang laki – laki yang mereka tidak kenal datang menjemput saudara perempuannya yang selalu dijaga.
Setelah Arumi duduk di atas boncengan, aku pun langsung melarikan motor menuju ke arah Pantai Losari Kota Makassar. Di pantai itulah awal cintaku dan Arumi semakin tumbuh. Apa yang dikatakan di inbox dan SMS memang tidak berbeda dengan yang sekarang ada di hadapanku.
Seorang Arumi yang sederhana, wajah ayu dan penuh perhatian. Polos seperti gadis yang belum pernah mengenal cinta dan menjalin hubungan dengan seorang laki – laki.
Di Pantai Losari itu kami menghabiskan waktu, saling mengenal dan saling berjanji untuk saling menjaga cinta kami. karena baginya akulah laki – laki yang pertama bisa menembus hatinya dan mendapatkan cintanya, walaupun dulu ada seorang Indra dikenalnya. namun baginya hubungan itu hanya sebuah hubungan yang tak berarti sama sekali.
Tak terasa hubunganku dengan Arumi sudah berjalan enam bulan.
Hubunganku dengan Arumi yang tadinya baik – baik saja, mulai dipenuhi dengan konflik.
Bukan dari kami berdua tapi dari keluarganya. Terutama dari adik perempuan yang tadinya mendukung hubungan kami, tiba – tiba berubah menjadi penghalang utama cinta kami. Segala cara digunakan untuk memisahkan kami. tapi semakin adiknya itu berusaha memisahkan,rasa cinta kami semakin hebat. Bahkan kedua orang tuanya berubah juga.
Tapi satu kesyukuran diantara keluarganya yang tidak merestui hubungan kami tampil Kakak tertuanya dan dua orang adiknya yang tetap merestui kami.
Bahkan Kakak tertuanya mengundangku untuk datang ke rumahnya untuk berkenalan. walau dengan jalan rahasia, tanpa sepengetahuan adiknya yang dianggap menentang hubungan.
Dari pertemuan singkat itu, bertambah pendukung kami, yakni kakak keduanya dan kakak ketiga. Berarti tinggal si adik perempuan dan ayahnya yang tidak merestui kami.
Namun itu bukan lagi penghalang yang berat buat aku dan Arumi untuk bertemu di luar. Walaupun hanya curi – curi waktu, pertemuan kami dirahasiakan dari adiknya