~Kerinduan mendalam terhadap sesuatu yang tak bisa kembali—baik itu tempat, masa lalu, seseorang, atau bahkan versi lama dari diri sendiri.~
—
Aku selalu suka kota ini menjelang malam. Ketika suara-suara mulai mengecil, lampu jalan menyala malu-malu, dan langit tidak lagi menuntut apa-apa.
Kota ini punya cara sendiri untuk berkata, “Kamu bisa diam. Aku yang tetap akan berputar.”
Dan mungkin itu juga yang kamu ajarkan padaku.
Waktu itu, aku sedang tidak ingin mengenal siapa pun. Aku bahkan muak dengan diriku sendiri.
Namun, kamu datang, duduk di bangku taman yang sama, membawa roti lapis dengan isian terlalu tipis, dan berkata ramah, “Kalau kita duduk bersama di tempat ini tiga hari berturut-turut, berarti kita sah berteman.”
Aku tertawa. Bukan karena itu lucu, entahlah. Mungkin karena aku ingin bertahan.
Dan kamu seperti alasan pertama setelah sekian lama.
Hari-hari setelahnya, kamu menjadi jeda yang kupeluk diam-diam. Kita bicara tentang hal-hal kecil. Bicara tentang kenapa langit senja seperti lukisan yang tak pernah selesai, tentang suara sendok bertemu gelas, tentang rasa pedas yang kamu benci, tetapi selalu kamu cari.
Kita seperti dua orang asing yang tidak sengaja menemukan kunci untuk membuka ruang yang sudah lama dikunci.
Dan mungkin, itu cukup untuk disebut dekat.
“Apa kamu pernah merasa tinggal di suatu tempat, tapi rasanya kamu hanya menumpang lewat?” Itu pertanyaanmu suatu sore.
Aku menoleh.
Kamu tidak menatapku, hanya menatap telapak tanganmu sendiri, seolah di sana ada jawaban.
“Pernah,” jawabku.
“Dan apakah kamu pergi?”
“Tidak. Aku tetap tinggal meskipun aku tidak pernah benar-benar hadir.”
Ada bagian darimu yang seperti kabut yang tidak bisa kusentuh, tetapi menyelimuti segalanya.
Kamu tidak pernah benar-benar membukakan semua pintu, tetapi juga tidak pernah membuatku merasa ditolak masuk.
Saat itu, itu sudah cukup.
Sampai akhirnya kamu berkata, “Aku harus pergi sebentar.”
Aku tahu, sebentar bisa jadi kata paling panjang dalam dunia orang-orang yang tidak pernah belajar menunggu.
Namun, aku tidak mencegahmu. Aku mengerti. Kita tidak selalu pergi karena tidak betah, kadang kita pergi karena ingin tahu apakah yang kita tinggalkan akan tetap berdetak setelah kita tak lagi ada di dalamnya.
Hari-hariku berjalan dengan lengang.
Kamu tak lagi duduk di bangku taman. Tak lagi muncul membawa cerita aneh dan ekspresi yang susah ditebak, tetapi bekasmu menetap.
Ada ruang yang tak bisa kuisi dengan siapa pun karena rasanya bukan hanya kamu yang pergi, versi diriku yang tumbuh saat bersamamu juga ikut lenyap.
Beberapa tahun berlalu. Aku mencoba berjalan, berkenalan, membuka jendela untuk angin baru.
Akan tetapi, kadang saat hujan turun dan bau tanah naik ke udara, aku mulai teringat aroma jaketmu.
Kamu kembali muncul di pikiranku, tidak sebagai seseorang yang kucintai, tetapi sebagai perasaan yang tidak bisa kuberi nama.
Suatu hari, aku kembali ke taman itu. Bangkunya tentu masih ada meski sedikit berkarat.
Langitnya pun masih sama kelabu, tenang, menggantung cerita yang belum selesai.
Aku duduk seraya mengusap cerita yang pernah tersimpan di sana.
Tebersit sedikit harapan kalau kamu kembali, artinya kamu belum benar-benar pergi dari tempat yang sama denganku dulu.
Aku ingin bilang terima kasih, karena selama beberapa musim hidupku, kamu adalah tempat yang membuat aku percaya. Percaya kalau aku bukan hanya orang yang pandai pergi, tetapi juga seseorang yang sempat bisa diam.
Kini, aku tinggal di kota baru.
Di tempat di mana langitnya tidak seindah langit tempat kita dulu bicara. Namun, udaranya cukup bersih untuk membuatku bernapas utuh.
Aku berkenalan dengan orang baru. Dia tidak mirip kamu. Dia tidak suka bicara soal langit atau aroma kopi hitam, tetapi dia selalu ada.
Dia tidak membuatku bertanya-tanya. Dia tidak pernah membuatku menunggu.
Dan kini, itu saja cukup.
Kadang, saat aku duduk sendiri, aku mengenangmu. Dan merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Itu bukan luka, juga bukan cinta, melainkan perasaan seperti berdiri di depan rumah masa kecil yang sudah dibongkar.
Kamu tahu tempat itu pernah ada. Kamu tahu rasanya pernah tinggal di sana. Dan setelah waktu berlalu, kamu hanya bisa menatap tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar.
Mungkin seperti itulah kamu. Sesuatu yang pernah menjadi rumah, tetapi tak bisa kudatangi lagi.
Bukan karena kamu mengusirku, tetapi karena kita memang hanya dititipkan pada satu musim, yang akhirnya habis masa sewanya.
Itu juga bukan salah siapa-siapa. Hanya dunia yang berjalan seperti biasa.
Aku tak berharap bisa bertemu lagi. Aku juga tak pernah bisa benar-benar melepaskan.
Aku sadar beberapa orang tidak datang untuk dimiliki. Mereka datang untuk mengembalikan bagian dari diri kita yang hilang.
Lalu pergi… sebelum kita sempat bilang terima kasih.
Dan kamu,
adalah orang yang pernah membuat aku merasa punya rumah. Tanpa pernah menanyakan kapan aku akan tinggal selamanya.
~musimsunyi,
28 Juli 2025