Hati Tidak Bercerita

HTB~4

Di ruang kerja CEO.

Ruangan itu luas dan modern, didominasi kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, memberikan pemandangan langsung ke gemerlap kota. Meja kerja besar berdiri kokoh di tengah ruangan, dikelilingi rak-rak berisi buku dan penghargaan perusahaan. Lampu gantung berbentuk geometris memancarkan cahaya hangat, menciptakan kontras dengan dinding putih bersih yang hanya dihiasi satu bingkai foto besar—foto Arsa Arkadya, pendiri perusahaan, tersenyum bangga dengan pandangan penuh visi.

Sena berdiri di dekat jendela, punggungnya sedikit membungkuk, secangkir kopi hitam di tangannya sudah mendingin. Ia memandang keluar, tapi matanya tak benar-benar melihat gedung-gedung pencakar langit. Yang ada di benaknya adalah bayangan wajah sang ayah, bercampur dengan memori yang tak pernah berhenti mengusiknya.

Serangan jantung mendadak sebulan lalu telah merenggut ayahnya, yang dikenal tegas dan keras kepala, bukan hanya sekadar pendiri Arkadya Innovatech—ia adalah simbol kekuatan keluarga mereka. Namun, ketika Sena menerima telepon dari Ivan tentang bagaimana pamannya, Herman, sedang melobi dewan untuk menjual perusahaan kepada investor asing, Sena tahu dia tidak punya pilihan.

“Kamu harus pulang ke tanah air, Sena,” ujar Arsa di telepon, dua tahun lalu.

“Saya tidak ingin pulang. Saya tidak butuh warisan dan terpenting saya tidak mau seperti ayah!” seru Sena saat itu. Wajah Arsa memerah di balik telepon.

Sena sudah jenuh membicarakan permintaan Arsa yang berulang kali tentang kepulangannya, tentang perusahaannya yang Sena sama sekali tidak ada minat untuk mengambil alih atau menjadi pimpinan perusahaan yang memiliki nama besar ayahnya itu.

“Warisan ini bukan tentang uang, Sena,” balas Arsa tegas, suaranya bergetar. “Ini tentang nama kita, tentang kehormatan keluarga yang kubangun dengan darah dan keringat!”

“Tapi itu mimpi Anda, bukan mimpi saya!” Sena membalas, dengan suara yang tidak kalah keras.

Arsa terdiam sesaat, menarik napas panjang. “Satu hari nanti, kau akan mengerti, Sena. Tapi aku takut, saat itu tiba, sudah terlambat.”

Dan dengan emosi yang memuncak, Sena berkata, “Saya tidak peduli kalau saya tidak pernah mengerti, Ayah. Saya punya hidup saya sendiri!”

Kalimat itu terus menghantuinya hingga kini. Ia mengucapkannya dalam amarah, tapi kini kalimat itu terasa seperti pisau yang menancap dalam-dalam di hatinya.

Sena menghela napas panjang, membalikkan badan menghadap meja kerja, tatapannya terhenti pada foto ayahnya di dinding. Ia tahu ini bukan sekadar tentang menyelamatkan perusahaan. Ini adalah penebusan.

Sena mendekati meja dan meletakkan gelas kopinya. Lalu dia menyandarkan tubuh di kursi kulit besar, kedua tangannya bertumpu pada pinggir meja. Meja yang dulunya adalah tempat ayahnya mengambil keputusan besar dan mengatur arah perusahaan.

Ponsel di mejanya bergetar, memutus lamunannya. Nama “Ibu” tertera di layar. Sena menghela napas panjang sebelum mengangkat panggilan itu.

“Iya, Bu,” ucap Sena singkat.

“Bagaimana harimu, Sena? Sudah mulai terbiasa dengan ruangan baru?” Suara ibunya terdengar lembut, tetapi seperti biasa, ada nada tegas yang tersembunyi di balik kehangatan itu.

“Biasa saja. Sama seperti sebelumnya,” jawab Sena datar. Ia meraih dokumen di meja, mencoba mengalihkan perhatian dari percakapan yang pasti akan berujung pada sesuatu yang tidak ia inginkan.

“Ibu lihat namamu lagi-lagi muncul di majalah bisnis pagi ini. Mereka menyebutmu ‘generasi baru Arkadya.’ Bagus sekali untuk citra perusahaan.”

Sena langsung menggeram pelan. Ia meremas dokumen di tangannya tanpa sadar. Dia paling tidak suka diatur tradisi atau pun media.

“Bu, saya sudah bilang. Saya tidak mau semua ini jadi berita besar. Bisa tidak, Ibu hentikan semua publikasi itu?”

“Sena, itu bagian dari tanggung jawabmu sekarang. Publik harus tahu siapa yang memimpin perusahaan ini sekarang. Kalau tidak ada pemberitaan, bagaimana mereka bisa percaya bahwa Arkadya Innovatech masih berada di tangan yang kuat?”

“Percaya? Mereka nggak peduli siapa saya. Mereka cuma peduli angka, saham, dan profit!” Sena membuang dokumen itu ke meja. “Saya tidak minta semua sorotan ini, Bu. Saya bahkan tidak pernah membayangkan menjadi CEO menggantikan ayah!”

Di ujung telepon, ibunya terdiam sesaat. Tapi hanya sesaat.

“Itulah kenapa kamu harus memperkuat posisi kamu, Sena,” kata ibunya akhirnya, suaranya lebih tegas. “Dan salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menikah.”

Sena terdiam. Tatapannya kosong.

“Bu, saya tidak mau menikah hanya karena tradisi keluarga atau perusahaan. Itu konyol.”

“Bukan hanya tradisi, Sena. Dewan direksi ingin melihat bahwa kamu stabil, bertanggung jawab, dan bisa memimpin. Pernikahan akan memperkuat kepercayaan mereka pada kamu.”

Sena tertawa kecil, tapi nadanya sinis. “Jadi, menurut Ibu, pernikahan itu cuma alat politik sekarang? Bukannya itu harus soal cinta atau kemauan sendiri?”

“Sena, ibu tahu ini sulit untukmu, tapi dengarkan ini baik-baik,” suara ibunya melembut, mencoba meredakan ketegangan. “Ibu sudah punya calon. Seseorang yang kupikir cocok untukmu. Dia dari keluarga baik-baik, pintar, dan … terutama keluarganya sangat kuat di politik. Dia bisa menjadi pasangan yang kuat untuk mendukungmu.”

“Apa-apaan ini, Bu? Ibu bahkan sudah punya calon? Saya belum bilang setuju!” Sena berdiri dari kursinya, berjalan ke dekat jendela. Tangannya meremas pelipisnya, mencoba menenangkan dirinya.

“Sena, Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Kalau kamu mau tetap berada di posisi ini dan mempertahankan apa yang ayahmu bangun, kamu harus mengikuti aturan. Pernikahan ini bukan hanya untuk perusahaan, tapi juga untuk melindungi keluarga kita.

“Ingat, Sena. Paman kamu mengincar posisi kamu, dia punya sejuta trik dan koneksi yang kuat untuk bisa menghalangi segala usahamu menuju pengangkatan resmi kamu nanti,” lanjut ibunya panjang tanpa jeda. Ada kecemasan yang sangat besar di balik suara lembut ibunya.

Sena memejamkan mata, mengatur napas. “Saya tahu dan saya punya cara saya sendiri. Saya mohon Ibu tidak ikut campur lagi tentang masalah ini. Biar saya yang urus semuanya.”

“Ibu mengerti kamu kesal saat ini, Sena. Tapi kamu harus ingat, ini bukan hanya tentang kamu. Ini tentang ayahmu, tentang Arkadya, dan apa yang sudah dia bangun. Tolong, pikirkan lagi. Ibu tidak memaksamu sekarang, tapi…”

Sena membuka mata, menatap bayangannya di kaca jendela. Ia terlihat lelah, meski hari baru saja dimulai.

“Ibu jangan kuatir. Saya tidak akan mengecewakan almarhum ayah,” kata Sena akhirnya, suaranya rendah.

Sang ibu hanya mendesah pelan di ujung telepon. “Baiklah, Sena. Ibu percaya.”

Telepon terputus. Sena berdiri di sana, menatap kota yang gemerlap, merasa seperti seorang aktor yang terjebak dalam panggung yang tidak pernah ia pilih.

Sena mengembuskan napas panjang, lalu berbalik menghadap meja kerja. Foto ayahnya masih tersenyum di dinding, seolah mengawasinya diam-diam dari langit sana.

Tak lama Ivan, asisten pribadinya yang usianya sepantaran dengan Sena itu masuk. “Pak Sena, apa ada yang Bapak inginkan?” Tangannya membawa tablet.

Sena menatap Ivan sebentar. Tampak ragu apa yang dia inginkan katakan. Tapi, ini mungkin salah satu solusi yang terpikirkan olehnya saat ini.

“Saya butuh semua informasi tentang Seira, divisi desain produk yang tadi di ruang rapat. Latar belakang, riwayat pekerjaan, keluarga, semuanya. Dan saya ingin laporan itu sebelum malam ini.”

Ivan mengangguk cepat. “Saya akan segera mengurusnya, Pak Sena.”

“Dan Ivan,” tambah Sena, suaranya lebih rendah, lebih dingin. “Jangan biarkan ini bocor. Kita sedang diawasi.”

Ivan menunduk hormat sebelum keluar dari ruangan.

Setelah pintu tertutup, Sena kembali memandangi foto ayahnya. “Kamu benar, Ayah,” bisiknya pelan. “Dan saya terlalu keras kepala untuk mendengarnya. Saya harap masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya.”

Dan, … Sena berpikir jika dirinya harus penuhi syarat yang mengharuskannya menikah. Wanita itu haruslah Seira.

Kenapa?

Karena hanya Seira yang sepertinya tidak terpengaruh akan status juga siapa dirinya. Wanita itu tampak dingin, acuh, tegas dan fokus pada pekerjaannya saja. Dan itu persis yang diperlukannya. Sebuah pernikahan tanpa komplikasi dan profesional. Cepat dan praktis.

Dan untuk mengajak wanita itu mau bekerjasama dengannya, Sena harus mengerti kelemahannya. Itu bisa dijadikan sen jata untuk menaklukkan wanita yang pertama kali ditemuinya di koridor kantor hari ini. Mungkin semua ini bukan kebetulan.

“Seira,… Seira,” gumam Sena sembari mengetukkan jemarinya di meja, “Apa kamu akan jadi solusi atau justru masalah baru?”

 

 

Lates Chapters

HTB~5

  Beberapa lantai di bawah ruangan CEO.   Hachii!   Seira buru-buru menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan. Napasnya pendek, dadanya terasa sesak. Ia…

HTB~3

Di lorong menuju lift, Herman mendekati Sena lagi. Langkahnya sengaja dipercepat, suaranya berbisik tajam, penuh dengan nada mengejek. "Jadi, kapan kamu mau umumkan rencana pernikahanmu?"…

HTB~2

Beberapa jam lalu sebelum insiden kopi di lorong kantor. Ponsel di bawah bantal Seira bergetar keras, memaksa kelopak matanya terbuka meski lelah belum sepenuhnya terbayar.…

HTB~1

  "Seira, berapa kali Ibu bilang, jangan tanya soal itu lagi!" Suara keras ibunya bergema di dapur kecil mereka, membuat Seira mundur selangkah. Matanya nanar…
error: Content is protected !!