Bising Menjadi Delema

https://www.novelgood.id

Bising Menjadi delama by Hidayah Hati

 

Nela menutup kedua telinganya kuat-kuat. Ia enggan mendengar suara bising pertengkaran orang tuanya.

 

Setetes bening air matanya bergulir di pipi.

 

Malam pertengkaran orang tua nya. Acap kali sering terjadi membuat nya gila.

 

Malam itu tampak hujan rintik, membasahi bahu jalan. Mampu menggalahkan suara bising  benda yang dilempar dan di banting sang ayah.

 

Seorang ayah dengan  perangai Pemarah Demi keegoisan dirinya. Mencipta’kan rasa ketakutan dirinya kian  menjadi gila.

 

 Ayah Nela yang menggamuk, semakin seperti kesetanan. Menjadi’kan ibu sebagai pelampiasan akan, marahnya. Menambah rasa takut Nela.

 

Ia menjerit dan menangis. Wajahnya dibenamkan dalam kedua telapak tangan yang lemah.

 

Nela marah dan sedih. Namun, hanya berpokus Pada keadaan. Ingin ia berontak. Berlari yang jauh, untuk membawa dirinya dalam duka.

 

Ia tersadar akan wajah ibu. wajah dengan tatapan kosong, tampa harapan.

 

Dalam balutan selimut malamnya. Nela sembunyikan wajahnya yang  Berurai air mata. Rasanya ia sudah tidak Sanggup lagi. hidup dalam situasi seperti ini. Ia tak kuat hidup dalam lingkaran kesedihan, yang menggiringnya menuju ketakutan. Karena kegilaan sang ayah.

 

“Nela pergilah, kamu Nak?” Ucap sang ibu.

 

“Bagaimana aku pergi, Bu?” Tidak mungkin Aku meninggal’kan ibu.

 

“Pergilah, nak, jangan hiraukan ibu.

 

Nela terdiam dalam harap ia ingin  meningalkan derita batin hidupnya.

 

Meski ia tak tahu. Akan kemana ia membawa diri juga luka batinnya.

 

Teringat akan Ibu, menjadikan ia harus kembali untuk berpikir ulang.

 

“Aku ingin membawa Ibu serta. Ikutlah, Bu bersama aku. Meski aku sendiri tidak tahu, akan Kubawa kemana Ibu. Namun, setidaknya. Ibu dan aku aman.

 

Saat jauh pikiran Nela, akan ke Hidupan nya. ia ingin mencari ketenangan, hidupnya.meski harus tampa sang ayah.

 

“Nela, ” kamu jangan menjadi Anak durhaka.” sapaan sang ayah.

 

“Biarkan Nela pergi. Jangan lagi kamu, melukai Anak kita.ucap sang ibu.

 

“Kalian berdua, memang selalu membuat Aku gila. di sini aku tidak lagi merasa dihargai. Pergilah kalian semua. Ucap sang ayah, saat ke gilaan nya.

 

Nela yang tidak pernah tahu, permasalahan orang tuanya.namun, kerap kali Ia yang terkena imbas akan dampaknya.

 

Dari pertengkaran orang tuanya, dia kerap kali mendengar. Kalau sang ayah, suka berjudi dan main perempuan.hinga membuat Ibu hilang akal, tidak lagi menghargai nya.

 

Ya Tuhan, aku harus apa? Bagaimana caranya, agar keluar dari keadaan seperti ini.

 

“Nela, Ibu minta maaf, Nak. Rasanya Ibu sudah tidak tahan.akan, Ayah Kamu?”

 

“Nela mengerti Bu. Tapi kita bisa apa?

 

“Pergilah kamu yang jauh dari Kami. Cari dan dapati kebahagian kamu sendiri. Sejatinya, kamu bisa dan akan mendapatkannya. meski tampa Kami dan tidak bersama Kami.

 

“Bu, sejatinya bukan Aku, yang harus pergi. Tapi Ayah Bu.karena dialah, kita menderita.hidup selalu dalam rasa takut, yang menjadikan Delama Dalam hidup kita

 

“Kamu benar Nak,” Namun, tidak mungkin Ibu dapat mengusir Ayah Kamu.karena keselamatan Kamu, jauh lebih penting. Dari pada rasa Sakit ini.

 

“Mari, Bu, lebih baik kita pergi bersama. Seperti kata Ibu. Kebahagian Kita, tidak di sini, tidak bersama Ayah.

 

Aku yang menangis dan memeluk ibu.tampak begitu terluka dengan sayat’tan perkataan sang Ibu.tidak mungkin dirinya tega, pergi Meningalkan sang ibu dalam kerundungan.

 

Dengan berat hati. nela pergi meningal’kan rumah. dimana ada sang’Ibu, yang tetap ingin bertahan bersama-sama sang ayah.yang telah banyak meningalkan delama ( truma orang tua) dalam kehidupanya.

 

“Jaga diri Ibu, kalau memang tetap ingin bertahan bersama Ayah. Setidaknya, Ibu jangan menyerah untuk Aku.tungulah Aku, dimana saatnya nanti. Aku kembali untuk ibu.

 

“Kamu juga Nela, jaga diri Kamu baik-baik. Lawanlah Dunia yang keras ini, dengan ke teguhan Iman dan Tekad Kamu. Janggan,” Menyerah hanya karena Rasa Takut dan Delama (truma orang tua).doa Ibu Selalu bersama Kamu.

 

Dengan bercucur air mata, aku pergi meningalkan sang ibu.yang tetap untuk terus bersama sang ayah. Meski setiap kali membuat bising. Namun, Ibu tetap teguh, akan pilihannya.

 

Nela melangkah jauh, meningalkan sang ibu. Dengan rasa takut, ia terus melang’kah. Jauh dan jauh, pergi entah kemana?” Satu hal dalam pikirannya, Ia harus, pergi. Mencari obat luka hatinya,  juga delamanya.

 

Dari ke jauhan, sang ayah turut menyaksikan. Akan kepergian sang anak yang semata wayang. Pergi meningalkan dirinya, yang telah membuat rasa takut akan Bising(pertengkaran ayah/ibu) yang telah ia beri. Meski jauh, di lubuk hati sang ayah. Tidak ingin ia lakukan, meski karena keegoisan dirinya.

 

“Anak Kita telah pergi, meski tidak secara langsung. Engkau telah menyuruhnya pergi. Namun, semua karena kamu. Yang telah membuat Luka dan Delama pada diri nya.

 

“Aku sadar, sebagai seorang Ayah. Aku tidak memberikan rasa nyaman itu. Namun, Aku berharap, dengan bising(pertengkaran ayah/ibu) yang ku buat. Yang akhirnya meningalkan rasa takut. Tidak membuat delama dalam diri nya.

 

“Bagaimana mungki kamu yakin akan hal itu. Sedang dia pergi, karena bising(pertengkaran ayah/ibu) yang Kamu buat. Hinga harus Ia meningalkan Delama Dalam dirinya.

 

“Maafkan Ayah,nak. Kini engkau telah pergi. Meski ayah tahu, tidak adanya arah dan tujuan Kamu. Semoga kamu baik-baik dan dapat, bertemu orang yang baik.

 

Nela seorang Gadis muda, yang lulus Sekolah Menengah Atas. Namun, setelah kelulusannya, ia  belum juga memiliki pekerjaan. Hidupnya setiap hari, ia habiskan untuk membantu sang Ibu. Yang menjadi kuli cuci dan menggosok pakaian.

 

Dengan keadaan yang serba kekurangan, Ia kerap kali harus menyaksikan pertengkaran ke Dua orang tuanya. 

 

Dari pertengkaran itu, kerap membuat rasa takut nya yang berlebih. Di karena’kan Sang Ayah yang Pemarah dan suka Berjudi.

 

Setiap kali sang ayah pulang ke rumah, dalam keadaan kalah Judi. Maka kebisingan(pertengkaran ayah/ibu) yang akan ia dan ibu nya terima.

 

Namun, kalau kemenangan yang sang ayah dapatkan. Sang ayah tidak akan pulang ke rumah. Melain’kan pergi dengan perempuan lain.

 

Itulah ke hidupan yang di alami Nela. Bersama kedua orang tua nya.karena ke bisingan orang tua nya. Menjadikan delama di dalam diri, dan ke hidupan nya.

 

Bising(pertengkaran ayah/ibu) yang menjadi Delama. Yang telah menghantar’kan kehidupan Nela, menjadi seorang yang truma. Membuat ia enggan untuk mencari teman dan pasangan. Yang menjadikan dirinya, nyaman akan kesendirian.

 

Semoga Nela yang pergi. Dapat menjadi Nela yang lebih baik lagi. Menjadi Nela yang bisa, menggubur akan kehidupan nya yang Delama. menghapus kebisingan pertengkaran  orang tuanya. untuk lebih baik lagi. menyembuhkan luka takut, bising(pertengkaran ayah/ibu) menjadi Delama.

error: Content is protected !!