JARAK DAN WAKTU
Oleh : Addina Kamila
Arus ombak yang sedang berhamburan mengenai tepi pantai menjadi saksi dua insan yang sedang berjanji untuk tidak saling melupakan satu sama lain.
”Dip, kalau kamu sudah di Yogya jangan lupain aku ya” ucap seorang gadis yang matanya penuh harapan.
”Iya Vika aku gak bakal lupain kamu kok” sahut Sadipta Pratama lelaki yang memiliki tubuh tinggi 170 cm, rambutnya yang ikal, berhidung mancung, beralis tebal, dan memliki senyum yang begitu manis hingga siapa pun wanita yang melihat pasti terpana, mereka berdua kembali terdiam hingga hanya suara kicauan burung dan deburan ombak yang terdengar, sehingga matahari menyembunyikan diri di balik arah timur.
”Jadi kapan kamu berangkat ke, Yogya Dip? ” tanya Vika,
”Mungkin dalam minggu ini Vik”
”Harus secepat itu ya Dip? “
”Ya mau gimana lagi Vik, namanya juga aku ikut kedua orangtua ku”
”T-tapi Dip”
”Tapi kenapa Vika? ” tanya Dipta
”Ah sudah lah lupain aja Dip, mungkin memang sudah ini jalannya, yang intinya kita jangan saling melupakan, dan harus saling bertukar kabar satu sama lain” sahut Jeevika tak terasa air mata terus mengalir dari pelipis matanya, tangan dingin itu tak disangka menghapus air mata yang terus mengalir tanpa henti.
”Sudah lah Vik, jangan menangis lagi, jika takdir Tuhan baik pasti kitaa akan bertemu kembali”, ucap Sadipta
”Janji ya Dipta? “
”Iya Jeevika Nayana” jari kelingking mereka saling berkaitan untuk mengukir sebuah janji yang akan mereka tanggung hingga mereka bertemu lagi nanti.
Saat hari perpisahan tiba, Jeevika menahan air matanya, Sadipta berusaha tersenyum kuat, meski dalam hatinya ada kekosongan yang tak terjelaskan.
”Kita engga akan benar-benar berpisah, kan?” tanya Jeevika pelan
”Engga, jarak cuma angka Vik, sahabat sejati engga akan terpisah cuma karena beda kota” Jawab Sadipta sambil memegang bahu Jeevika.
Beberapa bulan pertama setelah Sadipta pindah, mereka masih sering berkomunikasi. Setiap malam mereka akan berbicara lewat video call, menceritakan hari-hari mereka. Jeevika mendengar cerita Sadipta tentang sekolah barunya, teman-teman barunya di Yogya, dan kehidupan di kota yang sangat jauh lebih sibuk dibandingkan kota kecil mereka.
”Vik, disini banyak tempat makan yang enak, kalau main ke sini kamu harus cobain!” Kata Sadipta lewat video call.
”Pasti, aku bakal minta kamu jadi pendampingnya” sahut Jeevika sambil tertawa kecil.
Namun, perlahan-lahan semuanya mulai berubah. Percakapan mereka tidak sesering dulu. Sadipta mulai sibuk dengan aktivitas sekolah dan pergaulan barunya. Pesan-pesan Jeevika sering kali hanya berisi balasan singkat, dan video call mereka semakin jarang terjadi. Sadipta tidak lagi bercerita tentang hal-hal kecil, dan apa yang ia rasakan atau pikirkan, seperti dulu.
Jeevika mulai merasakan jarak yang tidak hanya fisik, tapi juga emosional. Di malam yang sunyi, Ia membuka kembali chat lama mereka, membaca percakapan yang dulunya penuh dengan canda dan tawa. Kini, semuanya terasa sangat hampa. Setiap kali ia mencoba untuk menghubungi Sadipta, balasan yang ia dapatkan selalu sama. “Maaf Vik, lagi sibuk”.
Suatu malam, setelah lama tidak mendengar kabar dari Sadipta, Jeevika mencoba untuk menelponnya. Namun, telepon itu hanya berdering tanpa jawaban, saat itulah Jeevika menyadari bahwa persahabatan mereka perlahan mulai memudar.
Beberapa bulan berlalu, dan saat liburan akhir tahun, Jeevika memutuskan untuk mengunjungi kota itu sendirian. Ia sangat ingin bertemu dengan Sadipta, berharap dengan pertemuan langsung bisa menghidupkan kembali persahabatan mereka yang perlahan mulai memudar. Dengan penuh harapan, ia mengirim pesan kepada Sadipta, mengabarkan bahwa dia akan datang ke Yogya.
Namun balasan yang ia terima menghancurkan semua harapannya. “Maaf Vik, aku lagi ada acara keluarga”.
Hati Jeevika seakan hancur mendengar hal itu. Dia telah menunggu waktu yang cukup lama untuk bertemu. Namun ternyata, Sadipta tidak memiliki waktu sedikit pun untuknya. Perasaan kecewa dan hampa menghantuinya selama sisa liburan. Dia menghabiskan waktu liburannya sendirian di kota yang sangat asing baginya, sambil merindukan masa-masa bersama Sadipta yang kini terasa semakin jauh.
Malam itu, Jeevika menatap langit gelap, dengan bintang yang bertaburan. Dia menghela napas panjang, merasakan kehampaan yang mendalam. Persahabatan mereka tidak berakhir dengan kebencian, melainkan dengan jarak dan kesibukan mereka masing-masing.
Dan di bawah langit malam yang tenang itu, Jeevika menerima kenyataan pahit itu bahwa jarak dan waktu tak hanya memisahkan tempat, tetapi juga hati. Kenangan yang dulu terasa begitu hangat kini mulai menghilang perlahan, tanpa ia sadari.
Jeevika berdiri didepan meja riasnya, menatap barang yang dulu pernah diberikan oleh Sadipta. Boneka beruang berwarna coklat yang dulu Sadipta berikan saat Jeevika berulang tahun, tanpa berpikir panjang, ia membawanya ke depan rumah dan membakarnya.