Jatuh Cinta Lagi
Pada saat liburan kenaikan kelas, Sasya mengetahui bahwa Ivan selingkuh dengan sahabatnya sendiri yaitu Ita. Oleh karena itu, Sasya trauma untuk berpacaran. Dia tidak mau sakit hati lagi.
Liburan yang seharusnya diisi dengan kebahagiaan malah diisi oleh air mata. Saat itu, Sasya dan keluarganya sedang berlibur ke pantai. Dia melihat Ivan berdiri mendekati ombak, kemudian Ivan berlari menjauhinya.
Sasya mengikutinya, kemudian dia melihat Ivan sedang memeluk lalu mencium bibir Ita. Ternyata benar kata Ayah jangan memberikan hati sepenuhnya sebelum ada ikatan pernikahan.
Liburan kali ini Sasya mendapatkan pelajaran jangan percaya pada siapa pun meskipun dia teman dekatmu. Kejadian itu membuat sikap Sasya menjadi pendiam tidak mau bergaul dengan siapa pun. Sasya hanya bicara seperlunya saja.
Tak terasa liburan semester telah usai. Sasya harus menghadapi sahabat yang menusuknya dari belakang.
“Sya, maaf, ya …” ucap Ita dengan santai, “makanya Sya, jangan sok jual mahal jadinya Ivan tidak betah, deh …. ”
“justru aku yang berterima kasih Ta, kejadian itu membuatku jadi tahu bahwa Ivan tidak pantas untukku,” serang Sasya agar sahabatnya itu tidak meremehkannya.
Ita ingin menjawab ucapannya, tetapi keburu bel berbunyi, tanda masuk sekolah.
“Sudah dulu, ya, Ta. Aku mau masuk ke kelas dulu.”
Ita tidak menjawab, dia tidak menyangka sikap Sasya biasa saja. Ita pikir Sasya akan marah atau menangis.
“Hallo, Sayang … lagi melamun, ya!” ucap Ivan dari arah belakang, dia berjalan masuk ke kelas dengan santainya merangkul pinggang Ita.
“Oh, aku tidak melamun, kok, Yang ….”
Ivan dan Ita berjalan melewati Sasya.
“Buat apa pacaran kalau Cuma jadi pajangan. Boro-boro cipika cipiki, pegang tangan saja tidak boleh,” gumam Ivan. Sasya memang berpegang teguh pada pendiriannya bahwa Ivan tidak boleh menyentuh tangan sebelum ijab Kabul.
Sasya sebenarnya mendengar ucapan Ivan. Namun, ia abaikan saja. Masa lalu biar menjadi masa lalu. Tidak perlu di bahas lagi.
*****
“Woy … ada anak baru, cakep, tinggi, putih … Pokoknya perfect, deh,” ucap rini dengan heboh, sehingga satu kelas terutama yang cewek pada keluar ingin mengintip. Sedangkan Sasya hanya duduk diam di tempat.
“Ayo, anak-anak … masuk semuanya duduk di tempat masing-masing,” ucap Pak Roni dengan suara lantang.
“Ivan, kenapa duduk di situ? Kembali ke tempat dudukmu!”
“Hu ….” Satu kelas menyorakinya.
“Tenang semua anak-anak, Hari ini ada siswa baru jadi bapak mohon untuk diam, ya!”
“Silakan, Dewa perkenalkan dirimu.”
“Baik, Pak.”
Dewa akhirnya memperkenalkan dirinya mulai dari nama lengkap, alamat rumahnya, dan mengapa ia pindah sekolah. Ternyata ia pindah sekolah karena ikut orang tua yang ingin membuka cabang di daerah sini.
Tatapan mata Dewa mengarah ke cewek yang sibuk menggambar. Cewek itu dari awal tidak menoleh sama sekali ke arahnya. Sikapnya yang cuek dapat mencuri hati Dewa.
Waktu istirahat, Dewa mencoba mendekatinya. Cewek itu duduk di kantin sendirian.
“hay … boleh aku duduk di sini?”
Cewek itu hanya diam. Tanpa menunggu jawaban, Dewa menggeser kursi yang ada di depan cewek itu lalu ia duduki.
“Lagi gambar apa? Dari pagi belum selesai, ya?”
Cewek itu tidak menjawab, melainkan mengemasi buku dan membawa minumannya. Sebelum cewek itu pergi Dewa segera mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
“Namaku Dewa, namamu siapa?”
“Sasya.”
Sasya tidak menyambut tangan Dewa. Namun, ia menjawab pertanyaannya lalu pergi. Dewa makin di buat penasaran. Benar-benar cewek idaman.
“Sya, tunggu aku bentar, aku juga mau ke kelas,” seru Dewa sambil berlari mengejar Sasya.
Di perjalanan Sasya dan Dewa di hadang Ivan.
“Eh, lho anak baru, gue mau ngasih tahu sebelum lho ngajak Sasya untuk pacaran, mending pikir dulu, deh,”
Dewa menoleh ke Sasya, dia hanya diam lalu pergi meninggalkannya.
“Memangnya kenapa?”
Ivan memberi tahu bahwa Sasya mantannya, dia sok alim, kalau apel ke rumahnya selalu ada Ayahnya yang memantau, tidak boleh mengajak keluar rumah, dan Ivan juga mengatakan Sasya tidak mau berciuman sebelum jadi suaminya.
Dewa jadi senyum-senyum sendiri mendengarkan cerita Ivan lalu berkata, “Makasih, Bro karena lho udah melepasnya. Justru seperti Sasya yang aku cari.”
“Sialan,” umpat Ivan
Dewa mendekati Sasya dan berkata, “Sya, tunggu aku di rumahmu, ya?”
Dewa, kemudian pergi ke tempat duduknya.
Kening Sasya berkerut melihat tingkah Dewa yang aneh.
****
Malam harinya, ketika Sasya dan kedua orang tuanya sedang asyik menonton TV. Ada bel rumah berbunyi pertanda ada tamu yang datang. Sasya berdiri dan berjalan untuk melihat siapa tamunya.
Setelah pintu di buka, Sasya terkejut melihat Dewa ada di depan rumahnya, Dewa memakai hem berlengan panjang dan celana jeans panjang. Dia membawa martabak manis dua kotak.
“hay, Sya ….”
Dewa melambaikan tangan karena Sasya diam dan melongo.
“Aku boleh masuk, Kan?”
“Hah, kamu mendingan pulang ….” Sasya berusaha mendorong Dewa agar keluar rumah.
“Siapa Sya?”
“Bu–bukan siapa-siapa Yah,” jawab Sasya.
“Ada tamu, kok, gak, di suruh masuk Sya?”
“Malam, Om ….”
“Malam juga, kamu siapa, ya?”
Dewa meraih tangan Ayah Sasya dan mencium punggung tangan itu. Setelah Ayahnya, Dewa juga menyalami dan mencium punggung tangan Bundanya Sasya.
Sementara itu, orang tua Sasya tersenyum, mereka salut atas sikap sopan santun lelaki di depannya ini.
“Perkenalkan, Nama saya Dewa , saya teman kelasnya Sasya, Om.”
“Oh, gitu, mari masuk …” ajak Ayah Sasya. Mereka semua akhirnya duduk di ruang tamu.
“Ada perlu apa kesini?” tanya Ayah Sasya.
“Maaf, sebelumnya Saya mengganggu waktu Om dan Tante. Saya tidak tahu cemilan kesukaan Om dan Tante apa. Mudah-mudahan Om dan Tante suka,” tutur Dewa, dia menyerahkan martabak manis. Martabak itu ia dekatkan ke Ayah Sasya.
“Om … kedatanganku kemari untuk minta ijin, saya naksir anak Om. Boleh tidak kalau saya ingin jadi teman dekatnya Sasya. Nanti kalau saya sudah mapan dan siap, saya akan ajak orang tua saya ke sini untuk membicarakan hubungan yang serius?”
Sasya terkejut, dia sampai melongo.
“Berani juga nyali anak baru ini,” gumam Sasya.
Ayah Sasya memberikan ijin, tetapi dengan syarat-syarat yang harus di penuhi dan Dewa menyanggupinya.
Sementara Sasya bingung harus berbuat apa karena dia benar-benar terkejut.
Selama sekolah hingga lulus sikap Dewa menunjukkan kalau ia benar-benar serius. Ia, tak, pernah melanggar sama sekali syarat dari Ayah Sasya.
Sasya berubah ceria kembali, tidak cuek, murah senyum dan membuka hatinya untuk Dewa. Dewa membuktikan keseriusannya setelah sukses menjadi pemimpin perusahaan, dia datang bersama orang tuanya untuk melamar dan mereka menikah.