Bab: 27
Berhenti meragukan-Nya, dan mulai percaya bahwa segala sesuatu sedang Allah atur dengan sempurna, karena takdir Allah itu terlalu baik untuk di curigai.
~kakesa.
Hari-hari telah berlalu, Tidak terasa besok adalah hari keberangkatan Fatih ke jepang, Kanza semakin lesu tampak tak bersemangat dalam melakukan segala aktivitas seperti biasanya. Pagi hari Kanza menatap wajah Fatih yang tampak meneduhkan dimatanya yang masih tertidur dengan pulas, tidak seperti biasanya, baru kali ini Fatih tertidur kembali setelah melaksanakan sholat subuh.
Kanza mengusap kepala suaminya itu dengan penuh kelembutan, ia merasa sedih, air matanya menetes begitu saja, karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan suaminya setelah satu bulan menikah.
Cup!
Akhirnya Kanza mengecup kening suaminya begitu lama, ia buru-buru mengusap kembali air matanya agar tidak menetes di pipi sang suami, ia tidak ingin Fatih melihatnya menangis di pagi hari.
Kanza tampak menahan tangisnya, ia menangis dalam diam dan membekap mulutnya agar tidak terdengar suara isak tangisnya di pagi hari dan dapat mengganggu tidur suaminya.
Tiba-tiba saja Kanza merasa gejolak mual yang luar biasa, segera saja ia berlari kekamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.
Hoek hoek hoek hoek
Kanza memuntahkan isi perutnya, namun hanya cairan bening saja yang keluar, Kanza mulai merasakan rasa pening yang mendera di kepalanya. Namun gejolak mual masih di rasakan olehnya.
Fatih yang mendengar suara seperti orang muntah di pagi hari, segera bangun dari tidurnya. Ia mulai mencari tahu sumber suaranya, yang ternyata berasal dari kamar mandi. Seketika ia teringat sang istri yang tidak berada disampingnya.
Fatih langsung bangun dengan langkah terburu-buru berjalan ke kamar mandi menghampiri Kanza.
“Sayang, Kanza istriku..” panggil Fatih yang terlihat panik dan langsung menyusul istrinya ke kamar mandi, beruntung Kanza tidak mengunci pintunya sehingga memudahkan Fatih masuk ke kamar mandi dan mengurut tengkuk sang istri.
“Sayang, kamu kenapa? kamu sakit hm?” tanya Fatih.
“Kanza lemas, Kanza mual dan pening,” ucap Kanza dengan suara lemah.
Fatih langsung mengoles minyak angin untuk istrinya, dan langsung menggendong sang istri, lalu membawanya ke tempat tidur.
“Kanza makan dulu ya, biar Abang suapin,” ujar Fatih.
“Kanza tidak ingin makan, Kanza masih merasa mual. Kanza ingin deket-deket dengan Abang aja,” ucap Kanza sambil bersandar manja kepada suaminya.
“Kita priksa kerumah sakit ya,” ucap Fatih lembut.
Kanza menggelengkan kepalanya, “Kanza takut jarum suntik.”
“Hanya periksa saja sayang,” ucap Fatih.
Kanza tetap menggeleng pelan kepalanya, sesaat kemudian Fatih langsung teringat sesuatu dan menatap dalam istrinya dengan mata yang berbinar cerah.
“Sayang, kapan kamu terakhir datang bulan?” tanya Fatih.
Deg!
Kanza menepuk jidatnya sendiri, “Sepertinya bulan ini Kanza tidak datang bulan, terakhir datang bulan dua hari sebelum kita menikah,” ujarnya.
“Apakah kamu sedang mengandung zaujati?” tanya Fatih dengan perasaan yang begitu bahagia.
“Abang, tolong belikan testpack untuk Kanza, Kanza akan mencobanya.”
“Iya istriku, tunggu sebentar ya, Abang akan belikan,” ucap Fatih mengecup puncak kepala Kanza sebelum pergi membeli testpack.
**
Setelah beberapa menit menunggu di kamar mandi, akhirnya Kanza memberanikan diri untuk melihat hasilnya, seketika Kanza membuka kedua matanya dan menutup mulutnya, air matanya mulai bercucuran akan rasa harunya, siapa sangka putri bungsu yang terlihat manja ini ternyata akan segera menjadi seorang ibu.
“Alhamdulillah ya Allah, segala puji bagi Allah, Ga-garis dua,” ucap kanza kegirangan dengan nada bergetar.
Kanza segera memberi tahu Fatih akan kabar bahagia ini. “Abang, lihat ini..” ucap Kanza sambil menyodorkan benda pipih tersebut.
“Alhamdulillah,” ujar Fatih.
Fatih tidak dapat menahan rasa harunya, ia langsung memeluk istrinya dan menangis haru.
“Terimakasih istriku, sebentar lagi Abang akan mempunyai gelar seorang ayah dan kita akan menjadi orang tua.”
“Apakah Abang bahagia?” tanya Kanza
“Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang? Tentu saja Abang bahagia,” ucapnya dengan penuh rasa haru.
“Abang akan memberitahu kabar bahagia ini kepada mama dan ayah, juga yang lainnya jika Kanza saat ini sedang mengandung, mereka pasti akan bahagia saat mendengar kabar ini.”
“Iya Abang,” ucap Kanza.
“Andai saja kamu tahu, aku begitu bahagia akan hadirnya calon buah hati kita, tapi aku merasa sedih di satu waktu sekaligus, karena besok hari kamu akan pergi meninggalkan ku dengan buah hati kita. Apakah aku sanggup menjalani ini semua di masa kehamilanku tanpa kamu berada disisiku?” batin Kanza tersenyum getir.
Setelah selesai menelfon kedua orangtuanya dan memberi kabar bahagia ini, Fatih tidak senagaja melihat wajah murung sang istri, membuat hati Fatih semakin bertanya-tanya ada apa dengan istrinya? apakah istrinya tidak bahagia? pikirnya.
Fatih merangkul pundak istrinya, “Apakah Kanza merasa tidak bahagia dengan kehadiran buah hati kita?” tanya Fatih.
Kanza tersenyum, “Tentu saja Kanza bahagia. Bahkan lebih dari kata bahagia, akan tetapi Kanza juga merasa sedih.”
“Sedih? kenapa istriku? Siapa yang membuat istriku sedih?” Tanyanya.
“Suamiku lah yang telah membuat istrinya sampai sesedih ini.”
Mendengar hal itu, Fatih langsung menggenggam erat telapak tangan istrinya, lalu mengecupnya.
“Katakanlah istriku, apa yang membuat kamu bersedih hm?” tanyanya lembut.
“Besok Abang akan berangkat ke luar negeri meninggalkan Kanza sendirian dalam masa kehamilan Kanza untuk pertama kalinya, bahkan kita juga dalam masa pengantin baru. Kanza tidak tahu, apakah Kanza akan siap akan hal ini? apakah Kanza sanggup menjalani peran ini?” ucap Kanza sambil menarik nafasnya pelan untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.
Fatih terdiam, dan menatap mata istri cantiknya itu. “Maafkan Abang sayang, tapi Abang tidak bisa membatalkan kontrak kerja disana, Abang sudah terlanjur menandatangani kontrak kerja di jepang,” ujarnya yang semakin membuat harapan Kanza seakan lenyap begitu saja.
Bahkan yang tadinya Kanza mengharapkan adanya sebuah keajaiban, kini kanza seakan terpatahkan oleh harapannya itu.
“Andai saja kamu tahu, aku juga ingin saat bayi ini lahir, lantunan azan mu lah yang pertama kali buah hati kita dengar,” batin Kanza seakan ingin berteriak dan mengungkapkan keinginannya, namun Kanza hanya dapat menelan pil pahit dari semua ini.
“Baiklah,” ucapnya yang langsung berjalan dan mengambil koper Fatih untuk mengisi segala keperluan dan perlengkapan Fatih untuk berangkat besok.
Kanza mulai menyusun rapi pakaian suaminya dan segala macam alat yang dibutuhkan untuk kehidupan disana selama setahun, Fatih memperhatikan istrinya dalam diam, sedangkan Kanza tidak berbicara sepatah katapun, hatinya terlanjur kecewa dalam berharap.
“Mungkin sudah takdirku untuk hidup sendiri dan berjuang sendirian, semoga kelak anakku tidak akan pernah merasakan kesendirian lagi,” Batinnya yang bergemuruh.
Butuh satu jam untuk mengemasi semuanya, akhirnya Kanza telah selesai dan menghampiri suaminya yang sedang duduk di tepi tempat tidur sembari menatapnya.
“Semuanya telah selesai, Kanza harap Abang dapat hidup dengan baik disana, dan Kanza harap setelah kepulangan Abang tahun depan, Kanza masih bisa melihat Abang,” ucapnya tersenyum dan sekuat tenaga ia menyembunyikan kesedihannya.
Fatih langsung memeluk istrinya itu, “Jangan berkata seperti itu.”
Kanza masih menampilkan senyumannya dan mengusap lembut tangan suaminya yang melingkarkan tangannya di pinggang kanza, “Kanza hanya takut, jika kepulangan Abang nanti, mungkin Kanza sudah tidak berada lagi di dunia ini,” ucap Kanza.
“Ssttt, kamu tidak boleh berbicara seperti itu istriku, semuanya akan baik-baik saja, percayalah kepada suamimu ini,” ucap Fatih.
“Jangan sampai kamu mengenang kematianku dihari kepulangan mu suamiku,” batin Kanza tersenyum getir.