Belenggu dalam Duka

1. Kak Wira, Anak Kesayangan Bunda

Kata orang, sebelum manusia dilahirkan Tuhan akan menanyai mereka puluhan kali tentang kesediaannya hadir ke dunia. Mulai dari orang tua, keluarga, sampai segala macam cobaan hidup yang harus mereka lalui nantinya. Dan, apabila seseorang berhasil lahir ke dunia itu berarti mereka telah siap menghadapi semua takdir yang Tuhan timpakan kepada mereka.

Akan tetapi, sangat sulit bagi Kanaya untuk menerima pernyataan konyol itu. Bukan karena dia tidak percaya Tuhan, justru sebaliknya, dia percaya kalau Tuhan tidak sepicik itu. Karena bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Esa dan Bijaksana mengizinkan janin yang otaknya belum sempurna untuk mengambil keputusan sebesar itu?

“Nay, gimana? Lo udah bilang ke Nyokap?”

Pertanyaan Amanda membuat gadis berambut keriting yang sedang mencorat-coret kertas di atas meja menoleh. Tanpa mengangkat kepala dari atas meja, Kanaya menjawab, “Belum.”

“Lah, kok bisa?” Mata Amanda membulat, tetapi sebagai sahabat dia masih menganggap itu wajar sebab pendaftaran lomba The Next Singer, sebuah ajang perlombaan 4 tahunan paling bergengsi di Indonesia, akan segera ditutup. Dan, sebagai seorang penyanyi sudah lama Kanaya menanti saat-saat ini. Terlebih, sekarang usianya sudah 15 tahun. Usia minimal untuk mendaftar ke TNS yang telah dia impikan sejak kecil.

“Kayaknya gue nggak ikut tahun ini deh, Man,” lanjut Kanaya, masih dengan muka kusut yang belum diangkat dari permukaan meja.

Yang sekali lagi membuat Amanda terbengong-bengong. Garis-garis kebingungan hadir di kening perempuan muda berambut lurus tersebut. “Yang bener saja, Nay? Ini impian lo lho, Nay. Kalau nunggu 4 tahun lagi, apa nggak terlambat? Maksud gue …, memang benar nggak ada kata terlambat untuk mengejar mimpi, tapi kesempatan kayak begini nggak datang dua kali. Lo udah lolos tahap pertama. Lo mencoba periode depan belum tentu bakal lolos.”

Amanda benar. Tidak ada yang salah dengan itu. Masalahnya kehidupan Kanaya sendiri pada dasarnya tidaklah sama dengan kehidupan kebanyakan orang. Sebab kehidupan yang dialami sekarang bukan hanya menjadi miliknya semata.

Kehidupan ini, yang dia jalani sekarang –ada dua beban besar yang menggantung di pundak Kanaya. Satu, Bunda. Ibu kandungnya. Perempuan yang selalu ada untuk dirinya. Satu-satunya orang tua dia yang masih ada setelah Ayah meninggal 15 tahun yang lalu. Sebelum Kanaya hadir ke dunia. Dan yang kedua …

“Kakak mana?” Kanaya yang baru sampai disambut suara Bunda dari arah dapur. Wanita berkerudung panjang berwarna biru tua tersebut muncul dari arah pintu penghubung ruang tamu dan ruang keluarga lengkap dengan celemek penuh taburan tepung. Tanda kalau hari ini mereka sedang kebanjiran pesanan. Bunda baru pulang dari toko.

Kanaya melempar tas sekolahnya ke atas sofa, kemudian berjalan menuju dispenser. “Mana Nay tahu? Nay saja baru pulang.”

Namun, jawaban Kanaya justru membuat Bu Dewi meradang. “Nay, kamu ini bagaimana sih? Kakak kan ke sekolah kamu.”

“Hah?” Kanaya menoleh cepat. Berpura-pura panik.

“Memang kamu tidak melihat kakakmu?”

Yang segera dijawab dengan gelengan tegas. Bukan maksud Kanaya hendak berbohong, hanya saja dia sedang lelah sekarang. Kanaya sedang tidak ingin berdebat. Karena penjelasan macam apa pun yang dia berikan tidak akan ada yang cukup untuk bisa didengar oleh Bunda.

Padahal, sejak bulan lalu tepatnya ketika dia resmi menjadi siswa di SMA Permata Kasih, dia telah tegas mengatakan bila mulai detik itu juga dirinya tak mau lagi dijemput oleh Kak Wira.

Dia malu.

Lebih tepatnya takut bila apa yang dia alami di SD dan SMP dahulu terulang kembali. Dia tidak mau teman-teman sekolahnya menyebutnya sebagai adik dari seorang laki-laki gila. Orang yang tidak normal.

Bukan! Bukan! Bukannya Kanaya malu punya kakak seperti Kak Wira, hanya saja …. Orang yang tidak mengalami tidak akan pernah mengerti.

Lahir sebagai anak perempuan yang mungkin hampir tidak diharapkan membuat Kanaya terkadang merasa hidupnya hanya menjadi bayang-bayang dari Kak Wira.

Delapan belas tahun Kak Wira menjadi satu-satunya anak Ayah dan Bunda. Anak kesayangan. Tidak peduli bagaimanapun kondisinya. Ayah dan Bunda mencurahkan semua kasih sayang dan perhatian mereka untuk Kak Wira yang spesial. Ya, Kak Wira anak istimewa, begitulah Bunda selalu menyebutnya.

Anak hadiah dari Tuhan. Anak surga. Tapi di mata Kanaya kakaknya tidaklah lebih dari seorang laki-laki yang terjebak di tubuh anak-anak. Bayangkan saja, usianya sudah tiga puluh tiga tahun tapi tingkah Kak Wira —Kanaya ingin punya Kakak yang sama seperti teman-temannya. Kakak yang bisa diajak bicara. Bisa diajak bercanda. Dan yang terpenting bisa melindunginya.

Terlebih, di kondisi keluarga mereka yang seperti sekarang. Kalau saja Kak Wira sama seperti kakak dari teman-temannya, sudah pasti laki-laki itu akan memegang tanggung jawab besar menggantikan ayah mereka. Bukan malah membuat Kanaya seperti terjebak di rumah ini.

🍀🍀🍀

“Ya ampun, Kanaya. Kamu ini bagaimana sih? Bisa-bisanya kamu meninggalkan kakakmu sendirian?”

Meninggalkan? Kalimat itu rasa-rasanya terlalu berlebihan karena toh Kanaya sama sekali tidak pernah mengajak Kak Wira datang ke sekolah. Bahkan dia sudah melarang kakaknya itu untuk datang mau jemputnya. Kanaya sudah 15 tahun sekarang. Dan dia bisa pulang sendiri. Sangat mampu, malah.

“Kok jadi salah Nay sih, Bun? Kan Nay sudah bilang kemarin, Nay nggak usah dijemput. Karena Nay sudah makin sibuk sekarang. Belum lagi kalau ada acara di luar sekolah dan lain-lain. Nay kan juga ingin main sama teman-teman.”

Bunda menghela napas panjang, melempar celemek dan bergegas menuju garasi. Lagi, Bunda tidak mau mendengar penjelasannya.

Terkadang karena ia bertanya-tanya, apakah kelahirannya benar-benar diinginkan oleh Bunda? Atau jangan-jangan dia bukanlah anak yang diharapkan? Karena sejak dia lahir sampai sekarang, Kanaya merasa kasih sayang Bunda pada Kak Wira terlalu besar.

Memang, siapa sih ibu yang tidak sayang pada anaknya sendiri? Apalagi kalau anak tersebut sedikit berbeda. Hanya saja, masalahnya, Kanaya juga butuh dicintai. Kanaya butuh diperhatikan. Kanaya juga masih butuh Bunda. Kalau seluruh dunia Bunda berpusat pada Kak Wira, kapan Kanaya bisa mendapat tempatnya?

Kanaya juga seorang anak di sini. Dia bahkan baru 15 tahun.

“Tapi menurut gue, lo agak keterlaluan sih, Nay.” Kali itu Amanda berkomentar di balik telepon.

“Iya. Gue tahu. Masalahnya gue nggak punya pilihan karena tadi kebetulan banget Martin ngajakin gue nonton.”

“Minimal lo temuin dulu lah kakak lo, terus suruh balik. Kan kasihan kalau dia nungguin lo seharian.”

“Andai semudah itu.”

Masalahnya Kak Wira bukan orang normal yang bisa langsung paham ketika diajak bicara. Karena di dalam dunia Kak Wira tidak ada yang namanya perubahan jadwal. Begitu Kanaya pulang sekolah, maka harus ikut dengannya pulang.

Pun, sejauh ini Kak Wira tidak pernah benar-benar cocok dengan teman-teman baru Kanaya. Bisa dibilang sangat sulit bagi Kak Wira untuk beradaptasi pada dunia Kanaya. Hanya sedikit sekali teman-teman lama Kanaya yang bisa Kak Wira terima. Salah satunya ya Amanda. Itu pun karena rumah mereka masih bertetangga.

“Kakak langsung mandi ya. Bunda siapkan air hangat sebentar ya, Sayang.”

Mendengar suara Bunda, Kanaya buru-buru mengakhiri telepon dan berlari keluar kamar guna memastikan. Benar saja, ibu dan kakaknya telah berada di sana. Dalam kondisi basah kuyup.

“Bun –”

“Cukup!” tegas Bunda, agak membentak. “Bunda tidak mau lagi mendengar penjelasan kamu.” Lalu, berlalu menuju dapur untuk memasak air panas. Seperti biasa, anak kesayangan Bunda tidak pernah mandi dengan air dingin.

“Nay di rumah. Nay sudah pulang,” kata Kak Wira. Tanpa emosi seperti biasa. “Nay di rumah. Nay sudah pulang.”

Oh, Tuhan! Kenapa kau harus menciptakan manusia seperti ini?

Meskipun kesal, terkadang Kanaya juga kasihan pada Kak Wira. Andai saja kakaknya lahir seperti anak-anak lainnya, barangkali sekarang dia sudah punya kehidupan sempurna. Kehidupan normal. Bukan terjebak di rumah ini sebagai boneka kesayangan Bunda.

Kanaya yakin kakaknya pun tidak akan mau jika sejak awal tahu akan dilahirkan sebagai anak penyandang autisme. Membuatnya terpisah dari dunia orang-orang dan hidup dalam dunianya sendiri yang tidak dipahami oleh siapa pun.

Bohong jika Kanaya tidak mencintai kakaknya. Dia sangat menyayangi Kak Wira, malah dulu ketika dia masih kecil, keduanya sangat dekat. Dan semua terdokumentasikan sempurna dalam video-video yang diambil oleh Bunda.

Sayangnya, Kak Wira tidak mengerti bahwa adik kecilnya itu kini telah berubah menjadi gadis remaja yang ingin punya kehidupan normal.

Kanaya bukan ingin membuang atau meninggalkan Kak Wira, dia hanya ingin diberi ruang sendiri untuk mencintai masa remajanya. Kanaya ingin punya banyak teman, punya pacar, dan punya kisah remaja yang indah seperti remaja-remaja pada umumnya. Tapi bila dia terus berada di sekitar Kak Wira –Kanaya ingat betapa kejam perundungan yang dialami saat masih SMP dahulu. Hanya karena teman-temannya tahu dia dijemput oleh seorang kakak yang tidak biasa.

Semua orang menyebut kakaknya gila. Mengolok-oloknya. Membuat Kak Wira yang mendengar hinaan itu marah. Tantrum. Membabi buta.

Itulah kenapa, di masa SMA-nya kini Kanaya tidak mau lagi dijemput oleh Kak Wira dan sepeda buntutnya. Toh, sudah tiga tahun ini meskipun menjemput Kak Wira tetap tak bisa memboncengnya.

Ya, sejak awal pun sang Kakak memang tidak pernah benar-benar membonceng Kanaya. Kak Wira bahkan tidak bisa naik sepeda. Alhasil, Kanaya kecil hanya didudukkan di atas sepeda yang Kak Wira tuntun sepanjang jalan.

Saat masih SD, tubuh kecil Kanaya belum begitu berat. Pun belum banyak orang yang memandangnya janggal. Tapi sekarang? Ketika SMP saja Kanaya sudah jadi bahan olok-olokan, apalagi di SMA?

Sudah cukup! Kanaya tidak mau kakaknya dihina dan dijadikan bahan tertawaan di sekolahnya. Kanaya tidak rela bila hal tersebut terjadi kembali.

“Nay. Permen.”

 

Kanaya menoleh, memandang sebungkus permen yang disodorkan oleh Kak Wira kepadanya. Permen susu rasa coklat.

Walau enggan Kanaya tetap menerimanya. “Makasih.”

Kak Wira tersenyum. Meringis lebih tepatnya. Memperlihatkan deretan giginya berjajar rapi.

🍀🍀🍀

Kalau saja Kak Wira normal –Bunda akan sangat marah saat tahu Kanaya menggunakan istilah ini untuk menyebut kakaknya sendiri –pasti akan banyak gadis yang menyukainya.

Kak Wira sangat tampan. Jauh lebih tampan daripada pria mana pun yang pernah Kanaya temui selama ini. Bahkan, Kalau penampilannya tidak aneh, hanya dengan sedikit permak saja Kanaya yakin kakaknya bisa menjadi bintang iklan.

Sayangnya, alih-alih menjadi adik yang bangga karena kakaknya menjadi idola banyak orang, Kanaya malah terjebak di dalam fakta menyakitkan. Hampir seumur hidup dia selalu menyaksikan kakaknya diremehkan oleh orang lain. Dianggap tidak berguna. Dianggap beban. Dan yang lebih parah lagi, tidak dianggap sebagai manusia.

“Itulah kenapa Bunda ingin kalian mengelola toko. Setidaknya, supaya kakakmu bisa hidup dan punya tabungan untuk masa depannya. Jadi tolong ya, Nay, bantu kakakmu. Kalau bukan kamu siapa lagi?”

Selalu. Kalimat itu keluar dari mulut Bunda.

Sebagai adik, tanpa diminta pun Kanaya pasti akan membantu. Masalahnya, Bunda terlalu banyak menaruh ekspektasi. Kanaya tidak suka itu. Karena seolah-olah Kanaya diberi beban yang teramat berat. Terlalu berat.

Sekali lagi Kanaya berpikir, mungkinkah kelahiran Kanaya hanya untuk menjadi pendamping bagi Kak Wira? Mungkinkah keputusan Ayah dan Bunda menghadirkan dia ke dunia hanya untuk menjadi bayang-bayang Kak Wira saat mereka tiada?

Entahlah. Kanaya tidak benar-benar yakin.

“Nay, ayo makan!” ajak Bunda setelah semuanya siap.

Walau tidak lapar tetapi karena ya tetap menuju meja makan. Dia duduk di sebelah Kak Wira. Yang dengan sigap langsung mengambilkan nasi untuknya.

“Nay makan. Nay makan. Nay ma –”

“Kak!” Naya agak membentak, meminta kakaknya diam. Tapi sebelum Bunda menyadari, dia lebih dulu melanjutkan, “Cukup!”

Untungnya, Kak Wira menurut.

Kalau di titik seperti ini Kanaya kadang kasihan pada Kak Wira. Terlebih, kakaknya itu amat perhatian padanya. Membuat Kanaya tidak bisa benar-benar tega.

“Bunda dengar kamu daftar TNS.” Tiba-tiba saja bunda membuka pembicaraan. Tegas dan mengandung tuduhan. “Bunda tidak mau ya kamu ikut-ikutan seperti itu. Tidak ada gunanya untuk sekolahmu.”

Kanaya diam, mengaduk-aduk isi piringnya sendiri tanpa berniat mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kamu belum ingat kan kasus Kak Chintya. Dia tidak mau melanjutkan sekolahnya hanya untuk mengejar impian konyol menjadi bintang. Dan, apa? Dia gagal di tengah jalan, sekolahnya berantakan. Sekarang hidupnya tidak karuan.”

Tapi kan itu orang lain, Bunda. Bukan aku.

“Kamu itu harus ingat kau tanggung jawabmu besar. Karena ketika Bunda tidak ada nanti, Kak Wira akan menjadi tanggung jawabmu. Paham?”

Karena itu mengganggu, masih tidak berani menatap mata Bunda.

“Jadi bagaimana? Sekolahmu lancar? Kamu jadi ikut Olimpiade Matematika?”

 

Lates Chapters

Nay Anak Baik! Papa Sayang Nay!

Andai Kanaya lebih cepat menyadari betapa beruntung dia selama ini, sudah pasti dia tidak akan tenggelam dalam penyesalan sedemikian besar. Karena ternyata tidak menemukan keberadaan…

19. Putriku Tersayang

Tiga hari sudah Kanaya tidak tidur. Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali makan. Karena sejak operasi terakhir Kak Wira sampai sekarang, Kanaya sama sekali…

18. Jangan Tinggalkan Aku

“Mulai sekarang kamu tinggal di sini dengan kami ya, Le!” Bukan ajakan melainkan keputusan yang awalnya diambil sepihak oleh Bu Dewi, yang kemudian diamini oleh…

17. Luka di Hati Nay

Tidak ada yang lebih menyenangkan dalam hidupku Wira selain menjadi orang tua. Tidak peduli apakah saat itu anaknya masih bernama Nayla atau Kanaya, satu-satunya yang…

16. Belenggu dalam Duka

“Tetap saja ini nggak masuk akal, Bunda!” kata Kanaya persis setelah sang Ibu menyelesaikan ceritanya. Gadis itu berulang kali mengalah nafas pendek, mencoba melepaskan diri…

15. Rumah yang Hilang

Meski belum pernah bertemu secara langsung tapi, Kanaya tentu sadar kalau pria ini jelas-jelas bukan ayahnya. Dia bahkan tidak mirip sama sekali dengan ayah yang…

14. Tentang Ayah, Kakak dan Penyesalan Kanaya

Matahari hampir mencapai puncak ketika mereka sampai di depan sebuah rumah besar bercat putih dengan halaman yang berdasarkan alamat merupakan kediaman keluarga Pelita. Keluarga ibunya,…

13. Bahwa Kehidupan Tidak Selalu Mulus

Wira semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Pelita. Dia telah membayangkan betapa menyenangkan kehidupannya nanti karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan perempuan yang sangat dia…

12. Hari-Hari Paling Bahagia

“Dia menendang?!” Mata Wira membulat tidak percaya saat rasakan gerakannya nyata dari perut Pelita. Buah hati mereka, janin yang tumbuh di rahim wanita muda itu…

11. Pernikahan dan Cinta Sejati

“Kanaya bangun!” Ketika kabar itu terdengar, Wira yang sedari tadi menunggu di luar kamar segera bangkit untuk berlari menemui adik kesayangannya. Benar saja, Kanaya telah…

10. Pelita dan Cinta di Hatinya

“Apa kamu masih pusing?” Pertanyaan dari Mbak Sekar dijawab menggunakan anggukan pelan oleh Kanaya. Meski sebenarnya dia malu, tapi rasa sakit di kepalanya tidak tertahankan.…

9. Luka Terdalam di Hati Wira

Ucapan sang kakak tadi pagi bagaimanapun juga telah menusuk ke dalam dada perempuan yang saat itu duduk menatap pantulan dirinya sendiri di cermin kamar tersebut.…

8. Yang Tidak Mungkin Kembali

“Kalau ada kabar dari Nay, tolong kamu hubungi Tante ya.” Entah sudah berapa banyak orang yang coba Bu Dewi hubungi hanya untuk menemukan keberadaan kedua…

7. Tentang Tita Yang Tercinta

Adalah penyesalan terbesar Kanaya sebab selama ini dia tidak pernah benar-benar mengenal keluarganya sendiri. Andai saja dia menyempatkan diri untuk menanyai ibunya lebih dalam mengenai…

6. Pelita dan Kenangan Masa Lalu

Di malam sebelumnya di dalam kamar tidurnya yang dicat serba putih, Wira baru saja mencetak selembar foto dari kamera tua miliknya. Kemudian memasak gambar tersebut…

5. Anak yang Tidak Dianggap Layak

Wanita berambut panjang tersebut menatap bangunan di hadapannya dengan dada sesak. Sebagai seorang ibu sudah tentu hatinya hancur saat mendapati kondisi sang anak berbeda dari…

4. Perjalanan Menguak Rahasia Keluarga

“Apa kamu bilang?” Wira ingat suara itu. Suara tinggi, keras dan menakutkan yang selalu memenuhi rumah hampir dua bulan terakhir. Papa. Lagi dan lagi, Papa…

3. Tentang Ayah yang Tidak Pernah Kanaya Jumpa

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali itu Kanaya memilih tidak langsung pulang begitu bel panjang terdengar. Dia memutuskan untuk menunggu sekolah sepi. Barulah setelah memastikan tak…

2. Kakakku Yang Tersayang, Bukan Aku Tidak Sayang

“Masalahnya kan nggak semua orang kayak Kak Chintya. Gue bukan Kak Chintya. Bunda tahu itu. Dan nggak seharusnya Bunda membanding-bandingkan gue dengan Kak Chintya.” Seperti…
error: Content is protected !!