The Thief

Kebakaran

“Tuan Xie, hari ini terakhir pemotretan bukan?” Salah seorang karyawan butik bertanya pada Sebastian.

“Iya, Nona!” Sahut Sebastian tanpa mengalihkan perhatiannya dari sepasang sepatu yang telah diatur sedemikian rupa sehingga terlihat sangat menonjol di atas meja kayu berukir.

“Baiklah! Saya akan memeriksa beberapa hal, silakan Anda melanjutkan pekerjaan.” Gadis itu berpamitan.

Sebastian hanya mengangguk dan kembali sibuk mengambil foto sepatu itu dari berbagai sudut. Seorang pria duduk di sudut ruangan memperhatikannya. Selama dua hari pemotretan, dia tidak pernah dibiarkan seorang diri.

Pengamanan yang cukup ketat. Bahkan pengambilan gambar semua dilakukan di ruang kerja milik Jill Lau. Wanita itu sendiri selalu sibuk dan hanya sesekali ikut ambil bagian dalam pemotretan.

Baru saja Sebastian hendak mengganti lensa kameranya, tiba-tiba saja terdengar bunyi alarm yang cukup keras. Dia hampir saja terlonjak dan menjatuhkan tripod kameranya.

“Ada apa ini?” Pria yang menemaninya berdiri dan menatap sekelilingnya.

“Kebakaran!” Terdengar jeritan panik dari luar ruangan kerja.

“Kebakaran?” Pria itu dan Sebastian saling berpandangan. Pria tanpa banyak berbicara segera berlari keluar dari ruangan itu untuk memeriksa keadaan di luar.

Tiba-tiba saja mereka menyaksikan kepulan asap tipis yang semakin lama semakin menebal di dari sudut meja kerja milik Jill.

“Astaga!” Sebastian berseru panik. Asap semakin menebal dan membuatnya terbatuk-batuk.

Situasi di luar pun sama paniknya. Meski tidak ada asap mengepul di bagian itu. Sepertinya ada yang salah dengan sistem alarm dan penyemprot air otomatis di toko ini.

“Ya Tuhan!” Seorang karyawan baru menyadari saat melihat asap mulai memenuhi ruangan kerja bos mereka.

“Tuan Sebastian!” Pria tadi bergegas masuk kembali ke dalam ruang kerja Nona Jill. “Nyalakan penyemprot air secara manual!” serunya pada gadis-gadis yang berkerumun di luar.

Salah seorang gadis segera berlari menuju ke gudang dan beberapa saat air menyemprot dan membasahi ruangan itu. Asap pun perlahan mulai berkurang. Pintu kaca dibuka lebar-lebar, agar asap dapat keluar dari ruangan tertutup itu.

“Tuan Sebastian, Anda baik-baik saja?” Beberapa orang berlarian untuk memeriksa keadaannya.

Sebastian terbatuk-batuk. Tubuhnya basah kuyup. Peralatan memotretnya berserakan.

“Aku baik-baik saja,” sahutnya seraya melepaskan kacamatanya.

“Sepatunya!” Dia tiba-tiba berteriak panik. Serentak orang-orang juga menatap ke arah di mana sepatu itu berada.

“Syukurlah!” Mereka serentak berseru dengan lega.

Sepatu itu masih berada di tempatnya hanya saja salah satu sepatu itu tidak berada di posisi semula. Tergeletak, bukan dalam posisi berdiri.

Salah seorang karyawan segera memeriksa sepatu-sepatu itu. Yang lain memeriksa seluruh ruangan itu dan merapikannya kembali. Sebagian besar telah tersiram air dan menjadi basah. Mau tidak mau mereka harus membersihkan seluruh ruangan.

“Tuan Sebastian, apakah Anda bisa melanjutkan pekerjaan Anda di situasi seperti ini?” Pria yang bertugas menjaga ruangan kerja itu bertanya pada Sebastian.

“Bisa saja, tetapi sepertinya saya memerlukan baju ganti. Saya akan menelepon asisten saya untuk membawakan baju ganti.” Sebastian tersenyum kecut.

“Ah baiklah!” Pria itu mengerti karena melihat kondisinya yang basah kuyup.

“Hei kau! Hati-hati! Jangan sampa terjadi sesuatu pada sepatu itu!” Pria itu berteriak memperingatkan saat seorang gadis mengeringkan sepatu kaca itu dengan kain flanel.

“Tuan Sebastian, saya ke sana dahulu. Silakan Anda menghubungi asisten Anda!” Pria itu membungkukkan tubuhnya dan bergegas mendekati gadis yang tadi ditegurnya.

Sebastian segera mengambil tas ranselnya dan keluar dari ruangan itu. Dia bergegas keluar dari butik menuju ke rest area yang ada di pusat perbelanjaan itu.

Cecilia datang menemuinya beberapa saat kemudian. Dia membawakan baju gantinya.

“Apa yang terjadi?” Cecilia bertanya padanya seraya merapikan poninya. Dia tengah bercermin, menunggunya selesai berganti pakaian.

“Sepertinya ada kebakaran!” Sahut Sebastian dengan santai.

“Ah begitu.” Cecilia pun menyahut dengan santai pula.

“Bawalah ini pulang!” Sebastian keluar dari toilet dan memberikan ranselnya pada gadis itu.

“Oke! Aku pulang sekarang! Pulanglah lebih awal karena aku memasak sesuatu yang pasti kau sukai.” Cecilia meraih ransel itu dari tangannya dan menyangklongnya di salah satu bahunya.

Kemudian dia berjinjit dan mengecup pipi Sebastian sekilas. Sebastian hanya tersenyum dan membiarkan gadis itu pergi. Cecilia melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik pintu.

“Aku harus kembali ke butik,” gumamnya seraya mengenakan kembali kacamatanya. Dengan santai Sebastian kembali ke butik.

Suasana di butik sudah cukup tenang. Ada beberapa petugas keamanan pusat perbelanjaan yang datang untuk memeriksa.

“Tidak ada kerugian karena ternyata hanya puntung rokok yang dibuang sembarangan di ruangan kerja Nona Jill.” Seseorang berbicara dengan hati-hati.

“Bagaimana bisa ada puntung rokok di situ? Apa Nona Jill lupa mematikan apinya sebelum membuang puntung rokoknya,” sahut yang lain berbisik-bisik.

Sebastian berdehem dan membuat para karyawan menyadari kehadirannya. Mereka serentak menoleh dan tersenyum canggung padanya.

Sebastian mengangguk pada mereka kemudian melewati kerumunan itu menuju ruang kerja Nona Jill. Dia harus segera melanjutkan pemotretan agar malam nanti dia dapat mengedit dan mulai membuat iklan dan banner yang bagus.

“Tuan Sebastian!” Seorang gadis berseru memanggilnya. Sebastian menoleh dan mengenalinya sebagai asisten pribadi Nona Jill.

“Ada apa Nona?” Sebastian tertegun menatapnya. Gadis itu menunjuk ke arah ruangan kerja yang kini dipenuhi beberapa orang yang nampak sibuk memeriksa.

“Nona Jill berpesan agar pemotretan dihentikan saja. Anda bisa menggunakan hasil pemotretan yang sudah ada untuk membuat iklan dan banner.” Gadis itu berkata dengan hati-hati tetapi cukup tegas.

“Saya mengerti.” Sebastian tersenyum tipis. “Jika begitu saya akan meninggalkan peralatan saya di sana dan akan kembali besok.” Sebastian tersenyum kecut.

“Tuan Sebastian!” Tiba-tiba saja seorang pria memanggilnya. Sebastian yang hendak berbalik lagi kembali menjauhi ruangan kerja itu berhenti dan menunggu orang tadi mendekat.

“Anda di tempat kejadian bukan? Dapatkah Anda menceritakan apa yang terjadi dan apa yang Anda lihat atau ketahui?” Pria itu bertanya sembari menunjukkan kartu identitasnya.

“Baiklah!” Sebastian tersenyum sopan dan mengikuti pria itu memasuki ruangan kerja Nona Jill.

Dia segera menceritakan apa yang terjadi saat itu. Petugas kepolisian mencatat keterangannya. Bukan hanya dia saja, tetapi hampir semua karyawan dimintai keterangan oleh pihak berwajib.

“Ini sungguh aneh!” gumam seorang petugas kepolisian yang sedari tadi hanya bersedekap tangan memperhatikan kerja rekan-rekannya.

Tatapan matanya tertuju pada Sebastian yang masih dimintai keterangan oleh seorang petugas.

“Rasanya aku tidak asing dengannya? Di mana aku pernah berjumpa dengannya?” gumam petugas tadi sementara tatapan matanya masih tertuju pada Sebastian.

“Inspektur Wang!” Seorang petugas menepuk bahunya dan menyapanya cukup keras.

“Aiyo kau membuatku kaget!” Serunya dengan kesal. “Ada apa?” tanyanya masih dengan ekspresi kesal di raut wajahnya.

“Ini beberapa catatan dari hasil olah TKP sementara. Kami akan menyelidikinya lebih lanjut nanti.” Petugas itu memberikan beberapa berkas padanya.

“Terima kasih!” Sahutnya seraya mengambil catatan itu. Dia menoleh bermaksud mencari pria tadi, tetapi orang yang dicarinya sudah tidak ada.

“Aiyo kemana dia?” gumamnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Lates Chapters

Berakhir

"Wah! Mirip istana di negeri dongeng!" Cecilia berseru saat motor besar Harry berhenti di depan sebuah bangunan megah bak istana. "Rumah keluarga Wong kurang lebih…

Sahabat Masa Kecil

"Pak Wang silakan!" Sebastian mempersilakan Darren Wang untuk duduk. Mereka kini berada di kafe yang dikelola anak buah mendiang Anthony. Di sudut kafe yang sepi…

Di Pelabuhan

Sebastian menatap ke sekeliling yacht. Sepi, seperti tidak ada yang menjaga. Perlahan dia menelusuri geladak dan mengetuk pintu yang diyakininya sebagai sebuah ruangan pribadi. Itu…

Mengejar Penyusup

Cecilia terbangun saat smartphone yang diletakkannya di bawah bantalnya bergetar dengan keras. Masih setengah terpejam diambilnya benda itu dan menerima panggilan video yang masuk. "Ceci…

Bukan Buku Harian Biasa

"Ini kotak musiknya?" Jonathan menatap kotak musik di atas meja. "Lihat, perhatikan dengan seksama. Mirip bukan?" Sebastian membuka sebuah album foto yang diambilnya dari tas…

Catatan Dalam Kotak Musik

Cecilia berganti pakaian dan membersihkan lantai mezanin. Ada beberapa serpihan kaca yang masih tertinggal. Dia memiliki praduga itu serpihan kaca dari bola kaca saljunya yang…

Pencuri

"Kau yakin dengan informasi itu?" Wanita cantik itu menatap pria yang berdiri menunduk di hadapannya. "Benar Nona!" Pria itu menganggukkan kepalanya. "Baiklah! Kalian harus bisa…

Kotak Musik Sang Balerina

"Kotak musik?" Harry menatap Jonathan dengan kening berkerut. "Benar Tuan. Nyonya Liliana kehilangan kotak musiknya beberapa hari yang lalu. Sepertinya Nona Anna, cucunya telah membersihkan…

Cecilia Dan Anthony

"Kau bisa memperbaikinya bukan?" Cecilia berjongkok di depan pemuda yang tengah mengamati kotak musiknya. "Aku rasa bisa, ini hanya tuasnya saja yang bermasalah. Sebentar aku…

Bertemu Tuan Tua Wong

Bunyi bel membuat Sebastian segera melompat dari tempat tidurnya. Sepagi ini dia masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. Dia bergegas mengenakan kaosnya dan turun dari…

Toko Loak

"Setelah ini kalian mau kemana?" Alex bertanya setelah menghabiskan dimsumnya. "Aku mau jalan-jalan di sekitar sini. Aku mau mencari kotak musik. Sayangnya masih hujan," keluh…

Street Food

Lau pa sat festival paviliun di malam hari sungguh ramai dan menggoda siapa saja untuk mampir ke salah satu pusat kuliner di Teluk Ayer ini.…

Kisah Di Balik Berlian

"Berlian yang indah," gumam Ve menatap Karen Yu yang berputar di depannya, memamerkan gaun yang membalut tubuh semampainya. "Ini berlian hadiah dari ayahku. Menurut beliau…

Penyesalan

"Pak, tumben sekali Anda mengajak kemari?" Kai, pemuda blasteran Melayu-China itu bertanya pada Darren Wang seraya menatap ke sekeliling kafe. Hanya sebuah kafe biasa seperti…

Anthony Wong

"Kau baik-baik saja?" Harry berjongkok di depan Milli. Gadis berambut ikal itu menatapnya ketakutan. Dia memeluk kedua lututnya erat-erat.   "Milli kenapa kau takut padaku?…

Kaulah Cinderella-ku

Suasana di butik Depeche malam ini sangat meriah. Peluncuran produk baru mereka dihadiri tamu undangan dari berbagai kalangan. "Aku penasaran dengan sepatu mereka kali ini,"…

Fotografer Yang Mencurigakan

"Hanya sebuah kecerobohan kecil saja!" Darren Wang bergumam menatap lembaran laporan di tangannya. "Benar Pak! Menurut keterangan, sepertinya Nona Jill sendiri yang lupa mematikan puntung…

Bahagia Hidup Bersamamu

"Tempat yang sangat sulit untuk ditembus. Dengan sistem pengamanan yang canggih dan kamera pengawas di mana-mana." Harry tersenyum menatap butik di depannya dengan seksama. Tengah…

Depeche

Butik itu baru saja dibuka. Sebastian berdiri di depan pintu kaca dan mendongak menatap papan nama yang terpampang di atasnya. "Depeche," gumamnya pelan. Sebuah kata…

Di Klub Malam

"Hei Basti! Di sini!" Alex berseru memanggil Sebastian yang baru saja memasuki klub malam terpopuler kota. "Tumben kemari?" Sebastian tersenyum dan duduk di sebelah Alex.…
error: Content is protected !!