“Ibu tolong Tasya,” teriak Tasya sembari menangis terisak.
“Bu tolong tahan, Mas Adam! Jangan biarkan dia membawa pergi Tasya,” ucap Farida pada Nani.
Nani pun kang berdiri dan hendak merebut Tasya dari Adam tapi tubuhnya yang sudah tua sangat mudah disingkirkan oleh tangan kekar Adam.
Brukkkkk.
Tubuh Nani pun seketika ambruk di lantai tak tahu dari Farida. “Ibu!!!!!” teriak Farida keras saat kedua matanya melihat Nani ambruk ke lantai tepat di depan matanya.
“Kamu jahat, Mas! Bisa-bisanya kamu melakukan ini pada kami,” ucap Farida berusaha menggapai tubuh Nani.
“Maafkan aku, Farida. Aku terpaksa melakukan ini semua. Sekali lagi aku minta maaf,” ucap Adam lalu pergi meninggalkan Farida dan Nani dengan membawa Tasya secara paksa.
“Tasya!!!!” Farida hanya bisa berteriak keras memanggil namanya saat Adam telah membawa Tasya pergi darinya.
Suara tangisan Tasya bahkan masih terdengar jelas di telinganya tapi Farida tak bisa berbuat apapun untuk mengambil alih Tasya satu tangan Adam saat itu.
Akhirnya Farida pun berhasil menggapai tubuh Nani saat itu dan membuatnya menumpahkan kesedihannya.
“Maafkan ibu, ya Farida. Ibu tidak bisa mengambil Tasya dari Adam,” ucap Nani merasa bersalah.
“Ibu nggak perlu minta maaf. Ini semua bukan salah ibu,” jawab Farida mencoba menenangkan Nani.
Kekecewaan yang Farida rasakan pada Adam semakin besar. Ia tak menyan jika Adam sama sekali tidak bisa dipercaya.
***
Akhirnya dengan susah payah, Adam berhasil membawa Tasya pulang kembali ke rumah Nadia.
“Ayah, Tasya nggak mau di sini. Tasya mau sama ibu,” ucap Tasya dengan sesenggukan.
“Maafkan ayah, ya, Tasya. Untuk hari ini Tasya nggak bisa tidur di rumah ibu. Tapi Tasya jangan khawatir, ayah janji akan mengantarkan Tasya ke rumah ibu lagi,” ucap Adam dengan perasaan bersalah di dalam hatinya.
Adam pun membawa Tasya yang masih ia gendong, masuk ke dalam rumah. Tampak Nadia yang tengah duduk di sofa menunggu kedatangan keduanya.
“Tasya,” ucap Nadia semringah. Senyum di wajahnya tampak mengembang dan ia segera bangkit untuk memeluk tubuh Tasya.
Tasya pun menyambut pelukan Nadia dengan sangat lembut dan hangat.
“Oma, Tasya mau sama ibu. Tasya nggak mau di sini,” ucap Tasya.
Mendengar perkataan dari Tasya sontak membuat kedua belah mata Nadia membulat. Kemarahannya mulai muncul membuatnya mengeratkan kedua telapak tangannya.
“Tidak boleh! Tasya tidak boleh ketemu lagi sama ibu apalagi sampai tinggal di sana,” ucap Nadia melotot.
“Tapi Tasya maunya sama ibu, nggak mau di sini,” jawab Tasya.
Kalimat Tasya barusan rupanya membuat amarah Nadia semakin meledak. Ia tak dapat lagi menahan amarahnya mendengar Tasya ingin bersama Farida.
Nadia pun mengangkat tangannya dan hendak memukul Tasya. “Cukuo Tasya! Jangan bicara seperti itu lagi!” Nadia akan memukul tubuh mungil Tasya yang masih menangis di hadapannya.
Namun, dengan cepat Adam mengambil posisi untuk menyelamatkan Tasya.
“Hentikan, Bu! Jangan sakiti Tasya,” ucap Adam sembari menahan tangan Nadia yang akan memukul Tasya.
Tasya pun semakin menangis ketakutan. Air matanya semakin deras jatuh membasahi pipinya.
Adam yang melihat ketakutan Tasya pun langsung menenangkannya.
“Tasya, Tasya masuk ke kamar sekarang ya, Sayang,” ucap Adam lembut sembari mengusap kepalanya.
Tasya pun segera berlari menuju ke kamarnya dan menutup rapat pintu kamarnya.
“Bu, ibu ini apa-apaan sih! Aku sudah berusaha menuruti keinginan ibu, ya! Ibu ingin aku mengambil Tasya, aku turuti. Tapi tolong bu jangan sakiti Tasya,” ucap Adam tak terima dengan perlakuan Nadia tadi.
“Ini semua gara-gara kamu, Dam. Gara-gara kamu sudah mempertemukannya dengan Farida sehingga sekarang Tasya jadi nggak betah di rumah ini dan maunya sama wanita itu terus! Padahal dari kemarin-kemarin juga Tasya nggak pernah bilang nggak mau di sini.” Nadia balik menyalahkan Adam yang sudah membawa Tasya bertemu dengan Farida.
“Loh, bukankah wajar kalau aku mempertemukan Farida dengan Tasya. Farida itu ibu kandungnya Tasya, Bu,” jelas Adam mengingatkan.
“Aku tahu dia memang ibu kandungnya Tasya tapi tetap saja kamu harus ingat apa yang sudah wanita itu lakukan pada keluarga kita. Ibu jadi bercerai dengan bapak kamu gara-gara dia,” ucap Nadia menajamkan tatapannya.
“Memangnya apa yang sudah Farida lakukan pada keluarga kita, Bu? Bukankah perceraian ibu dan bapak itu terjadi karena bapak uang memang genit sama Farida. Bukan Farida yang menggoda bapak. Ibu masih ingat kan perkataan bapak malam itu pada kita,” ucap Adam mengingatkan Nadia.
“Tetap saja aku tidak mau kalau sampai Tasya bertemu dengan wanita itu dan kamu harus menuruti apa yang aku katakan,” tegas Nadia sekali lagi.
“Ibu benar-benar egois! Bisa-bisanya ibu mengekang Tasya seperti itu.”
“Apa kamu bilang? Aku egois?” Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Adam hingga membuat ia memalingkan wajahnya.
“Beraninya kamu bilang aku egois! Kalau aku egois tentu aku tidak akan pernah memikirkan kamu dan juga Tasya. Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu dan juga Tasya. Apa kamu mau kehilangan hak asuh Tasya kalau sampai Tasya lebih nyaman dengan Farida dan ingin tinggal dengannya,” tutur Nadia lagi.
Seketika itu juga Adam pun terdiam seribu bahasa. Ia yang sedari tadi menyalahkan Nadia kini menjadi bungkam
“Kenapa kamu diam?” tanya Nadia menyadarkan Adam dari lamunannya.
“Ibu benar. Aku memang ingin melihat Tasya bahagia tapi seharusnya aku memberi batasan untuk Tasya agar aku tak kehilangan hak asuh Tasya,” ucap Adam dengan menunduk.
Nada suaranya kini terdengar sedikit lebih pelan dari sebelumnya dan tatapan matanya pada Nadia pun mulai sendu.
“Asal kamu tahu, Dam. Kamu bisa mendapatkan hak asuh Tasya karena aku. Aku yang bilang pada pengacara bahwa kamu berkerja dan memiliki penghasilan yang cukup sehingga kamu bisa mendapatkan hak asuh Tasya. Tapi kenyataannya kamu selama ini nggak kerja kan? Seharusnya kami sadar bahwa kamu bisa mendapatkan hak asuh Tasya itu karena aku,” ucap Nadia mengungkit semuanya.
Adam pun termenung memikirkan apa yang dikatakan oleh Nadia padanya.
“Ibu benar, memang selama ini ibu sudah melakukan banyak hal untukku dan karena ibu aku jadi bisa mendapatkan hak asuh Tasya. Jika bukan karena bantuan ibu mungkin sekarang Tasya ada di tangan Farida,” batin Adam.
Sekarang kamu sudah sadar, kan. Jadi lakukan apapun yang aku perintahkan padamu dan jangan membangkang,” ucap Nadia lagi lalu pergi meninggalkan Adam yang masih terpaku di posisinya.
“Ya Tuhan, bagaimana ini. Apa aku harus benar-benar mengekang Tasya agar tak bertemu dengan Farida,” batin Adam penuh kebimbangan.
Adam pun melangkahkan kakinya menghampiri kamar Tasya. Dengan perlahan Adam membuka kamar Tasya dan tampak Tasya yang sedang berdoa.
Tasya yang baru selesai sholat dan masih menggunakan mukena mulai menengadahkan kedua tangannya ke langit.
“Ya Allah, Tasya ingin tinggal sama ibu. Tasya ingin tidur sama ibu. Tolong bantu Tasya, ya Allah, agar Tasya bisa bertemu dan tinggal lagi sama ibu. Tolong dengarkan doa Tasya, ya Allah.”
Tanpa sadar Adam menitikknair matanya mendengar doa yang dipanja oleh putri kecilnya.
Adam paham betapa inginnya Tasya bersama lagi dengan Farida hanya saja kesalahan dan keegoisan orang dewasa di sekitarnya yang membuatnya tak bisa bersatu dengan Farida.