“Sah, alhamdulillah.” Suara beberapa tamu di luar sana terdengar hingga ke dalam kamar pengantin tempat kami berada.
Mataku melirik pada pengantin wanita yang saat ini sedang berpelukan haru dengan kakaknya. Dia memakai kebaya putih tulang dengan bawahan kain batik motif truntum. Motif batik itu memiliki filosofi bahwa sang pemakai diharapkan akan diwarnai oleh cinta kasih kepada sesama, lingkungan, serta menebarkan kebaikan.
Bukan… bukan aku yang menikah, tapi Amelia sahabat dan kekasihku yang bersanding dengannya. Miris memang, tapi inilah kenyataan yang harus kunikmati.
Aku mencibir dalam hati, “Sahabat apa yang bahagia di atas penderitaan sahabatnya.” Sungguh, benar-benar memuakkan berada di sini dan menjadi munafik.
Meski wajahku di hiasi senyuman saat kami beradu pandang, tapi di dalam sana sedang berperang hebat. Entah kebodohan sebesar apa yang membawaku kesini dengan hati yang tersayat-sayat. Melihat pria yang kuharapkan menjadi pendamping hidup mirisnya saat ini di luar sana berhasil mengucap ijab kabul, tetapi bukan namaku yang disebut.
Kembali aku teringat ketika geladi resik dilaksanakan semalam, Ardi – kekasihku selama empat tahun ini – hadir di sana. Dia melangkah dengan senyuman bahagia, melewatiku begitu saja dan langsung merengkuh Amelia dengan kecupan kecil di pipi. Betapa terkejutnya aku, mengetahui mereka akan menikah dan parahnya aku baru mengetahui ini saat satu hari, bukan … bahkan beberapa jam sebelum ijab kabul.
“Ar-ardi.” Panggilku lirih, dengan mata berkaca-kaca.
Terlihat jelas bagaimana Amelia dan Ardi salah tingkah dan berjalan kaku ke arahku.
“Fara maaf, a-aku… tolong ma-maafkan aku,” ucap Amelia terbata-bata, dengan wajah yang mengiba dan menggenggam erat tanganku.
Bibirku kelu, air mata bahkan enggan untuk keluar. Sakit yang merajam di hati rasanya langsung menjalar ke seluruh tubuh. Tenggorokanku tercekat dan sesak memenuhi dada. Mata kami beradu, Amelia masih terus berkata maaf. Namun tak satu pun kalimat yang menyentuh di hati. Karena meski kata maaf terucap, tapi tak terlihat sedikit pun penyesalan di matanya.
“Fara, aku bisa jelaskan semuanya. Kamu boleh membenci, menghina atau lakukan apa pun yang kamu mau asalkan tidak menggagalkan pernikahan kami.” Pinta Ardi tanpa rasa malu apalagi rasa bersalah.
“Kamu anggap apa hubungan kita selama ini, Ar?! Kita bahkan baik-baik saja sampai kemarin,” lirihku pelan dengan suara bergetar.
“Far–“ Panggilan Amelia berhenti seiring dengan telunjuk yang kuletakkan di depan bibir. Gelengan kepala pun sebagai tanda, tak ada lagi yang ingin kudengar dari dirinya.
Kemudian, Ardi mendekatiku. “Aku akan menjelaskan semua ke orang tuamu, tolong beri aku waktu,” ucapnya tegas dan menatap penuh intimidasi.
Aku mendengkus dan menatapnya tajam. Ucapannya kutimpali dengan ketus, “Tidak perlu. Rumahku sudah ha-ram untuk kamu datangi!”
Tak ada air mata yang keluar, tapi nyawaku seolah tercabut saat itu juga. Dikhianati oleh kedua orang terdekat yang sangat kupercaya. Ini memang sangat menyakitkan, tetapi kemarahan lebih mendominasi diriku malam ini.
Dengan wajah pucat pasi dan otak yang rasanya berhenti bekerja. Setelah terdiam sesaat untuk menenangkan diri, aku melangkah keluar dengan diam tanpa ekspresi dan suara. Rasanya seperti keledai dungu yang baru saja di depak oleh majikan karena sudah tak berguna lagi.
Aku tersenyum miring dan hanya bisa menghela napas keras.
Semalam suntuk meratapi diri, tapi dengan sangat bodohnya aku tetap hadir di sini mendampingi sahabatku. Ah–entah harus kusebut apa hubungan kami sekarang. Sahabat tapi pelakor. Lagi-lagi aku menertawakan diri sendiri. Ardi bahkan tak pernah membuka omongan tentang pernikahan selama berhubungan denganku.
Lamunanku tersadar saat usapan lembut menyapa lenganku berulang kali. Seorang petugas event organizer mengingatkan untuk segera keluar.
Hanya anggukan yang kuberikan dengan senyum lebar untuk menenangkan diri.
Inilah saatnya menguatkan diri. Dan meski dengan berat hati, aku serta kakak perempuan Amelia mendampingi pengantin wanita untuk keluar menuju tempat ijab kabul tadi dilakukan.
Sepanjang jalan keluar, beberapa orang yang mengenaliku menatap penuh rasa kasihan. Rasanya benar-benar memuakkan, aku benci di kasihani.
“Terima kasih, Fara.” Suara lirih Amelia masih terdengar jelas di telingaku. Dia memberikan senyuman tipis meski hanya aku yang menoleh ke arahnya.
Astaga, jadi begini rasanya tertusuk pisau tepat di jantung. Begitu aku menoleh ke arah sebaliknya, di sana terlihat jelas kedua orang tua Ardi yang tadinya tersenyum bahagia langsung terdiam ketika menatapku dan memberikan tatapan sendu.
“Keluarga pengkhianat,” batinku.
Boleh ‘kan aku menghujat mereka kali ini. Empat tahun mengenal mereka dan tak sedikit pun kata maaf atau sekedar basa basi yang terucap padaku, sampai detik ini.
Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Ketika sampai di depan suami Amelia, terdengar jelas Ardi memuji Amelia dengan penuh kasih. Teganya dia melakukan itu, di saat aku ada di depan matanya. Sejenak kemudian kuberanjak, memilih pergi tanpa berpamitan.
“Aku pergi dan kuharap ini adalah pertemuan terakhir kita.” Monologku dalam hati seraya menatap ke arah pintu gedung yang saat ini menjadi saksi kehancuran hatiku.
Langkah kakiku begitu berat dan dengan sekuat tenaga menahan air mata di pelupuk mata agar tak luruh saat itu juga.
Tujuanku hanya satu, yaitu keluar menuju mobil dan berhenti di salah satu coffee shop untuk menenangkan diri. Hanya itu satu-satunya tempat yang terpikir olehku.
Segelas kopi tak pernah bisa bohong. Rasanya selalu jujur apa adanya. Pahit dan manisnya kopi membuatku sadar bahwa hidup tak selamanya indah. Tapi, kepahitan akan datang sebagai pembelajaran dan rasa manis hadir kemudian sebagai hadiah atas kesabaran dan pendewasaan.
Tak aku pedulikan lagi pandangan orang-orang yang akan melihat dengan tatapan bingung atau mungkin mencemooh. Seorang perempuan malang yang masih menggunakan setelan kebaya lengkap dengan wajah sembab dan duduk termenung sendiri di temani secangkir kopi yang hingga dingin pun tak tersentuh.
Aku masih terus menunduk, saat suara bariton yang lembut itu menyapa pendengaranku, “Maaf, boleh duduk di sini?” Dengan cepat tanganku menghapus jejak air mata di wajah dan sontak aku menoleh ke arahnya.
“Hanya kursi ini yang kosong dan kamu hanya duduk sendiri.” Jelasnya lagi karena aku hanya diam melihatnya.
Kuedarkan pandangan dan melihat semua meja memang penuh. Lalu mengangguk pelan dan kembali ke dunia lamunan.
“Terima kasih, saya Dimas.” Dia menjulurkan tangannya, tapi tak kuraih. Terlihat dia menaikkan bahunya pelan sebelum menyamankan diri.
Aku hanya meliriknya sekilas sambil mengangkat gelas kopiku. “Ah, sudah dingin,” keluhku.
“Tentu, sudah dua jam kamu duduk diam di sini,” celetuk Dimas tanpa melihat ke arahku.
“Hah, dua jam!” jawabku kaget.
Benar saja, begitu melihat ke arah jam tangan, baru kusadari kalau ini sudah jam sepuluh malam. Kuhembuskan perlahan napasku sambil memejamkan mata sesaat, melepaskan sesak di dada.
“Terima kasih, Dimas,” ujarku pelan.
Dia mengernyit sambil melihatku.
“Kamu mengembalikan aku ke dunia nyata,” lirihku sambil terkekeh.
Aku tidak gila, kan.
“Ah, begitu rupanya.” Dia tersenyum tipis sambil mengangguk dan tak lama dia menyodorkan sebuah kartu nama dan berujar, “Barangkali kamu butuh, untuk tetap bisa menginjak bumi.”
Aku mengambilnya dengan senyum kecut, dia menyindirku atau bagaimana. Pria ini rupanya sedikit menyebalkan, pikirku. Walau pun begitu, tetap kumasukkan ke dalam tas dan berdiri lalu pergi begitu saja. Aku tak ingin lagi ada sangkut paut dengan pria mana pun saat ini.
Begitu memasuki mobil, aku bersumpah akan meninggalkan sakit hati di … kedai kopi ini. Aku sedikit menunduk lalu mendongak, ingin melihat apa nama kedai kopi ini.
“Kopi Sehati.” Lafalku lalu terkekeh pelan, “Siapa tahu habis ini ketemu jodoh yang sehati.”