Rama Wijaya, nama yang tersemat mewakili fisik seorang pemuda tampan berhidung mancung juga tatapannya yang tajam. Pemuda asal Jawa tengah yang tidak memiliki pendidikan tinggi, tetapi ia gigih dalam berusaha.
Seperti pemuda pada umumnya. Rama menyukai kegiatan di jalanan, ia juga menyukai kendaraan bermotor. Pergaulan Rama meluas, perangainya tegas dan konsisten. Membuat teman-temannya mendorong ia untuk membuka usaha di bidang yang disukai.
Dengan keyakinan dan banyaknya teman, Rama memberanikan diri membuka usaha seperti yang disarankan oleh temannya. Ia pulang dan meminjam sejumlah uang kepada orang tuanya untuk modal usaha yang akan ia rintis. Bukan hanya uang yang ia dapat, namun juga restu dan untaian doa dari kedua orang tua agar usaha Rama sesuai dengan harapan mereka.
Satu tahun Rama merintis usaha bengkel, ia mulai menuai hasil jerih payahnya, usaha bengkel meningkat pesat. Bahkan ia menyediakan semua jenis Sparepart kendaraan.
Tidak disangka kegemarannya dengan kendaraan menuntunnya hingga sukses.
Seiring berjalannya waktu Rama benar-benar mampu hidup mandiri, modal dari orang tua sudah ia kembalikan. Bahkan, Rama sudah membeli tempat usaha yang awalnya ia kontrak, ia juga membeli sebuah rumah.
Tetapi saat berada di puncak kesuksesan Rama menemui kendala. Rico, rekan bisnis yang juga teman Rama ternyata tidak menyukai kesuksesan Rama, semula Rama tidak menyadari akan hal itu, Rama baru menyadari kejanggalan yang terjadi setelah seorang temannya memberitahu jika bengkelnya selalu tutup.
Dari temannya itu pula Rama mendapat kabar jika langganannya pindah ke bengkel Rico.
Suatu ketika Rico datang menemui Rama dan mengajaknya mengikuti ajang balap, Rama ditunjuk menjadi mekanik. Tujuannya untuk mengangkat lagi bengkel Rama yang sepi.
Merasa tidak ada kegiatan Rama menyetujui ajakan itu, terlebih Rico menjanjikan keuntungan setelah event selesai.
Alih-alih mendapat keuntungan, Rama malah mendapat kenyataan pahit di arena balap, pasalnya nama Rama dan bengkelnya sama sekali tidak disebut. Artinya upaya menarik pelanggan dari event gagal Rama dapatkan.
Hari berikutnya Rico juga mengajak Rama mengonsumsi barang haram, barang yang selama ini tidak pernah Rama sentuh. Karena ekonomi yang terpuruk membuat Rama menerima ajakannya.
Malang tak dapat di tolak, itulah nasib yang menimpa Rama, Rico menitipkan sebuah bungkusan kecil kepadanya setelah mengonsumsi barang haram dibengkelnya, namun setelah Rico pergi, satuan aparat kepolisian datang dan menangkapnya.
Tentu Rama mencari keberadaan Rico dan memintanya untuk membebaskan dirinya, lagi-lagi Rama dihadapkan dengan pilihan sulit, pasalnya Rico meminta Rama untuk tidak menyeret namanya di kepolisian. Sedangkan untuk keluar dari Polsek Rama harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Terpaksa Rama meminjam sejumlah uang kepada Rico.
Setelah keluar dari Polsek hari-hari Rama semakin terpuruk, usahanya semakin menyusut. Dalam renungannya Rama baru teringat ucapan temannya perihal toko miliknya yang selalu tutup. Namun, Rama tidak tau harus berbuat apa.
Satu bulan setelah keluar dari Polsek Rico mendatangi Rama dan menagih uang yang ia pinjamkan. Dengan kondisi keuangan yang carut-marut tentu Rama tidak memiliki biaya untuk mengembalikannya.
Alhasil Rico memaksa Rama memberikan ruko miliknya. Rama menolak keras permintaan Rico yang tidak masuk akal, pasalnya biaya yang ia pinjam sangat tidak sepadan dengan harga ruko miliknya, tetapi Rama mendapat tekanan berat dari Rico.
Pasalnya Rico membawa teman-temannya untuk memukuli Rama, akibatnya Rama tidak berkutik melawan dan terpaksa mengambil surat-surat ruko untuk diberikan kepada Rico.
Sakit hati yang mendalam membuat Rama Wijaya bertekad membalas perbuatan Rico, mengambil kembali haknya yang direnggut paksa oleh Rico sekaligus memberi pelajaran kepadanya.
Rencana dijalankan oleh Rama, ia mengumpulkan teman-teman yang masih respek kepadanya. Setelah siap Rama dan teman-temannya menyerang bengkel yang di kelola oleh Rico. Hal itu mengakibatkan perkelahian besar terjadi. Namun, lagi-lagi Rama harus terpukul mundur, rupanya Rico telah menjalin kerja sama dengan rekan yang lain, sehingga setiap pergerakan yang Rama lakukan dapat terendus oleh Rico.
Hingga suatu hari di saat Rama kembali ke kampung, ia bertemu teman lamanya. Rama menceritakan masalah yang ia hadapi, hingga akhirnya ia mendapat saran agar menemui seseorang yang mumpuni di ujung Desanya. Mendapat angin segar Rama langsung mengikuti saran temannya.
Pada akhirnya Rama menemui seorang lelaki sepuh dan menceritakan kejadian yang menimpanya. Mendengar keluhan Rama, sang sepuh menawarkan sebuah ajian kepada Rama, tanpa berpikir panjang Rama menyetujui tawaran itu. Tetapi Rama harus menjalankan sendiri laku tirakatnya.
Hari pertama ritual di mulai, Rama harus mengekang hawa nafsu atau berpuasa selama 40 hari, ia hanya di perbolehkan makan makanan dari dedaunan saja setiap berbuka dan sahur.
Tidak ada kendala saat menjalani ritual puasa. Namun, saat ritual tirakat yang kedua setelah puasa 40 hari Rama baru merasakan adanya gangguan.
Pasalnya Rama harus puasa selama tiga hari tanpa makan minum dan tanpa tidur. Hal itu membuat Rama berada di ambang kesadaran. Setiap saat ia melihat makhluk astral, tetapi Rama tetap Istiqomah dengan niatnya. Setidaknya selama dua hari ia menjalankan tirakatnya.
Hari ketiga, atau hari terakhir Rama benar-benar di uji. Puluhan makhluk bertubuh besar dan berbulu menghampirinya, taring-taring panjang menghiasi sudut bibir setiap makhluk itu. Namun, Rama tetap pada pendiriannya, ia tidak goyah walau makhluk itu menjulurkan lidah panjangnya yang terus meneteskan air liur berbau amis.
Setelah melewati gangguan itu, Rama kembali di hadapkan dengan gangguan lain, kali ini Rama seperti berada di suatu tempat. Tempat yang tidak asing, tetapi ia kesulitan mengingatnya, yang pasti di tempat itu banyak orang yang ia kenal sedang bekerja, ada yang mencangkul, ada yang mengumpulkan bebatuan dan membawanya ke suatu tempat.
Cukup lama Rama melihat aktivitas itu, namun apa yang mereka kerjakan tidak pernah selesai bahkan, mereka melakukan pekerjaannya tanpa henti.
Semakin lama Rama memperhatikan maka keanehan mulai Rama rasakan, ia baru saja tersadar bahwa orang-orang yang ia lihat semuanya telah meninggal dunia.
“Astagfirullah…” Rama mengelus dada. Seketika apa yang ia lihat lesap. Hingga akhirnya ritual berakhir dengan lemasnya tubuh Rama.
Tahap ketiga atau terakhir, Rama melakukan ritualnya di kediaman sang Sepuh, sebab Rama harus berada di tempat yang terhindar dari cahaya. Pati Geni, sebuah tirakat yang maha berat, sebab ia tidak boleh terkena cahaya selama melakukan tirakat.
Bahkan, untuk menandai hidup atau tidaknya, salah satu jari Rama di ikat dengan benang, tujuannya untuk memastikan saja. Jika benang itu ditarik dan Rama masih melakukan pergerakan artinya Rama masih hidup. Oleh sebab itu Rama melakukan ritual Pati Geni di sekitar kediaman sang sepuh.
Selama tujuh hari Rama harus mampu menyelesaikan laku tirakatnya, tanpa makan, minum dan tanpa adanya cahaya.
Bukan perkara mudah, tak terhitung berapa kali ia di temani sosok Bergaun putih, tak jarang pula sosok yang terbungkus kain kafan membersamai tidurnya, dua makhluk itu seolah tiada bosan menemani kesendirian Rama dalam menjalani laku tirakat.
Pada akhirnya sebuah pintu terbuka lebar, Rama sendiri tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya saat pintu itu terbuka.
Terhitung hampir tiga bulan Rama melakukan tirakat, dan selama itu ia dibimbing oleh sepuh yang menjadi gurunya.
“Apa rencanamu setelah ini ngger, mengambil hakmu atau bagaimana?”
“Mengambil hak serta mengembalikan ekonomi yang hancur Mbah?”
Sang sepuh memejamkan netranya.
“Begini ngger.” sepuh itu menceritakan semua yang terjadi di sana dan memberikan satu solusi untuk Rama, sebab percuma jika hanya mengambil hak jika tidak ada modal untuk memulai usahanya. Oleh sebab itu, sang sepuh menyarankan Rama agar mengambil emas yang dijaga makhluk gaib.
“Ah iya Mbah, saat saya melakukan tirakat, saya melihat banyak warga desa yang sudah meninggal bekerja tanpa henti, apakah itu hanya halusinasi saya saja atau suatu petunjuk Mbah,” tanya Rama.
“Mereka orang-orang yang semasa hidupnya bersekutu dengan setan, tenang saja Nak Rama … Apa yang Simbah tawarkan tidak menjurus kesana, bahkan setelah Kau dapatkan emas itu, Simbah jamin Kau tidak akan bernasib seperti orang-orang itu.” jawab si Simbah.
Mendengar itu Rama merasa lega, jelas ia khawatir jika apa yang ia lakukan nantinya termasuk bersekutu dengan makhluk lain.
Tidak mudah menjalankannya, walau tidak ada tumbal. Namun, Rama harus benar-benar menekan nafsu serakah duniawi, yaitu jika berhasil mengambilnya Rama hanya di izinkan menggunakan 30 persen saja hasil dari usaha pengambilan emas itu, selebihnya harus di berikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan dan di berikan langsung kepada yatim-piatu.
Rama menyetujui hal itu, dan waktu pengambilan pun ditetapkan oleh sang sepuh.
“Ingatlah, jangan sekali-kali mengingkari janji, janji hatimu sendiri. Jika kau mengingkarinya jangan pernah salahkan siapa pun.” ucap sang sepuh kepada Rama saat Rama hendak bertolak ke lokasi pengambilan emas di alam gaib.
Perjalanan dimulai, Rama hanya dibimbing oleh juru kunci lokasi, selebihnya Rama berusaha sendiri. Beruntung Rama menyelesaikan misinya dalam waktu singkat saja.
Setelah kembali ke kotanya Rama langsung menjualnya. Tidak lupa ia membagi hasil sesuai dengan yang sudah ditentukan. Rama kembali menemui sang sepuh, meminta saran sekaligus meminta izin kepada sepuh untuk berangkat ke kota.
Rama benar-benar mengambil 30% dari hasil penjualan emas batangan itu, sisanya ia gunakan seperti dalam perjanjian saat pengambilan emas.
Setelah pulang ke rumahnya, Rama bertolak ke tempat Rico, ia meminta haknya yang di renggut paksa oleh Rico, ketegangan kembali terjadi. Namun, kali ini Rama tidak selemah empat bulan yang lalu. Ia menghajar Rico seperti dulu Rico melakukannya kepada Rama.
Banyak pengunjung dan rata-rata mantan langganan Rama dahulu, mereka mendengar dan melihat pertikaian yang terjadi. Rico tidak sendirian, ada banyak teman-teman yang membantunya tetapi tidak ada yang dapat mengalahkan Rama. Rama mengambil paksa surat-surat yang pernah disita oleh Rico.
Setelah mendapat barang miliknya Rama kembali ke Ruko dan melihat keadaannya. Pemandangan pertama yang Rama lihat, Ruko miliknya sangat kotor dan barang-barang habis semua.
Beberapa teman mulai simpati, dan mereka membantu Rama memperbaiki etalase yang sudah kosong, tentunya barang-barang sudah habis terjual oleh Rico. Namun, Rama tidak perduli, yang penting tempat usaha sudah ia dapatkan, itu saja sudah lebih dari cukup untuk Rama.
Rupanya Rico tidak terima dirinya di hajar oleh Rama, lelaki itu bersama beberapa orang kembali menemui Rama dan menuntut balas. Berbagai senjata tajam mereka bawa bahkan, Rico membawa senjata api rakitan. Rama tidak gentar sedikit pun, beberapa kali senjata tajam mengancam keselamatannya. Tetapi hal itu tidak terjadi, senjata yang terlihat menusuk dan mencabik daging Rama nyatanya tidak terjadi.
Hingga akhirnya mereka terpukul mundur, Rico yang membawa senjata api pun geram melihat teman-temannya mengalami kekalahan, ia membidik Rama dengan senjata yang ia miliki.
Namun, yang terjadi sungguh di luar nalar, peluru yang terlontar berhenti tepat satu rentangan jari di depan tubuh Rama, hingga peluru habis di gunakan, tak satu pun peluru berhasil menembus tubuh Rama. Hal itu tak ayal membuat Rico turut mengambil langkah seribu.
Hari berlalu, Rama telah memulai lagi usahanya. Satu hari dua hari hingga hari ketiga usaha Rama berjalan lancar. Namun, setelah tiga hari usahanya mulai sepi dan sangat jarang orang datang ke tempatnya, terlebih lagi jika hari sudah gelap, ia sering melihat keganjilan di tempat usahanya.
Rama merasa ada sosok hitam besar dan berbulu duduk di emperan ruko miliknya, tetapi Rama selalu mengacuhkan hal itu, ia tidak merasa ada masalah dengan kehadirannya.
Hingga suatu malam, Rama terbangun oleh suara aneh di kamarnya. Ia mendengar dengusan kasar Manusia, hal itu membuat Rama penasaran. Pandangannya menelisik setiap sudut ruangan. Sosok bayangan hitam tampak berkelebat masuk dari jendela rumahnya, ya! Bayangan itu mirip dengan makhluk hitam besar yang ia lihat di rukonya.
Tiba-tiba saja hawa di ruangannya begitu pengap dan panas, Rama segera menarik daun pintu kamarnya dan keluar, kejadian itu membuat ia tidak bisa tidur semalaman. Sialnya, kejadian itu tidak terjadi sekali saja, malam berikutnya Rama mengalami hal yang sama.
Hingga di suatu hari sang sepuh datang menemuinya, rupanya sepuh itu terus memantau Rama dari kejauhan.
“Ngger, percaya tidak percaya sesungguhnya bukan hanya usahamu yang ingin dihancurkan, tetapi juga menginginkan nyawamu ngger. Baiknya kita bersihkan segera, jangan dibiarkan berlarut-larut, Simbah akan membuang semua yang sudah tertanam di tempat usahamu. Tetapi untuk yang di rumahmu baiknya kamu mengundang anak yatim sebanyak tujuh orang atau lebih, yang penting jumlahnya ganjil, nanti kamu akan melihat apa yang terjadi. Terus terang ini sangat berat, oleh karena itu kamu harus meminta bantuan kepada anak yatim untuk berdoa bersama, bagaimana? sanggup?” ucap sang sepuh.
“Sanggup Mbah,” jawab Rama.
Malam itu juga, sang sepuh mengangkat walad yang ada di ruko, setidaknya ada dua titik yang sama sekali tidak di duga oleh Rama, dua bungkusan kumal menyembul begitu saja setelah sang sepuh membacakan sesuatu, Rama mengambil dan membuka isi bungkusan itu.
“Ini yang membuat usahamu selalu sepi ngger, setelah semua terangkat, malam Jum’at nanti baiknya kamu adakan tahlilan terlebih dahulu, sekalian yang Simbah utarakan tadi biar orang tidak curiga kalau sejatinya kamu sedang mengangkat walad di rumahmu,”
“Iya Mbah,”
Malam Jum’at tiba, acara di mulai selepas isya. Semua berjalan lancar, hingga akhirnya dua titik tempat di rumah Rama meledak dan menyembul dua bungkusan kumal seperti yang dibicarakan oleh sang Sepuh, hal itu menjadi perhatian orang yang melihatnya.
Setelah acara tahlilan selesai sang Sepuh Langsung memberi pagar gaib rumah beserta ruko milik Rama.
Seminggu setelah itu, usaha Rama berjalan dengan baik seperti awal dirinya membuka usaha. Bahkan, relasi yang dulunya pindah ke Rico, kini kembali lagi. Selang beberapa bulan keadaan mulai benar-benar membaik dan stabil.
Di sisi lain, Rico kembali berulah. Ia mendatangi orang pintar dan membicarakan perihal keanehan yang terjadi kepada rivalnya. Tentu Rico merasa jika Rama memiliki sesuatu, oleh sebab itu Rico mencari orang yang lebih mumpuni dari sebelumnya.
Alhasil Rico pulang dengan senyum yang mengembang, pasalnya pemuda itu yakin jika apa yang ia minta kepada dukun itu akan berjalan mulus seperti keinginannya.
Malam menjelang, kondisi rumah Rama yang semula nyaman tiba-tiba menjadi pengap, hal itu membuat Rama tidak nyaman saat hendak beristirahat, terpaksa ia duduk di teras rumahnya untuk mencari hawa segar.
Rama tidak menyadari jika keberadaan dirinya tengah di buntuti bahkan, sejak di dalam rumah Ia sudah diikuti, makhluk itu pula yang menyebabkan hawa di rumah Rama menjadi panas dan pengap.
****