Mbak Karti dan Ulat

Mbak Karti dan Ulat

Mbak Karti adalah seorang tetangga kami di kampung. Orangnya masih muda, memiliki anak satu orang yang baru duduk di kelas satu sekolah dasar. Selain masih muda, Mbak Karti juga cantik. Betul. Bukan karena semata-mata perempuan, tapi memang asli cantik. Suaminya, Kang Miskan adalah seorang petani seperti yang lain penduduk kampung eks transmigrasi itu.

Aku kadang berpikir setiap kali melihat Mbak Karti, baik ketika tak sengaja berpapasan di jalan atau sedang antre mengambil air di sumur, bagaimana caranya memelihara kecantikan wajah dan kulit. Padahal pekerjaannya setiap hari membantu suami di ladang yang terpapar sinar matahari langsung. Ataukah matahari memang tak tega merusak kecantikan yang dianugerahkan Tuhan untuk Mbak Karti?

Meski atau karena cantik, Mbak Karti tidak menyukai ulat. Oh, tidak. Ia bukan sekadar tidak menyukai, melainkan takut dengan binatang bertubuh lunak tanpa tulang punggung itu. Semua jenis ulat dia takuti, mulai ulat bulu yang bisa bikin sekujur tubuh bentol, hingga ulat keket menakutkan karena bikin geli saat menyentuh badannya yang besar dengan tekstur lembut kenyal itu. Hiii …

Hendri, anak Mbak Karti adalah seorang bocah cerdas. Meskipun tidak pernah menduduki ranking sepuluh besar di sekolah, malahan prestasi terbaiknya adalah peringkat kedua belas dari lima belas siswa, Hendri tidak pernah kehabisan akal menakuti ibunya. Kecerdasannya khusus dalam hal itu.

Beberapa waktu yang lalu aku pernah melihat Hendri sedang mengejar-ngejar ibunya yang lari pontang-panting sambil menjerit-jerit memutari rumah. Menangis dan tertawa terdengar campur-baur dalam teriakan panik Mbak Karti.

“Ampun, Hendri … hentikan!” teriak Mbak Karti lemah di tengah deru napasnya yang kian terengah-engah. Ia hampir mencapai batas akhir kesanggupan dirinya bergerak. Langkahnya gontai, kedua lutut kakinya terasa lunglai. Akhirnya ia menggapai tiang kayu pintu teras rumahnya. Tubuhnya tak lagi kuasa berdiri.

Hendri yang berada di belakang Mbak Karti tak peduli. Melihat ibunya luruh terjuntai di tiang teras, ia tetap mendekat dengan mengacungkan ranting kering yang di ujungnya menempel seekor ulat keket sebesar ibu jari.

“Ibu mau kasih Hendri tambahan uang jajan atau kulempar ulat ini?” ancam Hendri pada Mbak Karti yang tidak menyahut di bawah tiang teras.

Beberapa kali Hendri memberi ancaman, dan setiap kali itu pula ia tak mendapat jawaban. Akhirnya ia guncang-guncangkan tubuh ibunya. Tak juga ada respon. Hendri mulai panik.

“Tolong … toloooong.” Hendri berteriak dengan suara kanak-kanaknya yang kecil melengking.

Aku yang sedang meneduh di bawah pohon kersen depan rumah, sontak beranjak. Aksi anak mengejar ibunya yang semula kuanggap sebagai hiburan di siang hari yang panas, kini berubah menjadi horor.

“Ibumu kenapa, Hendri?” tanyaku setelah tiba di dekat mereka berdua. Hendri sedang berlutut di samping tubuh ibunya yang pingsan.

“Tidak tahu, Mas Gilang. Tadi Hendri menakuti ibu dengan ulat, tidak tahunya malah jadi begini,” jawab Hendri dengan suara tercekat. Isak tangis terdengar menyesaki rongga dadanya.

Kuperhatikan wajah Mbak Karti. Tetap cantik, meski agak pucat. ‘Ah, pikiran macam apa pula ini. Melihat orang pingsan pun masih sempat kepikiran soal wajah cantik,’ batinku.

“Ambilkan minyak kayu putih, Hendri,” ucapku menyuruh Hendri yang bingung, tak tahu harus berbuat apa menghadapi situasi ini.

Bergegas Hendri lari memasuki rumah mereka mencari benda yang kuminta. Tak berselang lama ia telah kembali membawa sebuah botol kaca bergambar ayam dan disosorkan padaku.

“Sudah, kamu oleskan saja di telapak tangan, lalu dekatkan ke hidung ibumu,” perintahku pada Hendri. Hendri menurut. Sebenarnya secara naluri aku ingin melakukannya sendiri. Lumayan bisa sedikit menjawil hidung Mbak Karti. Kapan lagi ada kesempatan menyentuh hidung perempuan cantik dalam suasana heroik?

Meski demikian aku masih cukup waras untuk mengendalikan pikiran kotorku. Walaupun bukan orang yang alim-alim amat, aku masih berani membanggakan diri sebagai bukan seorang buaya.

Tak berapa lama kulihat tubuh Mbak Karti menggeliat. Kesadarannya mulai kembali. Syukurlah. Hendri pun terlihat gembira menyaksikan ibunya kembali sadar dari pingsan.

“Ibu kok berada di sini, Hendri?” tanya Mbak Karti saat kesadarannya telah kembali pulih. Bola matanya berputar mengerjap beberapa kali.

“Mbak Karti tadi pingsan,” sergahku.

“Lho, ini ada Mas Gilang juga?” tanyanya bingung.

“Iya, Mbak. Tadi Hendri teriak-teriak minta tolong. Kukira ada apa, rupanya Mbak Karti sedang pingsan,” kataku menjelaskan.

“Terus Mas Gilang yang tadi menyadarkan saya?” tanya Mbak Karti dengan tatapan yang sulit kupastikan artinya.

“Oh, bukan,” potongku cepat. Tak mau menimbulkan spekulasi macam-macam, “saya hanya menyuruh Hendri mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Mbak biar lekas siuman.”

“Oh, begitu. Terima kasih. Kukira tadi ….” Mbak Karti tidak melanjutkan kalimatnya. Pandangannya kini dialihkan pada Hendri, anaknya.

“Kenapa tadi ibu sampai pingsan, Hendri?”

Hendri yang ditanya hanya celingukan. Bingung juga dia harus menjawab apa. Mau jujur ia takut membuat ibunya marah yang bisa berakibat permintaan uang jajannya tidak terkabulkan. Mau membuat cerita karangan ia tidak punya kemampuan. Di sekolah, setiap kali pelajaran Bahasa Indonesia dan harus bercerita, Hendri hanya mampu merangkai tiga kata: pada suatu hari, kemudian, lalu macet.

“Itu, tadi Hendri menakuti Mbak Karti dengan ulat,” ujarku berinisiatif memecah kebuntuan. Tanganku menunjuk pada ranting kayu dengan ulat berwarna hijau di ujungnya yang menggeletak di halaman.

“Aaaaaakh …!” Mbak Karti kembali berteriak saat melihat kembali binatang lunak yang ditakutinya. Spontan ia kembali memeluk tiang teras, menyembunyikan wajahnya di sana. Enggak asik, ah. Kupikir dia akan terkejut dan reflek melompat memelukku.

 Sinunukan, 12 Agustus 2024

error: Content is protected !!