Sebut saja namaku Alya Putri, banyak orang yang bilang kalau aku seorang anak yang sangat penurut dan patuh pada kedua orang tuaku juga rajin beribadah, rajin belajar, membaca buku juga menulis. Namun, di balik itu semua, ada satu kelemahan yang aku miliki, yaitu mempunyai rasa tidak percaya diri dan rasa takut. Tidak percaya diri pada apa yang menjadi bakatku selama ini. Takut akan ada pembullyan yang merundung diriku ini nantinya.
Kata ayah dan ibu, aku punya bakat menulis cerpen dan novel. Karena semua buku yang sudah aku tulis dengan cerita-cerita yang aku buat selalu ayah dan ibu baca. Semua guru-guruku di sekolah pun begitu, di saat aku dan teman-teman sekelasku di suruh untuk membuat sebuah karya, baik cerpen, novel, ataupun puisi.
Setiap ada perlombaan di sekolah atau pun dalam ajang lomba karya tulis dalam peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, ataupun perlombaan yang diselenggarakan di daerah luar desa pun, aku selalu ditunjuk untuk mengikuti setiap perlombaan itu, tapi aku selalu menolak karena tersimpan rasa tidak percaya diri dan takut jelek akan hasil dari karyaku yang akan membuat diri ini jadi bahan bullying. Apalagi sekarang zamannya banyak korban pembullyan di mana-mana, itulah yang membuat diri ini merasa tidak percaya diri akan bakat yang aku miliki.
Memang, setiap aku merasa bosan dengan pekerjaan sekolahku, aku selalu berdiam diri di dalam rumah atau kamarku. Aku selalu mencoret-coret buku dengan tulisan yang sesuai dengan imajinasiku.
Aku paling malas bermain dengan teman-teman sebayaku atau di lingkungan sekitar rumah ataupun sekolah. Disekolah pun aku selalu diam di ruang perpustakaan, membaca buku pelajaran ataupun buku-buku yang lain kalau aku merasa bosan dengan buku pelajaran, seperti puisi, cerpen, novel. Dari mulai waktu istirahat sampai waktu istirahat berakhir.
Hanya satu alasan yang selalu ada dalam diri ini, yaitu takut diri ini menjadi bahan bullying di sekolah ataupun di lingkungan tempat tinggalku.
Aku tuangkan kata-kata imajinasiku ke dalam buku khusus untuk menciptakan sebuah karya yang merasa diri ini berada di dalam cerita yang aku tulis. Aku selalu sedia buku khusus ini, bahkan sudah ada beberapa buku yang sudah penuh dengan hasil dari tulisanku. Namun belum pernah satu pun aku ajukan ke setiap perlombaan di mana pun, hanya diajukan pada saat aku ada tugas membuat cerpen ataupun novel di sekolah begitu juga bila ada tugas membuat puisi, dalam rak buku aku simpan dengan rapi, Novel yang aku buat pun novel tentang anak-anak seusiaku.
Hingga suatu hari pada saat aku baru pulang sekolah dan langsung membuka sepatu sekolah, ku lihat ibuku baru pulang yang entah sudah dari mana.
“Asaalamualaikum, Bu!” aku mengucapkan salam pada ibuku yang baru pulang.
Biar pun ibu yang baru pulang dan aku lebih dulu dari ibu pulang ke rumah, aku tetap mengucap salam pada beliau.
“Wa’alaikumussalaam. Kamu baru pulang, Alya?” tanya Ibu Anya sesaat setelah menjawab salam dariku.
“Iya, Bu Ibu sudah dari mana?” sahut ku, lalu bertanya balik pada ibu sambil mencium punggung tangan ibuku dengan takzim.
“Ibu sudah dari rumah bapak kepala desa, Al,” pungkas Ibu Anya sambil duduk di kursi teras depan rumahnya yang berada di samping aku duduk yang di tengahnya terhalang oleh meja kecil.
“Ibu habis ngapain ke rumah kepala desa?” tanya Alya atas jawaban dari ibunya.
“Tadi ibu dipanggil ke rumahnya karena ada perwakilan dari kantor pusat kecamatan Desa Mekarsari yang ingin bicara sama ibu,” jelas Bu Anya panjang lebar.
“Mereka ingin bertemu sama kamu juga sebenarnya, karena kamu belum pulang dari sekolah jadi ibu yang datang sendiri ke rumah kepala desa,” sambung Ibu Anya.
“Ketemu sama Ibu juga sama aku, mau ngapain, Bu,” Heran, aku bertanya pada ibu, karena tidak seperti biasanya ada orang yang menanyakan ibuku juga diriku dari pihak kantor pusat kecamatan di desanya.
“Pihak perwakilan dari kantor pusat kecamatan mengadakan perlombaan untuk anak muda-mudi yang bisa membuat karya cerpen dan novel. Setiap satu keluarga harus ada perwakilan satu orang anak, dan anak itu tentunya yang masih sekolah.” Panjang lebar Ibu Anya menjelaskan maksud kedatangan orang-orang perwakilan dari kantor pusat kecamatan Desa Mekarsari.
“Jadi kalau begitu aku juga mesti ikut dong, Bu?” tanyaku menduga-duga.
“Iya, Al, kamu juga mesti ikut, mau nggak mau,” sahut Ibu Anya dengan lirih.
“Lagipula, masa kamu akan seperti ini terus, cobalah untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebayamu Sayang. Jangan selalu menghindar dan berdiam diri terus di dalam kamar, jangan takut akan pembullyan. Tunjukkan bakat yang kamu miliki, biar semua orang tahu, bahwa kamu bisa menjadi seorang pemberani, percaya diri, bahwa kamu bukan seorang yang selalu ada dalam pikiran kamu selama ini,” ujar Ibu Anya panjang lebar, memberi semangat dan dukungan penuh kepadaku sambil memperagakan dengan tangan beliau.
“Benar kata ibumu, Nak. Kamu anak bungsu kami, kakak-kakakmu pun pasti akan mendukung bakatmu dalam acara ini, mereka pasti sangat senang sekali bila mendengar semua ini. Apalagi kakak-kakakmu dari dulu ingin sekali bakatmu diperlombakan dalam setiap perlombaan di mana saja,” timpal Pak Rahman, ayahku yang juga baru pulang dari kebunnya.
Oh iya aku lupa, aku Alya Putri dari tiga bersaudara, dan aku anak ketiga dari pasangan Ibu Anya dan Bapak Rahman Hidayat. Kedua kakak-kakakku sudah pada bekerja di pabrik yang masih berada di kawasan desa tempat tinggalku.
Setelah mendengar penjelasan dari ayah dan ibu, aku menimbang-nimbang dan berpikir.
“Apa aku coba saja saran-saran dari ayah dan ibu,” gumamku dalam hati.
Merasa gamang dan belum menemukan jawabannya, aku pun pamit kepada kedua orang tuaku minta izin untuk beristirahat lebih dulu.
“Ayah, Ibu, aku mau istirahat dulu ya,” ungkapku.
“Oh iya sudah, lebih baik sekarang kamu istirahat saja dulu, tapi jangan lupa pikirkan matang-matang ya, tentang perlombaan yang diselenggarakan oleh pihak dari kecamatan desa kita,” sahut Ibu Anya sambil mengusap lembut rambutku.
“Iya, Bu.”
Aku pun beranjak dari tempat duduk dan langsung berjalan menuju ke arah kamarku berada, berganti pakaian dan beristirahat sejenak sambil memikirkan keputusan apa yang harus aku ambil tentang perlombaan yang diselenggarakan oleh pihak kecamatan Desa Mekarsari.
Disaat itu pun terdengar suara orang yang mengucapkan salam.
“Assalamualaikum?”
“Wa’alaikumussalaam.” Terdengar sahutan dari kedua orang tuaku.
“Silakan masuk, Pak!” Terdengar ibu mempersilahkan beberapa orang tamu yang datang ke rumahnya.
Sementara aku yang masih berada di dalam kamarku, aku mencoba menebak-nebak siapa gerangan yang sudah bertemu ke rumah, karena dari suaranya terdengar sangat asing di telingaku.
“Siapa ya yang bertemu sama ayah dan ibu,” gumamku.
Karena penasaran aku pun keluar dari kamar setelah aku benar-benar berganti pakaian.
“Nah, kebetulan Alya keluar dari kamar. Sini Nak,” ucap Ibu padaku.
“Oh ini yang namanya Alya Putri, manis sekali anaknya,” sahut seorang wanita yang mengagumi sosokku.
“Iya, Bu saya Alya,” jawab ku sopan, lalu langsung mencium punggung tangan para tamu Ibuku dengan takzim.
Setelah berbasa-basi, yang ternyata pihak dari pusat kecamatan Desa Mekarsari yang bertamu, aku pun langsung ditanya oleh pihak tersebut atas kesediaanku untuk ikut serta dalam kegiatan perlombaan yang akan diselenggarakan oleh pihak kecamatan Desa Mekarsari. Dengan rasa di hati yang entah dan tidak bisa digambarkan, aku mencoba untuk mengiyakan saja.
Kulihat ibu dan ayah sangat senang sekali mendengar keputusanku untuk ikut serta dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak dari pusat kecamatan desa tempat tinggalku ini.
Bagaimana tidak senang akan keputusan yang aku ambil ini, karena ini adalah bentuk keinginan dan keridhaan orang tuaku sejak dulu. Mereka ingin sekali aku menunjukkan bakat yang aku miliki selama ini, jangan hanya bisa ditulis saja dalam buku tulisan dan menjadi sebuah tulisan yang mubasir.
***
Waktu perlombaan pun tiba ….
“Alya, kamu sudah siap?” Terdengar suara Ibu sambil mengetuk pintu kamarku
“Sebentar lagi, Bu,” sahutku dengan hati yang tak bisa digambarkan. Entah itu takut, terharu, juga merasa hati ini terus berdegup kencang, sedikit demi sedikit keringat di tubuhku bercucuran seperti yang sudah lari jauh.
Kemudian aku berdoa kepada Allah SWT, memohon dilancarkan dalam segala urusan.
Setelah beberapa saat aku pun keluar dari kamar dan kulihat ibu, ayah serta kedua kakak-kakakku sudah pada menunggu.
“Sudah siap!” tanya ayah dan ibu secara bersamaan.
“Sudah, Bu, Ayah, aku sudah siap,” sahutku lemas dengan hati yang masih tak berhenti berdegup kencang.
“Kok lemas gitu, kamu masih takut,” ucap kakak tertuaku, kak Dewi.
“Berdoa pada Allah, dan positif thinking saja,” timpal kakak keduaku, kak Rahmah.
“Masa kamu tega sih sama kakak, kakak sudah bela-belain izin nggak masuk kerja,” cicit Kak Dewi dan Kak Rahmah berbarengan.
Melihat semangat kedua orang tuaku dan kedua kakak-kakakku, aku pun mencoba menenangkan hati yang masih berdegup kencang.
Perlahan tapi pasti, hatiku kini sudah lebih tenang lagi, dengan menarik napas dalam-dalam dan aku keluarkan dengan perlahan-lahan, lalu tersenyum lebar kepada keluargaku yang selalu mendukungku selama ini.
“Ayo kita berangkat!” ucapku kepada ibu, ayah dan kedua kakak-kakakku.
“Ayo,” seru kedua kakakku dan ibu serta ayah.
***
Setelah sampai di tempat tujuan, aku dan keluargaku langsung berjalan menuju ke arah tempat duduk yang sudah dipersiapkan oleh panitia.
Selang beberapa waktu, acara pun dimulai…
Aku yang sudah siap pun langsung mengeluarkan satu karya cerpen yang sudah aku buat, yang tadi sudah aku siapkan di dalam tas selempang milikku pada saat sebelum keluar dari kamar untuk segera pergi dan berangkat ke sini.
Acara pun selesai diselenggarakan, untuk hasil dari pemenang lomba cerpen dan puisi, akan diumumkan seminggu kemudian, terhitung sejak diselenggarakannya acara ini.
***
Satu minggu kemudian ….
Aku yang baru pulang sekolah dibuat terkejut pada saat sampai di depan rumah, kulihat banyak sekali beberapa pasang sandal yang berserakan di lantai teras depan rumah.
“Kok banyak sandal sih di depan rumah? Sepertinya ada banyak tamu yang datang ke rumah,” gumamku sambil berjalan perlahan menuju ke arah pintu rumah.
Lalu aku pun langsung mengucapkan salam sesaat setelah berada di depan pintu rumah.
“Assalamualaikum,” ucapku setelah selesai membuka sepasang sepatu sekolah ku.
“Wa’alaikumussalaam,” sahut semua orang yang berada di dalam ruang tamu itu.
“Nah, Alyanya sudah pulang dari sekolah. Sini, Nak, duduk dulu gabung sama kami.” Sambut seorang perempuan yang seminggu yang lalu bertemu denganku di acara perlombaan karya cerpen dan puisi.
Dengan penuh rasa malu, aku memberanikan diri untuk ikut gabung dan langsung duduk di dekat ibuku yang kebetulan bersebelahan dengan seorang perempuan yang tadi menyuruhku untuk gabung di ruang tamu ini.
“Dari sekian banyak peserta dalam perlombaan karya cerpen dan puisi, juga finalis yang masuk kesepuluh besar dalam perlombaan yang sudah kita selenggarakan seminggu yang lalu, pihak dari pusat kecamatan Desa Mekarsari dan dari pihak kantor pusat perusahaan penyimpanan berbagai macam karya, kami semua memutuskan bahwa pemenang dalam perlombaan itu diraih oleh Alya Putri dengan hasil tertinggi juga komentar-komentar terbaik dan terbanyak, serta dalam penulisan yang sangat rapi,” ungkap seorang laki-laki panjang lebar dan tanpa basa-basi yang pernah aku lihat di acara perlombaan.
“Alhamdulillahirabbil ‘Alimin,” seru ibuku juga ayahku serta beberapa orang yang berada di dalam ruang tamu ini.
“Alhamdulillahirabbil ‘Alimin,” timpalku lirih sambil memeluk ibuku dengan sangat erat.
“Wah, nggak nyangka ya, Alya ternyata sangat pandai dalam berkarya, bahkan dalam penulisannya pun sangat rapi sekali.” Terdengar suara orang yang berbicara, tepatnya dari arah luar rumah.
Lalu kemudian terdengar suara orang yang mengucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
“ Wa’alaikumussalaam,” jawabku serempak dengan semua orang yang berada di dalam ruang tamu ini.
“Selamat ya Alya atas prestasi dan keberhasilannya,” ucap Yuni, teman sebayaku, tapi beda sekolah.
Beberapa saat kemudian disusul dengan para tetangga yang lain yang berdatangan ke rumah.
***
Setelah selesai mengucapkan selamat padaku, aku lantas bertanya kepada para tetangga yang datang, karena rasa penasaran ini belum ada jawabannya.
“Maaf aku boleh tanya sesuatu,” ucapku pelan yang terdengar lirih.
“Boleh, apa, Al?” sahut salah seorang dari tetangga ku.
“Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku pemenangnya?” tanyaku penasaran.
“Kami tahu dari sosial media, Al.” Dengan sangat kompak semua tetanggaku menjawab.
“Sosial media?” Aku mengulang kembali ucapan dari para tetanggaku.
“Iya.” Dengan serempak para tetanggaku menyahut.
“Maaf sebelumnya, dari pihak kantor pusat kecamatan Desa Mekarsari tidak meminta persetujuan terlebih dahulu untuk mengenai hal ini. Kemarin kami telah menyebarkan pemenang perlombaan ini ke akun sosial media kantor pusat kecamatan Desa Mekarsari,” ungkap seorang laki-laki tadi padaku secara panjang lebar.
“Tidak apa-apa, Pak, kami dari pihak orang tua Alya pribadi tidak akan merasa keberatan sedikit pun,” sanggah ayah senang.
“Alya, sekali lagi ibu ucapkan selamat ya. Dan setelah ini ibu minta selalu semangat dan jangan pernah untuk menolak karya tulisanmu itu diajukan ke beberapa perusahaan aplikasi kepenulisan cerpen dan novel, seperti apa yang sudah kakak-kakakmu bilang pada kamu juga ibu dan Ayah,” ujar ibuku panjang lebar dengan berderai air mata yang tiba-tiba muncul begitu saja tanpa dikomando, karena perasaan terharu dan bahagia.
“Insya Allah, Bu,” sahutku sambil memeluk ibuku dengan erat.
Bahagia dan rasa terharu yang tidak bisa digambarkan olehku, membuatku ikut menangis di pelukan ibuku.
Setelah beberapa saat kemudian, semua tetangga yang datang juga pihak dari pusat kecamatan Desa Mekarsari dan pihak perusahaan penyimpanan berbagai macam karya pun ikut serta bahagia.
Lalu setelahnya mereka semua pun membubarkan diri ke rumahnya masing-masing, juga semua tamu yang berada di dalam ruang tamu ini.
Kini hanya menyisakan aku, kedua orang tuaku juga kedua kakak-kakakku.
SELESAI…..