MENGENAL HANTU

MENGENAL HANTU

MENGENAL HANTU.

 

by: Layali Feik.

 

Meskipun sudah ditemani oleh bibi, tapi tetap saja perasaan ini tidak nyaman juga. Perasaan yang membuatku susah tidur.

 

Malam terasa lama, tapi detik jarum jam masih menunjukkan angka 21:00. Waktu di mana aku harusnya sudah terlelap di alam mimpi sana. Biasanya di waktu tersebut aku sudah menciptakan hiburanku di alam indah itu. Semua impian yang mudah diwujudkan dengan sekali ucap, sekali dibayangkan nyata. Dan tidak dengan apa yang kualami kini.

 

Kesialan menimpaku. Perasaan itu muncul kembali. Perasaan seperti ada yang memerhatikanku dari segala arah. Jendela terkena pukulan angin malam yang usil menakut-nakutiku. Dan desirnya yang lembut itu seperti bisikan dari perempuan pucat. Dari sana pula lahirlah bayangan yang baru muncul.

 

Derap langkah kecil namun banyak yang sepenuhnya hanya permainan otak. Tidak ada anak kecil di sini kecuali aku seorang. Dan juga bibi ART yang tidak sedang berlalu lalang. Ia sibuk dengan hpnya. Ia tidak benar-benar mengawasiku. Tapi bibi berujar bahwa aku harus belajar berani mulai dari sekarang. Oh sudahlah, sekalipun ketakutan ini setia di sepanjang detikku, apakah itu semua mengacaukan kehidupanku?

 

Jam menunjukkan angka 00:00. Tibanya suara lonceng besar itu bergema. Bibi mematikan hpnya. Ia memastikan aku tertidur pulas, tapi aku cuman pura-pura tidur dan memejamkan mata saja. ART di rumah ini tidak beres. Tak sama dengan ART pas kami berada di luar negeri sana.

 

Aku jadi ingat masa-masa saat kami berada di luar negeri, tepatnya di Kanada. Ya, aku beruntung lahir dan tumbuh berkembang di Kanada. Sehubungan rumah di kampung halaman tak ada yang menempati, jadilah kami putuskan untuk kembali ke kampung kelahiran ibu. Tak ada alasan pasti kenapa kami pulang ke Indonesia. Aku baru berumur 10 tahun-an untuk mengerti permasalahan orang tua.

 

Sepagi ini aku belum juga tidur. Ini sih disebabkan rumor yang beredar itu. Sampai aku memiliki perasaan benci untuk menetap di Indonesia.

 

Ibu dan ayah sudah pindah rumah. Aku dinasehati oleh keduanya untuk pisah kamar menjelang remaja. Jadinya mereka membuatkanku rumah yang sebenarnya tak jauh dari tempat tinggalnya.

 

Di desa memang halamannya luas. Berbeda jauh dengan saat kami menetap di Kanada dulu. Meskipun jarak antar rumah tak saling berdekatan, namun begitulah telinga ini mudah mendengar kabar yang tak sepantasnya kuketahui: tentang hantu-hantu yang di Kanada dulu tak pernah kudengar-dengar sebelumnya.

 

Aku belum disekolahkan. Masih menunggu awal tahun ajaran baru. Ada jeda sekitar 3 bulan dari sekarang dan ini membuatku geram.

 

Setiap sore bibi ART mengajak beberapa anak kecil bermain ke halaman rumahku. Memang sih aku tak merasakan kesepian dengan kedatangan mereka. Sayangnya dengan mereka pula aku mendapatkan cerita-cerita seram.

 

Aku pikir kenapa mereka tidak takut bergelantungan dan memanjat pohon mangga depan rumah. Apakah orang desa memang sepemberani itu? Sampai-sampai bibi melarang teman-teman untuk memanjatnya lagi. Dikabarkanlah kalau sampai ada yang terjatuh dari pohon mangga maka dipastikan ia meninggalnya akan menjadi hantu penasaran. Dari sinilah muara kisah-kisah menyeramkan itu muncul. Andai saat itu aku tak pernah menanyakan apa itu hantu, pastilah aku tak sebegitu takutnya seperti sekarang ini.

 

“Jadi tuyul ya kami nanti, Bi?” Ujet bertanya seperti itu bukan sebab dia takut, malah dia ingin sekali untuk menjadi tuyul. Kata dia, enaknya sekali tuyul itu: kecil-kecil dah banyak uangnya. Aih, sial.

error: Content is protected !!