Menikahi Gus Tengil

Menikahi Gus Tengil

 

“Salma, Umi sadar kamu sedih karena perjodohan ini.” Sambil mengelus rambut hitam lurusku yang tergerai, “suatu saat pasti kamu mengerti, mengapa Abi dan Umi memaksa untuk menikah muda.” 

“Salma percaya kok, ke Abi, Umi. Tapi, kenapa harus dengan Gus Arkan?, dan bagaimana dengan impianku kuliah di…”

“Nak, Abi minta maaf jika mengecewakanmu, tapi pernikahan ini tidak boleh dibatalkan, kami sudah sepakat dengan Kyai Mumtaz, Ayah Arkan. Posisi Abi sebagai pengelola pondok, tidak memungkinkan untuk menolak tawaran itu.”

“Abi egois!, memikirkan diri sendiri, harusnya, budaya pernikahan muda di pondok makin sedikit, tet- tetapi Abi justru ingin anak perempuan satu-satunya yang ingin berkarya lebih, malah menyetujui pikiran kuno itu” jawabku sambil terisak dan berlari menuju kamar

“Salma…tunggu!”, “Braakkkk..” suara pintu kamar aku tutup sedemikian keras.

…..

Pondok Al-Fharisi adalah pondok pesantren tertua di Kotaku. alumninya sudah ribuan, bahkan ratusan ribu. Abj dipercaya sebagai kepala pengelola Pondok, meskipun beliau bukan lulusan pondok ini. Dari kecil, aku dibesarkan di lingkungan ponpes. Sehingga jarang melihat dunia luar. Namun sepertinya ada yang berbeda dengan diriku. Ingin sekali melihat suasana lain, seperti cerita dalam buku-buku yang pernah kubaca. Perjodohan ini membuatku hancur, terlebih memikirkan calon suami yang aku tak suka. Dia terkenal usil, suka main mata dengan wanita, serta sering mencibir murid-murid Pondok, termasuk aku, tengil sekali. 

“Assalamualaikum….”

“Waalaikumsalam….Gus Arkan?” Jawabku setelah membuka pintu depan rumah

“Ayo, aku antar kamu ambil ijazah, setelah itu kita ke KUA.” Ucapnya sambil terkekeh

“Hah…maksudnya..”

“Maksudnya biar Gus Arkan yang ngantar kamu ke sekolah hari ini, Abi mau ada calon Investor datang ke pondok, Salma…” tiba-tiba Abi menjawab dari belakangku, membuat suasana canggung

“Yuk, Dek.” Sembari mengkerlingkan mata padaku. Aku mendengkus berjalan keluar rumah

 

“Kita makan siang dulu ya.” Gus Arkan memarkir motor di sebuah kedai makanan padang, aku turun dari motor gedenya

“Arrghh….,” aku terpeleset, beruntung Gus Arkan dengan sigap menangkap tubuh semampaiku.

“Makanya dilihat dong kalau mau turun, tapi gak papa, jadi adegan romantis pertama kita.” Leluconnya sembari cepat-cepat aku melepaskan diri dari dekapannya

“Kamu minta mas kawin berapa ratus juta dariku?” Bercakap padaku saat mulut masih terisi nasi hingga semua orang di kedai melihat ke arah kami.

“Gus, ja-ngan ngawur gitu dong, ma-lu, siapa juga yang mau nikah sama kamu.” Jawabku kasar sambil menelan sisa makanan

“Dijamin kamu tak bisa menolakku Adinda.” Dia tersenyum tipis membuat mata ini terpana, tampan juga, batinku, “Sudah puas melihat ketampananku?” Menyadarkan aku yang terpukau melihat wajah ganteng calon suami, auto membuat gerakan membuang muka.

“Aku tau kamu belum siap Salma, dan aku juga yakin kau meragukanku seperti orang lain, namun lelaki ini bertanggungjawab”

“Memangnya Gus…”

“Ssstt…please panggil aja Mas, gak usah kaku begitu.” 

“Baik Gus, eh, Mas, memangnya Mas Arkan kerja apa?, bukannya kamu habis keluar dari sekolah jeruji? Oh,saya lupa, Mas, kan, termasuk pewaris Ponpes ya..

“Hmmm…meremehkan sekali, tak apa aku terima, memang selama ini track record-ku jelek, yang jelas minggu depan kamu harus menikah denganku, anggap hari ini kita Ta’aruf, masalah suka atau tidak nanti saja.” 

“Bukannya aku menolak, tapi baiknya kita membuat perjanjian.”

“Menarik, silahkan diajukan Adinda?” Kata Mas Arkan dibarengi senyuman manisnya, sepertinya aku mulai luluh

“Dengar Mas, tidak ada dalam kamusku menikah muda, dengan keputusan mendadak ini, harus kurelakan pergi impian terbesar untuk kuliah di Universitas ternama.” Dengan lirih dan menghela nafas aku melanjutkan, “apakah kamu bersedia untuk mewujudkan impian itu?karena aku tidak mau menjadi gadis pondok seperti mereka.”

“Aku tidak sabar menikah denganmu.” 

“Mas, ayolah..gimana, sepakat atau tidak?, kalau menolak aku juga menolak untuk menikah?”

“Tentu saja boleh, aku juga tidak terlalu suka dengan gadis penurut, lebih suka yang penuntut..seperti Adinda.” Seraya mengerlingkan mata kembali, kali ini membuatku tersipu

“Stop dong Mas panggilan adinda nya, cukup salma saja.” Ucapku ketus tapi mulai terjadi getaran dalam hati.

…..

 

Sejak pertemuan kemarin, Mas Arkan selalu hadir ke rumah, sekedar memastikan apakah aku sudah makan atau belum, dan hal lain yang sebenarnya agak membuat risih, namun aku menyukainya. Ya, perjanjian kesepakatan satu hari lalu, membuat hati ini mantap untuk menikah muda. Beberapa buku tentang pernikahan diberikan orangtua tuk kubaca. Memang sebenarnya aku egois tidak memikirkan keinginan orang lain. Semua prestasi, serta piala di dalam rumah membuatku sombong nan tak acuh kepada situasi kondisi intern, khususnya pada Abi, Umi. Kini seperti membalikkan telapak tangan, takdirku sudah ditentukan, dan aku harus menerima hal itu. Sudah cukup diri ini menjadi beban orang tua. 

“Umi, Insyaallah Salma mau menikah dengan Gus Arkan, bulan depan.” Ucapku pada Umi yang sedang menyiapkan lauk pauk untuk makan bersama

“Alhamdulillah, doa Umi, Abi tembus.” Umi tersenyum dengan mata berbinar. Sengaja aku meminta bulan depan saja menikahnya, bukan minggu depan seperti diucapkan Mas Arkan yang menurutku ngawur.

“Terus, kemarin ngobrol apa saja dengan Arkan? Menyinggung masalah pernikahan tidak?” 

“Iya Umi, Gus bilang mau mas kawin berapa ratus juta.” Sontak ekspresi orang tuaku terkekeh mendengarnya

“Sudahlah, berapapun yang penting halal dan segera dilaksanakan, insyaallah abi nanti malam bertemu dengan Kyai” ujar Abi sambil mengusap kepalaku

…..

Berita pernikahanku dengan anak Kyai kondang, Gus Arkan menyebar dengan cepat. Bak proyek Roro Jonggrang, semua kebutuhan perkawinan disiapkan dengan cepat, akurat, dan tak berbelit-belit. Teman-teman banyak yang memberikan dukungan padaku, bak Caleg yang akan maju perang di kursi DPR saja. Akan tetapi, ada juga cibiran kecil dari mulut para pecundang, karena iri hati. Tidak masalah, aku tetap mantap melangkah. Aku harus yakin, dan membunuh rasa takut untuk menikah muda.

“Kenapa keburu nikah sih Sal?”, ucap Yaya, sahabatku, “kamu, kan, pernah janji kita sama-sama kuliah di kampus itu?” 

“Sorry, bukannya tidak mau, tapi sedikit tertunda saja, mungkin tahun depan aku mencoba mendaftar.”

“Ahh, pasti tahun depan kamu hamil, lalu sibuk ngurus anak, kemudian gagal tidak kuliah.”

“No, insyaallah aku sudah ada perjanjian dengan calon suami, tenang saja, nanti aku jadi adik kelasmu ya.” Ucapku menghibur Yaya, lalu tertawa bersama. Aku tidak menyalahkan jika ada yang berpikir seperti yaya, karena rata-rata anak pondok di daerah ini begitu. 

…..

 

Hari ini menjadi bersejarah bagiku. Tidak menyangka takdir menikah muda adalah jalannya. Aku tidak tahu ke arah mana rumah tangga ini akan berlayar. Yang jelas, niat hati ingin berbakti kepada suami juga kedua orang tuaku untuk menghindari maksiat. Calon suami yang Umi idamkan datang begitu saja meski awalnya aku tidak suka, kini aku menerima sepenuh hati. Tidak baik memang, melihat buku dari covernya. Bismillah pagi ini Akad kami berjalan lancar.

“Sudah siap,” umi berkata padaku yang mengenakan dress putih tulang menjuntai, aku tersenyum mengangguk. Akan tetapi, keluarga pihak laki-laki baru beberapa saja yang sudah sampai di rumah kami. Akad memang dilaksanakan di rumah, atas permintaanku, agar ada kenang-kenangan di sini. Sudah pukul 09.00 WIB, molor dua jam dari rencana. Pak Penghulu terpaksa pamit karena harus mengawinkan di acara lain. Ada apa ini? Berani sekali Mas Arkan mempermainkanku, bikin malu keluarga. Aku sudah memberanikan diri untuk menikah muda, namun mengapa….

“Salma…kita ke Rumah Sakit sekarang, Arkan beserta rombongan kecelakaan di perlintasan kereta.” Ucap Abi mengagetkanku. Tanpa Pikir panjang aku  bergegas

Ternyata Mas Arkan nyetir sendiri dan tidak fokus saat melintasi jalan kereta api. Sehingga mobil bagian belakang terserempet. Beruntung tidak ada korban jiwa. Hanya saja luka lebam di tubuh calon suamiku lumayan banyak sehingga harus rawat inap. Saking paniknya, tanpa sadar aku masih mengenakan baju pengantin ke RS.

“Aku mau kita Akad sekarang.” Ucap Mas Arkan dengan mantap. Membuatku terperangah

“No, mending ditunda minggu depan Mas, kamu baru saja kecelakaan.” Ujarku heran, mengapa ada manusia seperti dia.

“Sayang sekali, aku sudah memanggil Penghulu kesini, kita Akad sebentar lagi ya Adindaku, biar momennya dapat, lagian kamu juga sudah siap pakai baju itu.” Jawabnya sambil terkekeh, ciri khas Mas Arkan.

“Aku belum sempat ganti baju, Mas, karena kaget takut kamu kenapa-kenapa…”

tok..tok..tok, suara pintu memutus obrolan kami, 

“Sudah siap Pak Arkan?” Tanya perawat yang masuk ke ruang VIP, berjalan menaruh tambahan meja kursi berukuran medium di samping bed. Astaga, dia serius mengatakan Akad di RS. Dasar Gus Tengil, membuatku seperti roller coaster dengan pikiran randomnya, aku tersenyum menatap mata indahnya sambil mengangguk tanda setuju.

 

 

                —-The End —–

 

 

 

 

 

 

 

error: Content is protected !!