DIA AYAHKU

Menjadi denasha

Nama ku denasha, aku berumur 16 tahun ini dan ini lah kisahku. Aku sangat membenci ayah kandung ku sendiri setelah kejadian 6 tahun lalu yang dimana ayah ku mendorong ibu ku yang padahal sebenarnya yang salah ialah ayahku yang sama sekali Tak punya waktu sedikit pun untuk kami berdua, ibu ku benar setiap wanita juga akan muak ditinggal kerja terus dan tidak ada waktu sedikit pun. 

 

maka dari itu aku jadi sangat membenci ayah ku, pagi itu aku hendak berangkat sekolah tetapi tiba” aku berpapasan dengan ayah ku dengan tatapan ku yang sinis ntah kenapa ayahku membalasnya dengan senyuman lelah nya, awalnya aku tak menghiraukan karena perasaan ku yang masih diselimuti rasa amarah dan kebencian.

 

 hingga pada suatu hari disaat aku pulang sekolah. Saat aku ingin masuk kedalam rumah aku lihat ada ayah ku dengan ditandai sepatu kerjanya, pikir ku “oh, ayah sudah pulang tumben cepat.” Aku pun beranjak masuk kedalam rumah tetapi saat aku masuk, aku melihat ayah dan ibu ku duduk diruang tamu sembari memegang selembar Kertas. 

 

Aku dengan heran pun bertanya “kalian ngapain?” Tanya ku, “denasha nak, ini keputusan ayah. Ayah harus menceraikan ibu mu sekarang denasha akan ikut dengan ayah karena ibu mu tidak ingin kamu bersamanya,” jawab ayah “TAPI AKU TIDAK MAU IKUT DENGAN AYAH,AKU INGIN IKUT IBU!” jawab denasha dengan tegas.

 

“Denasha, sini ikut ibu ibu ingin berbicara empat mata dengan kamu” ajak ibu, aku dan ibu pun pergi ke kamar ku untuk berbicara empat mata, “nak,untuk sementara kamu ikut ayah dulu yah ibu mau menyelasaikan satu masalah.” Ucap ibu “tapi bu, aku gamau ikut sama ayah. Aku benci ayah” jawab denasha “denasha, dengar ibu kamu bersabar buat beberapa waktu dulu, ibu janji ibu bakal jemput kamu nanti yah?” Ucap ibu “Y-yaudah deh bu..” jawab denasha.

 

Aku dan ibu pun kembali ke ruang tamu untuk menyaksikan ibu dan ayah menandatangani surat perceraian, akhirnya mereka bercerai. Keesokan hari nya aku dan ayah pun berangkat ke kota dimana ayah di pindah tempatkan kerja, saat pagi itu aku sudah tidak melihat ibu lagi ntah dimana aku pun percaya pada nya bahwa dia akan menjemput ku.

 

Hari itu juga aku berangkat ke kota tempat tinggal baru ku, sebenarnya berat rasanya meninggalkan kota yang dimana masa kecil ku sangat bahagia tapi, dengan keadaan seperti ini aku terpaksa menjalani nya. Tetapi didalam lubuk hatiku, ada rasa kasian ku terhadap ayah. Tetapi aku berkekeh bahwa ini semua salah ayah aku pun menatap ayah dengan sinis tetapi ayah membalas tatapan ku dengan tatapan lembut penuh kasih sayang. Aku pun membatin “halah, tatapan munafik.” 

 

Dan akhirnya kami pun sampai di kota yang dimana ayahku ditugaskan kerja disana, aku pun memasuki rumah baru ku. Suasana nya sangat beda ayah pun menunjukkan kamar ku, akupun mengambil baju-baju ku lalu menyusunnya satu persatu, ditengah-tengah kesibukan ku ayah ku menghampiri aku. Ia berkata “nak, maafin ayah yah kamu jadi harus terpisah dengan ibu mu karena ayah.” Ucap ayah “udah deh ayah, mending ayah keluar tau ga ganggu aku aja lagi nyusun baju” jawab denasha, ayah pun keluar dari kamar ku dengan muka lemas dan merasa bersalah, sejujurnya aku tak tega melihat ayah ku seperti itu tapi diriku kekeh untuk tetap membenci ayah.

 

Malam hari pun tiba, aku turun ke meja makan untuk makan malam bersama ayah. Aku melihat ayah sudah duduk menunggu ku makan bersama nya. “Nak, ayo sini makan sama ayah” ucap ayah “aku makan di kamar aja, makan disini ga selera” aku pun mengambil makanan lalu membawa nya ke kamar ku untuk kumakan dikamar, ayah pun kecewa seperti sangat merasa bersalah.

 

Setelah makan aku turun ke bawah untuk menaruh piring, dan ayah memanggil ku “denasha, kemari dulu sejenak nak ayah ingin berbicara dengan mu” ucap ayah aku pun beranjak mendekati ayah dan duduk si sofa “ada apa?” Ucap denasha “besok kamu sudah mulai bersekolah, ayah sudah mendaftarkan kamu di sekolah baru kamu. Dan ayah harap kamu bisa menerima keputusan ayah yah nak.” Jawab ayah “ayah egois tau gak? Ayah mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan aku.” Akupun beranjak naik ke kamar ku.

 

Keesokan hari nya aku siap-siap berangkat ke sekolah baru ku, saat aku turun aku melihat ayah sedang bergegas berangkat kerja dan aku pun berangkat ke sekolah baru ku bersama ayah, setiba nya disekolah dan saat aku ingin turun dari mobil ayah mengulurkan tangannya dengan harap aku menyalimnya, tetapi aku tidak menghirau kan ayah. Aku bergegas turun dari mobil dan  jalan memasuki area sekolah, dari jauh ayah menatap ku dengan rasa kasih sayang tetapi aku lagi-lagi aku sama sekali tidak menghiraukan tatapan ayah ku itu.

 

Akhirnya aku memasuki kelas baru ku, aku pun berkenalan dengan teman-teman baru ku. Dan ada satu murid cowo yang sedari tadi memperhatikan diriku, awalnya aku tidak peduli tetapi lama kelamaan aku penasaran dengannya mengapa ia melihat ku terus menerus.

 

Dan pada saat aku duduk di bangku ku, meja depan ku balik arah ke diri ku dan memperkenalkan diri nya. “Hai aku Meli salam kenal nya denasha.” Ucap bangku depan ku itu “H-hai juga Meli salam kenal ya.” Jawab aku “oh ya denasha, kamu mau aku temenin buat jalan jalan dan menelusuri sekolah gak?” Tanya Meli “boleh-boleh aja sih.” Jawab aku “okey deh nanti pas istirahat , aku ajak kamu keliling sekolah yah.” Ucap Meli, aku pun menganggukkan kepala dengan isyarat mau 

 

Dan saat istirahat aku dan Meli pun mengelililingi sekolah, sembari berjalan aku dan Meli sedikit bertukar cerita. “Oh iya denasha,kamu pindah ke sini karena apa kalo boleh tau?” Ucap meli “itu Karena.. ayah dan ibu ku berpisah jadi aku ikut ayah ku kerja ke kota ini.” Jawab denasha, meli pun terdiam sembari mengangguk kecil atas ucapanku. “Eh kamu tau ga,murid cowo di kelas kita yang sedari tadi merhatiin kamu?” Ucap meli “emang dia kenapa mel?” Jawab denasha. “Nah jadi gini sha,kata aku kamu harus lebih hati-hati sama dia namanya Dion dia murid paling nakal dan selalu berkasus disekolah ini, cewe nya juga banyak. Makanya kata aku kamu harus lebih hati-hati sama dia.” Jawab Meli “oh gitu yah mel, thanks info nya yah.” 

 

Akhirnya bell pulang pun berbunyi, aku pun keluar kelas dan menuju gerbang sekolah untuk menunggu jemputan, disaat aku menunggu jemputan aku melihat murid yang dari tadi di kelas memperhatikan aku, ia menghampiri diriku dan berkata “hai cantik,pulang bareng aku yuk.” Ucap Dion “oh ga dulu deh makasih itu jemputan aku udah dateng.” Saat aku beranjak ingin masuk ke mobil tiba-tiba meli menghampiri aku dengan motor vespa nya, “sha,besok balik bareng aku yah.” Ucap Meli “oh oke mel besok kita balik bareng.” Jawabku, akun pun masuk kedalam mobil. Di tengah perjalanan ayah bertanya “tadi sekolah nya seru gak nak, ayah liat kamu sudah punya teman tadi yang cowo siapa pacar kamu yah?” Tanya ayah, “ udah deh yah,gak usah banyak tanya aku cape habis sekolah.” Jawabku dengan nada tinggi, ayah agak sedikit kaget dia seperti kecewa dengan jawaban ku.

 

Sesampai nya dirumah aku langsung naik ke kamar ku dan berganti baju lalu main hp, saat membuka Sosmed aku melihat ada notifikasi pengikut baru dari satu akun Sosmed bernama @dionxz aku langsung mengenali nama nya, ya dia murid cowo yang tadi mengajak ku pulang bersama. Saat itu aku tidak berpikir aneh-aneh mungkin dia hanya ingin berteman Sosmed dengan ku aku pun mengikuti balik akun Sosmed nya. 

 

Keesokan hari nya saat aku hendak berangkat ke sekolah, tiba-tiba ada pria dengan motor ninja sudah menunggu ku di depan rumah. Ia berkata “hai denasha,aku Dion gimana kalo kamu berangkat sekolah bareng aku?” Ucap Dion “lain kali deh ya,aku udah dianter sama ayah ku.” Aku pun naik ke mobil dan pergi begitu saja meninggalkan Dion, “sial,tunggu aja kamu ya denasha, aku bakal dapetin kamu.” 

 

Sesampai nya di sekolah, Meli menjemput ku untuk ke kelas bersama. Aku pun menceritakan kejadian tadi pagi ke Meli “mel tau ga tadi pas aku berangkat mau kesekolah Dion tiba-tiba kerumah aku buat ngejemput aku.”  “Terus? Kamu tadi kesekolah bareng dia?” Ucap Meli, “engga lah aku tolak, soalnya aku udah dianter ayah aku.” Jawabku “bagus lah lebih hati-hati lagi sama Dion yah sha, dia berbahaya.” Ucap Meli, aku pun mengangguk kecil atas ucapan Meli. Kami pun ke kelas bersama.

 

Saat di kelas pun aku duduk di bangku ku, aku melihat Dion menatap ku dengan tatapan sinis dan licik. Aku membuang pandangan ku karena tatapan nya begitu membuat ku ketakutan, namun saat bell istirahat Dion menghampiri ku di meja ia berkata “sha,ikut aku bentar yuk. Aku pengen ngomong empat mata sama kamu.” Ucap Dion “hah buat apa? Aku kan gaada urusan sama kamu.”  Jawab ku “kalo gitu nanti kita ketemu dikantin. “Dengan tatapan serius Dion pun meninggalkan diriku, aku bertanya ke Meli “mell kira-kira dion manggil aku karna apa yah?” Tanya ku “waduh sha, kamu harus waspada sama dia. Atau kalo engga gini deh nanti pas kamu ketemu sama dion aku temenin dan ngawasin kamu dari jauh, jadi kalo misal dion ngapa-ngapain kamu aku bisa nolong kamu.” Jawab meli “yaudah deh mell kalo gitu, thanks ya udah mau bantu aku.” Meli pun tersenyum kecil dan sedikit mengangguk.

error: Content is protected !!