Tubuhku gemetar hebat saat melihat sosok gadis kecil berdarah-darah. Rintihan suaranya membuat ngeri siapapun yang mendengarnya.
Dia berjalan ke arahku dengan meminta tolong, tapi kami terbatas oleh tembok yang tebal. Namun, anehnya aku bisa melihat apa saja yang terjadi di dalam sana, seolah penghalang itu transparan.
Dari luar, kulihat sosok lain yang datang dengan sesuatu di tangannya, terus memukul meski sosok kecil itu merintih kesakitan. Dadaku sesak melihat itu, ingin aku menolongnya tapi entah kenapa tembok ini terasa sulit kutembus.
“Pergi … pergi, Nada!” seru anak itu.
Spontan aku berlari menjauh, namun erangan dan rintihan kesakitan malah semakin jelas terdengar, hingga akhirnya aku limbung dan tersungkur.
Kurasakan tangan dan lututku sakit, rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk terus berlari. Bayang-bayang gadis kecil itu membuatku merasa bersalah karena meninggalkannya dengan kondisi seperti itu.
Kuputuskan untuk kembali, dengan tangan dan kaki yang sudah terluka karena bebatuan tajam. Setibanya aku di sana, sosok menyeramkan itu malah balik menyerangku.
Dia meraih kedua tanganku lalu menciumnya. “Mainkan,” bisiknya dengan suara lirih yang membuat bulu kuduk merinding.
Aku tidak mengerti apa yang dia maksud, dengan spontan aku menggeleng. Namun, dia terlihat marah dan menarikku masuk ke dalam ruangan yang sama. Pengap, sempit dan sesak.
Bunda … Aku mau pulang.
➹➹➹
“Nad … Nada!” suara bunda sayup kudengar, sesekali tangannya menggoyangkan tubuhku. “Bangun!”
Kubuka mataku yang ternyata sudah basah oleh air mata. “Bunda,” lirihku dengan air mata yang mengembun di pelupuk mata.
“Kamu mimpi buruk lagi?”
Aku mencoba mengatur nafas, ini terlalu nyata jika disebut sebagai mimpi buruk. “Bukankah aneh kalau aku terus bermimpi hal yang sama selama bertahun-tahun, Bun?”
“Gak ada yang aneh, mungkin kamu saja yang terlalu banyak nonton film-film aneh, kan?”
“Apa bunda yakin … mungkin dulu aku punya trauma atau semacamnya?”
Bunda menatapku tajam. “Kamu nggak percaya sama Bunda?!”
“Tapi, Bun—”
“Bangun. Kamu bilang hari ini ada kelas pagi,” tegasnya seraya menarikku agar bangkit dari ranjang.
“Iya.”
Bunda tersenyum tipis, senyuman itu selalu saja membuatku terpesona meski bertahun-tahun melihatnya. “Ya sudah, Bunda tunggu di bawah.”
Aku segera pergi ke kamar mandi, bersiap karena hari ini terlalu banyak tugas yang sudah menanti.
Dalam bulan ini, mimpi buruk itu terus datang dan menghantuiku. Pernah aku berusaha mengubah hasil mimpi itu dengan melawan, tapi anehnya gadis itu justru mendorongku pergi saat sosok menyeramkan itu datang untuk menyerang.
Entahlah, mari lupakan dulu karena hari ini aku harus menghadapi hal menyeramkan lainnya—Pak Wiguna, Dosen Killer luar biasa.
“Hei, cepat turun!” seru Rafi yang tengah asyik mengunyah roti buatan bunda.
Dengan malas aku menuruni tangga. Ingin sekali rasanya satu hari saja sarapan tanpa ada dia di meja makan. “Kamu nggak punya rumah, ya? Sarapan di rumah orang terus,” protesku.
“Mamaku nggak pandai masak seperti Bunda, kamu ‘kan tahu itu, Nad? Masa iya kamu tega aku sarapan pakai roti gosong, Nas?”
“Halah, alasan. Bilang saja mau nebeng.”
“Memang,” jawabnya seraya terkekeh.
Andai tidak ada bunda dan Ayah, ingin sekali ku toyor kepalanya itu. Setiap sarapan dan makan malam selalu saja numpang makan, alasannya klasik—mamanya tidak pandai masak.
Ya, aku tak bisa menampiknya, masakan tante memang sangat buruk. Entah bagaimana bisa wanita secantik dirinya dan juga tampak sempurna, memiliki kelemahan juga.
Rafi adalah tetangga sebelah rumahku, mamanya dan bunda bersahabat baik sejak kami pindah rumah ke kota ini. Jika dihitung, mungkin sudah sepuluh tahun kami bertetangga dan selama itu pula aku tersiksa olehnya.
Bayangkan saja. Selama ini kami harus berebut makanan, mainan dan juga kasih sayang bunda. Ya, Rafi menyebalkan sekali, dia terkadang seperti bocah yang selalu cari perhatian pada bunda dan itu menyebalkan.
Kuraih roti jatahku, namun yang membuat kesal tiba-tiba saja Rafi menyambar salah satunya. “Jangan makan banyak-banyak, nanti gendut.”
“Bunda, lihat itu!” seruku.
Bunda hanya terkekeh melihatku kesal. “Sudah, jangan gangguin Nada, Fi. Bunda buatkan lagi, ya?”
“Boleh, Bun. Dua, ya.”
Bunda mengacungkan ibu jarinya. “Oke.”
Aku mendelik tajam ke arahnya, tapi dia malah bersikap tak acuh seolah tak punya rasa takut. “Dasar enggak tahu diri!”
“Bodo amat!”
Astaga, bisa gila kalau 5-10 tahun ke depan kami masih bertetangga. Seperti inilah siksaan hidupku, menghadapi Rafi yang selalu usil menjahiliku. Sayangnya aku tidak bisa kubalas karena bunda begitu menyayanginya.
➹➹➹
“Kamu duluan aja ke kelas,” ucap Rafi seraya melepas helm yang kupakai.
“Kamu mau ke mana?”
“Ada urusan sedikit.”
“Ya udah, terserah.”
Baru saja kaki ini hendak melangkah pergi, Rafi menarik tanganku. “Main pergi saja, mana ongkosnya?” tanyanya seraya menadahkan kedua tangannya.
Buggh!
Satu pukulan keras mendarat di tangannya yang berotot—mungkin. “Sakit, Nad … aku ‘kan cuma bercanda.”
“Pergi enggak?!”
“Ogah, aku masih rindu,” jawabnya seraya memajukan bibir, menjijikkan sekali.
“Jangan paksa aku memakai kata-kata kasar ya, Fi.”
Rafi terkekeh. “Coba maki aku. Kok jadi penasaran,” tantangnya.
Calm Down, Nad. Kuhela nafas ku sedalam mungkin, mencoba tetap waras menghadapi makhluk menyebalkan satu ini.
“Dasar binatang kaki empat yang suka menggonggong!”
Mendengar itu, sontak saja Rafi semakin tergelak, bahkan air mata mengembun di pelupuk matanya. “Astaga, Nad … kalau cara memakimu seperti itu, setiap hari pun aku rela dimaki-maki setiap hati.”
“Dasar sinting.”
Kulangkahkan kakiku pergi, meninggalkan Rafi yang masih tergelak seperti orang sinting. Tidak akan ada habisnya jika melayaninya. Kulihat arloji di tangan, masih ada waktu sekitar sepuluh menit sampai kelas dimulai.
Terkadang Rafi memang sedikit membantu. Tapi sedikit loh, ya. Seperti hari ini, dia berhasil menyelamatkanku yang hampir kesiangan dan masih banyak bantuan darinya. Namun, sikap menyebalkannya itu membuat semua itu jadi tidak terlihat, aku sungguh kesal!
“Nad!” seru seseorang dari dalam kelas.
“Hai, belum mulai, kan?”
“Cih! mulai apanya, wong nggak jadi kelasnya.”
Astaga, kenapa selalu ada kejadian seperti ini? Aku sudah susah payah bangun pagi, bahkan saat sarapan saja tidak aku kunyah dengan baik karena takut kesiangan.
“Aku ke kantin, mau ikut? Kelas Pak Wiguna masih ada satu jam lagi.”
“Enggak, aku masih kenyang.”
“Ya udah. Bye, Nad.”
“Bye.”
Ah … bagaimana caranya aku menghabiskan waktu selama itu selagi menunggu? Apa yang harus aku lakukan?
Aku bertolak menuju lapangan basket dan taman Kampus, biasanya banyak hal yang bisa kulihat, pria tampan misalnya.
Aku akui, sesekali mengagumi keindahan ciptaan Tuhan itu memang menyenangkan, meskipun hanya bisa kulihat dari kejauhan tanpa bisa menyentuhnya.
Banyak Mahasiswa berlalu-lalang dengan kesibukannya, di sini hanya aku sendiri yang sedang berusaha menikmati udara sejuk yang jarang kurasakan.
Saat sedang asyik memandang sekelompok pria tampan yang sedang bermain basket, tubuhku tersenggol sesuatu sampai nyaris terjatuh
“Hei!”
“Maaf, enggak sengaja,” ucapnya seraya meraih tasku yang jatuh.
Tadinya aku ingin marah, tapi kulihat wajahnya, mataku langsung terpaku. “Maaf,” ucapnya seraya berlalu pergi.
Garis wajahnya begitu tegas, kulitnya putih seputih salju. Dia benar-benar tampan, ini kali pertama aku melihat pria setampan dirinya dari dekat. Mungkin terdengar berlebihan, tapi dia sungguh menawan.
“Hei … tunggu, seenggaknya kenalan dulu!”
Sayang, dia tetap pergi tanpa peduli dengan teriakanku. Sepertinya dia terlalu asyik mendengar musik dari earphone miliknya, sampai-sampai dia tidak mendengarku.
Ah … ternyata ada surga di tempat yang terasa bagai neraka ini. Pria misterius dengan wajah dingin namun mampu menghipnotisku.
Andai ini film Bollywood, mungkin kini aku sedang menari-nari dengan latar pohon beringin—eh, kok seram sekali. Yang jelas, kini aku percaya dengan apa yang bunda bilang; cinta pada pandangan pertama itu ada.