SEE YOU AGAIN!

Mimpi Yang Selalu Sama

Tahun 2012, Hutan Hujan Tropis, Pinggiran kota J.

“Ayah…”

“Ayah… Ayah di mana….”

“Ayah….”

“Ayo, pulang ayah…. Quinsha rindu ayah.”

Teriakan demi teriakan terus terdengar menggema dari balik pepohonan hutan yang menjulang tinggi.

Dalam kondisi gelap gulita samar-samar terlihat seorang gadis kecil bergaun putih compang-camping berjalan tertatih-tatih melawati semak belukar hutan, sesekali dia meringis menahan sakit karena luka-luka di kakinya, tapi walaupun sakit gadis itu tak pernah punya niat untuk berhenti.

Anak perempuan itu terus berjalan walaupun langkahnya semakin terseok-seok, bibir mungilnya tak pernah berhenti berteriak memanggil ayahnya dengan harapan sang ayah akan mendengar lalu datang padanya.

Keadaan di sekitarnya semakin gelap gulita menjadikan penglihatannya terbatas, di tambah dengan kakinya yang terluka membuat dia harus  meraba dari satu batang ke batang lainnya agar tetap dapat berdiri.

Bruk… Anak itu jatuh tergelincir, saat tanpa sengaja menginjak tanah licin, dia mendesis menahan tangis kala rasa sakit di kakinya semakin menjadi.

“Hiks… Hiks sakit….” lirih anak itu serak, air matanya tak berhenti berjatuhan melawati pipi mungilnya.

Waktu berlalu, angin malam membawa hawa dingin terus berembus menerpa tubuh mungilnya membuatnya bergetar.

Kini gadis mungil itu tak memaksakan diri lagi, dia memilih berjongkok mengistirahatkan tubuhnya di bawah batang pohon besar, menggunakan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri mencoba menahan rasa dingin yang menerpanya.

Mungkin karena sudah terlalu kelelahan gadis mungil itu akhirnya tertidur, nafas beraturan, namun dalam tidurnya sekalian dia tetap memanggil-manggil sang ayah.

Tak jauh di seberangnya, tertutup pohon besar hadir sosok bersurai perak mengenakan jubah hitam yang disulam dengan benang emas di sepanjang jubahnya, manik emasnya memandang lembut penuh kerinduan pada gadis mungil itu, tak kehilangan lepas satu detik pun.

Senyum tipis tercipta kala melihat gadis itu jatuh tertidur. Wuss… Sedetik kemudian sosok itu berpindah, tepat ke sisi gadis yang sedari awal menjadi objek pandangannya, duduk di sampingnya, netranya memandang lekat wajah cantik yang belum berkembang itu.

Mengulurkan tangannya sosok itu membelai lembut surai hitam sang gadis, dia dengan sesekali menyingkirkan daun-daun kering yang menempel di rambutnya, “di kelahiran ini, kamu menjalani hidup yang sangat menyakitkan ratuku, namun tak apa, mulai saat ini aku akan selalu berada di sampingmu,” ucap sosok itu lirih dengan suara seraknya namun sangat magnetis.

Sejenak sosok itu terdiam, sebelum akhirnya melanjutkan, “kamu tahu ratu aku terbangun di tahun kelima ribu dua ratus dua puluh delapan sejak aku tidur panjang, aku tahu dunia telah berubah namun tetap saja orang pertama yang ingin kulihat saat aku terbangun adalah kamu, tapi guru negara memberitahuku bahwa kamu belum dilahirkan kembali saat itu, jadi aku harus menunggu beberapa tahun lagi, namun tak apa aku senang karena akhirnya aku tetap dapat melihatmu, kamu tahu? Kamu masih sangat cantik, secantik terakhir kali aku melihatmu,” sosok itu tak pernah melepaskan tatapannya dari gadis kini yang tengah terlelap di hadapannya, melihatnya lagi itu membuatnya tak kuasa menahan senyum haru. Sungguh dia sudah menantikan momen ini begitu lama.

‘Rajaku, saatnya kembali,’  tiba-tiba suara tegas terdengar dari arah belakang sosok bersurai perak itu, bersamaan dengan itu sosoknya yang mengenakan baju besi perlahan terlihat, dia adalah Orion sang pengawal dari tanah immortal.

Menoleh, sosok perak itu berkata, “biarkan aku mengantarnya pulang, baru setelahnya kita kembali,” Lalu kembali menatap wajah cantik gadis mungil di depannya.

‘Baik rajaku,’ jawab Orion tegas lalu menghilang.

Selepasnya itu, lantas sosok perak itu mendekat, meraih tubuh mungil gadis itu dan membawa ke dalam pelukannya. Di dekapnya erat-erat tubuh mungil itu seolah-oleh dia sedang menyalurkan semua rasa rindunya.

Dalam tidurnya gadis itu mengercit, mungkin karena merasa tidurnya terusik, kelopaknya bergetar lalu perlahan terbuka, “siapa kamu?” tanyanya begitu menemukan dirinya telah berada dalam dekapan sosok bersurai perak, manik hazelnya tampak kebingungan.

Melihat raut kebingungan gadis kecil dalam pelukannya, sosok itu tak kuasa mengulum senyum, baginya gadis itu terlihat sangat lucu dengan ekspresi itu, “tenanglah ratu, kamu aman bersamaku.”

Seolah terhipnotis gadis kecil itu langsung menganggukkan kepada kecilnya menanggapi, maniknya kebingungan kini berubah berbinar, namun sedetik kemudian berubah lagi menjadi sedih, “tapi bagaimana dengan ayahku?” tanyanya dengan cicitan pelan wajahnya menampilkan ekspresi khawatir akan keadaan sang ayah.

“Ayahmu….” sosok itu terjeda dia tak tega untuk mengatakan kebenarannya, namun sedetik kemudian dia melanjutkan, “tenanglah dia akan segera pulang,” dan tentu saja bagian ini bohong. Karena dia sangat tahu bahwa ayah sang ratu dalam kehidupan ini sudah meninggal bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal padanya.

Mendengarnya seketika raut khawatir di wajahnya hilang dan tergantikan binar kebahagiaan dia dengan semangat menganggukkan kepalanya, matanya juga berbinar menatap wajah rupawan didepannya.

“Baiklah sekarang pejamkan matamu, aku akan mengantarkanmu pulang,” pintanya dengan suara magnetis dan di balas anggukan ringan “Em….” Perlahan dia memejamkan matanya.

Sosok perak itu tersenyum dan dengan mengeratkan dekapannya, dan wus kurang dari satu detik keduanya menghilang.

Dan di detik selanjutnya, dua orang itu tiba-tiba muncul di depan sebuah bangunan apartemen yang bisa di katakan tidak layak huni namun terlihat bersih. Perlahan sosok perak itu menurunkan gadis dalam dekapannya, “masuklah, di sini dingin.”

Gadis kecil itu mendongakkan kepala kecilnya menatap wajah rupawan yang kini jauh di atasnya, dia tersenyum manis, lalu berbicara dengan suara lucunya, “terima kasih banyak paman tampan,” dan berbalik memasuki bangunan apartemen dengan riang.

Manik emasnya itu terus mengikuti gadis kecil itu hingga akhirnya menghilang dari pandangan. ‘Kita akan bertemu kembali ratu, ini janjiku.’

“Kembali ke immortal,” Ucapnya pada Orion yang tepat di belakangnya. ‘Ya Rajaku.’  dan sekejap keduanya menghilang.

——

2023, Pinggiran Kota J, Apartemen unit C. Pukul 00:45.

“Hah… Hah….” gadis cantik itu lagi-lagi terbangun dari tidurnya, terduduk dengan nafas naik turun tak beraturan.

“Kenapa terus seperti ini? mimpi itu… Kenapa selalu hadir?” keluh gadis itu, Aleta Quinsha Elvina dengan wajah gelisah, pikiran saat ini tengah tumpang tindih, memikirkan apa yang di alaminya.

Pasalnya bukan sekali dua kali, tapi hampir setiap malam selama sepuluh tahun terakhir ini Quinsha selalu bermimpi hal akan hal sama.

Quinsha yakin, itu adalah mimpi tentang masa kecilnya, di mana dia nekat pergi ke hutan mencari ayahnya dan berakhir dengan tersesat.  Saat itu mungkin dewi keberuntungan sedang berpihak padanya hingga dia tanpa sengaja menemukan jalan dan akhirnya dia dapat kembali dengan selamat.

Dan hanya sebatas itu ingatan yang Quinsha miliki, tidak ada yang lainnya.

Tapi entah kenapa dalam mimpinya Quinsha selalu mendengar suara tanpa wajah yang memanggilnya ratu, dan itu adalah suara laki-laki.

“Siapa itu?” lirihnya bertanya-tanya, dia terus berpikir tapi seberapa pun keras dia mencoba hasilnya tetap saja sama, dia tidak dapat mengingat apa pun.

Tapi di sisi lain hatinya Quinsha merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, dan dia tidak tahu apa itu.

“huh,” Pada akhirnya Quinsha hanya dapat menghela nafas. Dengan mengusap wajahnya dia mencoba menjernihkan pikirannya yang sedang kalang kabut, dia tak ingin terlalu memikirkannya.

Dan setelah merasa agak tenang Quinsha meraih segelas air dari nakas  tepat di samping ranjang lalu meminumnya dengan sekali tegukan.

Tatapannya beralih melirik pada jam weker yang saat ini menunjukkan pukul satu dini hari. Merasa tak bisa tidur lagi Quinsha memutuskan beranjak untuk mencuci wajah. Kembali ke ranjang dia meraih buku tugas serta laptop usangnya dan mulai mengerjakan tugasnya, tugas mata kuliah manajemen keuangan program pendidikan ekonomi semester empat.

Quinsha memilih mengerjakan tugasnya sekarang, karena jika tidak sekarang, akhirnya dia sendiri yang akan keteteran.

Karena setiap pagi Quinsha sudah disibukkan dengan mengantarkan pesanan susu ke rumah-rumah pemesan. Dan biasanya akan selesai pada pukul 8 itu pun kalau pesanan sedikit, jika sedang banyak bisa sampai pukul 10.

Dan setelah mengantarkan pesanan, Quinsha harus cepat-cepat pulang untuk berbenah dan pergi ke kampus, baru setelah malam tiba Quinsha kembali melakukan partime di sebuah rumah makan kenalan ayahnya, dan selesai pada pukul 9 malam.

Kadang ada yang bertanya pada Quinsha, kenapa di usianya sekarang dia sudah banting tulang? bukannya seharusnya dia fokus pada pendidikannya saja.

Sejenak Quinsha selalu terdiam saat mendengarnya, bagaimanapun saat ini dia hidup sebatang kara, sejak sang ayah pergi, ibunya juga ikut meninggalkan rumah saat dia berusia 13 tahun. Dan sampai sekarang Quinsha tak tahu keberadaannya.

Hah, Mengingat kenangan itu, rasanya Quinsha ingin menangis namun di tahannya. Bagaimanapun itu sudah bertahun-tahun lalu, tak ada gunakan mengingatnya lagi, toh saat ini Quinsha sudah melanjutkan hidupnya.

Maka dari itu Quinsha selalu memasang topeng ceria dan menyinggung senyum tabah, lalu dengan ringan menjawab, “saya hanya ingin membiasakan diri dengan kehidupan yang keras.”

Tentu orang yang mendengar akan takjub sekaligus bangga padanya, namun bagi Quinsha sendiri tidak seperti itu, karena dia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya serta membayar biaya sewa bulanan apartemen.

Tak terasa waktu berlalu kini waktu menunjukkan pukul tiga lebih lima belas menit dini hari, dan sudah menyelesaikan semua tugasnya.

Meregangkan tubuh, Quinsha lalu membereskan buku-bukunya, dan beranjak untuk menyegarkan diri, lalu bersiap memulai rutinitasnya.

Selesai berbenah Quinsha memperhatikan bayangannya sendiri dari balik cermin setengah badan itu, terlihat olehnya gambaran wanita cantik dengan wajah polos tanpa makeup, rambut panjang yang di kucir kuda, dan mengenakan kaus putih di lapisi jaket hitam agak lusuh lalu di padukan dengan jeans warna hitam.

Benar itu adalah gambaran wajah yang sempurna, polos namun sangat memikat, tapi itu justru membuat Quinsha mengulas senyum getir, bukan sebab lain, itu karena wajahnya adalah kopian dari sang ibu. Dan ini juga lah yang membuatnya enggan melihat wajahnya sendiri, karena pada saat itu dia pasti akan kembali merindukan kehangatan keluarga dulu.

Lates Chapters

Ingatan Masa Lampau

Tak terasa Quinsha tertidur karena terlalu lelah berpikir. Ke esokkan paginya, tepat pada jam 4.30 waktu subuh dia bangun, segera dia membersihkan diri, membuat sarapan…

Bunga Tidur

Quinsha teringat mimpi yang baru saja dialami, mimpi akan medan perang dan pria bersurai perak yang tadi hampir saja dia lihat wajahnya. “Siapa pria itu?”…

Siapa Dia?

“Aaaa!” Wus.... Sekelebat bayangan hitam melintas dengan kecepatan cahaya dan tanpa disadari siapapun bayangan itu meraih tubuh Quinsha lalu membawanya pergi dari sana dalam sekejap…

Lelaki Bersurai Perak

Alam Immortal. Ini adalah alam dimana semua penduduknya baik itu iblis, vampir, werewolf, siren, elf bahkan hewan sekalipun dapat membudidayakan diri untuk menjadi abadi dengan…
error: Content is protected !!