Misteri Kota Pluckley

Misteri Kota Pluckley

 “Kau yakin ingin ke Pluckley?” tanya Evelyn.

 “Ya,” jawab Jhon sambil memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas.

 “Oh, ayolah, Evelyn! Pluckley tidak semenyeramkan itu! Kau tahu pemandangan di sana sangat indah, udaranya yang sejuk dan … kau tahu perpustakaan Dering, ah, aku sangat ingin ke sana. Duduk berjam-jam sambil membaca sejarah Pluckley, sangat menyenangkan.” Cyntia bersemangat membayangkan liburan musim panasnya di sana.

 Pluckley sebuah desa kecil di distrik Ashford, Kent, Inggris berjarak skitar 89 km dari London. Dengan jumlah penduduk yang tidak lebih dari 1.000 orang, membuat desa tersebut terasa sunyi saat malam hari. Masyarakat di Inggris mengenalnya dengan desa berhantu. Banyak warga dan pengunjung yang melihat penampakan di sana.

 Evelyn, Jhon, dan Cyntia adalah warga Indonesia yang sedang menjalani pertukaran mahasiswa. Jhon memutuskan untuk menghabiskan liburan musim panasnya di Pluckley. Laki-laki keturunan Indonesia-Belanda itu sangat menyukai hal-hal yang menantang. Sudah beberapa kali ia mendengar kisah Pluckley dari orang-orang di Inggris, kali ini ia ingin mencoba membuktikannya sendiri.

 “Aku tidak percaya hantu!” ujar Jhon.

 Evelyn masih bergeming di tempatnya sambil menatap iris coklat milik Jhon yang penuh keyakinan.

 “Kita akan membuktikannya dengan bermain Blood Marry.” Jhon bersiap membawa tas ranselnya.

 “Kau ingin tetap di sini, Evelyn?” tanya Cyntia. “Aku akan ikut Jhon, ini waktunya kita bersenang-senang setelah menghabiskan banyak waktu dengan angka-angka yang memuakkan itu!” sungut Cyntia. Gadis kutu buku berkacamata itu pun berlalu menyusul Jhon yang telah menunggu di depan. Dengan terpaksa Evelyn mengikuti keinginan dua temannya.

 Jhon telah menghubungi salah satu warga Pluckley. Ia memberitahu bahwa mereka akan tiba sore ini. Stasuin kereta api Pluckley berada di jalan utama Tenggara di Inggris, melayani desa Pluckley, Kent, Inggris yang berjarak 1,2 mil ke arah utara dan berjarak 50 mil 35 rantai dari London. Pukul 04.00 sore, ketiga remaja itu tiba di stasiun. Kepala desa Pluckley menyambut kedatangannya.

 “Selamat datang di Pluckley,” sambut Tuan Lawren, Kepala Desa.

 “Terima kasih.” Jhon membalas uluran tangan Tuan Lawren.

 “Seperti yang kalian dengar, banyak kisah mistis, tapi saya harap kalian tidak terpengaruh. Semoga kalian bisa menikmati liburan musim panas di sini.” Tuan Lawren mengajak mereka menuju rumah warga yang memang disiapkan untuk para pengunjung.

 Udara di Pluckley masih sangat sejuk seperti pedesaan pada umumnya, hanya saja banyak deretan bangunan tua yang terbengkalai. Rumah bergaya kastil kono masih mendominasi sehingga kesan seram dan angker sangat terasa. Namun hal itu malah membuat Pluckley terlihat indah. Banyak pengunjung dari berbagai plosok datang ke sana hanya untuk menikmati keindahan Pluckley yang terkenal horor.

 Jhon, Evelyn, dan Cyntia memasuki rumah tua bergaya klasik, tidak jauh dari pinnock bridge. Beberapa cerita yang sempat Jhon dengar, jembatan itu terkenal dengan penampakan hantu wanita tua yang sedang merokok mengunakan pipanya. Jhon memilih bangunan itu untuk tempat tinggal mereka selama di sana. Ia ingin membuktikan apakah cerita itu benar.

 Evelyn, gadis berambut hitam dan bergelombang itu memeluk lengan kanan Cyntia. Saat memasuki rumah tersebut. Evelyn merasakan bulu kuduknya meremang. Ia menatap jendela yang berada di bagian atas rumah. Tampak seperti bayangan seorang wanita berkulit pucat menatap ke arahnya dan tersenyum.

 “Lepaskan, Evelyn!” teriak Cyntia. “Apa yang kau takutkan? Tidak ada hantu di sini! Kau lihat! Pemandangannya sangat indah, hantu mana yang mau tinggal di tempat indah seperti ini!” oceh Cyntia geram.

 “Maaf.” Evelyn melepas pelukkannya dari lengan Cyntia. “Bolehkah aku tidur satu kamar denganmu?” tanya Evelyn takut. Cyntia mengangguk dan melangkah ke salah satu kamar yang menghadap ke sebuah pohon tua di samping rumah.

***

Setelah makan malam, mereka bertiga bersiap menikmati pemandangan malam Pluckley. Jhon, laki-laki berusia 20 tahun itu, berjalan menuju pinnock bridge, belum terlalu larut untuk membuktikan sebuah penampakan hantu wanita tua.

 Bintang malam itu terlihat sangat berkilau, udara yang sejuk, dan suasana yang sunyi sangat terasa. Suara jangkrik saling bersahutan, tidak ada rumah yang terbuka atau pun aktivitas di luar yang terlihat. Semua warga berada dalam rumah masing-masing. Cyntia melihat seorang kakek berjalan di sekitar taman dekat jembatan.

 “Apa kalian sedang berlibur di sini?” tanya kakek itu saat mereka mendekat.

 “Ya,” jawab Jhon.

 “Aku harap kalian tidak mendekati pohon ek yang berada di sudut sana.” Kakek itu menunjuk pohon tua di dekat danau. Ketiga pemuda itu tidak begitu memedulikan peringatan kakek tersebut. Mereka berlalu meninggalkannya dan kembali ke rumah.

 “Jhon, kau lihat gereja tadi?” tanya Evelyn saat tiba di rumah. Jhon hanya mengangguk. “Seperinya di sana mengerikan, aku dengar ada hantu perempuan di sana.” Lanjut Evelyn.

 “Sudah aku katakan tidak ada hantu.” Jhon menatap Evelyn. “Ayo, kita buktikan!” Jhon mendekati cermin besar di ruang tengah.

Rumah itu berukuran sangat besar untuk dihuni mereka bertiga. Di sisi kiri adalah dapur yang langsung mengarah ke hutan di belakang rumah. Sisi kanan ruang tamu yang menyatu dengan ruang tengah, dari pintu masuk terdapat tangga yang langsung menuju lantai atas dan terdapat dua kamar kosong. Salah satu kamarnya terdapat jendela yang langsung menghadap jalan dan halamanan rumah, dari ruangan itulah Evelyn melihat sosok wanita berdiri di sana. Kamar mereka terdapat di lantai bawah. Kamar Jhon berada tepat di sebelah tangga berdekatan dapur, sedangkan kamar Evelyn dan Cyntia di dekat ruang keluarga.

 “Sangat mengerikan jika harus berada di lantai atas,” ujar Evelyn saat itu.

 Jhon lalu mematikan lampu, jam menunjukkan pukul 11. 45 menit, waktu yang pas untuk memanggil Blood Marry.

Blood Marry adalah sebuah permainan untuk memanggil arwah. Permainan ini dilakukan saat tengah malam, dengan cara menghadap cermin dan mematikan lampu kemudian menyebutkan nama Blood Marry sebanyak tiga kali. Menurut cerita masyarakat Inggris, orang yang berhasil memanggilnya akan mengalami kematian yang targis. Jhon sudah berdiri di depan cermin. Hanya ada temaram dari luar yang menerangi.

 “Blood Marry … Blood Marry … Blood Marry … datanglah!” Jhon mulai memanggil.

 Satu menit, dua menit, hingga lima belas menit berlalu tidak ada tanda-tanda Blood Marry datang.

“Lihat! Tidak terjadi apa-apa, ‘kan? Blood Marry hanya mitos!” sungut Jhon menatap Evelyn.

 “Tapi … tadi siang aku melihat perempuan di kamar atas,” ujar Evelyn ragu.

 “Oh, ayolah, Evelyn! Kau hanya berkhayal, tidak ada siapa-siapa di atas, aku sudah memerikasanya,” sanggah Cyntia. “Kau hanya kelelahan, Evelyn Sayang.” Cyntia membelai kepala Evelyn.

 “Rasa takut yang berlebihan sudah membuatmu berhalusi, pergilah istirahat!” titah Jhon.

 Evelyn sulit memajamkan mata. Samar-samar ia mendengar suara ringikan kuda. Suara roda yang berputar di sekitar halaman. Gadis itu ketakutan dan menyembunyikan diri dalam selimut.

 Tok … tok … tok …

Suara ketukan terdengar dari jendela kamar. Evelyn membangukan Cyntia, tetapi gadis itu terlalu lelap dalam mimpi. Keringat membasahi Evelyn, tubuhnya menegang. Merasakan keganjialan malam itu. Suara ringikan kuda semakin menggelitik telinganya. Ia mencoba menutup telinga dengan bantal, tetapi suara itu semakin jelas.

 Tiba-tiba Evelyn merasa aneh, tubuhnya berada di gereja St. Nicholas yang mereka lalui siang tadi. “Bukankah aku sedang tidur bersama Cyntia,” batinnya. Evelyn mengedarkan pandangan. “Aku pasti bermimpi.”

 Seorang wanita bergaun merah berdiri di depan altar. Saat Evelyn mendekat, wanita itu menoleh dan menyeringai. Wajah pucat dan banyak bercak darah. Evelyn berlari, tapi tidak ada ujungnya. Ia terus berlari mencari jalan ke rumah yang ia huni bersama temannya. Tidak ada, rumah itu hilang. Hanya ada jalan lurus tanpa ujung. Evelyn menjerit memanggil Jhon dan Cyntia.

 “Di mana aku? Jhon … Cyntia …!” teriak Evelyn.

Lelah berlari mencari jalan. Evelyn menemukan cahaya. Semakin ia mendekat, semakin jelas. Rumah yang mereka huni kini berada di depan Evelyn. Tidak, ini terlihat salah. Rumah itu gelap, tidak ada apa pun di sekitarnya. Hanya ada bangunan tua itu.

 Evelyn berkeliling mencari jalan masuk. Semua terkunci. Beberapa kali ia menggedor kaca jendela kamar Cyntia, tetapi gadis itu masih menikmati mimpinya. Ia berlari ke sisi sebelahnya, menuju kamar Jhon.

“Blood Marry … Blood Marry … Blood Marry ….” Suara lembut berbisik di telinga laki-laki itu.

Wanita putih berbalut gaun khas kerajaan Inggris tengah duduk di sisi kiri Jhon. Wanita itu membelai lembut kepala Jhon sambil terus menyerukan nama Blood Marry. Dia tersenyum ke arah Evelyn menampakkan jejeran giginya yang hitam dan menyeramkan.

Evelyn yang melihat terus menggedor jendela kamar. “Jhon … Cyntia … buka! Cepat bangun!” teriak Evelyn. Tidak, sepertinya ada yang salah di sini. Jhon dan Cyntia tidak mendengar teriakan Evelyn. Jhon semakin terlelap dalam buaian Blood Marry.

 Jhon memipikan Blood Marry dalam buaian wanita. Gadis keturuanan kerajaan Inggris, di tepi danau dekat Pinnock bridge, Blood Marry duduk memegang payung mungilnya. Rambutnya yang coklat brgelombang dihiasi bunga mawar kuning membuatnya sangat menawan. Jhon terlena dengan paras cantinya walau sangat pucat. Seperti tersihir, Jhon mendekat. Senyum manis dari Blood Marry menyambut Jhon. Perlahan Jhon membelai wajah Marry, terasa dingin. Tiba-tiba, kepala Marry jatuh dan menggelinding. Jhon terkejut dan mundur. Wajah itu berubah mengerikan. Darah keluar dari hidung dan mata. Blood Marry tertawa nyari hingga memekakkan telinga. Jhon berlari.

 Saat terbangun ia mendapati tubuhnya masih di tempat tidur dengan keringat bercucuran. Teriakan terdengar dari kamar Cyntia. Jhon bergegas menuju kamar Cyntia. Di ambang pintu, Jhon melihat Cyntia mencekik dirinya sendiri.

 “Apa yang kau lakukan!” teriak Jhon. Ia berusaha menarik tangan Cyntia. Gadis itu tersadar.

 “Evelyn! Di mana Evelyn?” Jhon mengedarkan pandangan.

 “Aku tidak tahu. Aku bermimpi Kakek tua yang kita temui tadi berada di depan jendela lalu ia memecahkan kaca dan berlari ke arahku. Dia mencekikku!” teriak Cyntia. Napasnya terengah-engah.

 “Blood Marry … Blood Marry … Blood Marry ….” Suara lirih terdengar dari arah ruang tengah diiringin gesekan benda tajam di lantai. Jhon dan Cyntia menoleh ke arah pintu kamar.

 “Jhon … dia sungguh ada!” Suara Cyntia bergetar.

 Evelyn masih mencoba menggedor pintu dan jendela. Ia melihat semua kejadian yang menimpa teman-temannya, tetapi Jhon dan Cyntia tidak melihat dan tidak mendengar teriakan Evelyn.

 “Apa yang terjadi? Kumohon dengar aku. Jhon, Cyntia, buka pintunya!” Evelyn terus menggedor pintu.

 Keduanya menyadari ada gedoran di pintu. Jhon mencoba mengintip dari kaca jendela kamar. Tidak ada orang. Gedoran semakin kuat dan membuat keduanya takut.

“Jhon, Cyntia, cepat keluar! Rumah ini terkutuk!” teriak Evelyn. Namun teman-temannya tidak mendengar, hanya sebuah gedoran yang menakutkan bagi mereka.

 Suara Blood Marry semakin mendekat. Jhon dan Cyntia menegang. Secepat kilat Blood Marry melesat ke arah mereka dengan wajah menyeramkan dan mulut terbuka lebar. Cairan kental berwarnah hitam keluar dari celah deretan gigi hitamnya.

 “Aahhh ….” Keduanya menjerit.

 Di luar, Evelyn melihat kakek tua dengan cangkul menuju rumah hunia mereka. Evelyn berjalan mundur. Menyadari kakek itu bukan manusia. Pohon di sebelah rumah meliuk-liuk seperti hidup. Di bawahnya ada kereta kuda yang didengar Evelyn sebelum ia menghilang ke gereja. Di atas kereta ada sosok wanita berbaju merah yang ada di gereja. Evelyn terus mengedor pintu.

Gedoran itu menakutkan bagi Jhon dan Cyntia. Mereka sama sekali tidak melihat Evelyn di sana. Blood Marry berjalan medekat.

 “Bukankah kau memanggilku?” Terdengar suara patahan tulang. Kepalanya berputar 180°.

 “Aku tidak ingin mati di sini,” gumam Cyntia. “Cepat lakukan sesuatu, Jhon!” pekik Cyntia.

 Jhon berdiri mematung. Wajahnya pucat. Kali ini dia percaya hantu itu ada. Tangannya menarik Cyntia dan berlari ke arah pintu. Pintu terbuka. Mereka terus berlari. Evelyn berteriak memanggil, tetapi Jhon dan Cyntia tidak mendengar. Saat Evelyn ingin mengejar, kereta kuda dengan Red Lady di atasnya menghalangi jalan.

 “Kumohon biarkan aku pergi,” pinta Evelyn.

 Red Lady tersenyum menatap Evelyn. Secepat kilat ia berada di hadapan Evelyn. “Blood Marry … Blood Marry … Blood Marry ….” Terdengar suara itu mendekat ke arah Evelyn.

 Kini ia terkepung. Blood Marry dengan wajah penuh darah dengan gigi hitamnya merangkak menuju Evelyn. Red Lady dengan wajah hancur dan sebelah bola matanya hilang, menyeringai di depan Evelyn.

 “Tidak! Aku mohon lepaskan aku!” teriak Evelyn.

 “Aku ingin kalian …!” teriak Blood Marry. Ia menerkam Evelyn dari belakang. Red Lady memeluknya dari depan. Evelyn memberontak dan menghilang bersama kedua makhluk itu.

 Jhon terus berlari, tanpa sadar tangannya telah lepas dari lengan Cyntia. Saat ia menoleh, “Sial! Kemana Cyntia?” Napasnya memburu.

 Jhon berdiri di depan pohon ek. Sambil mengatur napasnya. Ia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Cyntia.

Hantu Robert Dubois melompat dari sudut pohon ek. Dia adalah seorang pereman yang dulu selalu merampok orang yang melintasi pohon itu. Robert Dubois mati dibunuh. Kemudian hantunya menghinggapi pohon itu. Tidak ada warga yang berani mendekati pohon ek. Pisau yang masih menancap di dada dan wajah yang hancur berlumur darah. Sebuah kapak di tangan kanan, Robert Dubiso mendekati Jhon. Pemuda itu tersungkur. Hantu Robert Dubois menncengkram kaki Jhon, kemudian melayangkan kapaknya.

Blass … leher Jhon tertebas.

Di tempat lain, Cyntia masih terus berlari tanpa arah. Genggaman Jhon terlepas dari lengannya. Gadis itu berdiri di tengah hutan Dering. Hutan yang berada tepat di belakang rumah hunia mereka. Pohon besar berjajar mengililinginya. Tanpa temaram, hanya cahaya bulan yang menjadi penerang. Cyntia terus memanggil teman-temannya. Air mata membanjiri pipi. Ia tersesat, tidak ada jalan keluar dari hutan Dering. Mayarakat Inggris mengenalnya dengan hutan menjerit, orang yang masuk akan hilang di sana tanpa diketahui hidup atau telah mati.

***

 Satu minggu berlalu. Kasus kematian Jhon dan hilangnya Cyntia beserta Evelyn masih menjadi perbincangan hangat di Inggris, khususnya Pluckley. Semua media masih menyoroti kasus tersebut. Beberapa koran dengan berita utama “Tiga Mahasiswa asal Indonesia menjadi korban di Pluckley.”

***

 

 

 

 

error: Content is protected !!