Goyangan Pohon Beringin

Noda Darah

Tidak banyak yang Wandi ucapkan demikian juga dengan Adrian. Namun saat Wandi akan memutar kunci sepeda motor Adrian menyambar tangan Wandi dengan kasar.

“Lu mo apa?” Adrian menatap tajam kepada Wandi. ”Bisa bonceng gue? Anak kecil sok-sok an naik sepeda motor. Sini kuncinya! Eh … tapi kenapa gue ada di sini? Hesta mana?”

Adrian kembali celingukan melihat ke sekiling pohon beringin. Bahkan kunci yang di tangan Wandi dia rebut dengan kasar hingga membuat temannya yang bertubuh kecil itu ikut tertarik tangannya.

Adrian pergi kembali ke tempat dia dan Hesta tadi duduk bersama. Ingatannya kembali pada awal kenalan di warung beberapa jam yang lalu. Dia kesulitan membawa sotonya yang ada di mangkuk karena panas, kemudian dia bantu membawakannya. Entah mengapa, selama ini bahkan Adrian tidak pernah dekat dengan seorang cewek, bahkan di sekolah terkenal dengan badungnya sering membuat para cewek teman sekolahnya nangis karena jahilnya dia. Pernah sampai dipanggil gurunya, karena nekat membuat nangis hingga pingsan. Adrian tidak tahu jika yang dijahili mempunyai sakit jantung. Benar-benar bikin kesal semua orang. Hal itu terus saja melekat dengan julukannya tukang jahil.

Tetapi pesona Hesta kali ini, membuat Adrian benar-benar berbeda dengan biasanya. Hatinya seketika luluh saat bersamanya. Bagai kerbau dicocok hidungnya, mengikuti Hesta kemanapun dia pergi. Untungnya hidung Adrian mancung jadi tidak melesak ke dalam saat ngikutin Hesta hahaha. Jangankan bawain makanan cewek, kadang dimintai tolong saja, dia tidak bersedia sama sekali.

Tubuh seksi dengan balutan bahan transparan, menggoda mata Adrian yang masih polos. Bayang-bayang itu  yang selalu tertanam di otaknya. Membuat pemuda itu blingsatan saat kehilangan.

Namun hal ini belum dia sadari sepenuhnya, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah mencari kemana perginya Hesta yang bersamanya beberapa jam yang lalu. Tidak mungkin dia pulang tanpa pamit pada gadis itu. Meskipun ada perasaan aneh, ada gadis cantik tinggal di sekitar hutan yang sepi dan mencekam.

Wandi yang sadar kondisi Adrian mulai ikut mengikuti langkah temannya yang sudah berada di bawah pohon beringin kembali. Suasana panas karena matahari sudah di ubun-ubun, tidak mereka sadari. Bahkan kotoran burung yang sudah mulai mengering mereka abaikan. Adrian benar-benar seperti orang yang sudah berbeda, dan Wandi tidak mengenalinya lagi. Sorot matanya yang kosong membuat Wandi sedikit ketakutan, namun tidak mampu berbuat banyak.

“Gue harus bicara dengan orang orang tua Adrian, tidak mungkin biarkan saja dia kayak gini. Ya ampun Brother, lu kena pelet apa an sih? Jangan bikin gue bingung dan takut kayak gini,” ucap Wandi lirih.

“Wandi, lu tadi nggak liat Hesta beneran? Jangan bohong? Tadi pas gue tidur, ke mana perginya dia? Ngaku, lu!” tangan Adrian mencengkeram krah baju Wandi.

“Eh, sabar Brow, gue nyampe sini tadi, lu udah tergeletak seorang diri. Ngapain gue sembunyikan gadis gak jelas. Dia bisa saja bukan bangsa kita. Lu kenapa sih? Dari tadi perasaan nggak ada yang bener deh, bukan Adrian yang gue kenal.”

“Apa an sih, gue cuma cari–in Hesta titik, gak pakai koma.”

“Nggak pakai cabe sekalian?”

“Cabe? Gigi lu tuh yang ada cabenya, ngaca sana! Lu jorok banget hari ini.”

“Biar gini juga temen lu, sahabat lu, tega lu ama gue. Ninggalin di warung sendirian, ya udah, gue balik dulu. Sini kunci motornya! Biar gue bilangin bapak elu, kalo masih di sini.”

Mereka berdebat memperebutkan kunci motor, Adrian tidak mau memberikannya sementara Wandi ngotot ingin pulang. Akhirnya kunci itu terlempar terjatuh ke tanah, dan mengenai sebuah batu kecil yang ada di sana. Keduanya sama-sama saling memandang bergantian. Tatapan mereka terpusat pada sebuah kain yang ada di dekat kunci itu terjatuh.

Adrian melangkah maju, diikuti Wandi yang memegang baju sahabatnya itu dengan erat. Tangannya yang sebelah di gigit seperti anak kecil. Wandi termasuk anak penakut, hanya bersama Adrian dia berani mengambil resiko. Adrian selalu menjadi penolongnya hingga saat ini.

Jarak mereka dengan kunci motor sudah sangat dekat, tinggal beberapa langkah lagi. Sorot mata keduanya tak lepas dengan kain yang berwarna di dekat kunci motor. Tangan Adrian menjulur, diikuti dengan tubuhnya yang tinggi kekar membungkuk ke tanah. Perasaanya bergetar, melihat kain berwarna merah darah itu. Matanya kemudian membola menatap kain yang berada di samping kunci itu bergerak karena tiupan angin.

“K-kain ini, ada darahnya? Takut Yan, buang jauh  jauh sono!”

“Heleh … ini apa-an sih. Masih serem rambut kriwul lu, dari kain ini,” ucap Adrian sambil mendorong tubuh Wandi yang sejak tadi menempel dan memegang bajunya.

Bruk

“Asem, tega ama temen.”

“Lu bau, kagak nyadar apa? Ambil gih! Kunci motornya, biar gue yang urus kain ini. Nggak usah deket-deket kalo takut. Pergi sonoo!”

Wandi mengambil kunci motor yang ada di tangan Adrian. Di langsung pergi dari tempat itu, dan nangkring di atas motor Adrian. Rambutnya yang kriwul kembali di usap dengan tangan gemetar, kemudian diciumnya. Matanya seketika melotot, lidahnya terjulur keluar.

“Wueek, bau sekali!”

Wandi lupa,  tadi pagi ada kotoran burung jatuh di rambutnya.

Sementara Adrian yang lagi sibuk memegang kain berdarah, sambil melihat ke sekeliling pohon beringin. Melangkah lebih dekat ke arah pohon. Di matanya, pohon itu tidak nampak seram sama sekali. Bahkan sejuk dan tenang untuk dipakai beristirahat. Apalagi ada batu besar yang cocok di pakai duduk, saat bersama dengan Hesta tadi pagi.

Langkah Adrian terhenti, ketika melihat bayangan seseorang datang menghampirinya.

”Lu lagi? Udah gue bilang pulaang!! Ngeyel banget, nggak sadar udah ganggu ketentraman pohon ini?”

“Kakek … Hesta mana, Kek?”

Adrian melupakan kain yang ada di tangan dan menghampiri sosok yang mengaku kakek Hesta tadi pagi. Nampak dari sorot matanya, kakek tidak menyukai Adrian. Tatapan tajam tak berkedip, mengarah pada anak muda itu. Adrian tidak sadar, jika kakek sudah berganti baju. Hanya mengenakan sarung dan kaos oblong yang sudah sobek bagian bagian punggungnya. Dilihat dari pakaian saja sudah aneh, jika tinggal sekitar pohon. Apalagi tidak ada rumah di sekitar pohon beringin itu.

“Kenapa cariin Hesta? Dia udah pulang sama Emaknya. Kalian cepet pulang! Jangan sampai pohon ini marah dan keluar taringnya!” usir Kakek. “Maksud Kakek?”

Bukan Adrian jika tidak bisa mendekati kakek misterius yang sekarang ada di hadapannya. Bahkan dia mengajak kakek untuk ikut duduk bersamanya di atas batu, di bawah pohon beringin. Tapi, tangan kakek tiba-tiba menepiskan tangan Adrian yang baru memegangnya. Tentu ini membuat kaget dan Adrian seketika menatap kakek dengan heran.

“Pergi gue bilang! Dengar nggak?!”

“O-ke, oke Kek.  Gue pergi!”

Seketika Adrian lari terbirit dari tempat itu menuju ke arah Wandi yang masih sibuk dengan bau rambutnya.

“Cepet nyalakan sepeda motornya!”

“Eh-eh … ini kenapa?”

Adrian merebut kunci motor di tangan Wandi,“ Astaga … kasar bener, nih bocah.”

“Mo ikut pulang nggak lu?! Atau gue tinggalin di sini?!”

“Mauuuu … gasss!”

Terdengar suara kakek sangat keras berteriak di telinga mereka,” Awas kalian! Jangan balik lagi!”

Jantung kedua anak itu berpacu dengan kencang. Seperti roda sepeda motor yang mereka jalankan. Sepanjang jalan Adrian terdiam, demikian juga dengan Wandi. Pikiran mereka masih terbayang kakek yang berteriak dan kelihatan marahnya. Sampai di depan rumah Adrian, mereka tidak berbincang. Turun dari sepeda motor CB keduanya masih diam di samping sepeda motor.

Tidak ada yang keluar dari bibir mereka, hingga seorang tetangga lewat dan memukul bahu Adrian. Pemuda itu tersentak, senyum mulai merekah di bibirnya. Sedangkan Wandi ikut tersadar dari lamunan.

Dua anak saling berpandangan, kemudian tertawa keras.

“Iyee … ada ada apa Mbak?” 

“Kalian ini, gue perhatikan dari dalam rumah dari tadi, bengong aja. Ada apa, baru kesambet?”

Gadis dengan kucir tinggi dengan postur tubuh kecil tinggal tulang seperti Wandi itu, berusaha memegang tangan Adrian. Namun sayangnya, Adrian berhasil menghindar. Dia mundur dan hingga sepeda motornya hampir saja terdorong. 

Lates Chapters

Rasa Takut

Tubuh Adrian bergetar melihat Hesta menatapnya dengan tajam. Kembali pada posisi seperti saat bersama dengan kakeknya. Pemuda yang terbiasa dengan gaya percaya diri kini tidak…

Terjebak

Adrian mundur ke belakang saat Hesta berdiri dan berjalan menghampirinya. Ketakutan mulai menyerang Adrian melihat gadisnya tidak seramah tadi. Pikirannya sudah berkecamuk dengan hal-hal yang…

Tersesat

Sementara Adian yang pingsan saat ini tubuhnya berada di ranjang  kamar dalam sebuah bangunan mirib dengan rumah tua. Telinga mendengar suara orang memanggil namanya membuatnya…

Adrian Menghilang

Kakek yang diyakini adalah kakek Hesta menurut Tina, terus bergerak hingga tepat  berada di bawah pohon beringin. Terlihat samar pohon bergerak lambat di bawah sinar…

Sosok di Bawah Pohon Beringin

Ayah Tina akhirnya memutuskan untuk ikut dengan mereka ke pohon beringin tempat biasanya Adrian dan Wandi bertemu dengan makhluk jadian itu. Perjalanan malam yang dingin…

Mencari Teman

Siti terkejut melihat sosok kakek tua yang ada di hadapannya. Bibirnya kaku tidak bisa membuka kata, hanya gerakan tangan yang menutup bibir polos itu. Sementara…

Kakek Datang Lagi

Siti yang sejak tadi melihat ke arah Wandi seperti anak yang sedang kesurupan, segera menyenggol bahu suaminya Badrun. Tergagap bapak satu anak melihat mata anak…

Menguras Keringat

Wandi segera melajukan sepeda Adrian menyusul Tina yang pulang terlebih dahulu. Di dalam hatinya Tina tidak tega meninggalkan temannya yang memang penakut. Tetapi karena perasaan…

Dia Datang Lagi

Berjalan terseok hingga sampai pada tepi jalan raya. Tidak ada satu orang pun yang perhatian dengan kehadiran Adrian di sana. Karena tidak kuat menahan sesak…

Kedatangan yang Tidak Diharapkan

Marjuki berlari terbirit-birit saat Adrian menatapnya dengan tajam. Beruntung ada guru datang dan menyelamatkan dirinya.  “Wooi, Kiii,  ngomong apa luu?!” teriak Adrian tanpa memperdulikan guru…

Perilaku Adrian

Wajah Adrian tiba-tiba terlihat pucat dan matanya merah. Semua yang ada di dalam kelas terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba terjadi padanya. Semua pergi ke luar…

Emosi Adrian

Dua orang berbeda alam ini tidak menyadari, jika apa yang sudah mereka lakukan melanggar kodrat. Kilatan petir yang menyambar tidak mereka perdulikan. Mereka terus bercanda…

Pulang Ke Rumah

Di tepi jalan raya, daerah Tawangmangu Jawa Tengah, dua orang yang sedang duduk diatas jok motor masing-masing yaitu Tina dan Wandi. Mereka asyik bercanda untuk…

Kemarahan Kakek Hesta

Bergegas Adrian berjalan ke arah pohon beringin yang sudah ada beberapa orang yang berkerumun. Sementara Wandi dan Tina mengomel tiada hentinya. Mereka sangat kesal dan…

Bermimpi

Bau anyir mulai menyeruak, menyegat hidung Tina. Wajahnya mulai terlihat pucat dan bergetar. Melihat seekor ular besar berada di depannya. Panjang ular sekitar dua meter…

Bertemu Teman Lama

Adrian berdiri sambil menyengkeram krah baju Wandi. Bukannya marah diperlakukan kasar oleh sahabatnya. Dia tersenyum menyeringai memperlihatkah deretan giginya yang gingsul.  “Gitu aja marah. Udah…

Berteduh

Adrian berjalan semakin mendekat ke arah Wandi dan Tina. Dengan wajah menunduk menatap tanah. Tina sehera berdiri dan berteriak memanggil Adrian, namun cowok itu seakan…

Mata Aneh Adrian

Siti dan Badrun hanya menggeleng kepala, melihat tingkah kedua anak yang ada di depannya. Setelah selesai mereka berangkat sekolah, tanpa menceritakan apapun kejadian yang ada…

Makhluk Tak Kasat Mata

Beruntung Adrian membawa ponsel dan berpikir akan melihat binatang itu dengan jelas. Sorot lampu ponsel ia arahkan ke suara kucing. Tetapi sayang, tidak ada seekor…

Merinding Bulu Kuduk

Hingga pukul sembilan malam kedua orang Adrian barulah datang dan mendapati keduanya sudah tidur nyenyak di kamarnya. Jamilah ibu yang baik, meskipun kondisi capek dia…
error: Content is protected !!