Namaku adalah Tari, Tarina Putri. Aku merupakan gadis lugu, pandai, cantik, nan ceria. Itulah kata kebanyakan temanku. Akan tetapi, aku sendiri merasa ada yang kurang padaku. Ya, ketakutan luar biasa. Takut akan menghadapi hal-hal baru. Misalnya saja … yang paling mencolok adalah takut berbicara di depan umum.
Bagiku, melakukan hal tersebut sangatlah kemustahilan belaka. Bagaimana tidak, setiap aku berdekatan dengan satu hal di atas, aku serasa ingin segera mundur. Mundur mencari tempat ternyamanku untuk bersembunyi. Bahkan kadang, aku pun sampai hampir pingsan hingga sesak napas layaknya orang yang sedang meregang nyawa. Dan … itulah kenyataannya.
Namun, entah kapan tepatnya. Aku merasa mulai ada yang aneh. Aku mulai bisa belajar berani berbicara depan umum saat itu. Ya tepat, ada seorang teman yang mau mengajariku tentang itu.
Awalnya, ia mengajakku masuk ke sebuah komunitas sederhana. Komunitas yang masih begitu kecil, dan aku masih menganggapnya sedikit tak penting. Hanya buang-buang waktu.
“Hei, Tar … kamu belum tahu sama sekali, kok bisa ngomong gitu. Lihat aja nanti. Pokoknya, percaya deh sama aku. Aku kan tau gimana kamu. Tenang, oke.” Hani menjelaskan maksudnya kepadaku.
“Hhh … ya deh, terserah. Tapi pokoknya, aku nggak mau rugi karena udah disini,” balasku. Hani hanya mengangguk sembari matanya ia putar karena jengah.
Alhasil, aku pun menurutinya. Ternyata tidak terlalu membosankan. Orang-orangnya ramah dan sportif, saling support pun iya. Buktinya, dalam waktu tiga bulanan, aku bisa, aku sanggup mencoba menghadapi banyak orang. Ya … meskipun itu masih orang-orang komunitas sendiri. Tapi … paling nggak aku bisa mencoba dan mencoba terus bersama mereka.
Sampai suatu hari, Mbak Iin, ketua komunitas tempatku bernaung, memberikan info sekaligus saran untukku agar mengikuti lomba Makalah Ilmiah antar kampus.
“Ta … tapi, Mbak. Ini ada presentasinya lho. Di hadapan juri dan semua orang lagi. Toh, aku baru akhir-akhir ini saja berani bicara depan umum. Dan itu pun masih dalam ranah kecil. Komunitas ini.” Aku mengutarakan berbagai keluhan yang ada dalam batinku.
“Jangan bicara seperti itu Tari sebelum mencoba. Karena, justru itu nanti yang dapat membuatmu tambah berani dan percaya diri. Kamu mau kan seperti itu? Masak kamu harus melulu takut. Ingat … besok saat kamu sudah di luaran sana, em … menjadi lebih dewasa maksudnya, banyak rintangan yang ada. Cobaan yang ada. Dan salah satu cara untuk bisa menghadapi itu semua adalah keberanian dan kepercayaan diri. Nah … mumpung kamu masih diberi kesempatan belajar untuk tidak takut, maka jalanilah. Daripada esok kamu akan menyesal.” Mbak Iin berpetuah. Tak lupa juga senyuman kewibawaan selalu menyertai.
“Iya, Tar, bener kata Mbak Iin. Kamu juga punya otak encer lho. Jangan disia-siainlah. Sayang tau,” sahut Hani. Aku pun tersenyum lebar mendengarnya.
“Iya, ya, deh, aku mau,” kataku spontan. Mbak Iin pun terlihat sumringah mendengarnya. Ia pun langsung melanjutkan infonya. Aku mendengarkan dengan antusias.
Karena memang … kalau dipikir-pikir, benar sekali sih saran dari Mbak Iin. Apalagi … kata-kata Hani. Hhh … pokoknya, jempol deh buat mereka. Berkat dorongan mereka, pikiranku bisa lebih terbuka dan hatiku terketuk.
“Oke, Mbak. InsyaAllah saya bisa. Mohon bantuannya juga ya, Mbak,” pintaku akhirnya. Mbak Iin pun mengangguk mantab.
Satu, dua, tiga, empat, dan lima hari pun kini sudah berlalu. Ini adalah waktunya untuk para peserta menunggu untuk naik panggung. Bagi yang tidak menjadi peserta, tetap duduk di tempat.
Deg-degan hebat pun menyelimutiku. Keringat juga mulai bercucuran. Aku juga kini rasanya ingin pingsan melihat dan mendengar suara pemandu acara. Tapi, hal itu sepertinya urung terjadi. Ya, Mbak Iin dan Hani ada di dudukan paling depan. Mereka kompak meneriakiku , menepuk tangani aku, dan memberikanku kode pengingat akan obrolan kemarin. Terutama, petuah dari Mbak Iin, sang ketua komunitasku.
Aku pun terharu. Aku tercekat, diam sejenak sambil meyakinkan diri. Di samping itu, aku juga tak bisa mengecewakan Mbak Iin.
Hingga setelahnya, namaku pun terpanggil. Dengan bekal kata Bismillah dan beberapa lembar photocopy-an makalah, aku pun maju. Perkataan Mbak Iin selalu kudendangkan dalam hati dan pikiran. Aku pun akhirnya sanggup melawan ketakutanku, walau sempat diam sejenak untuk mengambil jeda.
***
“Ha …! Alhamdulillah namaku ada. Aku juara dua. Ya Allah akhirnya … hufft ….” Monologku sangat gembira saat kebetulan sedang sibuk membaca mading kampus. Aku sungguh tak menyangka pengumumannya akan secepat ini. Ada namaku … lagi. Ah, senangnya ….
“Kenapa kamu, Tar, kok dari tadi senyam-senyum nggak jelas. Ada kabar baik? Hum?” Pertanyaan Hani terdengar sangat menggelikan telinga.
“Em … iya,” jawabku penuh sumringah.
“Eum … cie … yang punya kabar baik. Cerita dong.” goda Hani.
Aku pun menceritakannya secara panjang lebar. Tak terkecuali, semua ini terjadi, karena berkat Hani juga yang membawaku ke komunitasnya. Termasuk juga, peran penting Mbak Iin. Benar-benar tak ada yang kutambah dan kukurangi.
“Ah, lebay kamu, Tar. Ini kan juga berkat kegigihan dan otak encer kamu,” balas Hani. Aku pun tersenyum tipis menanggapinya.
“Hhh … itu … lagi yang dibilang. Tapi … bagaimanapun, aku kan tetep juga harus berterima kasih sama kamu, Mbak Iin, dan semuanya Berkat kalian, aku punya semangat dan keberanian yang menggebu-nggebu. Masalah otak encer, itu bonus. Terpenting kan keberanian.” Ocehku. Hani hanya mengangguk mantap sambil tersenyum tipis. Aku pun terkekeh.
Sampai saat kita terdiam, Hani pun tiba-tiba mengangkat tangan dan merentangkan telapak tanganku untuk ia salami.
“Ya … pokoknya selamat deh buat kamu. Kamu akhirnya mampu mengalahkan ketakutanmu ketika itu. Selamat ya … dan jangan lupa traktirannya,” kata Hani akhirnya, dengan sedikit senyuman menggoda.