Anak Rudapaksa

Pagi Nestapa

Pagi itu bukan pagi yang biasa. Sebuah mobil polisi tanpa sirene menyala datang membawa seorang gadis yang hilang selama seminggu.

Ranti yang baru selesai menyapu mengenali wajah kuyu yang turun dari mobil polisi menyongsong 2 polisi wanita dan anaknya itu. Sapu ia lempar begitu saja ke sembarang arah dilantai. “Embun! Astaghfirullah. Ya Allah anakku Embun!” Rianti berteriak menyongsong. Hiks.

2 polisi wanita dan wanita berpakaian seorang dokter mengucapkan salam dan Ranti  merasakan gemetar dan debar hati yang ia tak mengerti. Melihat cara berjalan embun yang lemah juga polisi wanita yang menuntunnya Ranti tahu sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada putrinya.

“Silahkan duduk, Bu Polisi. Embun anakku! ya Allah kamu kemana? … Ibu khawatir. Bu ada apa dengan anak saya. Kenapa wajahnya begitu pucat dan diam saja?” Ranti mendekat dan ingin memeluk putrinya.

Embun menunduk dibelakang polisi wanita. Dokter itu mendekatkan Embun pada Ranti. Ranti  memeluk putrinya. Embun dingin saja bahkan mematung. Ranti heran, Ini seperti bukan perilaku Embun yang ceria.

2 polisi wanita dan Dokter itu sudah duduk di ruang tamu. Begitu juga Embun. Ranti Sampai lupa berbasa-basi dan memberikan minum.

“Embun kenapa, Bu?” Jawaban yang sedari tadi tak mendapat jawaban itu terus Ranti ulang.

“Bu, pihak kepolisian telah menemukan Embun  kemarin malam namun kondisi Embun tidak bisa ditanyai dan tanpa tanda pengenal. Jadi kami masih sangsi apakah benar ia Embun. Sebelumnya Embun mendapat perawatan 4 hati di rumah sakit Medika  Kasih namun sekarang keadaan Embun sudah lebih baik dan bisa di bawa pulang. Embun juga sudah bisa di ajak bicara sedangkan sebelumnya ia tidak mau bicara apapun. Sehingga kami tidak bisa menghubungi Ibu.”

“Ya Allah Embun. Apa ada yang sakit? Apa yang tejadi Bun, sama kamu? kamu kemana Embun. Ibu dan Bapak sangat cemas?” Ranti merasa bahagia anaknya telah ditemukan namun tak dapat dipungkiri apa yang terjadi dengan Embun adalah tanda tanya besar dihatinya.

Hiks. “Hu hu hu ….”  Isak panjang Embun adalah jawaban yang diberikan. Tangisnya begitu menyayat hati Ranti.

“Bu, katakan pada saya? Apa yang terjadi dengan anak saya Embun. Kenapa dia hanya menangis. Dia anak yang ceria sebelumnya.”

Polwan yang satunya menepuk bahu Ranti sambil tersenyum. ” Ibu tolong tunjukkan kamar Embun. Embun harus beristirahat. Bu Dokter Sinta akan memeriksa Embun.”

Ranti sangat penasaran namun ia akhirnya menunjukan kamar Embun.  Dokter berjilbab  dan polisi wanita itu memapah Embun ke kamar. Embun patuh diam dan tanpa reaksi apapun. Sementara di ruang tamu polwan tadi bicara pelan pada Ranti setelah Ranti duduk kembali.

“Jadi, putri saya kenapa? Kenapa Kalian tidak menjawab pertanyaan saya. Jangan buat saya emosi seperti ini. Katakan!” Ranti tak dapat lagi menahan penasarannya dan menangis kesal.

“Maafkan, Saya harus menyampaikan keadaan ini. Ibu harus kuat hati menerima kenyataan. Embun telah disekap selama 2 hari oleh pria pemabuk. Jumlah mereka 3 orang dan kami menemukan Embun terluka tanpa pakaian dan pingsan di rumah kosong tak bertuan.”

“Astaghfirullah ya Allah ….” Lutut Ranti lemas dan air mata menganak sungai dipipinya.

“Jadi Embun di per ….”

“Embun adalah korban rudapaksa oleh 3 pria mabuk. Kami mengetahui keadaan Embun atas laporan warga dan RT setempat.”

“Enggak, enggak mungkin. Bu, apa ini benar? Ibu pasti salah! Embun bukan wanita nakal, ia memakai baju sopan  tertutup walau jilbabnya tidak panjang. Pasti ini sebuah kesalahan. Katakan pada saya Bu,”Hiks. 

“Gustiii … Apa salah keluarga kami. Kami rajin ibadah. Ya Allah aku bilang apa sama Hendra. Embuuun nasibmu, Nak ….” hiks. Ratap Ranti begitu menyayat bahkan Dokter memeluk pundaknya memberikan kekuatan pada Ibu tersebut.

“Mohon maaf, apa Ibu kuat? Boleh  saya lanjutkan pembicaraan ini?”

Ranti mengangguk berusaha untuk tegar. Tak urung isak itu masih jelas terdengar juga.

“Hasil visum sudah keluar. Dari hasil visum menyatakan ada perobekan di se la put da ra Embun. Cairan sp**** juga ada di organ intimnya. Jadi semua bukti menyimpulkan bahwa Embun adalah korban rudapaksa. Beberapa bagian tubuh Embun juga memar dan luka. Sedikit demi sedikit Dokter Sinta mendapat keterangan bahwa pria yang merudapaksa Embun bukanlah 1 orang ada kemungkinan 3 orang namun Embun tidak tahu karena ia pingsan berulang kali.”

“Embuuun ….” Ranti menangisi nasib anaknya itu. Ibu mana yang tidak terluka ketika mengetahui buah hatinya malah ternoda oleh pria mabuk dengan siksaan dan cara yang sangat hina. Ranti tak sampai hati membayangkan keadaan Embun di rudapaksa oleh 3 pria di rumah kosong. Pasti Embun dipaksa dengan cara yang sa dis hingga luka dan memar juga ia dapat di tubuhnya.

Kini gigi Ranti gemeretak karena amarah yang entah ingin disampaikan pada siapa sedang pelaku rudapaksa anaknya menurut polisi itu kabur begitu saja sedangkan Embun dalam keadaan pingsan tanpa sehelai benang penutup tubuhnya. Alangkah malunya Embun bahkan Kepahitan itu ikut Ranti rasakan ketika Polwan menceritakan kronologis penemuan Embun.

“Ibu Ranti, kejadian yang menimpa Embun adalah musibah. Tolong kuatkan Embun, beri ia dukungan dan kekuatan moril bahwa ini adalah musibah. Ini semua bukan kesalahannya. Embun mengalami trauma dan sebaiknya jangan dulu ditanya tentang musibah tersebut.” Dokter Sinta, pendamping korban dari komnas perlindungan perempuan menjelaskan keadaan mental Embun.

Ranti mengangguk. Beristighfar terus dalam hati sambil mengusap air matanya.

“Ini kartu nama saya, bila keadaan mental Embun makin mengkhawatirkan kami siap mendampingi Embun untuk mengikuti terapi  pasca trauma yang dapat diberikan kepada Embun di rumah sakit yang di tunjuk dan itu cuma-cuma. “

“Terima kasih, Bu Dokter. Saya harap Embun tidak membutuhkan  perawatan apapun. Saya akan berikan dukungan saya untuknya.”

“Saya harap Ibu Ranti bisa lebih kuat dan menguatkan embun. Saya yakin Ibu Ranti akan jadi ibu yang kuat untuk embun. ” Dokter itu memberikan sugesti positif untuk Ranti. Hingga Ranti hanya mampu mengangkat wajahnya menatap hampa.

“Apa saya mampu, Bu? Huhuhu … Anakku telah direndahkan dengan cara se sa dis itu. Ibu mana yang mampu? Katakan Dokter, bagaimana aku harus bisa menghadapi ini. Sakit sekali rasanya.” Hiks.

Polwan itu menepuk pundak Ranti memberi kekuatan dan dukungan. Akhirnya setelah Dokter Sinta bicara panjang lebar, Ranti mengangguk. Dokter itu memberikan gambaran umum orang yang sedang trauma dan sikap ideal menghadapi sebuah trauma. Dokter yang ramah itu juga menyadarkan peran seorang ibu bagi anaknya hingga Ranti merasa mendapat dukungan dan pengertian. Ranti juga diajak membaca doa dan sholawat untuk meneduhkan hatinya. Akhirnya Ranti mampu menghentikan tangisnya. Kedua Polwan dan dokter itupun undur diri.

Kini Ranti yang termenung di ruang tamu menutup pintu rumah dan bergegas menemani Embun. Apakah Embun haus ataukah ia lapar. Ranti juga ingat obat yang tadi diberikan Embun harus Embun minum.

Ranti masuk ke kamar Ranti melihat anaknya berselimut rapat dengan bantal yang ia tutup dengan kepalanya. Meringkuk padahal hari masih terang-benderang. Ranti reflek saja jatuh iba dan mendekat memeluk anaknya. “Embun … ini Ibu, nak. Tenanglah. Buka ya bantal itu!”

“Aaa … Pergi-pergi. Tolooong! Huhuhu .” Tangis  dan lolongan histeris membuat Ranti kaget dan mundur. Hatinya berdebar luar biasa mendapati keanehan sikap anaknya.

“Baik, baik Ibu akan disini saja. Embun sudah makan?”

Hiks. Isak itu saja yang Ranti dengar dan Ranti makin khawatir luar biasa dengan keadaan Embun kali ini. Tes! Air mata Ranti menetes begitu saja tanpa dikomando melihat anaknya masih berselimut. Segelas teh hangat ia letakkan.   “Embun, ini Ibu. Minumlah teh ini. Ibu keluar  kalau Embun sangat takut.” Ranti melangkah pelan siap menutup pintu.

“Ibuuu! Jangan pergi. Embun takuut.” Ranti melepas handle pintu ditangannya. Berbalik ke depan dan tatap matanya melihat Embun membuka selimut dan bantalnya. Ranti Menenggelamkan Embun perlahan dalam pelukannya. Tangis Embun dan Ranti kini tumpah bersamaan.

Tanpa Ranti ketahui kedatangan mobil polisi di halaman rumahnya tentu saja jadi pusat perhatian sebagian tetangga yang memang kebetulan lewat. Rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi sebagai warga kampung yang sama tentu menggelitik. Seorang Ibu menyusup ke samping rumah Embun dan berdiri mematung menyimak perbincangan diruang tamu Embun yang terdengar jelas. Sepasang mata Ibu itu mendelik dan menutup mulut tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Jadi Embun  diper ….” pundaknya bergidik mendengar kronologis yang ia dengar. 

Lates Chapters

Bab 9 Cita-cita Radit

  Embun menguatkan hatinya. Mengingat perjalanan cinta Embun dan Radit yang sangat indah. Waktu itu Embun sedang main kerumah temannya dan disana Ia mengenal Radit.…

Embun Pingsan

Berita on line, mulut tetangga, gosip menyebar luas bagai wabah. Ranti tak mampu mengendalikan itu semua. Perkampungan padat penduduk yang ditinggali Embun memang strategis ada…

Kuliah Embun Berhenti

Dengan cepat Ranti mencoba melepaskan cengkeraman tangan Hendra dari rambut anaknya. Sayang tidak semudah itu melepas tangan yang sedang marah.   "Pak, jangan seperti ini.…

Berhenti Kuliah

Dengan cepat Ranti mencoba melepaskan cengkeraman tangan Hendra dari rambut anaknya. Sayang tidak semudah itu melepas tangan yang sedang marah. "Pak, jangan seperti ini. Kasihan…

Pertunangan Putus

"Embuun, Embun pegang tanganku Embun. Mama lepasin tangan Radit. Radit gak mau pisah dari Embun!" Radit berontak dari tarikan mamanya. "Radit kamu berani lawan Mama?"…

Radit dan Retno

"Assalamualaikum ..." Sekali lagi suara itu mengulang sapanya. Dada Ranti berdentum keras. Hendra mengambil inisiatif membuka pintu. "Bu Retno, nak Radit Silahkan masuk." kata Hendra…

Bisik-bisik Tetangga

 "Embun sudah pagi sholat dulu!" "Aku kotor, Bu. Nggak usah sholat. Aku pezina." "Hush ngomong apa kamu Embun. Jangan begitu, Nak!" "Bu, Embun tidak mau…

Kemarahan Hendra

Seharian itu Ranti hanya menemani Embun. Embun tak bicara apapun. Ranti juga tak memaksa bicara. Ranti hanya mengelus rambut anaknya penuh kasih. Sorenya Hendra, Ayah…
error: Content is protected !!