“Bapak … Bapak … tolong Rian, Pak! Ada ular, Pak,” pekik Rian dari dapur.
Di rumah kebetulan Rian hanya sendiri karena baru pulang dari sekolah dan ibu bapaknya sedang bertani di sawah. Entah dari mana ular bisa masuk ke rumah mereka.
Mendengar teriak Rian, ular itu pun lari ke halaman belakang rumah. Itu pertama kalinya Rian melihat ular besar bercorak hitam dan kuning emas, jantungnya berdetak kencang, ia ketakutan seorang diri.
***
“Bu, Pak, tadi ada ular besar!” ungkap Rian cemas.
“Di mana Rian?” jawab mereka serentak.
“Tadi di dapur, Bu. Rian mau makan pun tidak jadi. Sampai sekarang pun belum makan, Bu,” keluh Rian dengan manja.
“Tidak ada ular di rumah kita ini, Nak! Sudah berapa puluh tahun kita tinggal di rumah ini tidak pernah ular masuk ke rumah. Kamu hanya ilusi!” jawab ibu Rian dengan tegas.
“Besok pulang sekolah kamu bantu ibu ke sawah ya!” Ibu Rian berjalan ke dapur membawa sayuran.
“Iya, Bu,” sahut Rian.
***
Di jalan menuju sawah, lagi-lagi Rian menemukan ular lidi. Tidak terhitung kalinya Rian berteriak dan lari pontang-panting agar segera sampai ke tempat ibunya.
“Bu, hari ini Rian terakhir sekolah. Besok kita ke sawah bersama-sama ya! Rian takut di jalan banyak ular,” ucap Rian memulai obrolan.
“Ular … ular … itu saja yang kamu bahas!” protes ibunya geram.
Semenjak melihat ular besar di dapur rumahnya, Rian sering bermimpi tidur bersama ular tersebut. Betapa takutnya Rian selalu dihantui ular.
Malam ini dia tidur dan terbangun melihat ular besar itu di sampingnya, mimpinya menjadi kenyataan.
“Ular … ular … tolong!” jerit Rian ketakutan.
Begitu ibu bapaknya datang membawa parang dan tentu saja ular besar itu tidak ada.
“Mana ular? Kamu jangan mengada-ada tengah malam begini, Rian!” sergah bapak Rian.
“Tadi di sini, Pak.” Rian menunjuk bibir ranjangnya.
“Bapak pusing dengan kamu, Rian! Selalu berhalusinasi, mengganggu tidur bapak saja,” gerutu bapak Rian semakin menjadi.
***
“Tunggu! Gelang kamu jatuh, Nona,” tegur Rian pada gadis cantik yang berjalan lemah gemulai di depannya.
“Oh … iya … terima kasih, Tuan.” Gadis itu menganggukkan kepala.
Dengan sigap Rian mengambilkan gelangnya dan memberikan kepada gadis cantik itu. Rian yang terpesona dan tidak ingin selesai begitu saja, ia langsung bertanya.
“Nama kamu siapa, Nona? Kamu tinggal di mana?” celetuk Rian yang ingin kenal dengan gadis cantik itu.
“Nama saya Putri, Tuan. Saya tinggal dekat dengan gunung,” jawabnya lembut.
“Lumayan jauh, ini sudah mau Magrib. Boleh aku antar kamu pulang? Tidak baik juga gadis berjalan sendiri ke tempat sepi dan hutan seperti itu,” bujuk Rian agar bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama Putri.
“Baiklah, Tuan. Ayo ….” Putri melangkahkan kakinya.
Di tengah perjalanan menuju arah gunung Rian merinding ketakutan, berbanding terbalik dengan Putri yang tampak biasa saja.
“Apa kamu tidak takut melewati hutan seperti ini sendirian, Putri? celetuk Rian mencairkan suasana hening.
“Tidak, Tuan. Saya sudah biasa,” jawab Putri singkat.
“Apa, Tuan takut?” tanya Putri menggoda Rian yang tampak ketakutan.
“Ahh … tidak mungkin! Aku tidak takut, Putri, apalagi bersamamu.” Rian mengalihkan pandangannya karena malu, ini pertama kalinya dia merayu wanita.
Mereka berdua saling tersenyum bahagia. Meskipun, Rian sebenarnya ketakutan.
“Sudah, Tuan. Sampai di sini saja!” Putri menghentikan langkahnya.
“Mana rumahmu, Putri? Di sini belum ada rumah,” jawab Rian merasa heran.
“Sudah dekat kok, Tuan. Tuan, sampai di sini saja! Biar saya yang melanjutkan perjalanan pulang,” ucap Putri menegaskan.
“Pulanglah, Tuan!” sahutnya sekali lagi.
“Baiklah, jika kamu mau aku temani sampai di sini saja. Aku pulang dulu ya!” pamit Rian.
Rian merasa heran tidak ada rumah di tengah hutan. Kenapa Putri mengatakan dia tinggal di situ? Rian mencoba bersembunyi dan melihat ke arah Putri, dia menyaksikan Putri berubah menjadi ular besar yang selalu menghantuinya. Rian bergegas pulang dengan rasa takut.
“Bagaimana mungkin wanita secantik Putri itu adalah jelmaan ular? Apa dia siluman? Apa ini nyata? Dia ular yang aku lihat di dapur waktu itu, dia yang selalu hadir dalam mimpiku. Ada apa ini?” Rian bergumam di bibir ranjangnya.
Mereka sering bertemu di taman tempat mereka bertemu pertama kalinya dan seringkali bergurau. Putri memiliki paras yang cantik, berhati baik dan elok ditambah senyumannya yang manis membuat Rian mabuk kepayang.
Rian selalu berpura-pura tidak mengetahui apapun tentang Putri. Padahal, dia selalu mencari tahu bahwa sebenarnya Putri adalah jelmaan siluman ular dan benar saja Rian telah jatuh hati pada Putri. Meskipun, perasaan tersebut ditepis oleh logikanya. Akan tetapi, hatinya tidak bisa berbohong dia mencintai Putri.
Malam ini dia bermimpi tidur dengan ular besar itu lagi. Namun, kali ini dia tidak merasakan takut. Entah karena sering bertemu atau ular tersebut adalah wanita yang dicintainya, entahlah.
Putri memeluk Rian dan sudah pasti Rian juga ikut memeluk Putri. Rian merasakan kehangatan berada dalam pelukan Putri, mereka bercumbu di dalam mimpinya.
Ketika Rian meraba tubuh Putri, dengan setengah sadar Rian merasakan licin-licin bersisik seperti kulit ular, Rian terkejut dan langsung terbangun. Mimpi indahnya berakhir begitu saja! Saat membuka mata, ular besar yang selama ini ia mimpikan sedang menempel ke seluruh tubuhnya.
“Ka-kamu, Putri kan? Jangan pergi! Aku mencintaimu.” Rian memegang ular besar itu.
“Aku tahu kamu baik, kamu tidak akan menyakitiku. Aku mencintaimu, Putri!” Rian melanjutkan ucapannya.
Seketika ular besar itu berubah menjadi gadis cantik jelita dan benar saja dia adalah Putri, dia terlihat sangat cantik ditambah kilauan mahkota di kepalanya.
“I-iya, Tuan. Saya Putri! Tuan tahu dari mana kalau saya adalah ular?” jawab Putri gugup.
“Aku mencintaimu, Putri, aku mau menerima kamu apa adanya!” Rian meyakinkan Putri.
“Terima kasih, Tuan. Sebenarnya saya adalah manusia biasa yang dikutuk menjadi ular. Ketika ibu hamil saya, ayah saya sering membunuh ular. Tidak terhitung banyaknya ular yang dibunuh oleh ayah saya dan saya yang menanggung akibatnya,” ungkap Putri terisak menahan tangis.
“Katakan padaku, apa yang bisa aku lakukan untuk melepaskan kutukan itu dari dalam dirimu, Putri?” tegas Rian.
“Kutukan itu bisa hilang jika ada laki-laki yang tulus dan mau menikahi saya, Tuan,” ucap Putri penuh harap.
“Aku yang akan menikahimu, Putri. Aku mencintaimu! Maukah kamu menikah denganku?” Rian memegang tangan Putri dan menatap bola matanya dengan serius.
“Ma-mau, Tuan. Saya juga mencintaimu, Tuan!” Putri tersenyum bahagia.
Mendengar cerita dari Rian, orang tuanya pun ikut bahagia dan merestui hubungannya dengan Putri. Bagaimana tidak, anak lelaki satu-satunya yang mereka miliki sangat takut pada ular dan sekarang akan menikahi wanita jelmaan ular. Menurut mereka, Putri lah yang membuat anaknya tidak lagi menakuti ular.
“Rian akan menikahi kamu, Putri. Sebentar lagi kamu menjadi menantu ibu, kita tinggal di rumah ini bersama-sama.” Ibu Rian memeluk Putri.
“Iya, Ibu … terima kasih,” ucap Putri dalam pelukan ibu Rian.
“Ibu akan punya teman baru, Putri.” Ibu Rian tersenyum semakin mengeratkan pelukannya. Ia merasa mendapatkan sahabat sekaligus anak perempuan.
“Iya, Bu. Terima kasih sudah menyayangi Putri,” jawabnya bahagia.
“Kedua orang tua kamu masih ada, Put?” tanya ibu Rian.
“Tidak, Bu. Ibu Putri meninggal ketika melahirkan Putri, sedangkan bapak meninggal saat Putri berusia tiga tahun. Bapak sakit jantung, Bu, semenjak Putri lahir menjadi ular,” ucap Putri menjelaskan.
“Kalau begitu tidak perlu wali untuk pernikahan kamu, Put! Kita bisa laksanakan secepatnya pernikahan kalian,” jawab ibu Rian bersemangat.
Akhirnya, mereka menikah dengan acara yang sederhana dan menjadi pasangan yang sangat bahagia.
Rian tidak lagi menakuti ular karena dia yang menyimpan mustika ular milik istrinya. Tidak ada satu pun ular yang berani mengganggu Rian, bahkan sebaliknya ular lah yang melindungi dia saat bepergian.
Dua bulan setelah menikah Putri hamil, Rian sangat menjaga kandungan istrinya terutama yang selalu ia ingat adalah tidak boleh membunuh ular. Dia tidak ingin anaknya bernasib sama seperti istrinya.
Sembilan bulan kemudian, Putri melahirkan seorang bayi laki-laki. Kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan adanya bayi mungil yang hadir ditengah-tengah kehidupan mereka.