Hapus Luka Masalalu

Pandangan pertama

Adi Sanjaya, anak dari seorang pengusaha terkenal di kota tempat di mana dia tinggal. Pria dewasa berusia tiga puluh enam tahun belum menikah. 

  Adi tidak pernah memiliki teman wanita, tepatnya dia sangat takut memiliki teman wanita, apalagi sampai berhubungan dekat. Semua karena kejadian yang menimpa papanya, dia takut akan terulang lagi kepada dirinya.

Bagaimana dia tidak trauma, Adi masih berusia lima tahun kala itu. Mamanya selalu bawa selingkuhannya pulang ke rumah, di saat papanya pergi ke kantor.

Suatu hari ketika mamanya yang bernama Dian, sedang berada di rumah bersama selingkuhnya. Papanya yang bernama Sanjaya pulang. 

Sejak kejadian itu orang tuanya selalu bertengkar, akhirnya kedua orang tuanya memilih untuk berpisah dengan alasan tidak cocok. 

Setelah orangtuanya berpisah, Adi memilih ikut bersama Sanjaya, papanya. Dia sangat membenci Dian, mamanya. Wanita itu telah menorehkan luka di hatinya dan juga papanya. 

Semenjak orangtuanya berpisah, Adi tidak pernah berniat mengenal seorang wanita, hingga dia dewasa. Adi tidak memiliki teman dekat yang berjenis kelamin wanita.

Sosok Adi sangatlah sempurna, dia sangat dikagumi oleh para wanita, wajah yang sangat mempesona, dan kekayaan yang dimilikinya. Namun, Adi tidak tertarik dengan wanita.

Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, dia selalu menolaknya dan bahkan sering berkata kasar kepada wanita yang selalu berusaha mendekatinya.

Sanjaya papanya sudah berulang kali meminta Adi untuk menikah,

Sanjaya sadar usianya terus bertambah tua, dan dia tidak akan selamanya bersama putranya. Apalagi dia juga ingin memiliki keturunan sebagai penerusnya. 

“Adi, menikahlah! Carilah wanita yang cocok menurut kamu. Usia kamu sudah tidak muda lagi,” pinta Sanjaya kepada putranya.

“Nanti, Pa,” jawab Adi dengan nada suara yang datar.

Adi tidak menghiraukan permintaan Sanjaya dia selalu mengalihkan topik pembicaraan, hal ini membuat Sanjaya sangat sedih melihatnya. 

“Gimana dengan rencana, Papa. Apa sudah di survei lokasinya?” tanya Adi.

Sanjaya mendengar pertanyaan Adi, dia langsung teringat dengan rencananya ingin membuat penginapan di desa, agar memudahkan para wisatawan untuk menginap. 

Desa yang dipilih Sanjaya adalah daerah pegunungan, tempat di mana orang yang hobi mendaki gunung datang. Pemandangan alamnya yang sangat indah, membuat Sanjaya berpikir untuk membangun sebuah penginapan di sana.

“Kebetulan kamu ingatkan Papa, Di. Kapan kita ke sana? Apa kamu sendiri yang ke sana! Papa percayakan semua sama kamu,” tawar Sanjaya kepada putranya. 

“Boleh, Pa. Adi akan berangkat besok pagi, bagaimana?” tanya Adi meminta persetujuan Sanjaya.

“Boleh,” sahut Sanjaya yang langsung menyetujuinya.

Adi tersenyum setelah mendapat ijin dari papanya, besok paginya Adi berangkat menuju desa yang diinginkan papanya.

 Perjalanan sangat melelahkan, dia membutuhkan waktu satu hari untuk menempuhnya, Adi yang tengah menyetir mobilnya, tersenyum dalam hati. 

Dia teringat pesan papanya, saat dia berpamitan untuk berangkat. Pesan yang seringkali diucapkan Sanjaya untuknya.

“Hati-hati di jalan, jangan lupa bawa mantu untuk Papa!” teriak Sanjaya saat melepas kepergian putranya.

Adi tidak menanggapi teriakan papanya, dia sudah terbiasa dengan semua itu. Sehingga, dia selalu mengabaikan permintaan papanya, dia merasa sudah nyaman dengan kesendiriannya.

“Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga, lumayan melelahkan,” ucap Adi.

Adi merasa lega, setelah sepuluh jam menempuh perjalanan, akhirnya dia sampai di tempat yang dituju. 

Dia segera keluar dari mobilnya sambil menghirup udara segar dan Adi segera masuk ke dalam sebuah penginapan, dia telah memesan kamar sebelum dia berangkat.

 Setelah meletakkan koper bawaannya ke dalam kamar yang telah dipesannya, Adi berniat mencari makanan dan menikmati suasana malam di desa itu.

Setelah selesai makan Adi segera kembali ke kamar, Adi membatalkan niatnya untuk menikmati suasana malam di Desa, dia merasa kelelahan, akhirnya dia memilih untuk beristirahat.

Besok harinya Adi segera memeriksa lokasi pembangunan penginapan, dia ingin secepatnya memenuhi keinginan Sanjaya, Mendirikan sebuah penginapan di Desa tersebut.

Di perjalanan menuju ke lokasi pembangunan penginapan, Adi melihat seorang wanita terbaring lemah di pinggir jalan.

 Dia menduga wanita itu mungkin saja adalah korban tabrak lari, Adi segera memarkirkan mobilnya ke tepi jalan.

Dia keluar dari mobil dan menghampiri wanita itu, dia berniat membantunya untuk membawanya ke rumah sakit.

“Tolong!” teriak wanita itu dengan nada suara yang lirih.

“Maaf ya. Mbak,” ucap Adi. 

Dia segera mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, lalu mendudukkannya di kursi penumpang. 

“Sabar, ya. Saya akan membawa kamu ke rumah sakit,” ucap Adi.

Dia menutup pintu mobil, Lalu berjalan memutari mobil dan duduk di kursi di depan kemudi mobilnya dan dia segera menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. 

Adi sebenarnya bukanlah orang yang perduli dengan lingkungan disekitarnya, Apalagi dengan namanya perempuan. 

Tetapi saat melihat ada seorang wanita yang terbaring lemah di pinggir jalan, tanpa pikir panjang dia segera menolongnya.

Adi segera keluar dari mobilnya begitu sampai di depan ruang IGD rumah sakit, dia berteriak meminta bantuan. Dia sangat khawatir saat melihat wajah wanita yang dibawanya wajahnya terlihat sangat pucat.

“Pak, tolong bantu saya,” ucapnya kepada satpam yang berjaga di depan ruang IGD.

Satpam segera masuk ke dalam ruang IGD, tidak berapa lama dua perawat pria datang sambil membawa ranjang pasien, mereka segera mengangkat tubuh wanita itu ke atas ranjang dan membawanya masuk ke dalam ruang IGD.

Wanita itu langsung mendapat pertolongan, Adi tetap menemani wanita itu. Dia tidak bisa meninggalkannya seorang diri, apalagi dia belum tahu bagaimana kondisinya.

 Dia merasa kasihan melihatnya,

Adi segera menanyakan kondisi wanita itu, setelah melihat dokter yang menanganinya telah selesai melakukan pemeriksaan. 

“Dok, bagaimana kondisinya?” tanya Adi.

“Alhamdulillah, baik. Kondisinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. 

Pasien hanya sekedar syok.” Dokter menjelaskan apa yang terjadi dengan wanita yang ditolong Adi.

“Alhamdulillah. Baik, Dok. Terimakasih banyak,” jawab Adi dengan perasaan yang lega.

Dokter menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Adi. Sedangkan, Adi masih berdiri di dekat ranjang pasien. Dia tidak tega meninggalkannya, apalagi saat melihat kondisi wanita itu yang masih lemah.

Adi masih berdiri menunggu sampai wanita yang ditolongnya itu bisa ditanyainya. Dia tidak tahu, harus menghubungi siapa untuk mengabarkan kondisi wanita itu, tentu saja dia harus menanyakan kepadanya.

“Gimana, apa sudah mendingan?” tanya Adi.

“Alhamdulillah, sudah lebih baik. Terimakasih sudah mau membantu saya, kalau tidak ada Abang saya belum tentu tertolong,” jawab wanita itu.

“Alhamdulillah. Kamu bisa menghubungi keluarga kamu ‘kan. Saya permisi dulu,” pamit Adi.

Adi berniat meninggalkan wanita yang ditolongnya, dia memutuskan untuk pergi, setelah yakin kalau kondisi wanita yang ditolongnya telah baik-baik saja. Namun, langkahnya ditahan oleh wanita itu.

“Tunggu, Bang! Kalau boleh tahu, siapa nama Abang dan dari mana? Saya tidak pernah melihat Abang berada di Desa ini,” tanya wanita itu.

Adi tidak menanggapi pertanyaan wanita itu, dia memilih berjalan keluar dan meninggalkannya, belum lagi jauh dia meninggalkan wanita yang ditolongnya.

“Kenalkan nama saya Andini. Nama Abang siapa?” tanya Andini setengah berteriak. 

Mendengar Andini menyebutkan namanya. Adi berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, tanpa mengeluarkan suaranya. Setelah itu dia kembali berjalan keluar meninggalkan Andini begitu saja.

Beberapa hari kemudian Andini sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tanpa disengaja Adi bertemu kembali dengan Andini. Wanita itu sedang mengajar anak-anak desa.

Andini terlihat begitu telaten mengajari anak-anak. Sehingga, anak-anak terlihat bersemangat untuk menuntut ilmu. Tanpa disadari oleh Andini, Ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.

Adi berdiri di samping sebatang pohon yang rindang, dia tersenyum tanpa disadarinya setiap melihat Andini yang mengajar. Setiap hari, Adi selalu mengikuti dan memperhatikannya.

Adi ingin mengenal Andini lebih dekat, semua karena kelembutan hati Andini membuatnya mulai merubah jalan pikirannya, wanita tidak semuanya bersifat buruk seperti mamanya. 

Adi menemukan Andini, gadis yang berhati baik dan lembut, dia selama ini menganggap semua wanita sama saja seperti mamanya, kini Adi mulai merubah anggapannya. 

Setelah selesai mengajar dan anak didiknya telah pulang, Andini juga bersiap akan pulang ke rumahnya. Namun, langkahnya dihalangi oleh Adi. 

“Tunggu, bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan,” ucap Adi yang menghentikan langkah Andini.

“Boleh, memang mau bicara tentang apa?” tanya Andini dengan ramah.

“Kamu sudah lama mengajari anak-anak sendiri?” Adi mulai bertanya untuk membuka topik pembicaraannya dengan Andini.

“Iya saya sudah lama mengajari mereka sendiri, saya kasihan melihat mereka tidak belajar. Anak seusia mereka sangat butuh ilmu untuk masa depan mereka,” ungkap Andini menjelaskan.

“Saya sangat kagum melihat sikapmu yang mau mengajari mereka tanpa pamrih,” puji Adi. 

“Terimakasih, Bang, atas pujiannya. Saya permisi pulang dulu,” pamit Andini. 

Gadis itu meninggalkan Adi yang masih berdiri di depannya, Adi tersenyum sambil menatap punggung Andini yang sudah menjauh meninggalkannya. 

Semenjak mengenal Andini, sifat Adi sudah mulai berubah. Adi berusaha mendekati Andini.

 Ternyata Andini sangat sulit didekati, dia gadis desa yang sangat menjaga kehormatannya. Berbeda dengan gadis kota, mereka mau menyerahkan segalanya. Asalkan pria yang didekatinya mau bersamanya.

Adi menyesal karena waktu di rumah sakit, dia tidak mau menyebutkan Namanya. Kini dia berusaha mencari cara, agar Andini mau dijadikan kekasihnya. Meski gadis itu sangat sulit untuk mendekati.

Adi menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengungkapkan perasaannya kepada Andini. meskipun, Adi merasa akan ditolak oleh gadis itu. Adi merasa dia bukanlah tipe pria yang diinginkan oleh Andini. 

Karena Andini selalu menolak jika diajak bicara berdua olehnya. Namun, Adi tidak putus asa. Dia akan terus berusaha mendapatkan gadis cantik dan berhati lembut itu, walau dia tidak tahu, kapan bisa mendapatkannya.

Adi selalu mencari cara, untuk mendapatkan Andini. disaat Andini mengajar, dia datang membawa banyak buku untuk dibagikan kepada anak didik Andini. Tentu saja anak-anak tersenyum Bahagia, saat melihat Adi yang bawa buku baru untuk mereka.

“Terimakasih sudah mau membantu anak-anak, Bang. Memang anak-anak saat ini sangat membutuh buku,” ucap Andini, saat menerima buku yang diberikan oleh Adi. 

Andini mengajak Adi duduk di bangku kayu di samping aula tempat dia mengajar.

“Andini ada yang mau saya sampaikan, tapi kamu jangan marah ya,” ucap Adi dengan nada suara yang serius. Dia merasa, inilah saatnya dia mengungkapkan keinginannya kepada gadis di sampingnya ini.

“Mau bilang apa, Bang?” tanya Andini ramah.

“Apa boleh saya mengenal kamu lebih dekat lagi? Saya menyukai kamu, semenjak awal kita bertemu,” ucap Adi.

Adi berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya, dia takut kalau tidak segera menyatakan perasaannya, Andini akan menjadi milik orang.

Andini tidak menanggapi ucapan Adi, dia meninggalkan Adi begitu saja, dan kembali ke tempat mengajar. Adi tidak putus asa, dia mulai sering mengirim hadiah-hadiah dan memberi perhatian lebih kepada Andini.

Perlahan Andini menyukai Adi setelah Adi menyatakan cinta yang entah keberapa kalinya, barulah cintanya bersambut. Andini ternyata tidak mau diajak pacaran. Dia ingin langsung menikah, pacarannya saat sudah menikah saja. 

“Cuma itu yang Andini minta, Bang.” Andini mengungkapkan apa dia inginkan.

“Baik, Abang akan segera menikahi kamu,” sahut Adi dengan sangat Bahagia saat mendengar jawaban dari Andini.  

“Memang usaha tidak menghianati hasil,” gumam Adi dengan perasaan lega.

Kini Adi telah mampu menghap

us luka masa lalunya, luka akibat trauma karena pengkhianatan yang dilakukan mamanya terhadap papanya. Dia yakin, Andini adalah wanita terbaik yang dikirim Allah untuknya.

error: Content is protected !!