Ten Thousand of Love

Parfume?

“Ayang, nanti pulang ngantor kamu jadi ‘kan jemput aku?”

 

Suara manja darimu terdengar seperti rengekan. Entah berapa kali kekasihmu, Kian, seringkali ingkar janji untuk menemuimu. Kamu terus berpikir, kira-kira apa alasan lelaki itu terus menghindarimu beberapa minggu ke belakang? Apakah kali ini akan berhasil?

 

“Ayang, sebenarnya aku ada dinas ke China lusa. Ada beberapa berkas yang harus aku selesaikan sebelum berangkat. Aku-“

 

“Ya sudahlah, tidak perlu!”

 

Kamu benar-benar marah hingga mengibaskan rambut panjangmu dengan kasar. Terasa napasmu tidak teratur, bahkan pikiranmu jauh lebih kacau daripada biasanya. Ya, pacarmu itu membuatmu marah!

 

“Sayang, aku kerja juga demi kita berdua. Sudah beberapa kali aku bilang, kita harus menabung untuk membeli rumah serta untuk pernikahan Disney yang kamu mau itu! Kamu pikir aku bisa mewujudkan semua itu dengan diam saja? Coba kamu pikir-“

 

Kamu mematikan sambungan telefon dengan kasar sebelum Kian beres mengungkapkan opininya. Bahkan, ponsel yang tengah kamu pegang itu mendarat keras di atas meja kantormu saking kesalnya. Kamu menelungkup dengan dada sesak, berpikir apakah kamu egois karena meminta pacarmu sendiri bertemu setelah dua minggu tidak berjumpa?

 

Ponselmu bergetar. Tanda sebuah pesan masuk dan kedua bola matamu naik turun untuk membacanya.

 

Kian: [Sayang, lain kali ya? Aku janji sepulang dari China kita bertemu. Aku harap kamu tidak bersikap seperti anak kecil. Aku mencintaimu. Nanti kutelefon ya sayang.]

 

Kamu enggan membaca ataupun membalas pesan tersebut hingga mengabaikannya. Terasa pinggangmu benar-benar kaku karena bekerja sepanjang hari di depan komputer. Satu-satunya yang kamu inginkan hanyalah bahu Kian, akan tetapi lelaki itu tidak akan menjumpaimu dan memelukmu agar kamu tenang.

 

“Hei, kamu tidak pulang? Pacarmu tidak menjemput?” tanya Alya, teman sekantormu yang berada di depan mejamu.

 

“Tidak. Kian sibuk, dia akan berangkat ke China lusa sehingga banyak persiapan yang harus ia lakukan.” jawabmu dengan sedikit sedih.

 

Alya tampak membaca situasi wajahmu. Ia menghela napas kemudian tersenyum memandangimu dengan tatapan lembut.

 

“Aku akan belanja parfum sepulang kantor. Kebetulan pacarku juga tidak menjemput, bagaimana kalau kita pergi bersama?” tanya Alya sambil memandangmu penuh kehangatan.

 

Kamu melirik wajah Alya yang berbinar-binar. Kamu pun mengiyakan ajakan tersebut karena tidak memiliki rencana apapun sepulang bekerja.

 

“Baiklah, sepertinya berbelanja akan mengobati rasa kesalku sedikit.” ujarmu sambil merapikan meja. “Tunggu, sebentar aku akan mematikan komputer.”

 

Kamu enggan berlama-lama lagi di kantor. Tangan kananmu bergegas meraih tas selempang hadiah dari Kian hingga talinya mendarat di bahumu dengan lembut. Suara sepatumu yang tinggi terdengar merdu, beradu dengan langkah kaki Alya yang tengah mengiringimu. Selama ini, kamu dikenal sebagai salah satu karyawati paling cantik di kantor tempat kamu bekerja. Di tambah pesona Alya yang juga tak kalah cantik, membuat langkah kaki kalian menjadi pusat perhatian semua orang saat keluar dari kantor.

 

“Aku membawa mobil hari ini. Jadi, naik mobilku saja ya?” ujar Alya.

 

Kamu mengangguk. Tentu saja, kamu berpikir dengan tidak membawa mobil hari itu akan membuat Kian iba dan menjemputmu sepulang bekerja. Namun, semua terasa menyebalkan bahkan sebelum kamu mengutarakan pada Kian bila kamu tidak membawa mobil pada hari itu karena berharap Kian menjemput. Untung saja Alya mengajakmu pergi, jika tidak kamu akan uring-uringan karena harus naik taksi online dalam keadaan ingin sekali bertemu Kian!

 

“Sabar ya, mungkin Kian sedang mempersiapkan banyak hal untuk pernikahan kalian. Bulan apa jadinya pernikahan kalian?” tanya Alya di tengah-tengah perjalanan.

 

“Rencananya sih Desember, masih sekitar enam bulan lagi setelah lamaran kemarin. Memang, jika mau menikah calon pria cenderung menghindar ya? Atau memang ada wanita lain?” Kamu mulai menebak-nebak situasi dengan pikiran negatif.

 

“Hey, enggak seperti itu. Bisa jadi Kian memang betul-betul sibuk seperti Albert. Kamu tahu sendiri, pacar kita benar-benar workaholic. Kita harus benar-benar sabar menghadapi pria yang menyelingkuhi hubungan asmara pada pekerjaan.” terang Alya sambil terkekeh. “Nanti juga setelah menikah, kita akan bosan melihat mukanya setiap hari ada di rumah.”

 

Kamu sedikit terhibur dengan penuturan Alya. Benar, kamu tidak seharusnya overthinking berhadapan dengan situasi demikian. Kekasihmu bukan pengangguran, melainkan CEO dari perusahaan yang tengah dirintisnya saat ini. Jika bukan kamu yang mendukung, maka siapa lagi?

 

***

 

Kamu dan Alya mengunjungi counter di mana parfum-parfum branded dijual. Sebenarnya kamu tidak ingin membeli apapun, terakhir kali Kian sudah membelikan beberapa parfum dengan harga fantastis saat ia pulang dari Perancis sehingga kamu merasa tidak membutuhkan parfum lagi.

 

Alya tengah sibuk memilah-milah parfum bersama pramuniaga, sehingga kamu memutuskan untuk melihat-lihat parfum yang belum pernah kamu lihat di sana. Namun, saat kamu tertarik pada satu buah parfum, ada seorang pria dengan aroma maskulin berdiri tepat di sebelahmu. Entah mengapa kamu menoleh, mungkin refleks saat ada seseorang tepat berada di dekatmu.

 

“Ah ini keluaran terbaru, ya?”

 

Suara lelaki itu lembut dan terasa manis seperti sepotong kue keju dengan arbei di atasnya. Sepasang matamu mulai menangkap visual pria di sampingmu itu dengan teliti. Ya, rambutnya hitam legam dengan potongan sedikit cepak yang membuatnya terlihat segar. Bibirnya tipis kemerahan, hidungnya mancung sekali jika dilihat dari samping. Tubuhnya tidak terlalu kurus, juga tidak terlalu tinggi. Ia bisa kamu kategorikan pria yang cantik sekaligus tampan dalam satu wajah saja.

 

“Maaf apa aku mengganggumu?”

 

Kamu terkejut karena pria itu mulai menangkap sorot matamu begitu saja. Mungkin karena kamu diam memperhatikannya, ia menjadi tidak enak dipandangi seperti itu.

 

“Ah tidak, maaf!” ujarmu cepat. “Aku hanya sedang melihat-lihat, silakan diteruskan.”

 

Lelaki itu tersenyum dan kamu bisa melihat betapa tampan serta manisnya ia kala tersenyum. Kian adalah pria sempurna keturunan Tionghoa dengan ketampanan paripurna yang semua orang idam-idamkan dan kamu memilikinya. Namun, entah mengapa lelaki yang baru kamu temui itu telah mengusik sedikit relung jiwamu begitu saja.

 

“Jika tidak keberatan, aku ingin kamu membantuku memilih parfum. Menurutmu, karakter apa yang cocok untukku? Dengan Bergammot? Atau aroma floral seperti ini?”

 

Kamu mulai salah tingkah saat lelaki itu menunjukkan dua buah parfum yang telah ia semprot di kertas khusus. Kamu mulai mengendus aroma parfum tersebut dan bayangan tentang wajahnya berkelebat meskipun ia di hadapanmu saat mencium salah satu kertas.

 

“Bergammot cocok untukmu, ada sentuhan woody serta coconut. Sepertinya cocok untuk kepribadianmu yang menonjol sekaligus lembut.” ujarmu dengan senyuman.

 

Lelaki itu mengangguk setuju dan meminta pelayan untuk segera membungkusnya. Ia menghela napas, mengulurkan tangannya di hadapanmu dengan tatapan yang teduh. Aroma parfum yang baru kamu hirup tadi, bercampur dengan pesona lelaki manis itu hingga tidak terlupakan.

 

“Namaku Tennie, kamu?” tanya lelaki itu.

 

Kamu menjabat tangan Tennie dan mengucapkan nama panggilanmu dengan perasaan bingung. Entah mengapa jantungmu berdebar sangat kencang saat kulit kalian saling bersentuhan.

 

“Nama yang cantik. Secantik orangnya.” puji Tennie sambil mengeluarkan kartu debitnya. “Karena kamu sudah membantuku, apa kamu mau kubelikan parfum?”

 

Kamu mengerjapkan mata hingga lelaki itu mengajakmu ke sebuah rak berisi parfum-parfum wanita yang beraneka ragam. Tennie mengambil sebuah parfum kemudian menyemprotkannya.

 

“Vanilla dengan aroma bunga. Seksi sekaligus manis, aku rasa ini cocok untukmu. Bagaimana jika aku membelinya sebagai imbalan?”

 

Tennie tidak menunggu persetujuanmu. Ia membayar parfum tersebut dan kamu hanya memperhatikan semua itu dengan perasaan bingung. Bagaimana mungkin kamu diberi sesuatu oleh orang yang asing dan baru saja kamu kenal?

 

“Kamu tidak perlu takut. Aku hanya satu tahun di Indonesia. Aku tidak punya banyak teman di sini, semoga kamu mau menjadi temanku.”

error: Content is protected !!