Kenangan Dega

Penantian Panjang

Hari ini Dega kembali termenung di sudut sekolah SMP Bangsa, tempatnya dulu menimba ilmu. Setiap kali Dega libur kerja, dia akan menghabiskan waktu di sekolah itu.

Tidak hanya mengenang masa lalu saat dia menuntut ilmu di sana. Lebih tepatnya Dega mengingat kembali seorang temannya. Teman yang bisa mengambil hatinya lalu membawa pergi jauh dan sampai sekarang tidak kembali.

Denada Rahayu nama gadis tersebut. Dia anak yang populer di sekolah. Selain memiliki paras yang ayu, Dena panggilannya, juga terkenal karena kepintarannya. Dia pun menjadi primadona di kalangan teman laki-lakinya. Dena juga sangat supel hingga mudah bergaul dengan orang.

Dega mengenal Dena sejak tahun ajaran baru SD. Keluarga Dena merupakan tetangga baru Dega saat itu. Rumah mereka bersebelahan.

Dega kecil selalu minder karena kekurangan yang dia miliki. Saat itu bisa dibilang dia tidak memiliki teman. Banyak teman sepermainannya yang selalu mengolok-oloknya.

Dega memiliki bekas luka di wajah. Tepatnya di pelipis sampai pipi sebelah kiri. Luka itu disebabkan karena kecelakaan yang menimpa seluruh keluarganya dua tahun yang lalu.

Karena sifat Dena yang ramah pada siapapun, dia bisa mendekati Dega untuk berteman. Awalnya Dega selalu menghindar jika Dena bermain ke rumahnya. Lama kelamaan dia bisa menerima kawan barunya itu.

Mulai dari SD sampai SMP, Dega dan Dena selalu satu sekolah. Mereka sudah seperti saudara karena keduanya sama-sama anak tunggal. Tapi Dega menganggap Dena lebih dari saudara Dia menyukai sahabatnya itu.

Tapi Dega tidak pernah menyatakan perasaannya. Dia memendam itu sendiri. Dega takut jika dia menyatakan perasaannya itu bisa merusak persahabatan yang selama ini dia jalin.

Setelah lulus SMP, Dena pindah. Dia mengikuti orang tuanya yang dimutasi. Awal kepindahan Dena, Dega masih sering bertukar kabar. Tapi lama-kelamaan Dena seperti menghilang.

Hingga sampai saat ini Dena belum menampakkan diri. Sudah enam tahun Dega sama sekali tidak mengetahui kabar dan keberadaan teman masa kecilnya. Tapi dia masih berharap dan selalu percaya jika Dena akan kembali lagi.

*****

Sama seperti biasanya, Kara Cafe tempat Dega mengais rejeki sangat ramai. Semua kru sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Dua orang tidak masuk hari ini. Mahadi yang memang jadwalnya libur dan Gumi yang sedang sakit.

“De, tolong bantu sebentar. Kami sangat butuh bantuan,” kata Erwinda yang menghampiri Dega di kantor.

Pekerjaan sebagai manager kafe membuat dia sibuk di dalam ruangan. Dega sibuk mengurus beberapa berkas jadi tidak mengetahui kerepotan yang di alami temannya.

Dega menutup map dan mengikuti Erwinda berjalan keluar.

“Ini pesanan untuk meja nomor 5,” kata Gading sambil menyodorkan nampan yang berisi pesanan. Lalu Erwinda mengambil nampan itu.

“Ini untuk meja nomor 9,” ucap Gading lagi.

Kali ini Dega yang membawa nampan pesanan meja nomor 9.

Dega sudah terbiasa membantu melayani pembeli saat keadaan kafe ramai. Meski bekas luka di wajah sebelah kiri masih ada, dia sudah tidak minder lagi seperti dulu.

Dega sudah memiliki rasa percaya diri untuk bertemu dengan seseorang. Jika orang yang pertama kali melihat Dega, pasti mereka akan berpikir buruk. Bekas luka puluhan tahun silam masih membekas meski tidak terlalu kentara.

“Silakan,” ucapnya seraya meletakkan piring dan gelas ke atas meja. Fokus Dega pada pesanan yang dia bawa.

“Terima kasih,” ucap pelanggan meja nomor 9.

Pelanggan wanita itu juga tidak begitu memperhatikan Dega. Tatapannya fokus pada layar ponsel yang sedari tadi diotak-atik.

Dega langsung mendongak memandang pelanggan Kara Cafe. Dia merasa familiar dengan suara wanita itu.

Tanpa janjian, pelanggan itu juga mendongak setelah mengucapkan terima kasih. Wanita itu mengenakan pakaian syar’i dan cadar yang menutupi wajahnya. Hanya mata saja yang terlihat. Pelanggan wanita tersebut langsung menundukkan pandangannya saat tatapan mata mereka bertabrakan.

“Maaf, kenapa Anda memandang saya seperti itu?” tanya sang wanita dengan gugup.

Dega tersadar dari lamunannya. Dia pun menggeleng pelan. Meyakinkan diri kalau apa yang dia pikirkan itu salah.

“Maaf,” ucap Dega singkat.

Dega melangkah menjauhi wanita itu. Tapi pikirannya masih terpaku pada pelanggan itu. Dega kembali menghampiri teman-temannya. Tapi sesekali melirik wanita bercadar tersebut.

“Ada apa, De?” tanya Gading yang menyadari keanehan Dega.

“Tidak,” jawab Dega. “Aku merasa mengenal wanita di meja nomor 9,” lanjutnya.

“Kenapa tidak kamu tanya langsung?” balas Gading.

“Dia pelanggan, aku tidak enak jika menanyainya,” jawab Dega.

“Nanti saat dia pergi, kamu bisa bertanya,” kata Gading asal. Tapi, Dega menganggapnya sebuah ide.

Dega selalu memperhatikan pelanggan yang dia curigai tadi. Pelanggan tersebut juga terlihat gusar. Dia segera menghabiskan pesanannya. Saat pelanggan itu keluar dari Kara Cafe, Dega segera mengikuti.

“Maaf, Mbk,” ucapan Dega membuat wanita itu menoleh.

Melihat Dega yang memanggilnya, wanita itu lagi-lagi menundukkan kepalanya.

“Ada apa, Mas?” tanyanya sambil menunduk gelisah.

“Maafkan aku sebelumnya. Apa kita kenal? Sejak pertama bertemu tadi aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya.” ucap Dega to the points.

Wanita itu langsung menggeleng, “tidak, Mas. Kita belum pernah bertemu. Saya permisi dulu,” ucap wanita itu masih menunduk dan memutar tubuhnya membelakangi Dega.

Baru tiga langkah, sang wanita berhenti setelah mendengar Dega memanggilnya dengan sebuah nama.

“Dena.”

Wanita yang mengenakan gamis polos berwarna navy itu hanya berhenti sejenak. Setelah itu dia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.

Dega pun langsung mengejar agar tidak kehilangan jejak Dena lagi.

“Ada apa denganmu? Kenapa berlari?” tanya Dega setelah berhasil meraih tangan Dena.

“Aku harus pergi. Lepaskan tanganku,” pinta Dena.

“Tidak. Aku telah lama menantimu. Dan sekarang kamu mau pergi begitu saja?” kata Dega.

Dena tidak menjawab pertanyaan Dega. Dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dega.

“De, jangan begini. Kamu tidak malu dilihat banyak orang?” ucap Dena berharap Dega melepaskan tangannya.

“De, aku mencintaimu. Sudah sangat lama aku ingin mengatakannya, tapi aku tidak tahu dimana kamu berada selama ini,” kata Dega.

Dena langsung terdiam mendengar pernyataan cinta Dega. Dia senang, tapi juga sedih. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Dega lepaskan tanganku,” pinta Dena kembali.

“Aku akan lepaskan jika kamu mau berjanji tidak akan pergi lagi?” tawar Dega.

Dena hanya mengangguk. Dega melepas genggaman tangannya.

“Maaf aku harus pergi,” ucap Dena.

“Boleh aku meminta kontak ponselmu?” tanya Dega. ” Bukankah kamu berjanji tidak akan pergi lagi,” ucap Dega sambil mengulurkan ponselnya.

Dena mengambil ponsel itu lalu mengetikkan kontak teleponnya. Setelah itu dia menyerahkan kembali pada Dega. Pria itu menerimanya dengan senyum. Penantiannya telah berakhir. Dia terus tersenyum saat Dena pamit pergi.

*****

“Assalamualaikum,” ucap Dena saat tiba di rumah.

“Wa’alaikumussalam,” jawab sang ibu dari dalam.

Dena segera mencium punggung tangan ibunya. Dia juga menyuguhkan senyum yang manis.

“Dena ke kamar dulu ya, Ma,” kata Dena.

Bu Wati, ibunda Dena hanya mengangguk. Dia merasakan ada sesuatu dengan putrinya. Beliau membiarkan Dena beristirahat. Nanti saja beliau akan menanyakan.

“Kamu kenapa, Dek?” tanya Bu Wati pada putrinya setelah makan malam.

Dena yang awalnya diam tiba-tiba terisak. Pernyataan cinta Dega tadi membuatnya bahagia, tapi untuk saat ini dia tidak bisa melakukan apapun kecuali membalas cinta Dega dalam diam.

” Tadi adik ketemu Dega, Ma,” kata Dena tertunduk lesu.

“Dega?” Bu Wati mencoba mengingat. “Oh… Dega anaknya Pak Riyadi yang tetangga kita dulu?”

Dena pun mulai bercerita sejak awal, setelah bertahun-tahun lamanya menghindar dari teman masa kecilnya sekaligus cinta pertama Dena.

” Dega juga bilang cinta ke Dena, Ma,” ucap Dena yang terdengar sedih.

“Itukan yang dari dulu ingin kamu dengar? Kenapa sekarang sedih?” tanya Bu Wati.

“Dega pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari adik, Ma,” jawab Dena dengan mata berkaca-kaca.

Bu Wati tidak mengatakan apapun. Beliau menarik sang putri dalam pelukan. Beliau tahu jika hanya pelukan hangat ini yang bisa membuat Dena lebih tenang.

Sudah sekitar satu bulan sejak pertama bertemu kembali, Dega berhasil mengajak Dena bertemu lagi. Setiap hari mereka selalu berkirim kabar melalui telepon atau chat. Butuh waktu lama untuk menyakinkan Dena agar mau menemuinya.

Bu Wati pun ikut andil dalam menyakinkan putrinya untuk menemui Dega. Bu Wati ingin Dena bahagia. Dia ingin Dena kembali seperti dulu, putrinya yang selalu ceria.

Beliau percaya kalau Dega bisa membuat Dena bahagia kembali. Karena selama ini sang ibu tahu tentang perasaan sang putri pada Dega.

” Assalamualaikum,” ucap Dena pada Dega yang terduduk di salah satu sudut SMP Bangsa. Dega memang mengajak wanita pujaannya bertemu di sekolah lama mereka.

Dega langsung menoleh kebelakang, menghadap Dena.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Dega dengan senyum manisnya.

” Maaf aku terlambat. Tadi habis mengantarkan pesanan,” kata Dena yang terus tertunduk.

“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa menunggumu di sini. Dan sekarang kamu benar-benar datang,” kata Dega merasa senang.

Dega menggeser duduknya, memberikan tempat bagi Dena. Wanita itu segera mendekat dan duduk disamping Dega. Tapi mereka duduk saling memunggungi.

Mereka terdiam. Terdengar suara murid-murid yang sedang berolahraga. Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu.

“De, aku mohon kamu jangan menghindar dariku terus,” kata Dega membuka suara. “Aku ingin kita seperti dulu lagi,” ucap Dega tanpa memandang wajah Dena.

Dena tak bersuara. Dia memalingkan muka berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Aku memang bukan orang yang sempurna, tapi aku berjanji akan berusaha membuatmu selalu bahagia,” lanjut Dega.

“Maaf, De. Sebaiknya kamu mencari wanita lain yang lebih baik dariku,” ucap Dena dengan datar mencoba tegar.

“Beri aku alasan yang jelas? Kamu sudah memiliki kekasih?” tanya Dega sambil memalingkan wajah memandang Dena di sampingnya.

Dena hanya menggeleng pelan. Sesekali dia mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak terjatuh.

Dega pun tidak melanjutkan perkataannya. Dia memilih diam agar Dena tidak merasa tertekan. Dia tahu Dena sedang tidak baik-baik saja.

*****

Minggu berikutnya saat Dega libur kerja, dia pergi ke rumah Dena. Seminggu sebelumnya, Dega sudah berusaha mencari informasi tentang alamat rumah Dena.

Dega terdiam sejenak di depan rumah sederhana yang kata orang sekitar itu rumah Dena. Semua sungguh berbeda tidak seperti dulu.

Dena kecil dulu adalah anak orang berada. Ekonomi keluarga Dega jauh dibawah dibandingkan dengan keluarga Dena. Tapi apa yang terjadi selama ini.

“Dega?” tanya Bu Wati yang membuka pintu. Setelah terdiam beberapa detik, Dega pun mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.

“Ibu masih ingat saya?” tanya Dega sambil mencium tangan orang tua Dena.

Bu Wati tersenyum sambil mengangguk untuk menjawab pertanyaan Dega. Beliau juga mempersilakan sang tamu untuk masuk.

Setelah Dega duduk, Bu Wati pamit ke belakang sebentar, katanya untuk mematikan kompor karena beliau sedang memasak.

“Terima kasih, Bu. Maaf kalau membuat repot,” kata Dega karena Bu Wati kembali dengan membawa segelas teh manis.

Bu Wati pun duduk lalu menanyakan keadaan orang tua Dega. Setelah berbincang santai cukup lama, Dega pun menanyakan keberadaan Dena karena sedari tadi tidak keluar.

“Dena pergi mengantar barang. Sekarang kerjanya jualan online,” jawab Bu Wati.

Dega pun memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya-tanya lebih lanjut tentang Dena. Tidak hanya itu, dia juga bertanya tentang apa yang terjadi beberapa tahun ini.

Dengan wajah sendu, Bu Wati menceritakan semuanya. Beliau dan suami sudah bercerai karena kehadiran orang ketiga. Dena pun memilih untuk ikut dengan ibunya.

“Dena sekarang memang berubah jauh setelah wajahnya rusak terkena air keras,” ucap Bu Wati memilih jujur. Bukan maksudnya menjelekkan sang putri, tapi beliau ingin melihat keseriusan Dega terhadap putrinya.

Dega terkejut mendengar itu. Dia pun paham kenapa sekarang Dena menutup wajahnya dengan sadar.

“Kepercayaan dirinya benar-benar hilang sejak kejadian itu …,” Bu Wati pun kembali bercerita.

Ayah Dena ketahuan selingkuh. Saat itu Dena kelas 3 SMA. Selingkuhan sang ayah merupakan teman seangkatan Dena.

Karena tidak terima, Dena melabrak gadis itu dan membuatnya malu di depan umum. Karena dendam, selingkuhan ayahnya pun menyuruh orang untuk mencelakakan Dena dengan cara menyiram air keras.

Dega seakan tak percaya dengan cerita itu. Dia mengira jika selama ini kehidupan Dena sudah sangat baik hingga Dena melupakannya yang buruk rupa.

Dia ingat saat Dena dulu memberinya semangat. Meyakinkan Dega bahwa fisik yang buruk tidak akan terlihat jika kita memiliki kepribadian dan hati yang baik.

Kini, kekasih hatinya merasakan hal yang sama. Dia harus bisa memberi semangat untuk Dena seperti yang pernah wanita itu lakukan.

Obrolan Bu Wati dan Dega berjeda karena kedatangan Dena. Putri Bu Wati terkejut melihat Dega di rumahnya.

“Sini dulu, Dek. Kita berbincang-bincang!” ucap Bu Wati saat Dena pamit akan ke kamar dulu.

Dengan tatapan mata, Dena menolak permintaan sang ibu. Tapi Bu Wati terus mendesak dan akhirnya gadis itu pun menurut.

“Bu, izinkan saya menikah dengan Dena ?” ucap Dega setelah Dena mendaratkan tubuhnya di sebelah sang ibu.

Dua wanita beda generasi itu sama-sama terkejut. Bu Wati tak mengira jika Dega akan secepat ini meminta putrinya.

“Tidak Dega. Carilah wanita lain!” jawab Dena dengan segera.

“De, aku mencintaimu bukan karena wajahmu. Aku mencintaimu karena kamu Dena, Denada Rahayu,” kata Dega mencoba meyakinkan Dena.

Dena terduduk berusaha menahan air matanya. Bu Wati mengelus lembut lengan putrinya.

“De, jangan berpikir kalau kamu tidak berarti hanya karena kekuranganmu. Masih ada yang menginginkan kamu bahagia. Masih ada yang membutuhkanmu,” ucap Dega lagi.

“Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan,” ucap Dena.

“Apa yang tidak aku mengerti? Bukankah kamu pernah mengatakan padaku bawa fisik yang buruk tidak akan terlihat jika kita memiliki kepribadian dan hati yang baik. Tak ingatkah kamu bagaimana dulu anak-anak selalu memanggilku dengan sebutan buruk rupa?”

Dena masih mengingat itu. Bahkan dia yakin jika Dega tidak peduli dengan wajahnya yang sekarang. Tapi sebagai perempuan dan nanti menjadi istri, dia pasti merasa rendah diri.

“De, kamu wanita kuat. Kamu harus bisa bangkit dari masalah ini. Dulu kamu bisa membuatku merasa percaya diri dengan keadaanku. Sekarang waktunya kamu melakukan hal yang sama.

“Lihat ibumu. Beliau pasti sedih melihat putrinya yang cantik jadi pemurung,” lanjut Dega sambil memperhatikan Bu Wati yang berkaca-kaca menatap putrinya.

Dena pun menoleh ke arah sang ibu. Dia segera mendekap erat wanita yang telah melahirkannya.

“Maafkan Dena, Ma,” kata Dena sambil terisak.

“Kamu tidak salah kenapa harus meminta maaf?” ucap Bu Wati sambil mengelus kepala Dena yang tertutup hijab.

“Jangan seperti ini lagi. Jangan menutup diri. Bagaimanapun adik sekarang, adik harta mama yang paling berharga. Mama hanya ingin adik bahagia,” ucap Bu Wati di tengah tangisnya.

Dena hanya menangis. Dia tidak sanggup membalas ucapan sang ibu. Namun dalam hati, Dena berjanji akan berubah. Dia akan bangkit dari masa kelamnya.

Selain Bu Wati sebagai penguat, Dena juga punya Dega teman sekaligus cintanya.

error: Content is protected !!