“Bun. Ayah boleh ngomong gak?”
Pertanyaan Alan di sambungan telepon itu membuat Namira heran. Tidak biasanya suaminya meminta izin dulu ketika bertanya.
“Ngomong aja yah. Ada apa emang?” Namira rasa ada sesuatu yang tidak beres terdengar dari suara Alan yang sepertinya berbeda dari biasanya.
“Tapi bunda jangan marah ya.” ucapnya lagi.
“Iya. Ngomong aja. Gak apa-apa.” sahut Namira berusaha berbicara dengan nada biasa saja walau perasaannya mulai tidak enak.
“Ayah ke ingat seseorang terus nda…” Alan menjeda ucapannya.
Nda adalah panggilan Alan untuk Namira.
Namira tersenyum hatinya begitu tersipu mendengar perkataan suaminya.
Siapa coba yang hatinya tidak berbunga ketika dengan terang-terangan suaminya berkata seperti itu.
“Sabar yah. Nanti juga ketemu.” reflek Namira menjawab seperti itu.
“TAPI YANG AYAH INGAT BUKAN BUNDA. TAPI WANITA LAIN.”
Deg!
Namira diam!
Lidahnya seakan kelu untuk bicara. Hatinya?
Jangan ditanya!
Hatinya benar-benar hancur. Pengakuan suaminya barusan bagaikan petir di siang hari tanpa adanya hujan.
Begitu tiba-tiba dan mengejutkan!
Ya. Namira tidak menyangka sebelumnya jika sang suami akan mengatakan hal yang begitu menyakitkan bagi seorang wanita.
Yang dimana dengan terang-terangan mengakui perasaannya pada wanita lain.
Air mata Namira keluar begitu saja tanpa dia minta. Walau begitu Namira mencoba tetap biasa sekuat yang dia bisa.
“Maksud ayah gimana? Aku gak ngerti?” tanya Namira. Suaranya sudah bergetar menahan tangis agar tidak pecah saat itu juga.
“Maaf ayah nda.” sahut Alan dengan nada suara yang terdengar pelan. Namun begitu menusuk bagi Namira.
Mendengar kata maaf dari mulut suaminya, membuat pertahanan Namira runtuh.
Wanita itu terduduk lemas menangis tanpa suara.
Hancur!
Hatinya benar-benar hancur!
Tiada sakit yang lebih sakit dari pengkhianatan. Namira masih bisa bersabar dan bertahan ketika rumah tangganya di uji dari segi materi. Tapi tidak dengan PENGKHIANATAN!
Hening!
Keduanya saling diam, hanyut dengan pemikiran masing-masing.
Setelah beberapa saat terdiam, Namira pun sudah sedikit menenangkan hatinya. Wanita itu mencoba untuk bicara dengan kepala dingin.
“Siapa wanita itu yah?” tanya Namira dengan berusaha tegar.
“Ada nda. Namanya Rini. Gak tahu kenapa aku ingat dia terus. Wajah dia tuh kaya kebayang-bayang terus.” jelas Alan.
‘Sakit ya Allah! Ini sakit sekali!’ jerit Namira dalam hati.
“Dia pacar kamu?” tanya Namira mengintrogasi.
Selama Namira benar-benar memberikan kepercayaan penuh pada sang suami di perantauan sana. Dia tidak pernah berpikir akan sejauh ini.
Tidak dipungkiri sebagai seorang istri Namira rasa curiga, cemburu, itu memang ada. Tapi Namira selalu menepis perasaan buruk tersebut. Karena memang, selama berada di perantauan perhatian Alan tidak berubah sama sekali.
Setiap hari suaminya itu selalu, menyempatkan memberi kabar ketika dia ada waktu luang. Soal uang pun Alan tidak pernah perhitungan.
Diam!
Alan tidak cepat menjawab pertanyaan dari Namira. Entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu saat ini.
Tidakkah dia berpikir? Bagaimanakah perasaan sang istri saat ini?
Tidakkah dia berpikir, bagaimana hancurnya hati Namira?
Miris!
Enam bulan lalu, Alan meminta izin pada istrinya untuk bekerja di luar pulau.
Pada malam itu,
“Bun. Ayah boleh gak kerja merantau? Tadi ada temen ayah yang ngajakin.” ucap Alan tiba-tiba.
Mata Namira yang tadinya mengantuk, kembali segar ketika mendengar ucapan sang suami.
“Merantau kemana?”
“Sumatra.” sahut Alan.
Namira diam, sepertinya wanita itu sedang mempertimbangkan permintaan sang suami.
Melihat istrinya hanya diam Alan kembali berbicara.
“Ayah lakuin ini semua demi bunda sama anak-anak. Ayah juga ingin membahagiakan kalian.”
Selama ini walau pun tinggal di kampung, sebagai kepala rumah tangga Alan sudah bekerja kerja keras selama ini. Pekerjaan apapun akan pria itu lakoni selagi itu halal.
Namira selalu bersyukur atas apa yang di berikan suaminya. Namira tidak pernah mengeluh ketika uang yang Alan berikan hanya cukup buat makan mereka berlima.
Bahkan kadang Namira juga ikut membantu bekerja jika ada yang membutuhkan tenaganya sebagai buruh cuci gosok.
Lama berpikir, setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya Naya mengizinkan Alan untuk pergi.
“Yasudah. Kalau ayah mau berangkat gak apa-apa. Tapi aku minta satu hal sama ayah.”
“Apa?” tanya Alan memotong ucapan Namira.
“Ayah harus janji sam aku. Kalau ayah tidak akan macam-macam disana.” pinta Namira.
“Iya ayah janji.” jawab Alan dengan yakin.
Janji tinggalah janji!
Semua kini hanya tinggallah ucapan semata.
Namira mengusap air mata yang terus mengalir deras tanpa dia minta.
“Kenapa tidak jawab? Katakan aja yang sebenarnya.” tanya Alana lagi.
“Bukan itu hanya teman.” Elak Alana kala itu.
“Temen?” Namira terkekeh, menertawakan nasibnya sendiri.
“Aku bukan anak kecil yah. Yang bisa percaya gitu aja. Logikanya gini jika memang teman. Kenapa kamu sampai sebegini nya?”
“Apa kamu gak tahu sebarapa sakit hatiku mendengar semua yang kamu katakan! Sakit yah! Sakit!” Namira akhirnya mengeluarkan unek-unek yang dia pendam sedari tadi.
“Ayah tahu bunda pasti sakit. Tapi menurut ayah ini yang terbaik. Lebih baik ayah bilang sekarang dari pada suatu saat nanti bunda tahu ini dari orang lain. Pasti bunda akan lebih sakit dari ini.” jelas Alan.
Memang benar apa yang Alan katakan, tetapi apapun Alasannya tetap saja dia salah telah)) menyakiti hati wanita yang selama ini tulus mencintainya, menerima semua kekurang dan kelebihan yang dimiliki pria itu.
Tut….
Panggilan terpustus.
Namira sengaja memutus sambungan telepon tersebut.
Namira segera menghapus jejak air mata ketika ketiga anaknya mengetuk pintu kamar.
Beberapa kali Namira menarik napas untuk menetralkan perasananya.
“Sebentar!” teriak Namira dari dalam, bergegas wanita itu berjalan untuk membukakan pintu.
“Bunda kenapa? Habis nangis ya?” tanya si sulung yang bernama Aldi.
Namira menggeleng, lalu tersenyum lebar.” Enggak kok. Ini tadi lagi tiduran kelilipan.” bohong Namira.
Rumah yang mereka tempati memang, bukan rumah yang bagus namun masih layak untuk ditempati. Rumah ini satu-satunya harta yang ditinggalkan orang tua Namira .
“Masa sih? Ko matanya merah?” tanya anak nomor dua yaitu Rafa.
Namira tergelak.” Namanya juga kelilipan, ya pasti merah dong sayang.”
Namira terpaksa berbohong, wanita itu tidak ingin anaknya tahu jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.
“Ayo masuk. Apa kalian mau tetap berdiri disini? Kalau bunda sih gak ya. ” ucap Namira menggoda anak-anaknya sembari melangkah masuk kedalam kamar.
Ketiga jagoan Namira langsing berlari masuk, kamar yang tadi terasa hening. Kini ramai oleh canda tawa anak-anaknya.
Melihat senyum anak-anaknya membuat Namira sedikit melupakan masalah yang sedang dia hadapi.
Akankah Namira mampu menghadapi badai pernikahan yang sedang melanda rumah tangganya?
Atau Namira justru akan menyerah di usia pernikahannya yang ke sepuluh?