Langit mulai merona jingga saat Tika duduk di pinggir sawah, memandangi hamparan hijau yang seolah tak berujung. Di kejauhan, suara gemerisik dedaunan dan hembusan angin seakan menyatu, menciptakan harmoni yang hanya bisa ditemukan di desa. Bagi Tika, desa kecilnya adalah tempat segala ketenangan bermula, tempat ia menemukan jati dirinya. Namun, di balik ketenangan itu, ada kegelisahan yang telah lama menghantui hatinya
Sore itu, di tengah keheningan sawah yang membentang luas, Tika memutuskan untuk memulai perjalanan baru. Ia ingin mengejar pendidikan di kota besar, Makassar, tempat di mana ia percaya pengetahuan dan pengalaman bisa diperoleh. Dengan dukungan dari keluarganya, terutama ibunya yang selalu memberikan dorongan semangat, Tika tahu bahwa ini adalah jalan yang harus ia tempuh.
Bu, aku pamit besok pagi,” ucap Tika saat ia kembali ke rumah
Ibunya, seorang wanita sederhana dengan senyum hangat, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Tika, ibu tahu ini adalah keputusan yang besar. Tapi ingatlah, di mana pun kamu berada, ingatlah asalmu. Ingatlah untuk selalu kembali dan membangun tanah kelahiranmu.”
Tika mengangguk. Kata-kata ibunya selalu menenangkan hatinya, meskipun ia tahu tantangan yang akan ia hadapi di kota besar jauh dari apa yang bisa ia bayangkan. Ia telah mendengar cerita tentang kehidupan keras di Makassar, tentang persaingan yang ketat, dan tentang bagaimana banyak orang datang ke sana dengan mimpi yang besar, hanya untuk menemukan kenyataan yang jauh berbeda.
Malam itu, Tika berkemas dengan hati yang penuh harap. Ia membawa sedikit pakaian, beberapa buku, dan satu hal yang tak pernah lepas darinya—sebuah peta Indonesia yang diberikan oleh ayahnya saat ia masih kecil. Peta itu sudah usang dan warnanya mulai memudar, tetapi bagi Tika, peta itu adalah simbol dari mimpinya. Setiap garis, setiap pulau yang terlukis di sana, adalah pengingat bahwa perjuangannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh bangsa.
Ketika matahari mulai terbit keesokan paginya, Tika sudah siap untuk pergi. Ayahnya menunggunya di depan rumah, yang akan mengantarnya ke ujung kampong, untuk naik
mobil. “Jaga dirimu baik-baik di sana, Nak,” kata ayahnya sambil menyerahkan tas. “Jangan lupa asalmu.”
Tika memeluk ayahnya erat-erat sebelum naik ke mobil. Jalanan desa yang berkelok-kelok membawanya menjauh dari rumah, menuju kehidupan yang sama sekali baru. Di sepanjang perjalanan, Tika tak henti-hentinya berpikir tentang apa yang akan ia temui di Makassar, tentang bagaimana ia akan mengatasi semua rintangan yang menghadangnya.
Namun, di balik segala kekhawatirannya, ada tekad yang kuat. Tika tahu bahwa ini bukan sekadar perjalanan mencari ilmu. Ini adalah perjalanan untuk menemukan jati dirinya, untuk mengabdikan raganya bagi Indonesia. Apa pun yang akan terjadi, ia akan berjuang sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpinya.
Setelah perjalanan panjang dari desanya di Manggarai Barat (NTT), Tika akhirnya tiba di Makassar. Kota ini, dengan hiruk-pikuk dan suasana yang jauh berbeda dari desanya, menjadi tempat di mana ia akan memulai lembaran baru dalam hidupnya. Di panti asuhan “Miftahul Khair,” Tika akan tinggal selama masa SMA-nya, mengikuti pendidikan di kota besar yang penuh tantangan ini.
Panti Asuhan Miftahul Khair terletak di pinggiran kota Makassar, di sebuah area yang tenang meskipun dikelilingi oleh keramaian kota. Bangunannya sederhana namun nyaman, dengan halaman yang luas dan pohon-pohon rindang yang memberikan suasana teduh. Dari luar, panti ini mungkin terlihat biasa saja, tetapi di dalamnya, penuh dengan anak-anak yang penuh semangat dan mimpi besar.
Seiring berjalannya waktu, Tika mulai merasa semakin nyaman dengan kehidupannya di panti. Teman-teman barunya, bimbingan dan dukungan dari Pengasuh panti membantunya melewati hari-hari awal yang penuh dengan adaptasi. Dengan semangat dan tekad yang kuat, Tika siap untuk menghadapi tantangan SMA dan melangkah lebih dekat menuju mimpinya untuk mengabdi kepada Indonesia.
Pesan Tika
Wahai generasi bangsa
Pemuda pemudi tanah air tercinta
Punggung kita adalah penopang asa
Lepaskan serakah dan jangan kembali di jajah
Mari berubah
Terbang bersama nilai nilai Pancasila
Untuk bersatu
Dariku ,darimu, dan dari kita
Untuk Indonesia….