“Pergi kamu!! Dasar menantu tidak berguna! Bisanya hanya menyusahkan saja! Sekarang, bawa semua barangmu dan pergi dari sini!” ketus wanita paruh baya itu.
Wanita itu adalah mertua Hanan yang bernama Nia. Sejak Hanan menjadi menantunya, wanita itu tidak pernah baik padanya hanya karena Hanan yang bekerja sebagai buruh pabrik dan tak mampu mencukupi kebutuhan istri dan ibu mertuanya.
“Ma, tolong jangan usir Hanan. Hanan janji akan bekerja lebih keras lagi supaya bisa memenuhi kebutuhan Mama dan Rahel,” pinta Hanan dengan mengiba.
“Dari dulu janji kamu juga sama. Namun, apa yang kamu dapat? Uang yang kamu bawa pulang juga hasilnya sama. Tidak pernah ada lebihnya,” amuk Nia.
“Ma, beri Hanan satu kesempatan sekali lagi Ma. Hanan janji, Hanan pasti akan bisa bawa uang yang banyak,” Hanan sampai berlutut di kaki Nia.
Namun, semua itu tidak membuat Nia kasihan. Wanita itu malah menendang Hanan hingga lelaki itu tergeletak dia jalan.
“Pergi, dan jangan kembali. Menyesal aku pernah menerimamu. Lebih baik aku menikahkan putriku dengan Juragan Seno. Daripada menikah dengan gembel sepertimu.”
Brak
Nia pun menutup rapat pintu rumahnya. Hanan mengeraskan rahangnya. Dia hanya bisa diam. Andai yang menghina tadi bukan mertuanya, sudah pasti dihajar habis olehnya.
Hanan pun memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian memasukkannya ke dalam tas lusuh miliknya.
“Kemana aku harus pergi? Rumah tak punya, uang juga sudah diambil sama mama tadi,” gumam Hanan.
Lelaki itu akhirnya berjalan. Dia hanya mengikuti langkah kakinya saja tanpa tahu arah tujuannya. Karena lelah, Hanan pun duduk di sebuah gubug tua di tepi sawah.
“Nasib, jadi orang miskin begini amat,” ujarnya sambil mengipas-ngipaskan tangannya.
Semilir angin membuat Hanan merasa mengantuk. Tanpa sadar, Hanan pun terlelap dalam mimpi.
“Hanan … Hanan sayang, datanglah ….”
Panggilan itu terus saja mengalun di telinga Hanan membuat pemuda itu mencari sumber suara. Matanya menelisik, dan menajamkan telinganya untuk mengetahui dari mana asal suara merdu itu.
Kakinya terus melangkah hingga dia melihat sebuah pertunjukkan. Di sana ada sebuah hajatan yang menampilkan pertunjukkan tari sebagai hiburannya. Mata Hanan tak pernah lepas dari wajah cantik penari itu.
Pandangan matanya penuh pesona hingga membuat raga Hanan berjalan sendiri menuju ke arah penari yang telah menghipnotisnya.
Lambaian tangannya menari indah seolah memanggil Hanan untuk ikut menari bersamanya. Tiba-tiba Hanan sudah berada di depannya.
Lelaki itu hanya mampu terdiam saat sosok wanita cantik itu menarik Hanan dengan selendang miliknya. Karena terbuai dengan kecantikan wanita itu, Hanan akhirnya ikut menari tanpa sadar.
Tiba tiba, lampu padam, tidak ada yang terlihat, bahkan alunan gamelan yang tadi terdengar pun tidak lagi ada. Hanya bunyi hewan malam yang terdengar di telinga Hanan.
Tubuh Hanan menegang seketika saat dia merasakan ada sesuatu yang melintas di kakinya, kemudian beralih ke perut dan juga lehernya.
Hanan hanya sanggup menelan ludah sambil memejamkan mata, berharap lampu segera menyala. Sepertinya, doa Hanan terkabul, begitu lampu menyala, tubuhnya sudah berada dalam pelukan wanita cantik itu.
Hanan pun segera bangkit, tapi tak bisa. Seolah ada lem yang membuat dia menempel di tubuh wanita itu.
“Mau kemana kamu sayang?” tanya wanita itu dengan suara lembut tapi sanggup meruntuhkan imannya.
“Mmmhh, itu, mau pulang,” jawab Hanan gugup.
“Kenapa pulang? Apakah kamu tidak mau tinggal bersamaku?” tanya wanita itu kembali.
“Tidak, aku harus mencari pekerjaan supaya bisa mendapatkan uang yang banyak,” jawab Hanan dengan tegas.
“Aku bisa memberimu segalanya tanpa harus repot bekerja. Asalkan ….” Wanita itu tidak meneruskan ucapannya.
“Asal apa?” tanya Hanan penasaran.
Wanita itu menarik Hanan kemudian membisikkan apa yang dia inginkan di telinga Hanan.
“Bagaimana? Kamu sanggup?” tanya wanita itu.
“Hanya itu?” Hanan balik bertanya.
Wanita itu pun mengangguk. Sejenak, Hanan ragu untuk melakukannya. Namun, karena dia sudah gelap mata, Hanan akhirnya menyetujui keinginan wanita itu.
Entah apa yang sedang merasuki tubuhnya. Seketika itu juga, Hanan merasakan gejolak yang hebat dalam dirinya hingga dia menginginkan wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Peluh Hanan bercucuran menunjukkan betapa dahsyatnya permainan panas mereka. Hanan akhirnya terjatuh di samping wanita itu setelah selesai dengan kegiatan panasnya.
“Terima kasih sayang. Kamu luar biasa. Besok malam, kita akan menikah sesuai dengan tata cara yang ada di duniaku. Kamu akan aku beri emas yang banyak untuk memenuhi semua kebutuhanmu setelah kita selesai menikah. Namun, yang harus kamu ingat adalah, setiap malam jumat, aku akan mendatangimu. Siapkan kamar khusus untukku,” titah wanita itu.
Hanan pun tertidur. Dalam mimpinya, dia menikah dengan wanita yang baru saja dia temui. Bahkan acara pernikahannya berlangsung meriah. Matahari telah berada di atas kepala, Hanan baru saja membuka matanya. Senyumnya mengembang kala melihat begitu banyaknya emas yang ada di ranjang tempat dia tidur.
“Ternyata, itu semua bukan mimpi,” gumamnya.
Hanan lalu pergi ke kota dan menjual dua keping emas. Lelaki itu tersenyum lebar saat membawa banyak uang di dalam tasnya.
“Sekarang, saatnya mencari rumah,” gumamnya.
Hanan lalu mencari tanah yang paling dekat dengan rumah mantan istrinya supaya dia bisa menunjukkan pada mantan istrinya itu, kalau dia sudah kaya. Dan dia tidak akan mau lagi kembali pada wanita matre itu.
Dalam beberapa minggu, Hanan sudah menjadi juragan besar di desa itu. Hanan memiliki banyak perkebunan dan juga sawah. Tak terhitung jumlah kekayaan yang dia miliki saat ini.
Semua orang yang dulu menghinanya, kini tunduk di bawah kakinya. Tidak ada satupun juragan yang berani melawannya.
Hanan tersenyum puas saat ini, tidak ada lagi yang menghina dan merendahkannya sekarang.
Penampilannya yang tampan dan kaya membuat para orang tua yang memiliki anak gadis berbondong-bondong menginginkan Hanan menjadi menantunya. Tak terkecuali Nia, mantan mertuanya.
Wanita itu pun menyuruh Rahel meninggalkan juragan Seno supaya putrinya bisa kembali pada Hanan.
Rahel yang memang masih mencintai Hanan langsung setuju dengan ucapan sang Mama. Wanita itu pun pergi dari rumah suaminya. Dia akan bersembunyi untuk sementara waktu di rumah Hanan.
“Dia pasti mau menampungku. Dia kan cinta mati sama aku,” gumam Rahel.
Tengah malam buta, Rahel mengetuk pintu rumah Hanan. Bajunya yang compang camping, dengan luka lebam di mana-mana menjadi alat untuk bisa menjerat Hanan kembali.
Ceklek, pintu terbuka.
“Ada apa?” tanya Hanan dengan wajah dinginnya.
Rahel pun segera berlutut di kaki Hanan. “Mas, maafkan Rahel Mas. Rahel menyesal telah menuruti kata-kata Mama. Harusnya Rahel mengikuti Mas kemarin. Sekarang, Rahel minta tolong sama Mas. Selamatkan Rahel Mas, juragan Seno akan membunuh Rahel kalau dia tahu Rahel kabur dari rumahnya,” iba Rahel dengan wajah penuh penyesalan.
Hanan memutar bola matanya malas. Dia sudah hafal dengan perilaku penjilat seperti Rahel dan Mamanya.
“Kamu pikir aku percaya dengan ucapanmu?”
“Mas, aku berkata yang sebenarnya. Lihat luka di tubuhku ini!” tunjuk Rahel pada memar di sekujur tubuhnya.
“Hiks, hiks. Apa yang harus aku lakukan supaya Mas percaya dengan kata-kataku?” ujar Rahel setengah mengiba.
“Baiklah, aku akan menolongmu. Kamu boleh tinggal di sini tapi, sebagai pembantu. Bukan Nyonya rumah. Jadi, tugasmu di sini adalah bersih-bersih rumah,” ujar Hanan.
“Baik, Mas. Rahel setuju,” ujarnya.
Hanan akhirnya membawa Rahel ke kamar pembantu yang memang sengaja dia sediakan untuk mantan istrinya itu. Lelaki itu yakin, kalau mantan istrinya akan memohon padanya untuk rujuk kembali.
Hampir satu minggu Rahel tinggal di rumah Hanan. Lelaki itu masih saja bersikap ketus padanya. Dia bahkan tak pernah mengajaknya bicara meski berada di ruangan yang sama.
Rahel mematut dirinya di cermin, dia sudah memakai pakaian dinas yang dia minta pada sang mama. Malam ini, dia akan mendatangi Hanan. Dia ingin membuat lelaki itu kembali takhluk padanya.
Tanpa mengetuk pintu, Rahel membuka pintu kamar Hanan. Mulut wanita itu menganga saat melihat apa yang ada di hadapannya. Rahel melihat, Hanan tengah tertidur bertelanjang dada.
Rahel tersenyum tipis. “Sepertinya, dia sengaja menungguku,” gumam Rahel.
Saat Rahel akan menutup pintu kamar itu. Tiba-tiba angin berhembus kencang hingga membuat tubuh Rahel menggigil kedinginan.
Dan seolah ada yang menarik tubuhnya hingga tersentak keluar dari kamar itu.
Blam. Pintu pun tertutup.
Rahel yang masih ingin menggoda Hanan pun berdiri dan hendak kembali membuka pintu itu. Namun, suara desahan mantan suaminya membuat hati dan perasaan wanita itu hancur berkeping keping.
“Siapa wanita yang bersama Mas Hanan? Kenapa aku tidak melihatnya tadi? Apa dia sedang berada di kamar mandi tadi?” gumam Rahel.
Penasaran dengan suara itu, akhirnya membuat Rahel memberanikan diri membuka pintu itu. Belum sempat tangannya memegang handel pintu, tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Seolah ada seseorang yang meniupi tengkuknya. Rahel menoleh ke belakang, tapi, tidak ada siapapun di sana. Merasa ketakutan, wanita itu pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Saat hendak memejamkan matanya, suara desahan wanita terdengar jelas di kamarnya. Rahel jadi yakin, kalau mantan suaminya itu sedang bersama dengan seorang wanita, tapi … siapa?
Keesokannya, Rahel yang sedang menyiapkan sarapan untuk Hanan tak menyia-nyiakan kesempatan saat melihat mantan suaminya baru saja keluar dari kamarnya.
“Mas Hanan, semalam, Rahel mendengar suara Mas dan juga seorang wanita. Apa Mas Hanan ….?” Rahel tidak berani meneruskan ucapannya.
“Tidak usah kepo dengan urusan orang lain. Kamu di sini hanya sebagai pembantu! Ingat itu,” Hanan sengaja menekan di bagian akhir kalimat.
“Baik, Mas,” sahut Rahel sambil menundukkan kepalanya.
Baru kali ini dia melihat Hanan meninggikan suaranya. Dan dia sedikit takut mendengar bentakan yang keluar dari mulut Hanan.
Sebulan sudah, Rahel berada di rumah Hanan. Dia kesal, karena tiap malam harus mendengar desahan mantan suaminya dan juga wanita yang tidak pernah dia tahu sosoknya. Ditambah, sikap Hanan yang acuh dan dingin terhadapnya membuat dia menyerah untuk membuat Hanan kembali ke dalam pelukannya.
Rahel pun pergi dari rumah Hanan tanpa pamit. Dia kembali ke rumah Mamanya. Percuma juga dia di sana kalau hanya jadi pembantu.
Namun, belum juga dia sampai di rumahnya, Rahel sudah diseret oleh anak buah juragan Seno. Begitu sampai di rumah suaminya, wanita itu pun kembali dipukuli dan juga ditiduri dengan kasar oleh Seno.
Tak dia hiraukan tangisan Rahel. Bagi Seno, itu adalah hukuman setimpal yang harus dia terima. Salah sendiri berani melawan Seno.
Berita tentang tertangkapnya Rahel terdengar di telinga Hanan. Lelaki itu tak tega saat mengetahui bagaimana Seno memperlakukan mantan istrinya.
Hanan berniat menikahi Rahel kembali, tapi, dia harus meminta ijin terlebih dahulu pada Dawuh, istri ghoibnya.
“Sayang, bukankah dulu, kamu pernah berjanji, akan mengijinkan aku menikah dengan sesama manusia asalkan aku tetap menjadi suami kamu?” tanya Hanan pada wanita cantik yang tidur di pelukannya.
“Kamu ingin menikah? Apakah pelayananku tidak cukup memuaskanmu hingga kamu harus menikah dengan orang lain?” Dawuh sudah mulai emosi.
“Sayang, jangan marah dulu. Kang Mas akan selalu menjadi milik kamu. Hanya saja, Kang Mas ingin menolong Rahel dari jeratan bandot tua itu,” Hanan mencoba memberi penjelasan pada istri ghoibnya.
“Kamu tidak harus menikahinya sayang. Aku bisa menggunakan kekuatanku untuk mengeluarkan wanita itu. Kamu itu hanya milikku, tak boleh ada wanita lain yang menyentuhmu,” kekeh Dawuh.
Hanan tidak bisa menentang keinginan Dawuh. Karena semua yang dia miliki ini karena dia. “Baiklah, kalau begitu, tolong kau keluarkan dia,” pinta Hanan
Rahel sudah kembali pada keluarganya. Hanan segera membawa Rahel dan juga keluarganya pindah ke desa sebelah, supaya tidak terendus oleh Seno dan anak buahnya. Bahkan Hanan juga menikahi Rahel di desa itu.
Setelah menikahi Rahel, Hanan kembali ke rumahnya. Meski pada akhirnya nanti, dia tidak akan bisa menutupi pernikahannya dari Dawuh. Hanan melayani Dawuh seperti biasa. Dia juga memberikan apa yang diminta oleh istri ghoibnya itu.
Rasa lelah kini menghantui pikiran Hanan. Lelaki itu kini ingin kembali menjadi seperti dulu lagi. Sayangnya, dia sudah terikat pernikahan ghaib dengan Dawuh.
Lelaki itu mulai lalai dalam menyiapkan sesaji atau tumbal yang diminta oleh Dawuh karena seringnya berada di rumah Rahel istri mudanya.
Dawuh marah besar saat mengetahui kalau Hanan telah menikah dengan Rahel. Ratu siluman itu pun mendatangi rumah Hanan dan Rahel di desa seberang.
Amarahnya semakin besar kala dia melihat, suaminya tengah bercinta dengan istri barunya. Seketika itu juga, Dawuh mengobrak abrik rumah Hanan. Dia bahkan memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menyerang Rahel.
Tak tega melihat istrinya digigiti ular, Hanan berlutut di hadapan Dawuh. “Tolong, ampuni istriku. Kamu boleh menghukumku, asal jangan kau hukum dia. Dia tidak bersalah, akulah yang bersalah. Tolong, jangan bunuh dia,” pinta Hanan diiringi isak tangis.
“Hahaha. Dasar manusia picik! Bukankah kamu sudah tahu konsekuensinya kalau melanggar aturanku! Tidak ada ampun bagimu. Akan aku bunuh kamu!”
Kedua orang itu pun tergeletak di lantai. Dawuh akhirnya pergi dengan membawa janin yang ada di dalam rahim Rahel.
Beberapa tahun kemudian
Seorang lelaki tampan tengah tersenyum sambil memandang istri ghoibnya. Lelaki itu bahkan menimang nimang bayi yang sayangnya tidak ada satu orang pun yang bisa melihatnya.
TAMAT
Judul PERJANJIAN DENGAN SILUMAN ULAR