Ratna dan Feri pun membawa Farida ke rumah mereka. Dengan penuh kesabaran, Feri menjaga Farida hingga ia terbangun.
“Akh, aku ada dimana ini?” tanya Farida sembari memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Matanya sesekali terpejam merasakan pusing yang teramat sangat.
“Kamu ada di rumahku, Farida. Tadi kamu pingsan jadi aku bawa saja ke sini,” jawab Feri.
Perlahan Farida pun bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk. Tak lama masuklah Ratna menemui keduanya. Tangannya tampak membawa sesuatu.
“Kamu sudah sadar, Farida?” tanya Ratna. Kali ini nada suara Ratna terdengar sedikit lembut dari sebelumnya.
“Iya sudah, Bu,” jawab Farida pelan.
“Ini ibu buatkan kamu teh hangat. Diminum dulu ya supaya kamu bisa lebih enakan.” Ratna memberikan segelas teh hangat yang ia bawa.
Farida pun menerima teh hangat yang dibuat oleh Ratna untuknya.
“Terima kasih banyak, ya, Bu. Maaf aku jadi merepotkan ibu,” ucap Farida.
“Kamu nggak ngerepotin ibu kok,” ucap Ratna sembari menatap Farida yang tengah meneguk teh hangat miliknya.
“Justru ibu mau minta maaf sama kamu karena ibu tadi sudah marah-marah sama kamu sampai kamu pingsan seperti ini,” ucap Ratna.
Farida pun hanya bisa menatap dalam Ratna yang kini telah duduk di pinggiran ranjang.
“Ibu nggak perlu minta maaf padaku. Aku tahu apa yang ibu lakukan itu semata-mata karena ibu kecewa padaku.” Farida menundukkan kepalanya.
“Iya Farida. Sebenarnya kemarahan ibu padamu itu karena ibu merasa sangat kecewa. Jujur saja, ibu sudah sangat menyukaimu dan mengharapkan kamu menjadi menantu ibu tapi setelah ibu tahu kamu tidak jujur mengenai masa lalu kamu, ibu merasa sangat kecewa sampai-sampai melampiaskannya sama kamu. Ibu minta maaf, ya.” Ratna memeluk erat tubuh Farida.
Melihat kedua wanita yang sangat disayanginya kini bisa akur lagi, Feri pun mengembangkan senyumnya merasa sangat bahagia.
“Sekali lagi ibu minta maaf, ya, padamu. Tolong maafkan kesalahan ibu dan kalau bisa tolong kamu pertimbangkan lagi mengenai lamaran Feri waktu itu karena Feri benar-benar menyayangi kamu,” ucap Ratna.
Seketika kening Farida pun mengkerut menunjukan rasa sedih yang ia rasakan. Kepalanya menunduk menatap jari-jemarinya yang sedikit gemetar.
“Tapi aku merasa tidak pantas Bu, untuk menerima lamaran mas Feri. Aku tahu mas Feri bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku.”
“Tidak Farida, aku tidak mau wanita lain. Aku hanya mau kamu,” sela Feri saat itu.
“Kamu dengar sendiri kan Farida. Feri benar-benar sangat mencintai kamu jadi ibu harap kamu bisa memikirkan lagi tentang ini semua lagipula ini juga untuk masa depan kamu juga, kan.” Ratna mencoba memberikan nasihat.
***
Adam yang merasa kecewa karena tidak bertemu dengan Farida pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan tak kembali ke perkebunan.
“Mendingan aku pulang aja, deh. Aku nggak mood mau ke perkebunan lagi. Lagian aku juga capek di sana panas-panasan,” ucapnya sembari melangkahkan kakinya mengikuti arah jalan pulang ke rumah.
Sesampainya di depan rumah, Adam termenung melihat rumah yang sangat sepi.
“Apa ibu belum pulang? Kok rumah sepi banget, ya,” ucapnya sembari menoleh ke sana-kemari.
Ia pun akhirnya masuk ke dalam rumah dan benar saja, tak ada seorangpun di dalam rumah.
“Tasya, Tasya!” Adam memanggil Tasya.
Ia pun berjalan menuju ke kamar Tasya dan melihat Tasya yang tengah duduk di lantai dengan posisi berjongkok sembari menangis.
“Loh Tasya, kenapa kok nangis?” tanya Adam menghampiri Tasya yang sedang menangis.
“Tasya takut, Yah. Tasya juga lapar,” ucap Tasya dengan terisak.
“Tasya belum makan? Memangnya Oma belum pulang?” tanya Adam dengan mata membulat.
Tasya pun menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tasya belum makan, Yah,” jawabnya.
Mendengar jawaban Tasya membuat Adam semakin terkejut. Kedua matanya semakin terbuka dengan sangat lebar.
“Ya Tuhan, jadi sampai jam segini Tasya belum makan! Mama kemana sih katanya mau pulang bawain Tasya makanan. Ini kok malah ninggalin Tasya sendirian begini,” batin Adam menahan amarah.
Tangannya mengepal dengan begitu erat. Perlahan Adam pun menyeka air mata Tasya yang masih mengalir di pipinya.
“Ya sudah Tasya tidak usah menangis lagi. Sekarang kita makan, ya. Nanti setelah itu kita ke rumah ibu, mau kan?” tanya Adam pada Tasya.
Seketika Tasya pun mengembangkan senyumnya sangat lebar sembari menganggukkan kepalanya penuh semangat.
Melihat senyum Tasya yang sangat lebar membuat Adam merasa ikut bahagia. Ia pun memeluk tubuh mungil Tasya.
Tak lama setelah itu, Adam pun langsung memasakkan makanan seadanya untuk Tasya dan mereka pun makan bersama.
Adam sangat senang melihat Tasya yang makan dengan begitu sangat lahap meski masakan yang ia buat hanyalah nasi goreng tanpa ayam dan juga telur.
“Ayah, Tasya sudah selesai makan. Kita berangkat ke rumah ibu sekarang, ya,” ucap Tasya.
“Tapi kan Tasya, makannya belum selesai,” ucap Adam melirik ke arah piring Tasya.
“Tasya udah kenyang, Yah. Tasya udah nggak sabar pengen ketemu sama ibu. Ayo, Yah, kita ketemu ke rumah ibu sekarang,” rengek Tasya.
“B-baiklah,” jawab Adam akhirnya.
Adam sangat tahu betapa rindunya Tasya pada Farida. Pertemuan kemarin yang sangat singkat dengan Farida tentu tidaklah cukup.
Tanpa membereskan bekas makan mereka, Adam pun langsung membawa Tasya pergi menemui Farida.
Sepanjang perjalanan, Tasya terlihat sangat bahagia dan terus bercerita tentang Farida hingga membuat Adam semakin yakin bahwa ia ingin kembali pada Farida demi Tasya.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya Adam dan Tasya pun sampai di depan rumah Farida.
Adam dan Tasya pun turun dari ojek motor yang mereka naiki namun saat keduanya baru turun tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekat mereka.
Feri datang bersama Farida untuk mengantarkannya pulang dan seketika mereka pun bertemu dengan Adam dan juga Tasya.
“Ibu!” Terik Tasya yang saat itu melihat Farida baru turun dari motor milik Feri.
Dengan cepat mereka pun berpelukan. Farida tak menyangka jika ia akan bertemu dengan Tasya saat itu.
“Tasya rindu sama, ibu,” ucap Tasya.
“Ibu juga rindu sama Tasya.” Farida melepaskan pelukannya dengan Tasya dan mencium pipinya beberapa kali.
Tanpa sadar Farida menjatuhkan air matanya karena saking bahagianya bertemu dengan putrinya.
“Ibu juga rindu sama Farida. Ibu senang sekali bisa bertemu dengan Tasya.” Sekali lagi Farida memeluk tubuh Tasya sebentar lalu melepaskannya lagi.
“T-tapi kok Tasya bisa ke sini?” tanya Farida pada Tasya lalu ia pun melempar tatapnya kepada Adam.
“Iya Farida. Aku kan sudah pernah berjanji untuk membuat kalian bertemu lebih lama jadi aku membawa Tasya ke sini,” jawab Adam.
Adam pun kembali menatap Feri dengan tatapan tajam dan sedikit ketus. Ia tak suka melihat Feri apalagi ia terlihat sangat dekat dengan Farida dan itu membuatnya sangat cemburu.
“Makasih, ya, Mas. Kamu udah bawa Tasya ke ini. T-tapi ibu Nadia nggak marah?” tanya Farida.
“Emmm M-mama nggak tahu, tapi kamu tenang aja nanti masalah itu biar aku yang urus. Tapi kamu habis darimana? Kok bisa sama dia?” tanya Adam melirik ke arah Feri.
“Emmm t-tadi aku ….”
“Apa tadi Bu Nani bilang kamu nggak ada karena kamu lagi ketemuan sama laki-laki ini?” Sela Adam dengan sedikit ketus.
“J-jadi kamu tadi sudah ke sini, Mas?” tanya Farida cepat.