(Dari sudut pandang Aura)
Pernahkah merasa kehilangan?
Pernahkah merasakan sentuhan yang sama persis tapi dari orang berbeda dan menatap legam netra yang sama persis tapi dari pemilik yang berbeda?
Mustahil. Jawaban itu pasti langsung menyela.
Tapi itulah yang terjadi setelah 18 tahun panjang dimana hati ini kehilangan.
Aku pikir aku telah mengantarkanmu
di antara kenangan yang tidak berani kusebut namanya.
Namun hari ini, kau muncul…
dalam wujud yang datang tanpa salam.
Sorot matamu,
mirip seperti luka yang dulu kupeluk dengan pasrah.
Dagu itu, tegak dan dingin,
seperti nisan atas cintaku yang mati belasan tahun silam.
Aku duduk, tapi hatiku roboh.
Aku bicara, tapi suaraku mengandung debu masa lalu.
Mengapa kau muncul di ruanganku
dengan tubuh yang bukan milik dia,
tapi dengan jiwa yang menggetarkan luka-luka lama?
Apakah dunia sedang bermain-main
dengan sisa-sisa perasaanku?
Atau memang takdir gemar mengejek
perempuan yang pura-pura kuat?
Kau bukan dia.
Tapi aku takut—
kalau aku akan jatuh hanya karena
kau mengingatkanku pada dia yang telah tiada.
BAB 1
Langit Indramayu siang itu menggantung berat, seolah menyiapkan badai di balik cahaya terik yang membakar aspal jalanan. Udara lengket oleh kelembapan, dan daun-daun jambu di pinggir kantor PT Arasy Teknologi terayun lesu oleh hembusan angin dari laut yang malas. Di balik dinding kaca kantor, para staf sudah menanti dengan penasaran: siapa CEO baru yang akan memimpin mereka?
Aura Li duduk dengan tangan bersilang di dada, tubuhnya tegak di kursi panjang ruang rapat lantai dua. Gaun kantor berwarna hijau zamrud membingkai postur tubuhnya yang ramping namun penuh wibawa. Matanya tajam, ekspresinya tanpa cela. Ia tidak suka kejutan, apalagi jika menyangkut urusan jabatan.
”Orang pusat pikir mereka bisa kirim siapa saja seenaknya,” gumamnya pelan.
”Bu Aura… kabarnya dia lulusan luar negeri dan pernah pimpin cabang Jogja,” bisik Seno, salah satu manajer operasional, dari sudut ruangan.
Aura tak menanggapi. Pikirannya masih dipenuhi kekesalan sejak dua minggu lalu ketika surat pengangkatan itu datang. Ia sudah membuktikan kinerja terbaik selama bertahun-tahun. Dan sekarang, orang asing akan datang dan langsung duduk di kursi tertinggi?
Ketika pintu ruang rapat terbuka, semua kepala menoleh. Seorang pria tinggi dengan kemeja putih rapi dan dasi abu-abu melangkah masuk. Wajahnya tenang, senyum tipis menggantung di bibirnya, dan sorot matanya…
Aura tercekat.
Sejenak, ia seperti diseret kembali pada kenangan yang seharusnya telah mati. Sorot mata itu. Dagu yang sama. Bahkan bentuk tangan yang tegap dengan jari-jari yang panjang. Lelaki itu, Pram Satya, tampak seperti hantu dari masa lalu—masa ketika ia masih berani jatuh cinta.
”Selamat siang. Saya Pram Satya. Mulai hari ini saya dipercaya menjadi CEO di sini. Mari kita bekerja sama dengan baik,” ucap pria itu.
Suaranya rendah dan tenang, namun bagi Aura, suaranya terasa seperti badai.
”Bapak sepertinya tidak merasa perlu menyapa Direksi satu per satu?” tanya Aura tajam, suaranya mengiris keheningan ruangan.
Pram mengalihkan pandangan padanya. Tatapan itu menelisik, namun tetap lembut.
”Saya pikir kita akan memiliki cukup waktu untuk saling mengenal lebih jauh, Bu Direksi.”
Beberapa orang tertawa kecil, tetapi Aura tidak. Matanya menyipit, senyumnya mengejek.
”Mari saya perkenalkan dengan fakta, Pak Pram. Di sini, kami tidak terlalu suka dengan gaya kepemimpinan yang terlalu… santai.”
”Saya tidak datang untuk menghibur, Bu. Tapi untuk membenahi.”
Aura berdiri. “Kalau membenahi berarti mengabaikan struktur dan etika, mungkin Bapak perlu belajar ulang. Kami di sini sudah bekerja keras membangun perusahaan ini. Jangan hanya karena datang dari pusat, lalu merasa semua hal bisa diubah semaunya.”
Suasana tegang. Pram mengangguk pelan. “Saya percaya perubahan selalu menimbulkan ketegangan. Tapi saya juga percaya bahwa orang yang cerdas akan melihat peluang, bukan ancaman.”
Seno mencoba mencairkan suasana, “Mungkin kita lanjut dengan paparan singkat dari Pak Pram?”
Pram berjalan ke depan, menyambungkan laptopnya, dan mulai memaparkan visi strategisnya. Namun, sepanjang presentasi itu, Aura tak melepaskan pandangan. Bukan karena tertarik, tapi karena jiwanya terguncang. Lelaki itu bahkan menggunakan jam tangan yang sama seperti mendiang Rangga—cinta pertamanya yang tewas dalam kecelakaan motor sepuluh tahun lalu.
Ketika rapat usai, semua orang perlahan keluar. Aura tetap duduk.
”Ada yang ingin Bu Aura sampaikan?” tanya Pram saat tinggal berdua.
”Ada,” jawabnya tajam. “Saya tidak percaya pada Anda.”
Pram tersenyum kecil. “Itu hak Ibu. Tapi saya juga tidak datang untuk mencari kepercayaan. Saya datang untuk hasil.”
Aura berdiri, melangkah keluar. Tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat berbisik lirih, “Kau mengingatkanku pada seseorang yang seharusnya sudah mati. Jangan jadi alasan aku jatuh hancur lagi.”
Pram berdiri diam. Napasnya tercekat. Ia belum tahu apa maksud dari kata-kata itu. Tapi untuk pertama kalinya, hatinya tak tenang.
—
Sore hari, Aura kembali ke rumah. Suaminya, Haito, sudah menunggu di ruang tengah. Laki-laki itu duduk dengan mata tajam, tangan memegang gelas whisky yang setengah kosong.
”Kamu pulang telat.”
”Ada rapat,” jawab Aura pelan.
”Rapat? Dengan siapa? CEO baru? Pria?”
”Kau mulai lagi?”
Haito berdiri, melempar gelas ke lantai. Kaca pecah berhamburan.
”Aku bisa mencium ketika kamu tertarik pada laki-laki lain, Aura!”
”Aku muak dengan tuduhanmu, Haito! Aku kerja, bukan main!”
Tangannya terangkat. Tamparan itu datang cepat, menyisakan rasa panas di pipi Aura. Ia terdiam. Tidak menangis. Tidak melawan.
”Jangan macam-macam. Kau tahu siapa aku.”
Aura melangkah pergi ke kamar, mengunci pintu, dan duduk di balik ranjang. Tangannya gemetar, namun matanya tetap tajam. Ia sudah terbiasa dengan luka, tapi tidak dengan perasaan yang baru saja muncul di ruang rapat tadi siang.
—
Di malam yang sama, di Jogjakarta, Pram pulang ke rumah mewah milik Erina—istrinya yang sedang mengadakan arisan di taman belakang. Lampu-lampu berkilau, tamu-tamu tertawa riang, dan musik jazz mengalun.
Erina mendekatinya. “Kau tidak ganti baju? Ini acaraku.”
”Aku lelah.”
”Kau suamiku. Harusnya tahu bagaimana caraku menjaga reputasi. Jangan seperti suami murahan yang baru pulang dari proyek desa.”
Pram tidak menjawab. Ia hanya menatap langit Jogja yang pekat. Dalam diamnya, ia tahu: hidupnya telah kosong terlalu lama.
Dan siang tadi, di balik tatapan tajam seorang perempuan yang penuh luka, ia seperti melihat bagian jiwanya yang hilang.
– “Galak yang Menggetarkan”
(Dari sudut pandang Pram)
Tak ada yang menatapku seperti itu—
tajam, curiga, namun anehnya… hangat.
Tatapanmu bukan sekadar protes,
ia adalah pertanyaan yang belum bisa kujawab.
Kau bukan wanita biasa.
Setiap kata yang kau ucapkan seperti belati
tapi tak pernah sepenuhnya melukai.
Ada keanggunan dalam kemarahanmu,
ada lembut dalam kerasnya caramu menentangku.
Entah mengapa,
hatiku yang beku ini merasa retak
oleh suaramu yang nyaring namun mengandung kisah.
Seolah kau telah berdiri
di medan luka yang sama denganku,
meski kita tak pernah saling menyentuh masa lalu.
Aku tidak takut pada penolakanmu,
tapi aku takut pada rasa ini—
yang lahir hanya dari satu pertemuan
dan dari sepasang mata
yang membuatku ingin dikenang.