Dialah Baskoro, lelaki muda yang memang masih terlihat tampan di usianya yang sudah memasuki kepala tiga. Terlihat saat ini, Baskoro tengah mengendarai motornya menuju ke rumah kontrakannya. Rumah yang ia sewa bersama istri yang baru saja ia nikahi beberapa bulan lalu, sebuah rumah kecil yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari tempatnya bekerja.
Senja begitu berangin kala itu, mengiringi perasaan lesunya tatkala masih melajukan motor bututnya melewati jalanan yang tampak begitu lengang. Ia hanya berjalan sendiri tanpa ada satupun kendaraan lain yang berpapasan dengannya.
Setelah sampai di teras rumah sederhana tanpa pagar itu, Baskoro segera memarkirkan motornya tepat di depan jendela ruang tamu. Langkah kakinya terlihat goyah, tatapan matanya pun begitu sayu. Dengan menarik napas panjang, ia membuka pintu rumahnya dengan berat hati.
“Assalamualaikum …,” ucapan salam terdengar dari bibir Baskoro saat baru saja menginjakkan kaki masuk ke dalam ruang tamu.
Terlihat seorang perempuan muda berkulit putih dengan memakai daster berwarna tosca, berjalan keluar dari dalam dapur menghampiri sang suami yang baru saja pulang kerja.
“Eh, Mas. Sudah pulang? Loh kenapa wajahnya dilipat kayak gitu?” tanya Imas, istrinya.
“Begini, Dek. Anu, maaf sebelumnya, Dek. Mas harus mengatakan hal ini di saat ekonomi kita sedang carut marut,” jawab Baskoro pendek sebelum ia mulai melanjutkan kata-katanya.
Baskoro duduk di atas sofa sederhana yang sudah mulai berlubang di beberapa sisinya. Terlihat ia menatap sang istri dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Imas yang merasa penasaran pun langsung duduk di sebelah sang suami sembari menunggu penjelasan atas sikapnya yang tiba-tiba saja berubah menjadi aneh.
“Kenapa, Mas?” tanya Imas penasaran.
Baskoro menghela napas kasar sembari menatap Imas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Maaf, Dek. Aku baru saja dipecat,” ucapnya.
“Apa …!?” seru Imas dengan kedua mata yang membulat karena merasa terkejut dengan penuturan suaminya.
Percekcokan di antara mereka akhirnya tak terhindarkan lagi. Imas yang selama ini sudah mencoba untuk terus bersabar, kali ini sudah tak bisa lagi membendung amarah dan rasa kecewanya terhadap sang suami.
Selama ini, ia telah berusaha membina rumah tangga bersama Baskoro meskipun mereka harus hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Namun, takdir berkata lain. Di tengah derita yang mereka alami, masalah baru tiba-tiba datang secara tak terduga.
Imas akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Baskoro dan pulang ke rumah orang tuanya. Sementara itu, Baskoro yang tengah terpuruk mencoba mencari jalan keluar atas permasalahan yang baru saja menderanya saat ini.
Dengan ponsel ada di dalam genggaman tangannya, ia berusaha menghubungi beberapa rekan untuk meminta bantuan. Di antara semua temannya, ada salah satu temannya yang bernama Heru. Saat teman-temannya tak ada yang bisa membantu memberikan solusi, Heru justru menyarankan hal yang sedikit terdengar tak masuk akal baginya.
“Mau ndak kalau kamu aku kenalkan ke seorang dukun sakti, Bas?” tanya Heru yang terdengar begitu meyakinkan.
“Dukun sakti? Untuk apa, Her?” sahut Baskoro yang langsung merasa penasaran.
“Pesugihan …,” jawab Heru singkat.
“Beneran ada yang kayak begitu, Her?” Baskoro bertanya dengan suara yang sedikit meninggi.
Pasalnya ini adalah jaman yang sudah modern. Ia terlihat masih skeptis dengan hal berbau mistis seperti itu.
“Ih, dikasih tahu juga. Serius loh aku, Bas. Nanti deh kamu ke rumahku dulu, habis itu aku anterin kamu ke rumah dukun itu. Gimana?” Heru kembali bertanya untuk menyakinkan Baskoro.
“Iya,deh. Aku ikut aja. Otak lagi buntu juga!”
Baskoro pun kemudian meraih tas selempang yang tergantung di samping lemari kamarnya, lalu pergi meninggalkan rumah kontrakannya. Rumah yang biasanya ceria dengan canda tawa bersama Imas, istrinya. Kini rumah kecil itu terasa begitu hening dan juga senyap. Rumah itu sudah seperti tepian jurang dalam yang kelam dan sunyi. Jurang yang siap membawanya untuk jatuh ke dalamnya tanpa bisa kembali lagi.
Tak berselang lama mengendarai motor bututnya, Baskoro kini telah tiba di depan sebuah rumah yang ada di sudut gang. Setelah memarkir motornya, dengan langkah yang dipercepat, ia segera memasuki rumah bercat biru itu.
Tok …
Tok …
Tok …
“Iya, masuk aja!” teriak seorang lelaki dari dalam rumah.
Baskoro pun membuka pintu yang tak terkunci tersebut. Setelah memasuki rumah Heru, ia mendapati rekannya itu telah bersiap untuk berangkat ke rumah seseorang yang dimaksudnya dalam telepon beberapa saat yang lalu.
“Kita berangkat sekarang aja ya, Bas. mumpung hari juga belum terlalu malam!” ajak Heru seraya mengunci pintu rumahnya. Mereka berdua kemudian berboncengan menuju ke rumah dukun yang disebutkan oleh Heru tadi.
Setelah menempuh kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana dengan halaman luas yang masih berupa tanah lapang. Pagar yang terbuat dari bambu terlihat menghiasi sekeliling rumah tersebut. Dengan perasaan sedikit ragu, Baskoro mengikuti Heru yang berjalan lebih dulu.
“Permisi, Mbah. Inii saya ….”
Belum selesai Heru berbicara, terdengar suara lelaki tua menyahutinya dari dalam. “Masuklah, aku sudah tahu apa tujuanmu datang kemari!” ucap dukun itu.
Mereka berdua lantas masuk ke dalam ruangan yang lumayan luas namun terlihat kosong. Hanya tergelar selembar tikar pandan usang serta sebuah meja kecil yang berfungsi sebagai media praktek dukun tersebut. Sementara sang dukun sendiri duduk di samping meja itu.
“Duduklah! Hmm, namamu Baskoro bukan?Aku sudah tahu apa maksud dan tujuanmu datang kemari. Kamu menginginkan kekayaan, bukan?” tanya dukun berjenggot putih dan berikat kepala kain batik kumal itu.
Baskoro dan juga Heru saling bertukar pandang kebingungan. “Ahh, i-iya, Mbah.” sahut Baskoro terbata-bata.
“Baiklah, langsung saja. Jika kamu memang menginginkan kekayaan, maka kamu harus melakukan sebuah ritual pesugihan yang bernama pesugihan sate gagak!”
“A-apa itu, Mbah?”
“Hmm, kamu harus menjual sate gagak layaknya penjual sate pada umumnya. Namun, ada beberapa hal yang harus kamu lakukan untuk memenuhi syarat ritualnya,” sahut sang dukun dengan sorot mata yang tajam.
“Maaf, tapi apa saja syarat yang harus saya lakukan, Mbah?” tanya Baskoro.
“Pertama, pergilah ke sebuah tempat yang sekiranya menurutmu angker. Boleh di mana saja, asal terpelosok atau terpencil. Kedua, tangkap atau beli gagak yang masih hidup, lalu sembelih dan potong di tempat. Ketiga, siapkan wadah dari anyaman bambu, dan letakkan beberapa lembaran uang pecahan seratus ribu di dalamnya. Setelah sate gagak sudah siap, teriakkan ke segala arah seolah kau sedang menarik pelanggan.
Beberapa jin yang berminat nantinya akan menghampiri dan membeli sate gagak buatanmu. Uang yang mereka bayarkan, akan terkumpul secara ghaib di dalam wadah anyaman tadi. Tapi ingat satu hal, Baskoro. Dalam semua prosesnya, kau harus melakukannya tanpa memakai busana sehelai pun!”
Ada rasa tak percaya saat dirinya harus melakukan semua hal itu, tapi tak urung, Baskoro pin berkata, “B-baik, Mbah …, saya siap!”
“Kamu hanya bisa melakukan ritual pesugihan tersebut pada malam Jumat saja! Untuk awal, lakukan pada malam Jumat Kliwon yang jatuh esok lusa. Tapi, ada konsekuensi yang harus kamu ingat, Baskoro,” ucap sang dukun lagi.
“Setiap mendapatkan pelanggan dari alam ghaib, kau harus siap sedia menuruti permintaan mereka untuk menyediakan sate gagak. Apakah kau sudah memantapkan hatimu?” tanyanya lagi.
“Iya, Mbah! Apapun konsekuensinya akan saya hadapi.” Baskoro sudah memantapkan hatinya.
“Bagus, sekarang pulanglah! Persiapkan dirimu!”
*
Waktu berlalu begitu sampai saat di mana hari yang ditentukan telah tiba. Baskoro sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai ritual pesugihan. Dengan menyewa sebuah mobil pick-up, ia membawa gerobak satenya menuju ke sebuah hutan angker yang ada di kaki Gunung Semeru.
Setelah memarkir mobilnya di pinggiran hutan, Baskoro segera menurunkan gerobak yang ia angkut dengan susah payah. Hutan gelap yang berhawa mistis, menjadi tempat tujuan selanjutnya. Dengan langkah mantap, Baskoro mendorong gerobak sate yang cukup berat itu menuju ke kedalaman hutan yang gelap dan sunyi.
“Hmm, aku rasa di sini cukup cocok!” gumam Baskoro seraya menghentikan langkahnya.
Setelah dirasa sudah cukup jauh ia berjalan menyusuri dalamnya hutan, Baskoro menghentikan laju gerobaknya seraya melepas semua pakaian yang ia kenakan. Gagak hidup yang sudah ia siapkan, kini mulai ia sembelih dan dibersihkan. Arang yang telah menyala dengan bara yang terang, terlihat sebagai sumber pencahayaan satu-satunya.
Semua persiapan telah dilakukan. Baskoro kini mulai membakar puluhan tusuk sate gagak mentah di atas bara api. Belum ada beberapa menit ia membakar daging gagak tersebut, tiba-tiba tekanan udara di sekitarnya seketika berubah.
“Sate gagak …, sate gagak! Ayo silahkan dibeli!” teriak Baskoro dengan suara lantang yang terdengar di seluruh penjuru hutan.
Angin tiba-tiba terasa berhembus kencang. Suara-suara aneh mulai muncul dan terdengar dari kejauhan. Ada perasaan takut di hati Baskoro. Namun, ia kembali teringat perkataan Mbah dukun bahwa ia harus melakukan sebagaimana tukang sate menjajakan dagangannya.
Tak berselang lama, tanda-tanda kemunculan sosok ghaib penunggu hutan mulai nampak. Bau anyir tiba-tiba tercium sangat kuat. Bulu kuduk Baskoro seketika meremang hebat. Namun, ia harus tetap terus melakukannya sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Sa-sate, sateee. Sate gagaknya …, silahkan dibeli …!” seru Baskoro yang terdengar lantang namun terdengar terbata-bata karena sesosok makhluk tinggi besar tengah berjalan mendekat ke arahnya. Sosok itu dipenuhi bulu hitam di sekujur tubuhnya. Sepasang tanduk yang melengkung tumbuh di puncak kepalanya dengan mata merah menyala di dalam kegelapan.
Sosok itu berhenti tepat di depan gerobak Baskoro. “Aku mau beli semuanya! Berapa harganya?” Suara serak dan berat terdengar dari mulut makhluk ghaib itu. Terlihat sosok itu menyeringai menunjukkan gigi-giginya yang bertaring panjang, sembari menunjuk ke arah deretan daging gagak yang sudah matang.
“B-baik …! Semuanya seratus juta!” jawab Baskoro dengan suara bergetar berusaha untuk menekan rasa takutnya.
Dengan tangan yang terasa lemas dan kaki yang bergetar hebat, Baskoro mulai melayani pesanan sosok jin tersebut. Bau bangkai yang busuk seketika menyeruak saat sosok itu mulai membuka mulutnya yang lebar untuk memakan satu persatu satenya.
“Enak sekali …! Graaahhhh!” ucap sosok itu terlihat begitu menikmati sate gagak buatan Baskoro.
Setelah sosok jin menyeramkan itu selesai makan, ia segera meletakkan beberapa tumpuk uang pecahan seratus ribu di dalam wadah yang telah disiapkan, lalu dengan cepat menghilang di antara angin yang berembus.
“Fiuhhh …! Gila ini gila! Mau pingsan rasanya!” gumam Baskoro sembari menghela napas panjang. Jantungnya terasa masih berdegup dengan kencang.
Setelah sosok itu berlalu pergi, Baskoro merebahkan dirinya di atas tanah sejenak berusaha meredam rasa takutnya. Ia tak percaya, jika percobaan pertamanya terbilang cukup sukses. Setelah beristirahat sejenak, ia beranjak berdiri untuk melihat wadah uang yang telah ia siapkan.
“Buset! Banyak banget ini duitnya!” teriak Baskoro tak percaya saat melihat banyak sekali lembaran uang berwarna merah itu di dalam wadah. Wajah takutnya kini telah tergantikan dengan perasaan senang yang teramat sangat.
Setelah membereskan semua barang dagangannya, Baskoro memutuskan untuk segera bersiap-siap pulang ke rumah.
**
Malam Jumat berikutnya, Baskoro kembali melakukan ritual tersebut dengan mental dan keberanian yang sudah terasah. Kali ini ia melayani dua sosok jin yang berbentuk kuntilanak dan juga nenek-nenek berwajah seram.
Minggu telah berganti bulan. Hasil kerja keras Baskoro sudah mulai menunjukkan hasil yang nyata. Ia kini sudah bisa membeli sebuah rumah mewah di sebuah perumahan elit yang ada di daerahnya. Mobil mewah keluaran terbaru tak ketinggalan telah dibelinya. Baskoro terlihat semakin bergelimang harta setelah berhasil melakukan ritual pesugihan sate gagak itu berulang kali.
Namun, sepertinya Baskoro sudah terlena dengan semua harta yang telah ia miliki. Sehingga ia tak lagi berjualan sate gagak seperti sebelumnya.
Pada suatu malam, Baskoro bermimpi didatangi oleh sosok jin besar yang merupakan pelanggan pertamanya. Baskoro pun seketika terbangun dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya. Wajahnya terlihat pucat dan begitu ketakutan.
“Ternyata hanya mimpi, huh!” gumamnya seraya mengusap keringat pada pelipisnya. Setelah mengambil segelas air dingin untuk diminum, ia pun kembali merebahkan diri untuk melanjutkan tidurnya.
Malam-malam berikutnya, mimpi yang sama selalu terulang. Kali ini sosok yang berbeda mendatanginya dalam mimpi. Lebih menyeramkan dan membuatnya semakin ketakutan. Dengan suara bergetar, ia pun berjanji akan membuatkan sate gagak pada malam Jumat depan. Namun, semua itu hanyalah janji palsu dan Baskoro kembali mengingkari janjinya.
Tibalah pada suatu malam, hal yang tak terduga benar-benar terjadi. Sebelum Baskoro beranjak tidur. Dirinya merasakan tekanan udara di kamarnya begitu berat. Bau anyir yang familiar tercium kuat menusuk hidungnya.
“Mana sateku …?!” Terdengar suara berat memenuhi ruangan kamarnya yang sunyi.
“S-siapa itu?” seru Baskoro ketakutan. Kedua matanya menyorot ke segala arah untuk mencari di mana sumber suara yang terdengar begitu familiar itu.
Sesosok makhluk tinggi besar muncul dari balik lemari pakaiannya dan berjalan mendekat ke arah Baskoro dengan cepat.
“Mana sateku!” geramnya seraya mendekatkan wajah busuknya itu ke arah Baskoro. Tangannya yang kekar dan berkuku panjang mencengkeram leher Baskoro dengan begitu kuat.
“Arrghhhh! Uhuk …! A-ampuuun!”
Suara teriakan dari mulut Baskoro seketika menghilang saat sosok tinggi besar menyeramkan itu menariknya masuk ke dalam tanah. Darah segar tiba-tiba menyembur dari sela-sela lantai marmer kamarnya.
Rumah mewah yang ia beli sebagai wujud kerja kerasnya melakukan pesugihan tiba-tiba menghilang secara misterius. Berikut segala harta benda yang tadinya ia beli menggunakan uang hasil pesugihan sate gagaknya, semuanya raib tak tersisa. Hilang menyisakan sebuah tanah lapang yabg ditumbuhi oleh semak dan rerumputan.
— END —