Atlan (Pangeran Atlantis)

Prolog

Pernah tidak, membayangkan kisah yang diceritakan orang tua kalian saat hendak tidur itu adalah sebuah kenyataan? 

 

    Maksudku, seperti peri kecil bernama Tinkerbell, atau rubah 9 ekor, atau mungkin kisah-kisah 1001 cerita arabian night ? 

 

      Bagaimana jika kusebut mereka semua ada! Hidup, dikota antah berantah bernama ‘Atlantis’. Berdampingan dengan mahluk-mahluk negeri dongeng lainnya. 

 

    Namaku Atlanta, dan Aku Pangeran Atlantis yang hilang! 

 

Entah, harus aku mulai dari mana kisahku. Semua ini berawal dari malam kelam itu! Benar, dari sana lah semua ini bermula.

 

Sayup-sayup angin menghembus bulu kuduk yang remang, malam yang kelam berkilat-kilat di sambar jutaan petir halilintar. 

 

Seakan dari langit sana Zeus sedang marah dan meluluhlantakkan seluruh hutan hingga dihujami banyak serangan.

 

Burung-burung beterbangan memenuhi malam yang mengusik ketenangan, hewan-hewan yang tak bersalah berlari berhamburan.

 

Kabur! Dari komet-komet yang seakan hendak jatuh ke bumi, berekor api-apinya. Beribu jumlahnya.

 

Menyisakan lubang-lubang yang membekas di tanah bumi. Meninggalkan bentuk-bentuk kehancuran di paru-paru bumi (hutan).

 

Menghilang beribu-ribu detak nyawa yang tak bersalah.

 

Hanya untuk mengejar ‘dia’ yang kini berlari dari segala serangannya.

 

Napasnya terengah-engah, memakai jubah dan cadar. 

 

Ctarr! Ctarr!

 

“Akhh! ” kilat-kilat yang menyambar itu hampir menyambar si wanita, Ia bahkan jatuh akibatnya.

 

Mencoba berdiri kembali, kali ini dengan menyeret kaki yang terasa bengkak akibat jatuh tadi.

 

Membuatnya lambat dalam melarikan diri. melarikan diri dari mereka-mereka yang mengejarnya kini. 

 

“Tangkap dia jangan sampai terlepas! Bawa dia dalam keadaan hidup atau mati.” Pria bertelinga panjang dari ras Elf itu berkata.

 

Matanya sehijau zamrud dan kulitnya seputih salju, memakai kain penutup tubuh yang seakan terbuat dari daun-daun.

 

Menungangi seekor burung hantu raksasa berbulu, lebat seputih salju. Menjadi pemimpin dari beberapa orang lainnya. 

 

Salah satunya si wanita Api, wujudnya ialah api yang membakar tanah berbentuk manusia.

 

Menunggangi se-ekor burung api yang melegenda bernama Phoenix. 

 

Farrr! ” wanita api itu berteriak, maka seketika Phoenix mengibaskan sayap-sayapnya dan api bertambah merajalela.

 

Komet-komet jatuhnya semakin lebat, bagai rintik hujan kala langit berabu.

 

“Menyerahlah wahai Jada! Kau tak akan bisa lari dari para Krismon!” teriak Elf itu. 

 

Wanita yang disebut Jada itu tetap tak mengidahkan, memegang perut yang ditutupi kain, Ia tetap berlari kabur. 

 

Si Elf melirik pada pria Tua yang jenggotnya tebal putih, ada rangakaian bunga di atas kepalanya. Serta memakai jubah ala Viking. 

 

“Teruskan serangan!”

 

Si pria tua mengangguk, maka Ia pecut tubuh kuda setengah rusa yang di tungganginya. 

 

Doka!” mantra diucapkan, maka petir kembali menyambar dengan amat dahsyat nya.

 

Ctarr! Ctarr!

 

Salah satu kilatnya, hendaklah menyambar Jada. Maka Ia berbalik dengan cepat, tangannya menegadah ke atas langit. 

 

Menepis petir, maka berbaliklah lagi petir itu ke awal muasalnya. 

 

Mereka yang menyebut dirinya para Krismon langsung melihat hal tersebut, segera saja bergerak ke sana. 

 

Phoenix terbang ke atas langit bersamaan dengan burung hantu, melesat ke arah Jada. Sedangkan pria Viking tua itu, tunggangannya melatah dalam bayangan melewati pepohonan dengan gesit. 

 

Wanita itu berlari, terus berlari walau Ia sebenarnya tak sanggup melangkah lagi.

 

Wussh! 

 

 Bayangan hitam langsung menghalangi dirinya, membuatnya mundur lalu mencari jalan lain. Ke kiri. 

 

Pagar Api menghentikan lajunya kini, wanita Api itu juga sudah sampai. 

 

Wanita itu jatuh dan terduduk di tanah bumi. Cakar burung hantu yang di tunggangi elf itu kini juga sudah ada di belakangnya. 

 

Elf itu turun dan mulai mendekati Jada yang mundur ketakutan.

 

“Serahkan, Dia!”

 

Hanya deruan nafas, dan suara kobaran api yang menjadi jawaban atas perintah itu.

 

“Serahkan, atau mati?!” bersamaan dengan itu, langkah berhenti dan tangan menegadah di udara.

 

“Jangan bermimpi!” Jada berputar diri, merapalkan mantra yang mulai membentuk mangkuk mengelilingi dirinya. 

 

Ketiga orang itu mulai mundur dari tempatnya.

 

Mata Jada hilang hitamnya, menyisahkan putih dan dan lingkaran biru mulai mengikis tanah. Bersamaan dengan itu kaki sudah tidak menapak tanah. 

 

Wushhh! 

 

      Tsarr! 

 

  Lalu Jada menghilang, bersamaan dengan bulatan dinding biru dengan rapalan mantra itu melebur menjadi butiran pasir cahaya yang lambat laut jatuh dari udara dan sebelum tersentuh tanah cahayanya padam begitu saja.

 

Yang perlahan hilang oleh hembusan angin. 

 

*******

 

  Entah ditembakkan kemana portal itu, Jada kini berada di antara gedung-gedung tinggi di mana gelap malam mendominasi. Hanya cahaya remang dari lampu-lampu jalanan yang menyinari.

 

Tapi cuaca hendaklah hujan, sebab angin bertiup kencang. Dan di sana terlihat wanita itu menyeret kakinya yang pincang. 

 

Berjalan sembari memegang perutnya, terus melangkah hingga berada di depan pintu gerbang sebuah rumah.

 

Di antara celah-celah pagar, mata zamrud nya menelisik cahaya hangat yang membayangi orang-orang di dalam rumah.

 

“Haa!” lalu dirinya duduk, jatuh ke tanah. Tenaganya sudah habis dan dia lelah. Perlahan tapi pasti Ia melihat ke perut yang sedari tadi Ia lindungi.

 

Membuka helai per helai selendang berwarna emas itu, membuatku bisa melihat wajah orang yang sudah membawaku.

 

Benar! Akulah yang di inginkan mereka dan aku pula yang sedari dilindungi oleh Jada, sekujur tubuhku terasa kaku.

 

Di ikat oleh sebuah kain, yang terbuka hanyalah wajahku ini. Dia meletakkan di bumi, berair mata menatapku seakan kami tak akan bertemu lagi.

 

Namun di saat tertentu, dia mengernyitkan dahi. Terlihat kebingungan, kepalany ke kiri dan kenan. Membuat aku bingung dengan apa yang Ia lakukan.

 

“Kamu … Bisa mengerti aku?”

 

Mengerti, apa maksudnya? Apakah harusnya tidak?

 

“Bagaimana bisa, kamu … kamu bisa bayi?”

 

Tentu saja bisa, memangnya bayi tidak bisa mengerti? Aneh sekali dirinya, ingin ku berkata demikian.

 

Tapi entah mengapa diriku tak sanggup untuk bicara, sebelumnya telah kucoba tapi malah terdengar seperti aku menangis. Padahal tidak. 

 

Lidahku seperti tidak bertulang. Tak mampu untuk bicara, yang bisa aku lakukan hanyalah melirik dengan mata. Namun apakah itu salah?

 

“Apakah, ini kemampuan dari sang pewaris tahta?”

 

Tahta, apa yang dia maksud sebenarnya. Ingin sekali aku mendapatkan jawabannya, tetapi wanita ini malah tegak dari duduknya.

 

Menatapku dengan senyuman hangatnya.

 

“Baguslah jika begitu, setidaknya kau akan mengingat wajah Ibu meski kita tidak akan lagi bertemu.”

 

Ucapannya begitu syahdu, suaranya amat menenangkan diriku. Tunggu dulu apa yang dia katakan tadi, Ibu?

 

Srrr! 

 

   Angin-angin bertiup kencang, berputar di sekeliling Jada. Melingkar seakan-akan diri pusatnya.

 

Tubuhnya terangkat ke atas langit, bersamaan dengan itu matanya telah mencair dan berubah menjadi cahaya biru yang berkemilauan.

 

Portal kembali terbuka, bentuknya seperti retakan di atas langit yang malam. Dari sini ku lihat bentukan isi dalam nya, hanya kilauan yang berisi banyak warna.

 

“Atas nama tanah Atlantis dan para leluhur terdahulu. Aku mengikat janji antara diriku dengan keturunan bangsawan, yang darahnya terpilih untuk menjadi raja!”

 

Suaranya menggelar di segala arah, anehnya rumah-rumah tidak ada yang terbuka. Tak risau dengan ada apa di luar sini.

 

“Aku akan mengangkat seluruh energi dalam dirinya, dan akan aku kembalikan … Saat umurnya menginjak 17 tahun! “

 

Ctart! 

 

   Dentuman maha dahsyat begitu menggema, sebuah cahaya bulat keluar dari kepalaku. Itu adalah pikiranku. 

 

Terbang pada genggaman Jada, berada di antara telapak tangannya. Dan di lemparkan nya ke dalam portal. 

 

Setelah itu Ia menghilang bak deburan bintang yang seperti hujan. Lambat laun pemikiran ku mulai pudar entah karena apa.

 

Detik-detik terakhir sebelum ingatan ku di kala bayi menghilang, 12 bintang Zodiac menyatu di langit malam.

 

Entah bagaimana bisa, kedua belasnya bisa ada di 1 langit yang sama. Di malam yang sama.

 

Dan inilah sepotong ingatan yang aku miliki sebelum aku segalanya hilang tentang, Elf, phoenix, ataupun Ibuku.

 

Tapi satu hal yang sudah aku tau tentang diriku. Meski hal itu tak menunjukkan siapa jati diri ini sebenarnya.

 

Namaku Atlanta, aku pangeran Atlantis! 

 

   Prolog–End…! 

Lates Chapters

Bab 4. Langit Terbelah

      "Apa itu, gerbang Samsara?" tanya Atlan.        "Sebuah portal. Tempat yang tak mengenal waktu dan ruang, tempat abadi di alam…

Bab 3. Gerbang Samsara

Tante mengangguk, sembari membuka isi kotaknya. Ada dia dadu yang setiap sisinya berbeda warna, ada tujuh bidak untuk pemain. Menandakan permainan ini maksimal hanya bisa…

Bab 2. Sagoraga

Dada terasa sesak, aura ketakutan mulai memancar. Atlan semakin kuat mengedor pintu, semakin kuat pula meminta tolong. Semakin lebar, memelototi Garuda yang semakin mendekat. Hingga…

Bab 1. Garis Keturunan Di temukan

16 Tahun berlalu~...   "ATLANNN! ATLANNN!" suara-suara itu menggelegar di balik pintu.   Sang pemilik nama, gelisah di dalam tidur. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat…
error: Content is protected !!