Jakarta, 2019.
“Gue suka sama Nara, Jo. Gue mau confess nanti.”
Kaget banget, anjir! Bukan apa-apa, tapi setahu gue Tono selalu anti sama yang namanya LDR. Dan sekarang, kami lagi menuju bandara buat ketemu Nara yang hari ini harus ikut bokapnya pindah ke Singapura.
“Lo yakin, To? Kalau Nara terima, terus pacaran LDR lo sanggup?”
Ya, tapi anak remaja SMP tahu apa sama perkara LDR? Tono cuma kelewat khawatir kalau-kalau nanti merasa kesepian. Zaman sekarang, kan, udah banyak alternatif buat ketemuan walaupun cuma via online.
“Ragu, sih, tapi … coba confess aja enggak, sih?” Suara Tono terdengar semakin dalam pas serius, walau kedengaran masih ragu banget.
“Gue enggak bisa kasih pendapat, sih. Cuma ….”
“Cuma apa?” Tono menodong lanjutan perkataan gue yang agak ragu untuk gue sampaikan.
“Cuma … lo yakin mau pacaran sama sahabat sendiri?” Ya, kami bertiga udah sahabatan dari kelas tujuh. Walaupun sekarang baru mau masuk tahun ketiga, tapi kedekatan kami udah kaya HP dan internet, enggak asik kalau dipisahkan. Dan bagi gue, rasa cinta itu berpotensi merusak persahabatan. Gue takut kenapa-kenapa aja.
“Ya, kenapa? Malah bagus dong kalau pacaran sama orang yang udah dekat sama kita? Apalagi udah nyaman juga.”
Oke, mungkin pemikiran gue aja yang terlalu buruk sangka. “Hmm, iya juga, sih. Ya udah, gas lah! Confess langsung.”
—
Sudah satu jam gue bareng Tono dan Nara di Bandara. Haha-hihi habisin waktu yang entah kapan bisa diulang lagi setelah ini. Demi buat kenangan sebelum berpisah, Nara sampai bersikeras enggak mau masuk ruang tunggu kecuali benar-benar sudah mepet waktu masuk pesawat.
“Guys, kayanya gue udah harus ke ruang tunggu. Soalnya kata bokap tinggal 10 menit lagi jadwal pesawat gue take off.” Nara menyadarkan kami dari canda yang mengasyikkan.
Nara mulai beri salam perpisahan, dia peluk tubuh gue sambil menepuk-nepuk punggung gue yang speechless dan cuma bisa balas memeluknya erat. Beberapa saat gue berbalas tatap dengan matanya yang kelihatan mulai berkaca-kaca setelah dengar gue berkata, “Take care, Ra, jangan lupain kita.”
Gue mundur beberapa langkah, kasih tempat yang leluasa buat Nara peluk Tono. Cukup lama mereka melepas peluk erat, dan gue sama sekali enggak bisa dengar percakapan berbisik yang mereka lakukan. Gue tahu, pasti Tono confess ke Nara. Nanti di mobil, gue bakal tanya apa jawabannya.
Perpisahan selesai, gue dan Tono udah duduk berdampingan di kursi penumpang bagian tengah mobil Tono. Enggak sesuai rencana, sepanjang perjalanan Tono cuma bungkam dan bengong. Gue pun terpaksa ikut diam seribu kata.
Gue enggak tahu, wajah terpukul Tono ini karena perpisahan atau penolakan. Semoga Tono baik-baik aja … dan persahabatan kita juga.
-***-
BLURB
Saat hati merasa hangat sebab senyuman yang meneduhkan, bukankah rasa cinta mulai melanda? Aku tak tahu pasti, inikah cinta atau rasa lainnya. Satu hal yang pasti adalah aku begitu ingin memilikinya. Lantas, bisakah aku memilikinya? Sementara cinta seringnya merusak persahabatan.
-Johan Pambudi, 2022.
Johan ingin menghabiskan masa-masa sekolahnya dengan baik bersama kedua sahabatnya: Hartono dan Verastya. Kebersamaan sejak tahun pertama hingga tahun akhir SMA terasa begitu mengasyikkan, sampai akhirnya hangatnya kebersamaan berubah jadi pupuk benih-benih cinta. Sedari dulu, Johan meyakini bahwa cinta adalah ancaman bagi sebuah persahabatan. Namun, saat ia mulai mencintai Verastya, bisakah ia menukar kebersamaan menjadi hubungan yang lebih dari sekadar persahabatan?
* — *
Note:
Update setiap hari Senin, Rabu dan Jumat.
Hope you enjoy! ^^
Let`s be friends on Instagram @rianisafa1 😀
(Publikasi: 29-03-2024)