Tahun 2050, negara terjerembab dalam kubangan kesuraman. Korupsi merajalela, merusak tatanan bangsa yang dulu berasaskan Pancasila. Para pejabat tanpa malu lagi menguras kekayaan negara demi kepentingan pribadi.
Pembangunan terhenti, masyarakat dilanda kekecewaan dan putus asa. Kota-kota yang dulu gemerlap kini menjadi bayangan suram masa lalu, dengan jalan-jalan yang rusak dan gedung-gedung yang terbengkalai. Korupsi telah menjadi norma, bukan pengecualian.
Di masa itu, hukum tak lagi memiliki taring. Para koruptor berkeliaran bebas, terlindungi oleh kekuasaan dan kekayaan. Lembaga-lembaga keadilan, yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi rakyat jelata, telah lama kehilangan fungsinya.
Keputusan-keputusan pengadilan bisa dibeli dengan mudah, keadilan telah menjadi barang dagangan yang diperjualbelikan di pasar gelap kekuasaan.
Rakyat menengah ke bawah kini hanya menjadi sapi perah saja, dipaksa bekerja keras hanya untuk melihat hasil keringat mereka disedot oleh para penguasa yang tamak.
Pajak yang mereka bayarkan tak pernah kembali dalam bentuk layanan publik yang layak. Jalan-jalan rusak, sekolah-sekolah ambruk, rumah sakit kekurangan obat dan peralatan medis.
Di balik tembok-tembok kekuasaan, pesta pora tak pernah berhenti, dibiayai oleh uang rakyat yang dicuri.
Presiden yang berkuasa, seorang idealis yang pernah bermimpi besar untuk membawa perubahan, kini terjebak dalam lingkaran setan korupsi. Dia telah menyatakan perang melawan korupsi, namun itu hanya menjadi omong kosong belaka.
Upayanya untuk menegakkan hukum selalu kandas didapan kenyataan bahwa korupsi telah mengakar begitu dalam, menyusup ke setiap lapisan pemerintahan hingga ke desa-desa.
Namun, di tengah keputusasaan itu, Presiden memutuskan untuk mengambil langkah drastis. Dalam sebuah pertemuan rahasia dengan para penasihat terdekatnya, ia merumuskan rencana yang hanya diketahui oleh segelintir orang.
Ia mendirikan lembaga rahasia yang tugasnya adalah membasmi koruptor tanpa ampun. Lembaga ini diberi nama sandi “Lembaga Pemuda dan Pemudi”, untuk menyamarkan tujuan sebenarnya.
Lembaga ini mulai merekrut pemuda-pemudi yang baru lulus sekolah dan telah memiliki KTP resmi. Mereka dipilih bukan hanya karena kecerdasan atau keterampilan fisik, tetapi juga karena kesetiaan mereka terhadap negara dan keadilan.
Rekrutmen dilakukan secara diam-diam, melalui berbagai saluran yang tidak mencurigakan, agar tidak menarik perhatian para koruptor.
Gedung lembaga rahasia ini di bangun di bawah gedung DPR, simbol dari kekuasaan yang korup, sebagai tanda bahwa perlawanan terhadap korupsi datang dari dalam.
Pembangunan gedung ini dilakukan dengan sangat rahasia, tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Presiden dan para petinggi lembaga tersebut.
Di sinilah para agen muda ini di latih, diberi kode nama yang berasal dari nama-nama tanaman, hewan, atau benda lainnya sebagai bentuk sandi yang hanya mereka mengerti.
Para agen ini dilatih dalam berbagai disiplin ilmu, dari penyamaran hingga pertempuran. Mereka harus siap menghadapi koruptor yang bersembunyi di balik topeng kekuasaan dan kekayaan.
Misi mereka adalah mengungkap dan menghancurkan jaringan korupsi dari akar hingga pucuknya, mengembalikan keadilan yang telah hilang.
Tugas mereka tidak mudah, musuh mereka kuat dan berpengaruh. Namun, di tengah kegelapan yang menyelimuti negeri, mereka adalah harapan terakhir rakyat.
Mereka adalah pemuda-pemudi yang berani bermimpi dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Perjuangan mereka adalah perjuangan semua orang yang masih percaya pada keadilan dan kebenaran.
Dan kisah mereka baru saja di mulai.
***
Jalanan ibu kota terasa sunyi, meskipun malam itu baru pukul tujuh. Gerimis kecil membasahi aspal, membuat orang-orang lebih memilih berdiam di rumah.
Lampu jalanan yang tidak terlalu terang, tetapi lebih ke arah pencahayaan yang lembut dan redup menciptakan suasana kelam, menambah kesan misterius malam itu.
Di sebuah minimarket yang terpencil dan jauh dari keramaian hiruk pikuk ibu kota, seorang gadis muda sedang sibuk menyusun makanan ringan di rak. Wajahnya ceria, seolah-olah tak ada yang salah di dunia ini.
Tiba-tiba, seorang nenek tua mendekatinya, dengan tatapan penuh penasaran. “Nak, apa ini memiliki rasa coklat?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah bungkus makanan ringan berbentuk lonjong.
Gadis itu tersenyum ramah. “Tidak, Nek. Ini hanya rasa original, untuk rasa coklat belum ada.”
Nenek itu mengangguk pelan. “Kalau begitu, aku akan beli satu, dan sepertinya pekerjaanmu akan segera datang, code name Amaryllis.”
Gadis muda itu tersentak kaget, tetapi kemudian senyum tipis muncul di wajahnya. “Code Name Amaryllis, siap melaksanakan tugas,” balasnya dengan nada tegas.
Dengan langkah cepat, gadis itu menuju kasir. Ia memberi isyarat pada kasir yang langsung mengangguk, memahami situasi. Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikan, gadis itu keluar bersama para pelanggan lainnya.
Ia menyelinap ke gang belakang minimarket, membuka pintu rahasia dengan sandi yang hanya diketahui oleh beberapa orang terpilih.
Di balik pintu itu, terdapat ruang kecil dengan banyak sekali loker-loker yang berbaris rapi. Gadis itu membuka salah satu loker dan mengambil perlengkapannya, kacamata canggih yang tampak biasa saja, sepatu dengan teknologi khusus, seragam dinas, dan sebuah pistol berdesain elegan namun mematikan.
Dengan cekatan, ia mengenakan seragam hitamnya, memasang kacamata, dan mengisi peluru di pistolnya.
“Tsk … tsk … sasaran berada di sekitarmu yang menaiki sedan hitam dengan pengawalan ketat,” suara di earphone tanpa kabelnya memberi informasi terbaru.
“Code name Amaryllis, siap melaksanakan tugas,” jawabnya tegas.
Ia keluar dari ruangan rahasia itu, melangkah cepat menuju gedung yang ada di seberang. Dengan ID khusus, ia bebas masuk ke dalam gedung tanpa menarik perhatian.
Ia menuju lift dan menekan tombol yang menandakan rooftop. Begitu sampai di atas, ia bergerak ke pinggir gedung, memeriksa sekitar dengan teliti.
Dalam kegelapan malam yang ditingkahi cahaya lampu jalan yang redup, ia menemukan sasarannya.
Sebuah sedan hitam yang dikawal ketat oleh beberapa polisi. Gadis itu mundur beberapa langkah, melakukan peregangan sambil melompat-lompat kecil.
Seragam hitamnya menyatu dengan bayangan malam, membuatnya nyaris tak terlihat.
Ia menghirup napas dalam-dalam, kemudian mengaktifkan kacamata khususnya untuk melacak sasaran. Saat sedan itu berada di dekat gedung, ia mulai berlari, semakin cepat hingga akhirnya melompat dari atap gedung.
Sepatu teknologi tingginya membantu menyeimbangkan tubuh di udara, sementara efek es dari sepatunya menciptakan percikan yang membuat para polisi pengawal terjatuh dari motor mereka dengan sangat keras hingga tak mampu bangkit lagi saat dia mendarat di hadapan mereka.
Dengan gerakan cepat, gadis itu mengeluarkan pistolnya.
Duarr!
Duarr!
Dua tembakan melesat tepat ke arah mobil sedan, memecahkan kaca dan menyebabkan teriakan histeris wanita dari dalam. Dengan tenang, ia mendekat, memastikan bahwa sasarannya telah dilumpuhkan.
“Code name Amaryllis, telah selesai menyelesaikan tugas,” lapornya singkat.
Tanpa membuang waktu, ia segera meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil, suara seorang wanita berteriak histeris, menambah dramatis malam yang penuh intrik dan rahasia ini.
Gadis itu menghilang dalam kegelapan, meninggalkan jejak ketakutan dan ketidakpastian di baliknya. Misi malam itu selesai, tetapi perjuangan melawan korupsi masih panjang.
Code name Amaryllis, sang agen muda, adalah salah satu harapan tersembunyi di tengah kesuraman negeri.