Rasa dalam Diam
Bunga berguguran di musim semi, ikan hias berenang di laut dengan riangnya, bintang bersinar tak mampu ku gapai, seperti kisahku dan dirinya.
Nia panggilan akrabku, banyak yang tak tahu siapa diriku, terkenal pendiam dan pemalu, hanya sebatas bayangan semu aku hadir. Sahabat? Sendiri di dalam sepi, itulah keseharian ku. Hingga suatu hari aku bertemu dengan Rifi Arman mengubah hidupku. By, Nia.
Di sekolah Maju tujuh enam,
Banyak lalu lalang anak-anak sekolah termasuk Nia yang sering menunduk mukanya sambil memegang tali tasnya. Suara pengumuman dari pengeras suara terdengar seperti Toa terdengar sangat jelas.
“Harap semuanya hadir, jangan sampai terlambat!” Suara nyaring guru BP dalam benda pengeras suara.
Tentu saja para siswa baik laki-laki dan perempuan protes.
“Ya, padahal nanti aku mau lihat film sama pacar ku,”
“”Pasti telinga ku bakalan bengkak dengar ceramah Pak Didit,”
“Iya, nih, gimana nih, masa mentang-mentang kita mau lulusan, pakai ada acara gini segala,”
Banyak suara keluh kesah di dengar oleh Nia. Dalam batin Nia juga demikian. “Padahal aku ingin tidur siang,” keluh Nia dalam batinnya.
“Kamu mau?” Suara laki-laki yang asing di telinga Nia, memberikan cemilan untuk Nia.
Nia mendongak sebentar, kembali menunduk kembali, tangannya ingin sekali mengambil cemilan. Tapi, selalu datang keraguan. Karena, tak kunjung di respon, laki-laki tersebut inisiatif meletakkannya di telapak tangan Nia.
“Makanlah! aku yakin kamu belum makan sejak tadi, dah,” ucap laki-laki itu dengan pesona mautnya.
“Terima kasih,” suara Nia nyaris tak terdengar. Tapi, mampu di dengar oleh laki-laki itu.
“No problem,” ucap laki-laki tersebut sambil tersenyum dan berbalik menuju teman-temannya.
“Nia, apa itu? minta dong?” Tiba-tiba teman sekelas yang paling cantik mendekati Nia.
Sharena menggelengkan kepalanya pelan sambil menunduk.
“Sudah, jangan ganggu Nia. Yuk, kita kesana!” Ajak teman perempuan yang seusia Nia.
Dua minggu setelah kejadian, Nia dilirik oleh teman sesama perempuan. Nia merasa tidak nyaman dan terus menepi, tidak mau berurusan dengan orang lain.
“Kenapa mereka memandang ku? Apa masih tentang cemilan yang di kasih sama cowok itu?” Suara hati Nia yang berbicara.
“Kamu kenapa mojok. Ayo duduk bareng kita-kita!” ajak teman perempuan yang berkacamata violet.
“I, i, iya,” ucap Nia gugup sekaligus mendekati temannya yang sampai saat ini tidak tau namanya.
“Nama…mu, Nia?”
Nia mengangguk pelan, kerudung merah jambu ikut bergerak.
“Lika, panggil aku Lika,” telapak tangan sengaja dia ulurkan agar Sharena meresponnya.
Nia menjabat tangan teman baru dikenalinya. Padahal mereka akan lulus kurang lebih satu minggu lagi, baru kenalan. “Alamat kamu dimana? Mungkin barangkali kita searah,” tanya Lika dengan gaya tomboi.
“”Kebun anggur daerah salak,” jawab shrena.
“Wah, dekat sama rumah ku, nanti kita pulangnya bareng ya?” Nia mengangguk sebagai persetujuan.
Esok hari menjelang lima hari sebelum wisuda sekolah, dimana para siswa-siswi kelas tiga akan dilepas oleh pihak sekolah. Karena, tugas mereka sudah mencapai akhir. Jangan hanya berhenti di sekolah menengah, jika memiliki tujuan gemilang.
Jika tidak memiliki tujuan, pasti ada akibat dan sebab. Setiap hari, Nia selalu bertatap dan secara kebetulan bertemu dengan cowok yang membawa cemilan. Seperti hari ini, dimana mereka sedang latihan vokal suara.
“Tumben sendiri, mana Lika?” Tanya cowok yang memberikan Sharena cemilan sambil menengok kanan kirinya.
Sharena menatap dan menunduk, “dia bersama dengan yang lain ikut latihan tari,” jawab Nia tanpa menatap.
“Apa aku boleh bertanya?” Cowok tersebut tahu Nia menunggu apa yang akan ditanyakan untuk dirinya.
“Kamu belum tau namaku?”
Nia menjawab gelengan. Cowok tersebut menidurkan kepalanya di bangku sambil menatap Nia menunduk. Meskipun, jarak terpisah bangku, tapi, mampu membuat mereka berbicara secara leluasa, karena, hanya mereka berdua yang ada di dalam kelas.
“Padahal, aku tetangga depanmu, kenapa tidak pernah keluar?” ucapan cowok tersebut membuat Nia mendongak dengan wajah bingungnya.
“Tetangga?” Tanya Nia tanpa suara.
Cowok itu mengangguk, “Kita bahkan teman TK. Ya, meskipun habis lulusan TK, aku langsung mondok, sekarang juga aku masih mondok, tapi, bisa sekolah umum di luar sekolah,” ucap cowok itu.
“Kenapa aku tidak ingat punya tetangga sekaligus teman sekolah? Siapa dia?” Batin Nia.
“Nanti, tanyakan pada ayahmu,” ucap cowok seakan tau apa yang ada dalam batin Nia.
***
“Jadi, dia tetangga depan Yah?” Nia terkejut bukan main.
“Iya nak, malah dia teman mu TK , malah kalian sering dolan bareng, masa lupa,” jawab Ayahnya Nia geleng-geleng.
Nia masih terkejut sambil menatap rumah depan bercat hijau. Terlihat cowok itu sedang bercengkrama dengan tetangga sebayanya.
“Rifi…” Suara lirih Rifi.
“Nak, antar kue ini ke tetangga sekitar ya! Tadi, ibu bikin kelebihan,” pinta ibunya Nia.
“Sina kemana Bu?” Tanya Nia sambil membawa kue kering dari tangan ibunya.
“Sina ada tugas kelompok sama teman-temannya,”
Nia mengangguk, berjalan ke depan untuk mengantar kue kering buatan ibunya. Baru melangkah di rumah tetangga, Sharena berhenti, mematung.
“Aku benarkan, kalau kita tetangga dari dulu, hanya saja kita tidak pernah bertemu,” ucap Rifi sambil tangannya dimasukkan kedalam celana pendeknya mendekati Nia.
Nia tak kunjung merespon, membuat Rifi inisiatif mengambil bingkisan kue, “Itu buat aku?”” Tanya Rifi menyadarkan Nia.
“Ha? Iya, eh, maksud ku buat Tante dan lainnya, ini buatan ibuku,” jawab Nia belepotan kata.
“Terima kasih, Mama, Papa lagi jemput adik ku,” mengangkat bingkisan kue, “Terima kasih, nanti aku sampaikan pada orang tua ku,” ucanya lagi. Nia mengangguk pelan.
Hari berganti hari, waktu seolah berjalan cepat, Sharena kini terlihat menampakkan jati dirinya yang tenggelam dalam dunianya. Semua berkat Rifi dan Lika.
Acara kelulusan yang di tunggu-tunggu akhirnya datang, Nia terlihat anggun dengan balutan kebaya adat, semua para siswa-siswi kelas dua belas akan berpisah dengan para guru yang telah memberikan mereka pendidikan luar biasa.
Satu persatu mereka di panggil, hingga mulai acara kata sambutan, pesan terakhir untuk mereka kelas dua belas.
“Hari ini kalian dinyatakan lulus dan jangan lupa, sering-seringlah datang ke sekolah kalian ini. Para guru tidak akan pernah lupa dengan kehadiran kalian,” sambutan akhir dari guru agama, membuat orang-orang yang hadir di dalamnya ikut terhanyut.
Setelah kelulusan, keseharian Nia dan Rifi komunikasi mereka tak pernah terputus. Hingga…
“Rifi kemarin sudah berangkat ke kota sebelah, saat dia mengantar sepupunya ke pondok,” jelas ibunya.
Nia terdiam dan kembali ke dalam kamar, melihat jendela yang bisa melihat dengan jelas awan di langit. “Kenapa hariku terasa hampa?” Batinnya yang kemudian menulis kesah gelisahnya dalam buku diary.
Empat tahun kemudian,
Nia yang dulunya suka dengan dunianya, kini seperti tengah lahir kembali, kesehariannya kini sibuk dengan pekerjaan magang yang dia tekuni, tiada lain bagian pengecekan data.
Di usia muda, lulus kuliah hanya menempuh tiga tahun kurang, Nia termasuk paling kompeten dan cekatan diantara magang lainnya. Tapi, sayang seribu sayang, banyak uliran gaib, sehingga sampai sekarang Nia tak kunjung dapat pegawai tetap.
“Nia, kamu tau nggak, kita sebentar lagi kedatangan asisten manager baru,” ucap Luna dengan wajah berbinar.
“Benarkah?” Luna mengangguk sebagai jawaban.
Baru saja di bicarakan, terlihat para jejeran kolega berbaris rapi, karyawan lain berdiri dengan hormat, Nia yang akan paling terakhir pun berdiri di samping Luna.
Semilir angin lembut tiba menerpa Nia, pandangan mata seakan menatap rindu merenggut jiwa yang kelabu. “Rifi?” Gumam Nia dalam hati.
Nia tidak sadar, dirinya yang paling terakhir mengapa asisten manager, sehingga ditegur oleh Luna. “Nia, cepat beri salam dan perkenalkan dirimu,” bisik Luna.
“Ya?” Nia menoleh kearah Luna yang kini mulai sedikit sadar. Luna memberi isyarat mata, Nia mengikuti arah isyarat Luna.
Luna yang sudah lama tak bertemu dengan Rifi, terlihat sangat kaku dan gugup saat pertama kali bertemu.
“Tidak usah gugup Nia,” ucapan asisten manager baru membuat seluruh bagian advertising geger.
“Apa kalian saling kenal?” Tanya manager, kepalanya sedikit tidak berambut.
“Iya, kami tetangga,” jawab Rifi dengan tenang.
Semua orang yang mendengarnya tak percaya, Luna mendekati Nia minta penjelasan. “Jadi, kalian saling kenal, Nia?” Telunjuk Luna mengarah kearah Rifi dan Nia secara giliran, Nia menjawab dengan anggukan pelan.
Sejak kejadian itu, Nia mendadak di istimewa kan dan lebih mengejutkan lagi, “Pegawai tetap? Aku?” Nia ingin memastikan, apa yang dikatakan Luna barusan.
“Ya, Nia, tidak hanya aku yang jadi saksi, seluruh tim tau, kamu jadi pegawai tetap,” Luna menggenggam tangan Nia memberikan semangat.
“Apa ini mimpi?” Nia tidak menyangka bahwa selama ini dia nantikan menjadi pegawai tetap menjadi kenyataan.
Empat bulan telah berlalu, kegiatan Nia semakin padat, membuat dirinya pulang larut. Saat berada ditempat parkir, Nia yang baru memasang helm, tiba-tiba terdengar suara Rifi memanggil namanya.
“Nia!” Teriak Rifi.
Nia menoleh ke belakang, mematikan motor matic kesayangannya. “Ada apa?” Tanya Nia, nada di dalam hati dan jantung berdetak bagaikan melayang di awan biru bertaburan bintang tak terlihat.
“Tinggalkan motormu di sini dulu!” Pinta Rifi sambil mengatur napas.
“Tapi…”
“Ibumu di rumah sakit,” ucapan Riri membuat detak jantung seakan berhenti seketika.
Rumah duka,
Nia melihat lalu lalang orang di depannya, tak hanya itu saja, rekan sekantor mengucapkan belasungkawa, dunia milik Nia sekian berhenti, Nia memegang tangan adiknya Sina dengan lembut yang tidak berhenti meneteskan air matanya.
“Yang tabah ya, mbak!” Rata-rata semuanya memberikan kekuatan pada Nia.
Nia melihat Ayahnya tetap tegar walau sebagian tulang rusuknya menghilang sementara di dunia. Nia memeluk Sina menguatkan hati juga jiwanya. “Aku haru kuat demi Sina dan Ayah, aku tau meskipun tidak sehebat ibu kami masih di sisi kami.
Satu pekan kemudian, setelah pengajian tujuh hari ibunya Nia. Berita mengejutkan kembali hadir ditelinga Nia.
“Yang benar Lun?” Nia tak menyangka,bahwa dirinya terlambat mengungkapkan hati untuk Rifi.
“Benar Nia, lihat!” Luna memberikan ponselnya berisi berita tentang Rifi dan anak bos Nia bekerja.
“Rifi akan menikah dengan bos,” gumam Nia dalam hatinya.
Bagaimana rasa suka pada Rifi sejak lama, kini tenggelam dalam tanah begitu saja? Kini Nia berada di pinggiran jendela kamarnya yang berjasa dengan kamar milik Rifi.
“Apakah aku bisa melupakanmu Rif, rasa ku padamu tak pernah padam sedikitpun,” telapak tangan kanan menempel di jendela kaca nya.
Keesokan harinya,
“Yah, sarapan dulu,” ucap Nia dengan sopan.
Ayahnya mengangguk pelan sambil meletakkan ponselnya. “Nanti sore Ayah ada acara, kemungkinan Ayah akan menginap,” ucap Ayahnya sambil mengambil sendok dan piring.
“Acara apa Yah?” Tanya Sina mewakili Nia.
“Ayah juga tidak tau nak, acaranya mendadak. Jadi, jaga rumah baik-baik, kunci rapat-rapat pagar dan pintunya!” ucap ayahnya.
“Ya, Ayah,” jawab Nia dan Sina.
Dua hari kemudian, rumah Nia mendadak ramai, banyak sanak keluarga dan tetangga samping kiri kanannya di rumah Nia.
“Dik, ada acara apa? Kenapa dari tadi, semua orang pada senyum ke kakak?” Nia penasaran sangat.
“Itu, kata…” Tiba-tiba Sina dipanggil sama tantenya dari ibunya. Sehingga teka-teki masih menjadi misteri.
Nia menghela nafas kecilnya dan kembali ke tempat dimana dia melipat kotak nasi.
Malam bertabur bintang, bulan masih mengintip malu, lantunan sholawat mengiringi syahdu bagi para pendengar. Nia yang kini duduk dengan balutan syar’i, make up tipis-tipis terlihat Aira kecantikan yang tersembunyi.
“Tuh, benarkan apa mbak bilang, kalau kakakmu Nia cantik,” puji kakak sepupu Nia mendadak jadi penata rias.
“Mbak tau sendiri, kak Nia itu tidak begitu suka dandan. Lihat aja tuh, mau dihapus,” Sina melihat Nia akan mengambil tisu.
“Eh, Nia jangan dihapus,” kakak sepupunya langsung mengambil tisu dari tangan Nia.
“He? Aku cuma mau bersihkan Tanganku,” ucap Nia. “Mbak, sebenarnya ada acara apa di rumah? Semuanya pada tidak mau kasih tau jawabannya, ayolah Mbak, kasih aku jawaban,” Nia memegang tangan kakak sepupunya penuh harapan.
Saat akan memberi jawaban, Tante Nia masuk dan memberi perintah agar cepat keluar, karena tamunya sudah datang.
“Tamu? Siapa? Kenapa kami di suruh keluar? Ini juga kenapa Mbak sama Sina pegang tanganku segala? Ada yang tidak beres,” batin Nia meronta-ronta tahu rahasia apa yang disembunyikan oleh keluarga besarnya.
“Tunggu jawaban dari Nia Pak,”
Deg
“Suara itu…” Nia menoleh kearah sumber suara.
Berdiri, mematung, itulah Nia, pandangannya tertuju pada Rifi tersenyum menyapa diri Nia kala pertama kali di sekolah menengah atas.
Nia tersadar, ketika Sina dan kakak sepupunya menggenggam tangan Nia. “Ada apa ini? Bukankah, Rifi akan melamar anak Pak Heri?” Batin Nia masih bertanya besar.
Tante Nia mendekatinya sambil menggenggam tangan Nia dengan lembut, tanpa terasa sudut air mata Tante Nia terlihat di matanya.
“Nak, jika boleh memilih, mungkin ibu mu pasti duduk di sampingmu,” tangan tantenya Nia mengalun di pundak Nia dengan lemah lembutnya.
“Tan…ini… maksudnya apa?” bisik Nia kala tantenya memeluk diri Nia.
Tantenya Nia hanya tersenyum, berganti dengan ayahnya Nia yang menjawab semua teka-teki selama hampir satu bulan.
“Nak Rifi minta izin dengan Ayah, ingin mempersunting mu nak, apa kamu bersedia?” ucapan ayahnya Nia seperti kembang api meletus di langit.
“Mempersunting Nia?” Ayahnya Nia mengangguk pelan, Nia melihat Rifi juga ikut mengangguk yang ditemani oleh kedua orang tuanya.
“Bukankah kamu hari ini akan melamar anak Pak Heri?” Pertanyaan Nia membuat semua yang hadir tersenyum.
“Nak Rifi, jelaskan sama anak Bapak,” pinta ayahnya Nia di jawab anggukan oleh Rifi.
“Aku dan anak Pak Heri hanya sekedar rekan kerja. Saat berita menggemparkan di kantor itu tidak benar, Pak Heri sudah menjelaskan bahwa putrinya akan menikah besok lusa dengan pacarnya yang tidak pernah di publish,”
Penjelasan dari Rifi membuat Nia merasa bersalah juga merasa bersyukur. Rasa dalam diamnya kini terbalas tunai, ketika ucapan kata-kata indah terdengar di bibir tipis milik Rifi.
“Aku menyukaimu sejak masa kanak-kanak, saat pertama kali orang tuaku berpindah di depan rumah mu,, kamu yang merubah pandangan hidup menjadi warna hidupku,” ucapan rasa dari hati ke hati.
Nia dan Rifi kini berada dekat jendela kaca, mereka berdua telah resmi menjadi pasangan hidup, saling pandang dan memandang satu sama lain.
Nia melihat cahaya gedung yang selama ini dia impikan, tanah suci tempat para nabi dan rasul berkumpul.
“Rasa dalam Diam selama ini ku pendam, terbalas dengan keindahan tiada tara, terima kasih kepada Sang Khaliq telah mempersatukan kami,” kata Nia dalam pelukan suaminya.