Gadis Tawanan Mr. G

Restu Mama.

Alana menggeleng tidak percaya. 

 

“Ternyata anda suka bercanda juga ya.” ucap Alana.

 

“Aku tidak sedang bercanda Lana. Ponsel ini memang untukmu. “ jujur Gio.

 

Alana diam,  dia tidak serta merta percaya dengan perkataan Gio.

 

Bukankah sebelumnya pria itu bilang ponsel itu untuk cewek incarannya? 

 

Lantas kenapa sekarang malah diberikan padanya?

 

Aneh! 

 

Gio terus menatap Alana yang hanya diam dengan wajah bingung. Tapi dia ingin tahu sejauh mana Alana respon gadis itu.  

 

“Lana!” panggil Gio. 

 

“Eh,  iya. Kenapa?”

 

“Ini ambil,  kenapa malah melamun.” protes Gio.

 

Alana menggeleng kepala, masih tidak percaya dengan ucapan pria yang ada di hadapannya ini.

 

“Aku memang membelikan ini untukmu,  ambilah. Anggap saja ini sebagai ganti ponselmu, karena aku telah membuangnya.” jelas Gio, agar gadis ini percaya.

 

“Tapi,  tuan.. “

 

“Kita butuh alat untuk komunikasi Lana,  aku tidak bisa selalu dekat denganmu. Jika terjadi sesuatu maka kau bisa menghubungiku atau Bas,  aku sudah menyimpan nomornya disana. Jangan menolaknya,  ini semua demi kebaikanmu. “ 

 

Kembali Gio melontarkan sebuah perhatian yang begitu besar untuk  Alana.

 

Air mata yang sedari tadi Alana tahan ternyata luruh juga,  perkataan Gio barusan benar-benar menyentuh hati gadis itu.  

 

‘Jangan buat aku semakin mengagumimu tuan.’batin Alana. 

 

Rasanya sangat sulit untuk membuang jauh rasa ini! Rasa yang sebelumnya tidak pernah Alana rasakan.

 

Sebualan berlaru,  semenjak Alana kembali kesana semenjak itu pula Gio tidak pernah meninta Alana untuk memuaskannya seperti yang sudah-sudah.  

 

Tapi perhatian Gio terhadap Alana begitu membuat Alana semakin jatuh hati setiap harinya.  

 

Gio sekarang,  dia lebih fokus pada perusahaannya yang tambah berkembang. Kehidupan Gio berubah drastis semenjak Alana kembali.  

 

Gio tidak lagi mau pergi ke club, tidak lagi main dengan banyak perempuan.  Bas sangat yakin jika perubahan Gio ada hubungannya dengan Alana. 

 

Bas harap Gio segera menyadari perasaannya sendiri.  Sebagai asisten sekaligus teman,  Bas sangat bahagia melihat kehidupan Gio saat ini yang jauh dari dunia malam yang kelam.

 

Suatu hari Gio mengajak Bas datang kerumah utama dimana Sonya tinggal. 

 

Gio ingin meminta restu untuk menikahi gadis pilihannya.

 

Ya.  Gio telah sadar akan perasaannya,  dia tidak ingin lagi hanya menjadikan Alana sebagai gadis pemuas nafsu,  tapi Gio ingin mempersuntingnya sebagai istri. 

 

Setelah menempuh perjalanan lima belas menit lamanya, akhirnya Gio dan Bas tiba di rumah utama.

 

Rumah yang besar dan megah ini terasa sangat sunyi, hanya ada beberapa pelayanan dan juga penjaga rumah itu yang terlihat, sedangkan sang tuan rumah? 

 

Entahlah, Gio tidak tahu.

 

“Aden, anda datang.” sapa salah satu pelayan yang sudah bekerja sangat lama di rumah ini.

 

“Iya mbok, Mama ada?” tanya Gio pada pelayan yang biasa dia panggil Mbok itu.

 

“Nyonya besar sakit Den, sekarang ada di kamar.”

 

“Sakit!” pekik Gio terkejut.

 

Terlihat pelayan itu menganggukan kepala.

 

“Iya Den, sudah satu bulan lebih Nyonya sakit stroke ringan, semenjak itu pula Nyonya hanya berdiam diri di kamar.” 

 

Gio mengusap rambutnya kasar, sebagai seorang anak bagaimanapun hubungannya dengan sang Mama selama ini kurang baik, tapi Gio tetap menyayangi sang Mama.

 

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku!?” 

 

“Nyonya melarangnya Den.”

 

“Astaga!” 

 

Tanpa berkata apapun lagi, Gio langsung berlari menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar Sonya berada.

 

Sampai di depan pintu kamar Sonya, Gio langsung membukanya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.

 

“Ma.” 

 

Gio menghampiri Sonya yang terbaring di atas tempat tidur.  Wanita itu mengalami stroke ringan beberapa waktu lalu.  

 

Sonya menoleh, “Gi.. Gio!”  sahut Sonya dengan nada serak menahan tangis. Sonya tidak menyangka putranya akan datang menemui dirinya.

 

Gio berjalan mendekat, kemudian memeluk erat wanita yang sudah melahirkannya itu, perbedaan pendapat membuat mereka merentangkan jarak. Kini Gio ingin kembali mengikis jarak yang sudah terlalu renggang itu.

 

“Kau datang nak, Mama sangat merindukanmu.” Sonya menangis di pelukan Gio, begitu juga Gio pria itu tidak dapat menahan air matanya untuk tidak berjatuhan.

 

“Iya, Ma aku datang.”

 

“Maafkan mama Gio, selama ini mama salah, selalu memaksakan kehendak…”

 

Keadaan seketika berubah haru.

 

Gio menempelkan telunjuk di bibir sang mama.” Sudah ya ma, Gio pun salah selama ini. Aku minta maaf untuk semuanya.”



“Gio ingin memperbaiki hubungan kita ini Ma, Gio ingin berubah. Tapi ada satu hal yang ingin aku sampaikan.” ucap Gio menjeda ucapannya.

 

Apa itu nak, katakan.” sahut Sonya dengan lembut. Tidak seperti biasanya jika mereka bertemu maka bisa dipastikan akan adanya keributan.

 

Tapi sekarang sangat damai melihatnya.

 

Gio memegang erat tangan Sonya, kemudian mendongak menatap wajah sang Mama.

 

“Gio ingin meminta restu Mama, untuk menikahi gadis pilihan Gio.” Gio menatap Sonya   dengan penuh pengharapan.

 

Sonya tersentak, wanita itu terkejut dengan tapi sedetik kemudian wanita paruh baya itu malah tersenyum.

 

Hal itu membuat Gio heran.

 

“Mama restui, ajak wanita itu kemari. Mama ingin mengenalnya.

 

Mata Gio membola saking terkejutnya, tidak menyangka dengan jawaban yang diberikan oleh sang Mama.

 

Grep!

 

Gio kembali memeluk sang Mama dengan derai air mata bahagia. Tidak menyangka akan mendapatkan restu semudah itu.

 

Dulu Gio bukanlah pria yang mau terbelenggu dengan sebuah komitmen, semua wanita yang dekat dengannya hanya untuk main-main.

 

Trauma akan sebuah hubungan, menjadikan Gio seperti itu. 

 

Dari kecil Gio dibesarkan di keluarga yang tidak sehat, Papa Mamanya sering bertengkar. Bahkan tidak jarang Papa Gio main tangan pada Mama tepat di hadapan Gio. 

 

Situasi seperti itu berlangsung lama, hingga Gio beranjak dewasa. Barulah Papa Mamanya memilih berpisah.

 

Apakah Gio bahagia?

 

Tentu saja tidak! 

 

Dari perceraian orang tuanya Gio lah yang menjadi korban, dia menjadi bahan untuk diperebutkan. Dan semenjak itulah Gio tidak percaya akan sebuah hubungan yang sakral, baginya wanita hanya untuk bersenang-senang. 

 

Tapi, tidak untuk  sekarang!

 

Setelah pertemuannya dengan gadis desa yang telah membuat hatinya luluh.

 

Bas yang berdiri tidak jauh dari sana, ikut meneteskan air mata menyaksikan keharuan yang ada di hadapannya.

 

Bas mengusap matanya yang mengembun sebelum Gio melihatnya. Bas tidak ingin terlihat lemah dihadapan tuannya.

 

“Terimakasih Ma. Terimakasih. Secepatnya aku akan membawanya kemari mengenalkannya pada Mama.” 

 

“Mama tunggu.” sahut Sonya dengan senyum mengembang di bibirnya. Tidak ada lagi raut ketidaksukaan yang Sonya tunjukan saat ini.

 

Gio menganggukan kepala tanda setuju atas ucapan Mama. melihat situasi yang sudah mencair Bas mundur teratur. Meninggalkan keduanya, sengaja Bas pergi untuk memberikan ruang agar  lebih leluasa menghabiskan waktu kebersamaan mereka berdua. 

 

Menggantikan waktu yang telah mereka berdua lewatkan tempo lalu.

 

Sebelum keluar tadi Bas sempat mengabadikan momen berharga itu, untuk nanti dia tunjukan pada Alana. 

 

Ya, wanita itu harus tahu tentang kebahagian ini!

 

 





Lates Chapters

Jadian(Ending)

Sonya menepuk keningnya sendiri begitu juga dengan Bas, sedangkan Gio dia hanya tersenyum sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.   “Astaga! Kau ini. Sudah besar…

Bertemu Sonya(mama Gio)

Alana masih tidak percaya dengan apa yang dia saksikan wanita yang beberapa bulan lalu menghina bahkan berkata kasar padanya, kini berubah lembut?   Entah ini…

Apa dia wanitanya?

“Apa ini?” tanya Alana ketika Bas memberikan kotak hadiah itu.   “Saya tidak tahu nona, tuan Gio hanya berpesan agar nona dandan yang cantik. Dan…

Rencana Gio.

Ketika hari hampir malam, Gio baru tiba di apartemen. Sedangkan Bas pria itu langsung pulang keapartemen miliknya yang tidak jauh dari tempat Gio saat ini.…

Membeli hadiah.

Hari menjelang malam,  Gio baru saja keluar dari gedung perusahaan miliknya bersama dengan Bas.    Saat ini keduanya sedang berjalan menuju parkiran.    “Bas, apa…

Jantung aman?

Pagi menjelang,     Alana mulai mengerjap membuka mata, gadis itu merasakan tangannya terasa kelu dan berat ketika ingin digerakan. Alana menoleh,  ketika matanya sudah benar-benar…

Manisnya perhatian Gio.

Gio baru melepas pelukannya, ketika bel berbunyi.    “Sepertinya dokter Rian yang datang. Tunggulah dulu, aku akan membukakan pintu.” ucap Gio dengan lembut, pria itu…

Kehilanganmu, seperti aku kehilangan separuh nyawaku.

Brak!   Gio mendobrak salah satu pintu yang ada di gudang itu, pintu itu satu-satunya pintu  yang di kunci. Di ruangan yang pengap dan gelap…

Rencana Bas.

Emp!....empt! Alana meronta memberontak ketika dua orang pria yang tiba-tiba membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan. Berteriak minta tolong pun Alana tidak bisa.   Tubuh…

Kabar Baik.

Dua hari telah berlalu, Bas dan anak buahnya  gencar mencari keberadaan Alana. Mulai dari perkotaan sampai ke pelosok pun semua mereka datangi.   Bahkan anak…

Kegilaan Gio.

“Maksud kamu, bicara seperti itu pada mama apa Gio, mama tidak mengerti?” tanya Sonia dengan wajah di buat se sendu mungkin.   “Sudahlah ma! Aku…

Mama puas sekarang!

Gio menjatuhkan surat yang baru saja dia baca, Tanpa bicara apapun Gio langsung bangun lalu menyambar kunci mobil Bas yang tergeletak di sofa.   “Tuan!…

Surat yang di tinggalkan Alana.

Gio mengerjapkan mata perlahan, sinar matahari pagi yang masuk lewat celah genjela mengganggu tidurnya.   Masih antar sadar dan tidak, Gio menelisik ruangan tempatnya saat…

Igauan Gio.

Tuan Gio!’’ buru-buru Bas mengangkat panggilan itu sebelum panggilan  kembali mati.   ‘’Tuan anda dimana? Aku seharian mencarimu.’’tanya Bas setelah  panggilan terhubung.   ‘’Maaf tuan,…

Kepergian Alana.

Dengan langkah gontai Alana berjalan keluar dari apartemen, tak terasa air matanya jatuh begitu saja. Ada rasa berat meninggalkan pria yang beberapa bulan ini bersama…

Pergilah! Aku membebaskanmu.

Lagi-lagi Alana terpaksa harus berbohong.” Aku bekerja sebagai asisten rumah tangga, dan tidur di dalam. Makanya aku tidak pernah pulang.” sahut Alana, dengan seulas senyum…

Meninta izin.

Gio segera memeriksa ponselnya sesuai perintah Alana, Sedetik kemudian Gio mengernyitkan keningnya, karena tidak ada notif salah kirim seperti yang Alana katakan.   Kembali Gio…

Aku suka ini.

Tring!   Ponsel Alana berbunyi, Alana yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya meliriknya saja tanpa berniat ingin melihatnya lebih dulu.   Alana lebih…

Amankan jantungku.

Keesokan hari mereka kembali pulang ke kota, sesuai yang dikatakan Gio semalam jika Gio sudah menemukan  apartemen untuk tempat tinggal Alana.   Alana sempat menolak…

Hadiah.

Malam hari,   Gio dan Alana sudah berada di meja makan, di susul Bas yang baru datang. Ketiganya makan malam dengan khidmat, tidak ada obrolan…
error: Content is protected !!