Gedung SD Negeri Mentari pagi itu tampak seperti pelangi yang tumpah. Suara teriakan anak-anak kelas satu yang berkejaran di lapangan, bunyi peluit guru olahraga yang melengking, hingga aroma minyak telon dan bedak bayi yang masih tertinggal di seragam mereka, biasanya menjadi asupan energi bagi Arumi. Namun, pagi ini, riuh rendah itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telinganya.
Arumi berdiri di ambang pintu kelas 3.B. Tangannya menggenggam erat tali tas bahunya yang mulai mengelupas di bagian sudut. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa kosong sejak pertemuan di kafe “Lazuardi” kemarin sore. Hujan memang sudah reda, tapi di dalam dirinya, badai baru saja dimulai.
”Pagi, Bu Arumi!” sapa seorang murid laki-laki berambut jabrik bernama Rio. Ia berlari melewatinya sambil membawa robot plastik yang lengannya sudah patah.
Arumi memaksakan sebuah lengkungan di bibir. “Pagi, Rio. Jangan lari-lari di koridor, nanti jatuh.”
Kalimat itu meluncur begitu saja secara otomatis. Tubuh Arumi berada di sana, menjalankan fungsinya sebagai pendidik, namun jiwanya masih tertinggal di cangkir kopi dingin milik Davin. Ia melangkah masuk ke kelas. Papan tulis putih di depannya masih bersih, memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip minta diganti. Sama seperti hidupnya, pikir Arumi. Tampak bersih dari luar, tapi sedang berkedip menuju kegelapan.
Ia mulai menuliskan tanggal di pojok kanan atas papan tulis. Selasa, 17 Februari.
Setiap goresan spidol itu terasa berat. Ia teringat Selasa-Selasa sebelumnya. Biasanya, tepat jam tujuh pagi, ponselnya akan bergetar pendek. Sebuah pesan singkat dari Davin, ”Semangat mengajarnya, Calon Ibu dari anak-anakku. Jangan lupa sarapan.”
Pagi ini, layar ponselnya gelap gulita. Tak ada getaran, tak ada sapaan. Hanya ada notifikasi grup WhatsApp guru yang membahas tentang iuran koperasi. Arumi menelan ludah yang terasa sepahit empedu.
”Anak-anak, buka buku Bahasa Indonesia halaman lima puluh dua,” suara Arumi terdengar datar, nyaris tanpa nyawa.
Saat anak-anak mulai sibuk membalik halaman buku, pikiran Arumi melayang pada sosok Pak Jaka. Ia mencoba mengingat-ingat apakah Davin pernah bercerita lebih detail tentang pria itu. Seingatnya, Davin hanya menyebut Pak Jaka sebagai “paman jauh” atau “kenalan lama Ayah”. Arumi tidak pernah menyangka bahwa di balik istilah “kenalan lama” itu, tersimpan surat hutang nyawa yang bunganya adalah masa depan mereka.
Bagaimana bisa sebuah kebaikan di masa lalu menjadi belenggu di masa depan? Arumi bertanya-tanya dalam hati. Jika Pak Jaka benar-benar tulus menyekolahkan Davin, haruskah ia menagihnya dengan cara mengambil kebahagiaan Davin? Ataukah ini sebenarnya rencana Ibu Ratna yang sengaja membesar-besarkan hutang budi itu agar Davin merasa tidak punya jalan keluar?
”Bu Guru… Bu Arumi?”
Suara kecil memecah lamunannya. Meira, murid perempuan yang paling pendiam di kelas, berdiri di samping mejanya. Matanya yang bulat menatap Arumi dengan cemas.
”Iya, Meira? Ada apa?”
”Ibu sedang menangis?” tanya Meira polos.
Arumi tersentak. Ia segera menyentuh pipinya. Basah. Ia bahkan tidak sadar kapan air mata itu jatuh. Dengan gerakan cepat yang canggung, ia mengusap wajahnya dan berusaha tertawa kecil. “Ah, tidak. Ibu hanya… mata Ibu sedang kelilipan debu. Tadi di jalan kena angin kencang.”
Kebohongan demi kebohongan. Arumi merasa dirinya menjadi pembohong ulung sejak kemarin. Ia berbohong pada Davin bahwa ia tidak membencinya, dan kini ia berbohong pada anak kecil yang suci ini.
”Mau Meira tiup matanya?” tawar gadis kecil itu tulus.
Hati Arumi mencelos. Ketulusan anak ini justru membuatnya semakin sesak. Dunia anak-anak begitu sederhana; jika sakit, ditiup. Jika jatuh, diobati. Namun, bagaimana mengobati luka yang tidak berdarah? Bagaimana meniup perih yang letaknya jauh di dalam bilik jantung?
”Terima kasih, Sayang. Sudah sembuh kok. Ayo, kerjakan tugasnya lagi ya,” Arumi mengelus kepala Meira, lalu berpaling, berpura-pura memeriksa catatan di meja.
Jam istirahat tiba. Arumi memilih bersembunyi di ruang perpustakaan yang sepi daripada bergabung dengan rekan-rekan gurunya di ruang guru. Ia tahu, di ruang guru, percakapan akan berkisar tentang harga sembako, gosip artis, atau rencana liburan. Ia tidak sanggup berpura-pura tertarik pada hal-hal itu sekarang.
Ia duduk di pojok perpustakaan, di antara rak buku-buku sejarah yang berdebu. Ia mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya gemetar saat membuka akun media sosial. Ia tahu ini adalah kesalahan. Ia tahu mencari tahu hanya akan menambah luka, tapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa sakitnya.
Ia mencari nama “Sarah Adiwangsa”. Nama yang disebutkan Davin kemarin.
Tak butuh waktu lama untuk menemukannya. Akun itu tidak dikunci. Foto profilnya menampilkan seorang wanita dengan gaun sutra berwarna champagne, berdiri di sebuah galeri seni. Sarah tampak begitu bersinar. Ia adalah definisi dari “wanita berkelas”. Tidak ada noda di pakaiannya, tidak ada beban di matanya.
Arumi membandingkan dirinya yang tercermin di layar ponsel yang gelap. Seragam guru yang warnanya mulai pudar, rambut yang hanya diikat seadanya, dan lingkaran hitam di bawah mata karena kurang tidur.
Lalu, Arumi melihat sebuah unggahan cerita (story) yang baru diunggah dua jam yang lalu. Foto sebuah meja makan mewah dengan hidangan tradisional kelas atas. Di sana, tertangkap ujung lengan kemeja pria berwarna biru dongker.
Jantung Arumi berdetak kencang. Ia mengenal kemeja itu. Itu adalah kemeja yang ia hadiahkan untuk ulang tahun Davin tahun lalu. Kemeja yang dibelinya dengan menyisihkan uang gaji honorernya selama tiga bulan.
Kemeja itu kini berada di meja makan Pak Jaka.
”Jadi secepat itu, Vin?” bisik Arumi pedih. “Belum ada dua puluh empat jam sejak kamu bilang kamu mencintaiku, dan sekarang kamu sudah duduk di meja makan mereka, memakai pemberianku untuk menyenangkan calon istrimu?”
Rasa mual tiba-tiba menyerang perutnya. Arumi menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan gejolak yang ingin keluar. Ia merasa dikhianati, bukan hanya oleh Davin, tapi oleh semesta. Semua pengorbanannya selama empat tahun ini terasa sia-sia. Ia menemani Davin saat lelaki itu masih menggunakan motor tua yang sering mogok untuk berangkat kerja. Ia menemani Davin saat ibunya jatuh sakit pertama kali dan mereka harus berhemat luar biasa untuk biaya pengobatan.
Dan sekarang, setelah Davin berada di puncak, setelah ia rapi dengan kemeja bagus dan posisi manajer, ia diberikan kepada orang lain sebagai “pelunas hutang”.
”Arumi? Kamu di sini?”
Suara berat itu mengejutkannya. Pak Hendra, kepala sekolah, berdiri di antara rak buku. Pria paruh baya itu menatapnya dengan kacamata yang melorot di hidung.
”Iya, Pak. Saya sedang… mencari referensi untuk materi besok,” jawab Arumi gugup, sambil menyembunyikan ponselnya di balik buku ensiklopedia.
Pak Hendra berjalan mendekat. Ia adalah sosok ayah bagi Arumi di sekolah ini. “Kamu pucat sekali, Rum. Apa kamu sakit? Kalau tidak enak badan, pulang saja. Biar kelasmu diisi oleh guru piket.”
Arumi menggeleng. “Saya tidak apa-apa, Pak. Benar.”
”Rum, hidup ini kadang seperti mengajar kelas yang nakal,” ujar Pak Hendra tiba-tiba, suaranya melembut. “Kadang kita sudah menyiapkan rencana pembelajaran yang sempurna, tapi anak-anak tidak mau mendengarkan. Kadang kita sudah memberikan yang terbaik, tapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan. Yang bisa kita lakukan hanyalah bersabar, atau jika sudah terlalu melelahkan… kita lepaskan kelas itu untuk sementara waktu.”
Arumi tertegun. Apakah Pak Hendra tahu? Ataukah wajahnya memang sudah mencerminkan kehancuran yang begitu nyata?
”Terima kasih, Pak. Tapi saya masih sanggup mengajar,” ujar Arumi tegas, meski suaranya sedikit bergetar.
Pak Hendra mengangguk, namun matanya tetap memancarkan kekhawatiran. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Arumi. Ingat, kamu tidak bisa memberikan cahaya pada murid-muridmu jika lilin di dalam dirimu sendiri sudah padam.”
Setelah Pak Hendra pergi, Arumi jatuh terduduk di kursi kayu perpustakaan. Kata-kata itu terngiang di kepalanya. Lilin yang padam. Ia merasa lilin itu memang sudah padam. Yang tersisa hanyalah asap hitam yang menyesakkan dada. Ia kembali menatap ponselnya. Ada sebuah pesan masuk. Bukan dari Davin. Tapi dari nomor tidak dikenal.
”Bisa kita bertemu sore ini? Saya Sarah.”
Dunia Arumi serasa runtuh untuk kedua kalinya. Bagaimana wanita itu bisa mendapatkan nomor teleponnya? Apa yang dia inginkan? Apakah dia ingin pamer? Atau dia ingin memastikan bahwa Arumi benar-benar sudah menyingkir dari jalan hidup “pangerannya”?
Arumi menatap layar ponselnya lama. Tangannya dingin. Antara ingin memblokir nomor itu atau menghadapinya sebagai seorang pejuang yang harga dirinya sedang diinjak-minta.
Akhirnya, dengan nafas yang memburu, Arumi mengetik balasan.
”Di mana?”
#day2
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition