Babak 1: Kebuntuan dan Misteri
Larasati menatap nanar surat pemecatan di tangannya. Mimpi-mimpi besarnya sebagai jurnalis ambisius rasanya lenyap seketika. Ketidakmauannya menerima suap berujung pada pengkhianatan dan kini ia terombang-ambing tanpa arah. Masalah keuangan semakin mencekik, apalagi biaya sewa hunian di Surabaya nyaris mustahil dijangkau dengan tabungannya yang menipis.
Suatu sore, terlintas berita lowongan di situs properti. Sebuah rumah tua yang terletak di desa Arum Dalu, desa terpencil. Pemilik rumah menawarkan dengan harga tak masuk akal – murahnya mencurigakan. Gambar rumah itu tampak suram, dikerubungi pepohonan rimbun yang seolah menyembunyikan rahasia kelam. Keinginan untuk menghemat dan naluri jurnalistiknya yang selalu mencari cerita unik mendorong Larasati menghubungi pemilik rumah itu.
Pak Tua Sutrisno, pemiliknya, menjelaskan bahwa rumah itu memang sudah lama kosong. Dia enggan berlama-lama bercerita lewat telepon, meminta Larasati langsung datang melihat jika berminat. Perjalanan menuju desa itu melelahkan, melewati tikungan tajam dan jalanan berlubang. Setibanya di sana, hawa dingin menusuk tulang, udara seolah lebih berat. Rumah tua itu berdiri sunyi, cat terkelupas, jendela ditutup papan kayu, dan aura kesepian terpancar kuat.
“Murah banget, Pak. Apa nggak ada masalah sama rumahnya?” Larasati bertanya ragu.
Pak Tua Sutrisno menghela napas. “Ada cerita-cerita, Nduk. Katanya dulu keluarga yang tinggal di sini kaya mendadak, tapi ada harga yang harus dibayar. Sekarang mereka udah nggak ada, katanya meninggal semua. Tapi ya terserah Nduk, percaya atau nggak.”
Kisah horor itu tak menyurutkan niat Larasati. Keputusan sudah bulat, ia akan tinggal di sana sambil mencari pekerjaan baru.
Hari pertama terasa hening, namun malam pertamanya dipenuhi kegelisahan. Suara gesekan di lantai papan, bayangan samar di lorong, dan bisikan angin seolah membenarkan cerita-cerita seram itu.
Keesokan harinya, rasa penasaran Larasati memuncak. Ia bertanya pada warga desa untuk memuaskan penasaran, karena terdorong dengan rasa ingin tahunya yang besar. Semua bercerita senada tentang keluarga kaya yang tinggal di rumah tersebut, tentang ritual aneh yang pernah terlihat, dan kematian tragis penghuni sebelumnya.
Namanya Maya, seorang gadis muda, kerap disebut sebagai pemicu malapetaka.
“Siapa Maya?” tanya Larasati ingin tahu.
Warga terdiam dan mulai gusar. “Kita tidak tahu apa-apa, Mbak. Jangan bawa-bawa nama kita.” Kemudian warga pergi serempak meninggalkan Larasati yang masih penuh tanda tanya di benaknya.
Babak 2: Teror dan Pencarian
Hari-hari Larasati dipenuhi dengan kekacauan yang tak terduga. Setiap malam, ketika bayangan-bayangan menutupi rumah tua itu, suara-suara aneh mulai terdengar dari setiap sudut. Suara langkah kaki di lorong gelap, bisikan-bisikan tak terdengar dari angin malam, dan ketukan-ketukan samar dari lantai bawah membuat bulu kuduknya merinding.
“Siapa di sana?” Larasati berteriak, tetapi hanya keheningan yang menyambutnya.
Suasana yang mencekam itu semakin menambah tekanan pada dirinya, membuatnya semakin terisak-isak oleh keputusasaan.
Dalam pencariannya untuk mengungkap misteri yang mengitari rumah tua itu, Larasati terus mencari petunjuk, walaupun setiap langkah yang diambilnya terasa seperti melangkah lebih dalam ke dalam kegelapan. Dia menemukan ruangan-ruangan tersembunyi di sudut-sudut rumah yang gelap, di mana barang-barang lama yang dipenuhi debu dan kumuh teronggok di atas rak-rak kayu lapuk.
Suatu malam, ketika Larasati sedang menyelidiki sebuah ruangan gelap di lantai bawah, dia mendengar suara gemeretak yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dia menoleh ke belakang, hanya untuk melihat bayangan samar-samar bergerak di antara barisan-barisan benda-benda tak terpakai.
“Dia datang untukmu, Larasati,” bisikan angin terdengar di telinganya, membuat bulu kuduknya merinding.
“Dia datang untukmu.” Bisikan angin itu kembali terdengar di sela langkah Larasati mengitari lorong gelap dan sunyi.
Larasati menahan napas, tangan gemetar saat dia mencari-cari sumber suara itu. Namun, ketika dia membalikkan kepalanya, tidak ada yang ada di sana. Hanya kegelapan yang menyelimutinya, dan keheningan yang mengejutkannya.
Dan ia pun menghentikan dirinya untuk mencari sumber suara aneh itu dan kembali tidur ke kamarnya. Malam dilewatinya dengan kegelisahan.
Setelah itu, kejadian-kejadian aneh semakin sering terjadi. Pada malam berikutnya, Larasati merasakan sentuhan dingin yang menyentuh pundaknya saat dia sedang tertidur. Dia membuka matanya dengan terkejut, hanya untuk menemukan dirinya sendirian di dalam kamar yang gelap.
“Dia di sini, Larasati,” suara serak terdengar di telinganya, membuatnya merinding.
“Dia selalu di sini.”
Larasati meloncat dari tempat tidurnya, jantungnya berdegup kencang dalam kepanikan. Dia meraba-raba di gelap, mencari sumber suara itu, tetapi tidak ada yang bisa dia temukan. Hanya kegelapan yang menyelimutinya, dan bayangan yang mengejarnya.
Pada saat itu, Larasati sadar bahwa dia tidak sendirian di dalam rumah tua. Ada kehadiran yang tak terlihat, sosok mahluk halus yang mengintainya dari sudut-sudut gelap. Dan ketakutan Larasati semakin mendalam saat dia menyadari bahwa keberadaan itu memiliki niat yang jahat.
Larasati menceritakan semua kejadian yang menimpanya selama tinggal di rumah barunya pada salah satu warga. Dan warga tersebut tidak berani banyak bicara, lantas ia menyarankan untuk menemui sesepuh desa, bernama Mbah Hamid.
Meskipun ragu-ragu pada awalnya, Larasati merasa bahwa dia tidak punya pilihan lain. Dia memutuskan untuk mencari bantuan dari Mbah Hamid, sesepuh desa yang terkenal bijaksana dan memiliki kemampuan spiritual. Mbah Hamid adalah satu-satunya harapan terakhirnya untuk menyelamatkan dirinya dari teror yang menghantui rumah tua itu.
Larasati melangkah dengan hati-hati menelusuri jalan gelap, menuju rumah Mbah Hamid. Setiap langkahnya terasa berat, seperti dituntun oleh kehadiran yang tidak kasat mata yang mengintainya dari kegelapan.
Hembusan angin malam terasa dingin di pipinya, membuatnya merinding lebih dari sekadar udara yang sejuk.
Ketika dia tiba di depan pintu rumah Mbah Hamid, detak jantungnya semakin cepat. Dia mengetuk pintu dengan gemetar, menunggu dengan napas terengah-engah.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti berabad-abad, pintu terbuka dengan perlahan, dan Mbah Hamid muncul di ambang pintu, wajahnya diterangi oleh cahaya pelita.
“Larasati, anak muda,” sapa Mbah Hamid dengan suara tenangnya yang khas.
Larasati tercengang, heran karena pria tua yang berpakaian serba hitam itu menyebutkan namanya tanpa perkenalan.
“Apa yang membawa kamu ke sini di tengah malam seperti ini?” Mbah Hamid seolah tahu apa yang dipikirkan Larasati dan mengabaikannya. Wajah pria itu menatap tajam meminta jawaban cepat.
Larasati menelan ludah, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya.
“Mbah, saya … saya mengalami sesuatu di rumah tua itu. Ada kehadiran yang tidak bisa saya jelaskan, dan saya merasa terancam. Saya butuh bantuan Mbah.”
Mbah Hamid mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya menyelidiki ekspresi cemas Larasati.
“Masuklah,” ujarnya akhirnya, memberi jalan kepada Larasati untuk masuk ke dalam rumahnya.
Setelah Larasati duduk di depan Mbah Hamid, dia menceritakan semua yang dialaminya di rumah tua tersebut. Suara-suara aneh, bayangan-bayangan yang menakutkan, dan perasaan teror yang menghantui setiap sudut ruangan.
Mbah Hamid mendengarkan dengan tenang, tetapi raut wajahnya menunjukkan bahwa dia serius mengenai situasi yang dihadapi Larasati.
“Larasati, apa yang kamu alami adalah sesuatu yang serius,” ucap Mbah Hamid, suaranya tegas.
“Ada kehadiran yang tidak bisa dijelaskan dan kamu mungkin menjadi sasaran dari mahkluk jahat yang sudah lama mendiami rumah itu. Kita harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat.”
“Apa yang harus saya lakukan, Mbah?” tanya Larasati menyembunyikan rasa takutnya.
Mbah Hamid menatapnya. “Sebenarnya apa yang kamu inginkan, anak muda? Memutuskan tinggal di rumah tua, yang orang lain pun tidak akan pernah memilih untuk menetap disana.” Mbah Hamid bisa merasakan aura kekuatan dari anak muda itu.
Larasati menarik napasnya, menekan keraguan. Memang dirinya diselimuti ketakutan selama tinggal disana, tetapi rasa penasaran pun sama besarnya. Dan dia merasa pria tua itu mengetahui maksud lainnya itu. Dia harus berkata jujur.
“Pekerjaan saya itu memburu berita, Mbah. Mungkin ini sebagian dari kebiasaan saya, yang tidak pernah bisa melepaskan sesuatu yang terasa janggal untuk dibiarkan begitu saja. Saya sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam rumah tua itu. Saya sudah melakukan wawancara singkat pada penduduk sekitar untuk meyakinkan diri saya untuk mencari kebenaran di balik semua cerita aneh yang beredar di desa ini tentang rumah tumbal pesugihan. Itulah tepatnya Mbah, yang bisa saya simpulkan.”
Mbah Hamid menyurutkan pandangannya menjadi suram. “Rumah tumbal pesugihan? Itu kesimpulanmu dan kamu merasa penasaran untuk mencari jawabannya?”
Larasati mengiyakan cepat sambil menahan ketakutan yang mulai menjalari tubuhnya setiap kali memikirkan keanehan yang dialaminya.
Mbah Hamid dengan mata teduh menatap Larasati. “Rumah itu memang dipenuhi aura kelam, anak muda. Tapi kamu harus siap dengan konsekuensi jika ingin mengusik masa lalu.”
Larasati mengangguk mantap. Entahlah darimana datangnya keberanian menjawab tantangan dari Mbah Hamid.
Babak 3 : Ritual
Larasati merasa lega, mengetahui dia tidak sendirian dalam perjuangannya melawan teror yang menghantui rumah tua itu. Bersama-sama, mereka menyusun rencana untuk melakukan ritual pelepasan arwah yang akan membersihkan rumah dari kehadiran aura gelap yang menyelubungi rumah tua itu.
Pada suatu malam yang telah ditentukan Mbah Hamid melalui perhitungan kuno, di bawah cahaya bulan yang redup, Larasati dan Mbah Hamid berkumpul di dalam rumah tua. Mereka melakukan ritual untuk melihat kejadian masa lalu di rumah tersebut. Dengan dupa yang membubungkan aroma harum ke udara, Mbah Hamid mulai melantunkan doa-doa kuno yang dirancang untuk mengusir kehadiran roh jahat itu.
Asap dupa memenuhi ruangan, Mbah Hamid terus melantunkan doa, membimbing proses ritual. Saat ritual berlangsung, suasana di sekitar mereka mulai berubah. Angin malam berdesir dengan ganas, langit menjadi gelap, dan suara-suara aneh mulai terdengar di udara. Larasati merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya, membuatnya gemetar dalam ketakutan. Bibir Larasati terus merapal mengikuti kalimat yang diucapkan Mbah Hamid.
Larasati seakan ditarik ke pusaran waktu. Dia menyaksikan ritual pesugihan mengerikan, gadis muda bernama Maya diikat di meja altar dan darahnya ditumpahkan, lalu jeritan pilu memenuhi udara.
Mbah Hamid memegang tangannya dengan kuat, memberinya keberanian untuk melanjutkan. Bersama-sama, mereka terus melantunkan doa-doa kuno, menyerukan kekuatan spiritual yang akan membantu mereka mengusir kehadiran roh jahat dari rumah itu.
Setelah berjam-jam berlangsung, mereka merasakan perubahan dalam energi di sekitar mereka. Kehadiran yang gelap itu mulai memudar, digantikan oleh cahaya yang hangat dan damai. Ritual pelepasan arwah roh jahat tampaknya berhasil. Larasati dan Mbah Hamid merenggangkan genggaman, mengakhiri prosesnya.
Penglihatan spiritual membekas mendalam pada keduanya. Larasati sadar, arwah Maya yang gentayangan menuntut keadilan.
“Tenanglah Maya, saya akan menuntut keadilan untukmu. Saya akan mencari pelakunya dan memintanya bertanggung jawab untuk perbuatannya.” Larasati bergumam pelan dengan mata membara.
Kalimat itu didengar Mbah Hamid dan Mbah Hamid setuju untuk membantu Larasati. “Aku akan membantumu, anak muda.”
Larasati merasa lega juga penuh syukur.
Bersama Mbah Hamid, mereka mencari petunjuk bukti pesugihan, mengungkap misteri. Di ruang tersembunyi di ruang bawah tanah, di sudut dinding yang gelap, dipenuhi barang-barang lama yang berdebu teronggok di atas rak-rak kayu yang lapuk.
“Saya pernah masuk kesini, Mbah. Tetapi saya terlalu takut untuk masuk lebih dalam.” Larasati mengingat kejadian malam itu ketika ia mengejar suara aneh yang mengganggunya.
Mbah Hamid diam, konsentrasi menelusuri ruang bawah tanah yang pengap dan bau menusuk.
Tak lama kemudian, mereka menemukan boneka arwah yang sudah usang dan mantra tertulis dengan tinta darah. Dan beberapa dokumen rahasia penting yang ada di dalam peti.
“Dimana meja altarnya?” tanya Mbah Hamid setelah menemukan bukti kuat berupa boneka arwah dan dokumen rahasia. “Kita harus menemukannya. Hal itu bisa meyakinkan untuk membuka tabir kejahatan yang dilakukan sang pelaku.”
Larasati menyetujui, ia pun kembali melangkah lebih dalam menyibak kegelapan di ruang bawah tanah yang minim oksigen. Membuatnya berkeringat di udara malam yang dingin.
Mbah Hamid yang memimpin hingga di ujung lorong, tiba-tiba berseru, pandangannya suram melihat apa yang ditemukannya. Meja persembahan lengkap dengan peralatan ritual yang tergeletak sembarang.
Babak 4 : Konfrontasi
Bukti boneka arwah dan jejak pelaku dalam dokumen rahasia tersebut diserahkan ke polisi. Penyelidikan pun dimulai.
Namun pelaku, pria pengusaha kaya bernama Arman, yang hidup di kota, ternyata memiliki pengaruh besar. Arman melalui pengacara dan orang suruhannya melakukan segala cara dalam menjaga rahasia rumah tua itu, menghalangi penyelidikan, menyembunyikan bukti dan mengintimidasi para saksi, bahkan mengancam Larasati secara langsung.
Larasati menyadari tantangan melawan kekuatan Arman yang begitu besar, dia tidak menyerah. Dia tahu bahwa sebuah kebenaran layak diperjuangkan dan dia tidak akan berhenti sampai bisa menemukan kebenaran dan keadilan untuk Maya. Larasati telah berjanji kepada gadis muda yang bernasib tragis itu.
Mbah Hamid menyadari keterbatasan penyelidikan yang dilakukan mendapatkan rintangan. Mbah Hamid memberitahu bahwa setelah ritual pelepasan arwah bukan berarti hidup Larasati akan lebih baik. Ritual yang dilakukan itu barulah awal perjuangannya. Larasati mengerti dan memohon petunjuk.
“Kita temui saja Arman. Setelah ritual pelepasan arwah, Mbah yakin arwah Maya mulai gentayangan di sekitar Arman, tidak terjebak di rumah tua itu lagi. Dan untuk kamu ketahui Larasati, setelah ritual kemarin, kekuatan murni yang tersimpan di dalam tubuhmu terbuka. Kamu tidak merasakannya?”
Larasati terperangah. Dia tidak merasakan perbedaan, hanya saja tubuhnya terasa lebih ringan.
Lanjut Mbah Hamid, “Kita bisa menggabungkan kekuatan kita bertiga untuk melemahkan kekuatan spiritual yang dimiliki Arman.”
Larasati menyetujui usul Mbah Hamid.
“Iya, saya juga yakin, Mbah. Arman bisa hidup tenang setelah membunuh orang tidak berdosa sekedar haus kekayaan dan kekuasaan, tidak mungkin dia tidak memiliki kekuatan gaib yang melindunginya selama ini.” Larasati menimpa.
Dugaan Mbah Hamid benar adanya. Arman selalu didatangi bisikan halus, benda yang bergeser sendiri dan bayangan hitam yang membuatnya sedikit terganggu. Untunglah, ia memiliki gelang gaib yang tidak terlihat, yang melindunginya selama ini.
“Mbah Sugeng, setelah penyidikan polisi kemarin, saya sering kedatangan tamu tak diundang. Tolong, bantu saya meningkatkan kekuatan gelang mutiara kelabang. Saya akan mentransfer uang dua kali lipat dari sebelumnya.”
Tanpa jawaban dari penerima, Arman mengakhiri teleponnya. Lalu mentransfer nominal sangat besar. Dirinya lega, ia masih memiliki Mbah Sugeng sebagai guru spiritual yang mewujudkan semua impiannya menjadi orang kaya sekaligus melindunginya. Arman terbahak di ruang kerjanya. Lalu terdiam, saat bantal kursi terlempar sendiri.
Roh Maya melihatnya gelap, membenci yang ada dihadapannya. Kekuatannya tidak bisa melukai Arman, tubuhnya selalu terpental jauh setiap kali mendekatinya. Ia hanya bisa menakutinya saja.
Mbah Hamid dan Larasati merangsek masuk, tidak ada waktu lagi. Pengawal yang berjaga di kediaman Arman tertidur lelap, terkena ajian sirep Mbah Hamid.
Arman terkejut melihat kedatangan mereka. Mau berteriak, tapi disela Larasati, “Tidak ada yang mampu mengalahkan ajian Mbah Hamid. Semuanya tertidur di alam mimpi.”
Arman tidak terkena ajian karena dia menyimpan kekuatan gaib. Menjadi bukti jika dugaan Mbah Hamid adalah nyata.
“Maya, kemarilah. Hadapi ayahmu sendiri,” panggil Larasati. Roh Maya mendekat, Larasati bisa merasakannya.
Arman bergetar. “Bicara apa kamu? Saya tidak punya anak bernama Maya.”
“Maya, lihatlah! Dia tidak pernah mengakuimu karena terlahir dari seorang pelayan.”
Arman menatap Larasati nanar.
“Sudah cukup basa-basinya, anak muda. Ayo, kita lakukan sekarang juga sebelum kekuatan energi Maya hilang.” Mbah Hamid duduk bersila, diikuti Larasati dan roh Maya yang duduk mengambang.
“Apa yang kalian lakukan di rumahku?!” hardik Arman.
Arman berjalan cepat mendekat, namun tubuhnya terpental keras membentur dinding. Aura yang mengelilingi ketiga orang itu perlahan merontokkan kekuatan gelang gaib milik Arman. Mbah Hamid tak berhenti melantunkan doa kuno.
“Aaarggh,… panas, panas!” Tubuh Arman mengeluarkan asap hitam.
Arman merangkak mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Menekan tombol, “Mbah Sugeng, bantu s-saya….”
Tiit!
Suara telepon dimatikan. Arman memukul ponselnya, mencoba menghubungi guru spiritualnya lagi, tetapi gagal. Arman mengumpat sekaligus mengerang kesakitan.
Tubuh Arman menghitam, menyisakan kerangka tulangnya saja. Benar, kekuatan gelang gaib yang melindungi Arman menjadi senjata pembunuh bagi pemiliknya jika dialiri kekuatan murni yang menetralkan kekuatan negatif.
Mbah Hamid mengakhiri doanya. Roh Maya tampak sedih sebentar lalu berkata pada Larasati, “Terimakasih, kamu telah menolongku. Aku telah dikuasai roh jahat sebelumnya. Kini aku bebas dan berhasil membalasnya. Sesungguhnya, aku hanya ingin mendengar dia menyesal atas perbuatannya padaku. Sekali saja, dia bilang merindukanku. Tetapi aku berharap lebih.”
Larasati mengerti yang dirasakan Maya. “Sudahlah Maya, tempatmu bukan disini. Pergilah dengan tenang.”
Roh Maya mengangguk. Cahaya putih yang hangat melesat di balik jendela.
“Ayo, kita pulang. Sepertinya kamu telah menemukan pekerjaan baru, anak muda.”
Larasati mengiyakan.
—-Selesai—