Sinar matahari pagi itu menyusup melalui celah-celah tirai sebuah kamar, seolah menyentuh wajah tampan yang kini merasa tarikan nafasnya memberat di alam mimpinya.
“Maaf …,” gumam pemuda itu terus meracau kata yang sama sejak tadi.
Peluh tampak bercucuran di dahi putihnya, seakan menggambarkan betapa tertekannya remaja itu.
“Rey!”
Jeritan kerasnya seolah menyentak kesadarannya secara tiba-tiba. Manik hitam itu terbuka dengan sorot ketakutan yang terpancar jelas.
Ryfal Nathaniel nama pemuda itu.
Ryfal menghela nafas berat, menetralkan deru nafasnya yang tak beraturan selepas mimpi itu kembali hadir.
Padahal hampir setiap malam bayangan itu menghantuinya, tapi Ryfal tidak pernah terbiasa. Dia selalu ketakutan bahkan hanya untuk menghadapi kenyataan.
Ryfal mengusap wajahnya kasar lalu memeluk lututnya sendiri. Air matanya seketika luruh, membayangkan ketakutan yang selalu menghampiri bahkan nyaris satu tahun ini.
Dengan enggan, Ryfal bangun dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk sekolah. Remaja delapan belas tahun itu berjalan menuju dapur, menghampiri sang ibu yang tengah menyiapkan sarapan.
“Pagi sayang, sarapan dulu yuk,” sapa ibunya dengan senyum hangat.
Ryifal hanya mengangguk sekilas sambil mengambil roti panggang dengan selai kacang dan meletakkan di piringnya. Ayahnya yang berhadapan dengannya bahkan tidak diliriknya sama sekali.
Ia merasa sulit untuk berbicara di pagi ini, perasaannya sedang tidak menentu. Dan itu karena mimpi buruknya tadi malam.
Ibunya mengulum bibir dengan ekspresi sendu, sedih melihat putranya seperti itu.
Setelah selesai, dia pamit berangkat sekolah. Helm full face menutupi wajah tampannya yang selalu tertata dingin seolah tak tersentuh.
Setibanya di sekolah, Ryfal menghentikan motor ninja hitam kesayangannya di parkiran khusus siswa.
Pemuda itu melepas helmnya dengan gerakan pelan.
Gerakannya sederhana, tapi mampu membuat mata para siswi membulat sempurna. Mereka hanya mampu mencicit gemas, tanpa berani mengeluarkan kata godaan.
Ryfal berjalan menuju ruang kelasnya yang berada di lantai tiga, lantai khusus kelas dua belas.
Seperti ada komando, para siswa siswi refleks menyingkir memberi jalan, tidak ingin mencari gara-gara dengan si Badboy SMA Citra Bangsa.
Ryfal dengan segala catatan buruknya. Si badboy tampan pemilik hati beku. Menindas siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Mata tajamnya seolah mengintimidasi, membuat beberapa orang yang dilewatinya meneguk ludah susah payah saking angkernya aura Ryfal Nathaniel.
“Kapan lo join basket lagi?”
Itu Rian, salah satu dari deretan most wanted boy yang menjadi temannya di sekolah ini.
Ryfal menghela nafas panjang, pemuda itu lantas menggeleng tak minat.
“Oh, ayolah boy. Basket itu cara yang bagus buat ngilangin stres, apalagi itu hobi lo sendiri.”
Rian menatap yang Ryfal terus menunduk dengan tatapan khawatir. “Lo boleh cerita ke gue, Fal. Nggak ada yang larang lo buat cerita,” kata Rian memberi pengertian.
Ryfal terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerita. Ia percaya Rian adalah teman yang bisa dipercaya. “Gue masih sering mimpi buruk tentang kejadian itu,” kata Ryfal dengan suara pelan.
“Kenapa sulit banget buat lupa, dan kenapa harus Rey yang ngalamin. Kenapa bukan gue?”
Rian mendengarkan dengan seksama, membiarkan Ryfal bercerita.
Rian menepuk pelan pundak Ryfal, memberi sedikit dukungan untuk sahabatnya itu yang sampai kini belum bisa melupakan ketakutannya.
” Lo tau kalau lo nggak sendirian, Fal. Ada gue, Bima, Zay, dan anak-anak lainnya. Kita sama-sama ngerasain duka itu, Fal. Lo nggak pernah sakit sendirian. Kita bisa saling nyembuhin.”
Ryfal terdiam cukup lama, saran Rian memang masuk akal. Kehilangan sahabat baik dengan cara tragis tentu bukan luka yang sederhana.
Rian mengulum bibirnya, memandang Ryfal dengan kasihan. Kalau boleh jujur, dia juga masih belum bisa sepenuhnya melupakan kejadian itu. Tapi dia paham, ada Ryfal yang jauh lebih terluka, apalagi rasa bersalah yang berkepanjangan yang membuat Ryfal yang hangat sekarang nyaris tidak bisa dikenali.
“Kalian semua maafin gue, kan?” tanya Ryfal ragu.
“Of course, brother. Kita tau Lo sama sekali nggak bersalah. Itu murni kecelakaan. Kita nggak pernah mikir nyalahin Lo di sini.” Rian berkata bijak. “Justru kita selalu ngerasa khawatir sejak lo mutusin buat ngejauh gini.”
Ryfal terdiam, jika dipikir-pikir memang benar dia yang selama ini manjaga jarak dengan semua teman-temannya. Ryfal selalu menyalahkan dirinya sendiri karena insiden yang merenggut nyawa sahabat terbaiknya itu, Rey.
Ryfal mengangguk, “Gue join.”
Rian menghembuskan nafas lega. Setelah satu tahun vakum dari segala kegiatan kecuali sekolah, akhirnya hari ini sahabatnya itu mau sedikit membuka diri. Setidaknya setelah ini, Rian berharap Ryfal mau berbaur lagi dengan teman-teman.
***
Ryfal hanyalah pemuda biasa. Di balik segala topeng tangguhnya ada banyak hal sedih, bahagia, kecewa, tawa, bahkan luka yang selalu datang silih berganti.
Kehidupannya tidaklah semudah yang orang-orang kira. Ada trauma dan ketakutan yang selalu menghantui. Ryfal selalu berusaha melawannya selama ini, sekalipun dia merasa selalu gagal.
Kejadian pahit satu tahun lalu, saat dia harus menyaksikan Rey, sahabat baiknya meregang nyawa tepat di depan mata tentu menghasilkan trauma yang tak main-main. Dan itu yang menjadikan alasan kenapa dia selalu menarik diri dari orang-orang sekitarnya.
Disinilah Ryfal sekarang, di tepi sebuah danau buatan yang terletak di taman kota. Bersama dengan sahabat-sahabatnya yang sangat antusias membantunya untuk menyembuhkan ‘trauma’ Ryfal.
Aqua phobia, meskipun terdengar sedikit aneh untuk ukuran Badboy sepertinya, tapi Ryfal memanglah salah satu pengidapnya. Danau itu airnya memang terlihat sangat jernih memanjakan mata, tapi tidak bagi Ryfal. Baginya di dalam sana sangat mengerikan. Ryfal merasa bahaya selalu mengintai saat dia ada di sekitarnya.
“Fal, kita bisa pulang aja kalo lo mau,” kata Bima yang diangguki oleh yang lainnya.
Ryfal menggeleng samar meski merasa telapak tangannya mulai terasa dingin. Tadi saat mereka selesai bermain basket untuk pertama kalinya full circle, Ryfal mengatakan akan mencoba lagi menjalankan segala pengobatan psikisnya yang sempat ia hentikan beberapa bulan lalu. Dan tentunya melawan hal yang menjadi penyebab utama traumanya, yaitu air. Kumpulan air besar.
Meski sudah menguatkan niatnya, tapi entah kenapa ketika matanya berusaha menatap air danau itu tubuhnya langsung gemetar. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
“Lo harus bisa, Fal. Harus bisa !!!” Bentaknya berkali-kali pada dirinya sendiri di dalam hati.
Rian, Zey, Bima, dan Juna tampak berdecak khawatir memandang Ryfal yang hanya berjarak beberapa meter di depan mereka. Terlebih saat melihat kedua tangan besar Ryfal mengepal kuat, dan tubuhnya hampir terhuyung.
Tapi nihil. Sekuat apa pun Ryfal berusaha, tubuhnya ternyata memberikan reaksi yang buruk. Kepalanya semakin pening dan pandangannya kian menggelap.
“RYFAL!!!”
Rian dan Juna bergegas menyangga tubuh Ryfal yang limbung nyaris menyentuh tanah.
“Fal, Lo denger gue?” tanya Juna panik sambil menepuk pelan pipi Ryfal. Bibir pucat Ryfal tampak bergumam lirih nyaris tak terdengar. Hanya kata ‘ Rey’ yang terus menerus keluar dari mulut Ryfal.