Schizophrenia
By Uning M
Sebelum bertemu perempuan kumuh berusia akhir 20 tahunan berpakaian gelandangan itu, aku masih bisa tersenyum ceria karena aku berhasil membuat orang tuaku yang terpuruk dalam kesedihan tersenyum bahagia, karena hari ini aku wisuda.
Sudah berbulan-bulan orang tuaku bersedih hati karena kakak perempuanku pergi tanpa pamit. Tapi gara-gara perempuan gelandangan berambut awut-awutan di hadapanku ini, keceriaan itu hancur seketika.
Masalahnya, perempuan ini yang tiba-tiba menjawil pundakku adalah kakak perempuanku yang hilang beberapa bulan itu.
Dia kembali, tapi di situasi yang tak pernah kuharapkan bisa bertemu. Dikala teman-temanku sesama wisudawan-wisudawati mengerumuniku dan mengajakku untuk berfoto bersama dengan pakaian wisuda terbaik mereka, di situlah kakakku dengan pakaian compang-campingnya dan tubuh hitam lusuh karena lama tak mandi ikut mendampingiku.
Aku sempat menangkap bisik-bisik di antara mereka. Tapi kakakku dengan ceria melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka, seolah wisudawan dan wisudawati itu adalah fans-nya.
Aku menangis dan takut…
Aku takut bukan karena kakakku akan merusak reputasiku…
Tapi aku takut kelak aku akan jatuh di lubang yang sama dengan dia.
Bahwa aku nanti juga sama dengan kakakku, pergi dari rumah sehingga membuat orang-tuaku terpuruk dalam kesedihan, karena aku dan dia berbagi genetik yang sama.
Aku pernah dengar dari orang tua, bahwa bibi dan nenek juga menderita schizophrenia. Ini adalah sebuah gen yang diturunkan keluarga dari generasi ke generasi. Tapi, Kak Lana mengambil itu terlalu jauh. Dia memancing reaksi itu, dengan menikmati daun ganja yang secara diam-diam ditanam di loteng rumah.
Aku memaksakan diri tetap tersenyum meskipun hati ini sesak.
Kakakku yang dulu adalah kebanggaan orang tua karena prestasi gemilangnya dan menjadi sosok yang penuh semangat dan selalu menjadi panutanku, kini berubah ketika dia didiagnosis dengan skizofrenia dan berakhir tinggal di jalanan.
Aku memegang lengannya dengan kuat, “Kak, yuk ikut ke dokter psikiater.”
“Naik apa?”
“Naik motor, aku boncengin kakak!”
“Aku tidak mau keluar, di rumah saja biar aman. Nanti kalau aku naik motor, ada orang jahat yang akan menyiramku dengan air keras. Di rumah aja deh.”
“Tapi dokter nanti bisa bantu agar chip kakak tidak dicuri agen rahasia.”
Berkali-kali dia bercerita padaku bahwa dia sedang diintai agen rahasia karena sebuah chip rahasia di lemarinya. Begitu aku check, chip itu adalah potongan chip kartu perdana yang ia beli di gerai pulsa setahun lalu.
Aku hanya bisa mengelus dada.
Alisnya terangkat naik, seolah-olah meragukan kewarasanku, “mana ada dokter yang bisa negejagain chip rahasia ini, gile lu! Itu mah tugasnya security agent.”
Kalau sudah seperti ini – dimana aku ikuti cara berfikir halusinasi-nya – dia akan bersikap seolah-olah aku yang tengah berhalusinasi. “Aneh-aneh aja. Jangan halu, dek! Dokter kok ngurusin chip rahasia.”
Tapi beberapa saat kemudian dia berkata, “ya udah kita ke dokter aja. Pengen tahu apa bener katamu bahwa dokter bisa ngejagain chip rahasiaku.”
Aku berangkat ke Rumah Sakit Jiwa bersama kakakku sambil air mata mengalir deras. Rasanya hancur diri ini, aku takut mengikuti jejaknya, karena terkadang suara-suara yang terus bernyanyi di kepalaku sulit sekali dihentikan. Suara berisik di kepala itu persis dengan yang dialaminya.
===
Braak!!
Aku terkejut dengan pintu kamarku yang didobrak dengan keras oleh Kak Lana, “Apa-apaan sih dek? Kenapa kau lakukan itu?” bentaknya dengan tangan menuding ke wajahku.
“Apa kak maksudnya?” jawabku panik, mencoba meraba-raba apa yang akan dilakukannya. Aku tak bisa prediksi setiap aksi yang dilakukan kakakku, dia benar-benar susah ditebak alur pemikirannya.
“Kau bilang, dokter bisa membantuku menjaga chip rahasia, tapi mana? Agen rahasia itu masih menguntitku. Mereka masih berteriak-teriak di kepalaku.”
“Sabar kak, nanti agen rahasia itu pasti pergi.”
“Huff..” kakak berkacak pinggang. Tiba-tiba matanya kosong. Terdiam merenung hingga reda amarahnya. Lalu ia berbalik ke arahku. “Dek, kau mencuri uangku ya?”
“Nggak, aku nggak mencuri uang.”
“Lalu kenapa uangku yang kusimpan di kotak depan TV hilang.”
Aku baru faham bahwa yang dimaksud adalah uang monopoli dalam kotak mainan monopoli. Aku memang mengambilnya dan meletakkannya di lemari agar rumah terlihat rapi.
“Iya Kak…Aku akan kembalikan uangnya. Maaf ya.”
“Jangan suka mencuri dek! Itu dosa! Nanti kakak kasih sebagian buat kamu, tapi kamu harus janji tidak mencuri.”
Aku menelan ludah yang tiba-tiba terasa sakit di tenggorokan, “iya Kak. maaf telah mencuri.”
====
Kak Lana…aku sudah lama kehilangan dia semenjak berpacaran dengan Junaidi, atau Jun, si pecandu ganja.
Dan kini, tak hanya kehilangan kak Lana, aku pun juga kehilangan diriku karena ketakutan. Ketakutan ini terus menghantuiku, hingga aku malas makan, malas mandi, malas kerja, dan malas bertemu orang.
Aku takut bahwa suatu saat aku akan menjadi seperti Kak Lana, dan pikiran itu terus menerus berputar-putar di kepalaku.
“Jangan begitu, kamu tidak seperti kakakmu, Diana.” ujar ibuku.
“Tapi, aku mendengar suara-suara berisik di kepalaku, Bu”
“Kamu rajin ibadah dan mengaji, itu akan menjadi benteng perlindunganmu. Dan ada satu lagi, kakakmu bermain ganja sehingga meningkatkan resiko itu,” ujar Ibuku sambil memelukku erat.
Ah..ganja… lagi-lagi ganja. Aku pernah menegur kakakku tentang hal ini, kakakku langsung marah, ia berdalih, “dasar kuno! Ketinggalan jaman! Di beberapa negara bagian Amerika saja, Ganja sudah dilegalkan, setiap orang bebas membeli ganja. Orang ndeso masak tahu!” ujarnya dengan angkuh.
Tapi saat ku-jelaskan bahwa di surat kabar dailymail.co.uk, salah satu dokter psikiater di Inggris telah mengakui ganja bisa menyebabkan munculnya gejala-gejala psikosis pada para pengguna.
“Ahh…dokter itu aja yang kolot. Di Amerika aja beberapa orang penderita penyakit kronis bisa bebas dari rasa sakit dan beraktifitas normal setelah konsumsi ganja. Itu bukti nyata bahwa ganja itu baik untuk tubuh.”
Yah, begitulah Kak Lana yang jenius dan super cerdas, selalu tak bisa kalah dalam debat, yang akhirnya membuat mulutku terbungkam.
Tapi seandainya Kak lana bisa melihat kondisi negara-negara yang mengijinkan peredaran narkoba secara ilegal, seringkali berakhir dengan naiknya angka kriminalitas dan makin kumuhnya kota, Tak percaya? lihat aja San Fransisco dan Oregon.
Dan kini, ibu mulai khawatir karena akhir-akhir ini aku sulit tidur karena kekhawatiranku dan ketakutanku sendiri.
Tapi harus bagaimana lagi? Aku tak bisa mengendalikan ketakutanku. Bagiku ketakutan itu begitu nyata, sangat menyesakkan dadaku.
Aku melihat tas ransel di pojok kamarku yang sudah kusiapkan sebulan lalu. Tas itu berisi pakaian-pakaian dan perlengkapan yang kubutuhkan jika aku spontan ingin kabur,
Aku juga sudah menyelipkan uang di sela-sela pakaian untuk bertahan hidup di jalan.
Dan aku pun juga membawa perlengkapan mandi, untuk mengingatkanku agar jangan sampai pulang kembali ke keluarga, dalam keadaan kumuh.
Aku sudah mempersiapkan sejauh itu…jika penyakit schizophrenia itu menyerangku.
====
“Diana…Dunia itu berjalan sesuai dengan pemikiranmu. Jika kamu berpikir yang terburuk, maka itulah yang terjadi. Jika kamu berfikir kasih sayang Tuhan yang ada dalam hidupmu, maka secara ajaib hal yang indah akan terjadi.” ujar Dokter Nindy, seorang psikiater.
“Tapi, saya takut, suara-suara berisik itu makin keras dan sulit sekali saya hentikan. Saya sampai pakai headphone terus menerus.”
“Kamu nggak sendirian. Dan kamu sudah ambil langkah bagus dengan berkonsultasi. Ini bukti bahwa kamu kuat dan tidak menyerah dengan ketakutanmu itu.”
“Saya takut, Dok… Saya takut suatu saat saya bisa seperti kakak saya,” air mata yang kutahan selama berbulan-bulan tumpah ruah di hadapan dokter itu.
“Kamu hebat, daripada menyerah, kamu lebih memilih untuk berjuang melawan ketakutanmu. Perjalanan ini tak singkat, tapi percayalah, kita akan sampai tujuan yang indah pada akhirnya. Dan kamu akan bisa mengatasi ketakutan ini.”
“Janji, Dok.”
“Iya Janji. Ketakutanmu itu emang nyata, tapi kau masih bisa menghadapinya. Kau punya kekuatan untuk menghancurkan ketakutan itu.”
“Dengan cara apa, Dok.”
“Perbaiki cara berfikirmu dulu. Jangan selalu berfikir yang terburuk, tapi berfikirlah kasih sayang Tuhan yang secara ajaib akan membuat hidupmu indah, disitu kau akan melihat banyak peluang.”
Aku bisa merasakan energi positif dalam diriku. Kecemasan yang mencekikku dan melumpuhkanku kini bisa kulihat dengan jelas sebagai energi negatif yang tersapu bersih dengan energi positif dari keyakinanku pada Kasih Sayang Tuhan Yang Maha Esa.
====
“Aku pulang dulu, ya!” pamitku dengan ceria, melambaikan tangan pada komunitas sadar kesehatan mental yang kini sedang kugeluti. Bersama mereka, aku merasa tidak sendiri dalam perjalanan ini. Teman-temanku melambaikan tangan dengan ceria padaku.
Aku pergi dengan senyum lega, tas ransel yang telah kupersiapkan jika aku kumat dan kabur tak pernah kupakai, masih bertengger di pojok kamar dan hampir berdebu. Kini, aku malah terlibat dalam komunitas sadar kesehatan mental dan menjadi salah satu staff disana.
Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku berjanji, aku takkan membiarkan ketakutan mendikte dan mengontrol hidupku. Aku adalah ciptaan Tuhan yang diberikan kehendak bebas untuk memilih apa yang terjadi ke depan, bukannya terpasung pada ketakutan yang membelenggu.