Sebotol Persahabatan

Sebotol Persahabatan

Sebuah tepukan halus di pundak menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh, seorang laki-laki dengan seragam putih abu-abu tersenyum ramah padaku. 

“Kamu mau minum ini?” Tanyanya sembari menyodorkan sebotol teh dingin 

Aku acuh, mengalihkan pandangan. Tetapi dia masih berusaha mengajakku berinteraksi

“Panas lho, kamu gak haus?” Tanyanya lagi sedikit berteriak karena tertutupi suara knalpot

Aku tersenyum, jujur aku takut. Pertemuanku dengan seorang anak laki-laki beberapa bulan lalu meninggalkan trauma di kepalaku. Bisa jadi orang yang sekarang ramah padaku ini pun bermaksud jahat juga. 

“Hmm, ternyata kamu tidak bisa mendengarku ya? Hamu hahus hidak?” Jarinya menunjuk-nunjuk dan menyodorkan botol itu lagi. 

Aku menggeleng dan meninggalkan halte itu, menerobos terik mentari karena satu alasan, takut padanya. Dia tersenyum sambil melambai-lambai seolah mengatakan “sampai jumpa lagi”.

 

Keesokan hari dari gerbang sekolah, aku melihat laki-laki itu telah duduk manis di halte yang sama. Mau tidak mau, aku berjalan menuju halte itu. Pura-pura tidak melihatnya. 

“Halooo, kamu setiap hari menunggu bus di sini ya?” Lagi-lagi jarinya membentuk isyarat dan berputar-putar di depan wajahku

Aku mengangguk tipis, masih takut. 

“Aku beli es teh botol lagi lho, hari ini aku beli dua. Mungkin kemarin kamu ogah minum bekas aku. Ambillah. Aku ikhlas kok” katanya bersemangat.

Aku menggeleng. Namun dia menggenggamkan botol itu diantara jari-jariku. Aku memberikan reaksi terkejut. 

“Eh? Maaf ya kalau aku tidak sopan. Aku cuma mau kita berteman. Namaku Vito, V-I-T-O” Dia terlihat susah payah membuat huruf menggunakan jarinya.

Aku tersenyum, membalas dengan menggambarkan huruf C-I-C-I dengan jariku. 

“Oh Cici ya? Baiklah Cici, sekolah kita kan tetanggaan. Kapan-kapan kita jajan mie ayam di kantin luar sekolahlu ya. Aku duluan, Ci, jemputanku sudah datang, dadah” katanya melambai-lambai padaku.

Aku membalasanya dengan anggukan.

Setelah busnya menghilang dari pandanganku, aku memperhatikan sebotol teh yang kupegang. Tak lagi dingin. Aku membatin, jangan-jangan teh ini berisi racun, obat bius atau semacamnya.

Sebelum menaiki bus menuju rumahku, aku membuang teh botol itu ke tempat sampah.

 

Hari demi hari berlalu, rutinitasku tetap sama. Sekolah, pulang ke rumah, dan sesekali berobat ke psikiater untuk mengobati traumaku. 

Trauma yang dimulai di suatu sore, saat aku berjalan-jalan dengan seorang laki-laki, kakak kelas yang aku sukai. Tanpa kusangka dia memiliki niat jahat padaku. Semua uang yang kupunya pada sore itu dirampasnya, handphone dan kalung kesayanganku juga. Bahkan jika aku tidak ditolong oleh warga sekitar, mungkin dia telah berbuat lebih jauh. Sayangnya, karena masih di bawah umur, dia tidak dipenjara, padahal jelas-jelas dia melakukan tindak kriminal. Itu tidak adil! 

Sejak saat itu, aku merasa bahwa aku harus berhati-hati dan menjaga jarak dengan siapapun. Aku tidak percaya orang lain. Aku menarik diri dari lingkungan.

Tapi hari ini, Vito datang lagi. Namun, dia tidak tersenyum seperti biasanya. Aku heran, tapi aku memilih untuk diam. 

“Hari ini tidak ada teh botol, maaf ya” katanya sambil menerawang jauh ke arah jalan.

Aku mengerutkan kening saat dia menatapku. Berharap dia menjelaskan alasannya.

“Ci, aku tahu kok kalau kamu gak pernah minum air yang aku bawain, mungkin kamu tidak nyaman, maaf ya kalau aku malah membuat kamu risih” penjelasannya membuatku terkejut dan merasa bersalah.

“Maaf, Vito” ucapku dengan lirih,

“Cici? Jadi kamu bisa mendengar? bisa berbicara? Selama ini kamu hanya pura-pura?” Nada suara Vito meninggi

Vito marah, sangat marah tampaknya. 

“Aku tidak bermaksud berpura-pura, aku hanya mengikuti caramu berkomunikasi denganku” Lirihku, tapi masih bisa didengar oleh Vito. 

“Ah sudahlah, kemarin aku hanya ingin berteman denganmu. Tapi kalau kamu tidak mau, tidak usah!” 

Vito meninggalkanku, meninggalkan halte, bahkan sebelum jemputannya tiba. Dia semarah itu padaku. 

Tapi, lihat kan? Benar kataku, aku tidak perlu berteman dengan siapapun. Aku sendiri lagi. 

 

Aku meninggalkan halte menuju rumah sakit untuk menemui psikiater kesayanganku, katanya aku harus memaafkan masa lalu dan mulai membuka diri. Setelah diberi banyak sekali pesan, aku menebus resep ke apotek. 

“Cici! Cici! minum ini!” Ternyata Vito berlari-lari ke arahku

“Vito? Kok kamu ada di sini?” Aku kebingungan melihat Vito yang terengah-engah

“Aku udah tau semuanya, maaf, aku mengikutimu. Maafkan aku. Percaya padaku, aku akan melindungimu, Cici.” Ucap Vito tulus

“Terima kasih” Jawabku sambil mengambil sebotol es teh yang tampak menggoda

“Terima kasih untuk apa, Ci?” Vito menatapku lekat

“Untuk tehnya” Jawabku sembari memutar tutup botol

“Bagaimana dengan penawaranku? Kita bisa menjadi sahabat lho” Vito mengacungkan jari kelingkingnya

“Manis sekali” Ucapku setelah meneguk es teh botol itu

“Aku? Aku manis, Ci?” Goda Vito

“Bukan, Tehnya!” Jawabku sembari meneruskan langkah

“Hahaha, kita bersahabat ya Ci. Minggu depan aku sudah punya SIM lho, aku bisa bawa motor. Nanti kita pulang bareng setiap hari!” Vito selalu bersemangat 

“Boleh, Vito. As you wish!” 

Vito berceloteh sepanjang perjalanan menuju apotek. Ternyata menyenangkan memiliki seorang teman. Benar kata Psikiater kesayanganku, aku hanya perlu membuka diri, lalu ketakutanku perlahan terkendali. Aku sudah menerima keberadaan Vito di sisiku, mungkin esok dan seterusnya akan selalu begitu. Aku yakin ada banyak sekali orang baik di dunia ini. 

Terima kasih Psikiaterku, terima kasih Vito, terima kasih es teh botol. Aku bahagia.

error: Content is protected !!